Husband From Hell (Suami Dari Neraka)

Husband From Hell (Suami Dari Neraka)
Surprise


__ADS_3

Siang ini Reynald kembali menemui kantor polisi. Selain disibukkan karena pekerjaannya yang baru sebagai Dirut, Reynald juga disibukkan dengan kasus Erick dan juga Ayah Sea.


Tapi sebelum ia sampai ke kantor polisi, di tengah perjalanan ia menghubungi calon istrinya terlebih dulu, memintanya untuk mempersiapkan diri karena mereka akan pergi ke suatu tempat.


Reynald sedikit menurunkan laju mobilnya. "Mppp, aku akan menjemputmu tiga puluh menit lagi," ucap Reynald. "Iya, kau dandan yang cantik ya!"


Setelah terdengar Wanita di sana menutup teleponnya, barulah Reynald kembali menaikkan laju kendaraannya.


Di kantor polisi.


"Jadi, kalian sudah berhasil menangkap Laki-laki itu?" tanya Reynald pada seorang polisi ketika dia baru saja sampai. Rupanya polisi sudah berhasil membawa Ayah Sea masuk jeruji besi untuk dilakukan interogasi.


Polisi itu mengangguk. Rey jadi makin tak sabar untuk segera menemui Laki-laki tua yang jahat itu.


"Anda diperbolehkan menemuinya, tapi tidak lama. Karena kami juga perlu melakukan investigasi lanjutan untuk kasus ini," ujar seorang polisi.


"Baiklah, hanya sepuluh menit saja!"


Reynald segera bergegas menemui laki-laki bernama dokter Hans itu. Laki-laki yang sudah mengabdikan dirinya di dunia kedokteran selama dua puluh tahun.


"Jadi kau, pelaku yang sudah membuat Nicholas menderita?"


Tangan Reynald mengepal. Ia rasanya ingin sekali menghujani tubuh laki-laki itu dengan pukulan. Andai saja dia tidak berusia lanjut, pasti Laki-laki itu sudah habis Reynald pukuli.


"Jangan menyebut namanya di depanku!" kata Laki-laki itu tak terima saat Reynald menyebutkan nama Nicholas. "Dia sudah membuat anakku mati, dia sudah membuat Sea bunuh diri." Suaranya semakin lantang, hingga membuat beberapa polisi datang dan bersiap siaga di belakang keduanya.


Semua alasan sudah jelas, Ayah Sea pasti melakukan ini semua karena unsur balas dendam. Dan Reynald yakin, di belakangnya ada Erick yang mendalangi ini semua. Karena tidak mungkin Ayah Sea bisa tahu tentang siapa Nicholas.kalau bukan dari Erick.


"Baiklah, kalau begitu sekarang cepat katakan padaku! obat apa yang bisa menyembuhkan Nicholas?"


"Tidak ada. Tidak ada satupun yang bisa menyembuhkan penyakitnya."


Mata Reynald langsung terbuka lebar-lebar saat mendengar pernyataan itu.


"Apa maksudmu?"


"Hahahaha."


Laki-laki itu terdengar tertawa dengan lantangnya. Seperti ada kepuasan dalam dirinya karena telah berhasil membuat Nicholas menderita, dan mendapatkan balasan yang setimpal atas perbuatannya.


"Aku sudah membuat ramuan yang tidak mungkin bisa disembuhkan. Ramuan itu menyerupai penyakit kanker yang bisa menghabisi secara perlahan otak Nicholas hingga ia benar-benar mati."


"Sial@n." Reynald menarik kerah Laki-laki itu saking kesalnya. "Jangan main-main kau denganku!"


Beberapa polisi mencoba menenangkan Reynald, tapi laki-laki itu terlanjur tak bisa menahan emosinya, hingga akhirnya satu pukulan mendarat di pipi Laki-laki itu.


Bugh


"Tuan, sebaiknya anda keluar! di sini bukan tempat keributan." Polisi itu langsung menyeret paksa Reynald yang mengamuk di ruangan, sementara si tersangka di bawa kembali masuk ke ruang tahanan.


"Kau lihat nanti, jika sampai Nicholas kenapa-napa, aku akan membuatmu menyesal."


"Lakukan saja anak muda. Aku tidak takut ancaman mu itu," pekik Laki-laki itu.


Jelas saja Ayah Sea itu tidak takut akan ancaman Reynald. Toh selama ini dia memang ingin segera pergi dari dunia ini. Ia ingin pergi menyusul anak dan istrinya.


