
Nicholas kini sudah berada dalam mobil bersama seorang laki-laki yang selalu berada di sampingnya, Reynald tentunya.
"Percepat, Reynald!" titah Nicholas.
Tak ada jawaban, Reynald hanya mengangguk lalu menambah kecepatan mobilnya.
Mobil mewah itu melesat, membelah jalanan kota.
Prakk
Nicholas melempar ponselnya sembarang. Sudah beberapa kali Nicholas coba menghubungi Natalie, namun hasilnya tetap nihil.
"Apa yang sebenarnya terjadi denganmu?" batin Nicholas terus bergemuruh.
"Reynald," Panggil Nicholas.
"Iya, Tuan."
"Kau belum cerita padaku, darimana kau tahu kalau Natalie masuk rumah sakit?"
"Oh, itu Tuan. Tadi ada salah satu karyawan yang memberikan saya informasi."
"Karyawan?" ulang Nicholas, "siapa namanya?"
Astaga, Reynald lupa menanyakan nama wanita pemberi informasi itu.
"Maaf, Tuan. Saya lupa menanyakan nama wanita itu. Tapi .. "
"Tapi apa?" Nicholas kembali mengajukan pertanyaan karena tak sabar.
"Tapi saya ingat, dia adalah karyawan yang satu team dengan laki-laki yang menabrak saya tadi siang, Tuan."
"Kevin?" gumam Nicholas. Dia ingat benar laki-laki yang menabrak Reynald siang tadi adalah Kevin. "Apa ini artinya Natalie masuk rumah sakit ada hubungannya dengan Kevin?"
"Reynald, kita harus segera sampai ke rumah sakit!"
"Ah, iya Tuan. Baik." Reynald kembali mempercepat laju mobilnya.
---***---***---
Setelah merasa lebih baik, Natalie melepas pelukannya dengan Kevin.
"Vin, apa kau membawa ponselku?"
__ADS_1
Kevin menggelengkan kepalanya. Dia ingat, dia tidak sempat membawa ponsel Natalie karena terlalu mengkhawatirkan wanita itu.
"Maafkan aku, Nat. Aku terlalu mengkhawatirkan mu, sampai lupa membawa ponsel mu."
"Oh, iyaudah gpp."
Kevin melihat raut wajah Natalie kembali murung.
"Apa kau ingin menghubungi seseorang?" Kevin merogoh benda pipih dari balik kantong celananya lalu menyerahkannya pada Natalie, "pakai saja dulu punyaku!"
Natalie terperanjat, tidak. Ini tidak mungkin. Natalie ingin memberitahu Nicholas kalau dia tidak ada di rumah. Karena Natalie takut nanti Nicholas marah padanya saat dia tidak menemukan Natalie di rumah.
Kalau dia menggunakan ponsel Kevin untuk menghubungi suaminya itu, Nicholas pasti marah besar dan tidak segan-segan melakukan ancamannya waktu itu.
"Ah, tidak usah, Vin. Aku cuma mau tahu ponselku aja kok."
"Sungguh?"
"Hmppp," Jawab Natalie dengan senyuman manisnya yang selalu membuat Kevin jatuh cinta.
"Yasudah," Kevin kembali memasukkan benda pipih itu ke dalam kantong celananya, "lagipula Nicholas sudah tahu kok."
Natalie mengernyitkan dahinya, kenapa Kevin bisa membaca pikiran Nya saat ini. Natalie memang ingin menghubungi Nicholas. Apa Kevin ini dukun? batin Natalie.
"Aku sudah meminta Eliza menemui orang kepercayaan Nicholas untuk memberitahukan keadaan mu saat ini."
"Jadi Kevin sudah memberitahu Nicholas." cicit Natalie dalam hatinya.
"Terus, apa kata Eliza?" Natalie panik. Apakah Eliza hanya bertemu dengan Reynald atau langsung bertemu dengan Nicholas. Natalie takut jika Eliza langsung bertemu Nicholas, dan Nicholas tidak memperdulikan informasi itu. Natalie takut Eliza tahu keadaan yang sebenarnya. Natalie takut Eliza tahu sifat asli Nicholas yang sesungguhnya.
"Eliza bilang, Nicholas keluar kantor tak lama setelah dia memberikan informasi itu."
"Nicholas keluar kantor? apakah itu artinya dia akan datang untuk menemuiku?" Batin Natalie kembali bertanya-tanya. "tapi apa mungkin dia mengkhawatirkan ku?" lanjutnya, membatin.