Lalu kenapa tidak sejak dulu saja dia bunuh diri kalau begitu?


Tidak, selama ini ia menunggu Nicholas dulu yang mati, barulah ia menyusul.  Seperti itulah moto hidupnya selama ini.


Tangan Reynald mengepal. Lagi-lagi dia ingin menghantam wajah laki-laki itu. Kalau saja bukan polisi yang menghalanginya, mungkin Reynald sudah menghabisinya.


***


"Nat, bangun sayang! kita sudah sampai," ucap Nicholas. Mereka sudah sampai di rumahnya. Sedari tadi rasa mual dalam perut Natalie tak mau berhenti. Ia ingin cepat-cepat sampai kamar rasanya. Ingin merebahkan tubuhnya di atas kasur sambil memeluk guling, sepertinya itu akan sedikit lebih baik, batin Natalie.


Natalie turun dari mobil setelah Nicholas membukakan pintu untuknya.


"Kau tidak langsung memberikan kado ini untuk teman, eh siapa deh?"


Nicholas tersenyum. "Tidak, nanti saja."


"Kenapa tidak sekalian?"


Mereka berjalan beriringan masuk ke dalam rumah, meninggalkan barang-barang yang ia beli di dalam mobilnya, tentunya dengan tangan Nicholas yang terus melingkar di pinggang istrinya yang cantik itu.


"Memangnya kenapa sih? buru-buru sekali?" Nicholas bertanya balik. "Aku akan mau ngasih surprise sama dia."


"Oh," sahut Natalie. "Ya sudah, aku mau tidur ya! kamu nggak kenapa-napa kan kalau aku tinggal duluan?"


"Iya, nggak apa-apa kok." Nicholas memberikan Natalie senyum manis, sambil menepuk-nepuk pelan puncak kepalanya. "Tidur yang nyenyak ya!"


"Hmppp."


Setelah mendapat ciuman di kening, Natalie pun beranjak menaiki anak tangga.


Perlahan ia membuka pintu kamarnya. Ah, lagi-lagi mualnya datang. Ia harus secepatnya merebahkan tubuhnya di atas kasur.


Ceklek




__ADS_1


"Surprise."


Natalie mendadak diam dan tak bisa berkata-kata, saat beberapa orang yang ia kenal itu sedang berada di dalam kamarnya. Mereka merombak habis-habisan kamar yang semula bernuansa klasik dan sederhana itu menjadi nuansa yang sangat heboh tak semestinya.


Apa-apaan ini? batin Natalie. Dia melirik orang-orang itu tengah tertawa bahagia menatap ke arahnya.


Tapi ada apa?


Siapa yang sedang melakukan baby shower?


Siapa yang sedang mengandung?


Natalie terus bertanya-tanya, sampai akhirnya seorang gadis kecil berlari mendekat ke arahnya.


Neva, adik kandung Natalie yang menggunakan pakaian serba pink itu rupanya.


"Kak," ucap Neva seraya memeluk Natalie. "Neva kangen."


"Sayang, ini ada apa? kenapa ramai sekali?"


Natalie melihat ada Thomas, Nada, Kakaknya yang bersama wanita. Kemudian juga ada Selly dan Reynald, ada Tuan Mark, dan juga Helena.


Ada apa ini sebenarnya?


Neva melepaskan pelukannya. Natalie buru-buru meraih wajah gadis itu.


"Sekarang jelaskan sama Kakak! siapa yang sudah membuat acara ini? dan acara siapa ini sebenarnya?"


Natalie yang merasa dia tidak sedang hamil itu bertanya-tanya.


"Mpppp ..." Neva terlihat menggantungkan ucapannya. Ia takut diomeli Nada, karena sesuai perjanjian, tidak boleh ada yang bersuara sebelum ada perintah dari Nicholas.


"Neva, ayo cepat katakan padaku!"


Neva masih diam, sampai pada akhirnya seseorang di belakang Natalie memberikan instruksi untuk Neva mengatakan yang sebenarnya.


"Ini acara yang kami buat untuk menyambut kedatangan keluarga baru kami."


"Keluarga baru?" ulang Natalie. Mungkinkah yang dimaksud Neva itu Wanita yang tengah dalam genggaman kakaknya, Nada?


Tapi kenapa acaranya di kamar Nicholas? dan kenapa juga temanya Baby Shower?


Apa mungkin Wanita yang rencananya akan dinikahi kakaknya itu tengah berbadan dua?


Nada langsung mengangkat tangannya, seolah tersangka yang menyangkal tuduhan.


Lalu siapa?


Natalie menatap ayahnya, hal yang sama pun dilakukan Thomas.


Apa sih ini sebenarnya.


"Kak, Kakak bingung ya?" tanya Neva. Natalie menganggukkan kepalanya.


"Kakak jangan bingung. Kita semua di sini, sedang merayakan penyambutan kedatangan keluarga baru kami yang sekarang ada di sini." Neva menyentuh perut Natalie yang masih rata.


"Ka_kamu ngomong apa sih?" Natalie sedikit terkekeh. Tapi tunggu, kalau ini hanya lelucon yang dibuat Neva, mana mungkin keluarganya juga ikut merayakan.


Apa benar apa yang dikatakan Neva?


"Apa benar aku hamil?" cicit Natalie.


"Neva benar sayang, kita semua di sini sedang merayakan kehadiran buah hati kita."


Deg


Detak jantung Natalie seakan berhenti. Dia hafal benar suara berat siapa yang barusan berbicara.


"Nicholas," cicit Natalie saat ia membalikkan badannya.


Nicholas sudah berdiri tegap menghadap ke arahnya. Dengan seikat besar bunga mawar di tangannya, di belakang Nicholas juga sudah berjejer beberapa pengawalnya yang membawakan barang-barang yang mereka beli tadi.


Rupanya Nicholas membeli barang-barang itu untuk calon anaknya sendiri.


Natalie masih tak bergeming dari tempat dimana dia berdiri. Dia masih tidak percaya dengan apa yang saat ini terjadi.


Sungguhkah ia benar-benar hamil?


Apakah rasa mual yang setiap hari ia rasakan juga karena kehadiran janin di dalam rahimnya?


Nicholas berjalan, perlahan mendekat. Dengan dada yang berdetak hebat, Nicholas juga tidak menyangka bahwa ia akan secepat ini menjadi seorang Ayah.


"Maaf ya, aku baru memberitahumu sekarang. Aku hanya ingin merayakan kebahagiaan kita bersama orang-orang di sekeliling kita." 


"Kapan kau mengetahuinya?" tanya Natalie.


Beberapa hari yang lalu, saat kau pingsan pagi itu, dan dokter memeriksakan kandunganmu," jawab Nicholas.


"Jadi, aku beneran bakal jadi seorang Ibu?" ucap Natalie sedikit terbata.


Nicholas mengangguk. "Iya, kau akan menjadi seorang Ibu, dan aku ..." Nicholas mengusap lembut pipi Natalie, mengusap air mata wanitanya yang menetes begitu saja saking bahagianya, "... dan aku akan menjadi seorang ayah. Kita akan menjadi orang tua." 


Sungguh, tidak ada yang bisa menggambarkan kebahagiaan Natalie saat ini.


Sebentar lagi dia akan merasakan hal yang selama ini ia damba-dambakan, menjadi seorang Ibu.

__ADS_1


Akan hadir si kecil yang akan menjadi pelengkap kebahagiaan antara dirinya dengan Nicholas.


Hadirnya buah hati yang akan menjadi alasan terkuat mereka untuk selalu bersama dalam suka maupun duka.


"Sayang, kamu kenapa?" tanya Nicholas. Sejak tadi Natalie diam dan mematung. "Kok nangis?"


"Ah, aku." Natalie berusaha mengatur nafasnya yang terengah-engah. "Aku tidak tahu lagi bagaimana harus menunjukkan kebahagiaanku?"


Air mata Natalie akhirnya berderai lagi. Kali ini semakin deras. Beberapa orang yang hadir di sana pun ikut terbawa haru. Melihat pasangan yang berhasil melewati badai asmara itu akhirnya menemukan kebahagiannya.


"Kau sudah siap menjadi Ibu dari anak-anakku?"


Natalie mengangguk. "Iya, aku siap."


Mendengar jawaban dari Natalie, Nicholas langsung memeluk wanitanya. Mencium keningnya dengan mesra, juga membisikan sesuatu di telinganya. "Jangan minta yang aneh-aneh ya sayang!"


"Ish, apaan sih kamu!"


Natalie mencubit pinggang Nicholas karena malu.


Semua yang hadir di sana pun tertawa bahagia.


"Neva, sudah siap punya keponakan dong?" tanya Nicholas.


"Sudah dong! Neva sudah belajar gendong adek temen Neva kok. Buat jaga-jaga nanti kalau dede bayi sudah lahir kan Neva udah bisa gendong."


Gelak tawa semakin menjadi-jadi saat jawaban polos itu terlontar dari adik bungsu Natalie.


Tak lama, datanglah beberapa makanan yang sengaja Nicholas pesan untuk memeriahkan acara hari itu.


Nicholas memesan beberapa kotak pizza, fried chicken, minuman beraneka macam, buah-buahan beraneka ragam, kue-kue yang sangat menggiurkan, sampai dengan cemilan yang juga tak kalah banyaknya.


Semua itu sengaja ia sajikan untuk orang-orang yang selama ini setia mendukungnya bersama Natalie.


"Kamu mau apa?" tanya Reynald. Pasangan muda yang sebentar lagi akan melangsungkan pernikahannya itu terlihat malu-malu saat berada di tengah keramaian.


Selly menggelengkan kepalanya. Ia sebenarnya ingin memakan banyak makanan yang ada, tapi dia malu. Selly belum sepenuhnya bisa berkomunikasi dengan banyak orang seperti ini. Jadi, sejak tadi ia hanya bersender di samping Reynald malu-malu.


Sementara pasangan yang tengah dilanda kebahagiaan itu juga rupanya tak kalah dramanya. Sejak tadi Nicholas terus merayu Natalie untuk mencicipi satu suap saja makanan yang ada, karena Natalie terus mengunci mulutnya.


"Satu aja, sayang!"


"Aku 'gak mau."


"Satu ya!"Nicholas lagi-lagi mengangkat sebiji anggur, berharap istrinya itu mau.


"Ya udah, tapi satu aja ya!"


"Oke. Satu aja."


Nicholas pun langsung menyuapi anggur tersebut ke mulut Natalie.


Uekkk


Tapi sayang, sepertinya bukan hanya Natalie yang enggan makan siang itu. Bayi yang ada dalam kandungannya juga sepertinya menolak mentah-mentah makanan yang ayahnya berikan itu.


"Nic, jangan dipaksa kalo Natalie 'gak mau. Kamu gimana sih?" omel Mark saat melihat Natalie berlari ke kamar kecil.


"Iya, iya. Nicho salah."


Nicholas langsung mengejar Natalie ke kamar mandi.


"Sayang, kamu nggak apa-apa kan?" Nicholas langsung memijit tengkuk leher Natalie. Helena datang membawakan segelas air hangat. Nicholas langsung membantu Natalie untuk meminumnya.


"Kan aku udah bilang, aku 'gak mau," omel Natalie. "Kamu sih maksa terus."


"Iya, iya, aku minta maaf sayang. Aku janji 'gak bakal maksa kamu lagi."


"Minta maaf juga sama anak kamu!"


Nicholas terkekeh saat mendengar perintah itu.


"Iya, iya."


Nicholas lantas mendekatkan telinganya pada perut Natalie yang masih sangat rata itu. Melakukan hal lucu yang dinantikan banyak pasangan di dunia ini.


"Maafin ayah ya, Nak! ... Ayah janji 'gak bakal maksa Mama buat makan lagi!"


Natalie terkekeh geli saat melihat ekspresi Nicholas saat bicara dengan janin di perutnya.


"Udah kan?" Nicholas lantas menarik dirinya kembali. "Udah 'gak ngambek lagi kan?"


Natalie mengangguk.


"Gitu dong!" Nicholas memeluk Natalie kembali. "Kamu tau gak?"


"Nggak, kan kamu belum ngomong."


Lagi-lagi Nicholas terkekeh. "Aku, makin 'nggak sabar buat bicara langsung sama anak kita."


Natalie tersenyum bahagia mendengar ucapan suaminya.


"Aku juga," balas Natalie. Dia lantas mengeratkan pelukannya. Memeluk dengan cinta yang begitu besar pada laki-laki yang akhir-akhir ini membuat ia berarti ada di dunia ini.


"Terimakasih, Tuhan. Terimakasih untuk bahagia yang tak terkira ini. Terimakasih untuk nyawa yang ada dalam rahimku, juga sosok suami yang sangat mencintaiku. Aku bahagia memiliki mereka. Aku janji akan menjaga mereka sampai nafasku berhenti pada waktunya. " Natalie Jhonson

__ADS_1


To be continued


__ADS_2