Jika mengingat kejadian semalam, rasanya Natalie tak ingin terlalu percaya diri kalau saat ini Nicholas mengkhawatirkannya. Mungkin Nicholas keluar karena memang ada meeting dengan client Nya, pikir Natalie.
Tapi, kalau ternyata Nicholas benar-benar datang, Kevin harus segera pergi dari sini. Dia tidak mau Nicholas melihat mereka berdua di satu ruangan seperti ini. Bisa berbahaya bagi Kevin.
"Kenapa kau menatapku seperti itu?" Tanya Kevin melihat Natalie menatap dirinya seperti khawatir. "Kau takut Nicholas marah karena aku ada disini?"
Natalie masih diam dan tak menjawab pertanyaan Kevin. Karena lagi-lagi tebakan Kevin memang benar. Sekali lagi rasanya gelar dukun itu memang pantas untuknya.
Kevin beranjak dari kursinya, "kau tenang saja! aku akan pulang sebelum Nicholas datang." Ucap Kevin seraya bangkit dari tempat duduknya. "Tapi berjanjilah satu hal padaku!" Kevin memegang tangan Natalie erat. "Jika ada yang menyakitimu, katakan padaku!"
__ADS_1
Natalie terdiam, dia melihat sinar cahaya dari mata Kevin begitu tulus padanya. Mata Kevin seolah berkata bahwa dia sangat takut Natalie terluka.
Jujur, Natalie sangat senang karena masih ada orang yang benar-benar mengkhawatirkan keadaannya saat ini.
"Hmppp," Natalie mengangguk dengan senyuman.
Kevin membalas senyum hangat Natalie lalu mengacak-acak rambut panjang Natalie.
"Aku pergi dulu ya!" Ucapnya yang tak lama akhirnya dia melangkahkan kakinya, keluar dari kamar Natalie karena dia rasa sebentar lagi Nicholas akan sampai ke tempat itu. Kevin tak mau membuat keributan di depan Natalie. Kalaupun rasa amarahnya ingin sekali menghabisi laki-laki brengs*k itu, tapi Kevin rasa ini bukan saat dan waktu yang tepat.
Natalie masih terpaku dengan senyumnya menatap kepergian Kevin sampai laki-laki itu benar-benar menghilang dari pandangannya. Entah kenapa tiba-tiba Natalie merasa sesak, harusnya dia mendapat perhatian seperti ini bukan dari Kevin, tapi dari Nicholas. Lagi-lagi, Natalie berharap pada laki-laki itu.
Sepi.
Itu yang dirasakan oleh Natalie saat ini.
Sudah sekitar 30 menit yang lalu sejak kepergian Kevin, nyatanya Nicholas tak kunjung juga datang. Dugaannya benar, Nicholas memang sepertinya pergi keluar kantor hanya untuk meeting. Bukan untuk menemuinya.
Lagipula dia siapa? Hanya istri yang tak dianggap, batinnya.
Tiba-tiba setetes air matanya kembali luruh. Dia menyekanya, lalu memilih turun dari tempat tidur dan berjalan perlahan mendekati jendela. Mencoba mencari udara segar, agar keadaannya segera pulih dan bisa segera pulang dari tempat ini.
Dia melihat ke luar jendela yang jelas menunjukkan lantai dasar rumah sakit itu. Banyak orang-orang sedang sibuk berlalu lalang, ada seorang laki-laki yang mendorong kursi roda wanitanya, ada seorang wanita muda yang tengah menyuapi laki-lakinya, sungguh pemandangan yang serba romantis, batinnya.
Bahkan di tempat Natalie berdiri saat ini juga bisa membuat kita melihat sebuah taman yang hijau. Yang hanya dengan melihatnya saja kita sudah bisa merasakan kesegarannya.
Di taman itu, tak sengaja mata Natalie melihat sepasang manusia lanjut usia tengah duduk santai di pojokan taman. Sambil menyenderkan kepalanya di pundak kakek tua itu. Sang nenek memandang langit biru sambil menunjuk burung-burung yang terbang bebas di udara.
Sederhana sekali. Tapi Natalie melihat kebahagiaan begitu jelas terukir dari wajah keduanya yang saling melemparkan senyum tulusnya.
Sedikit tersirat rasa iri. Natalie berpikir, apakah suatu saat nanti dia dan Nicholas akan sampai pada titik itu? Titik dimana hanya ada cinta yang tersisa, menanti kematian untuk kembali mempersatukan mereka pada alam uang berbeda.
Tapi rasanya harapan itu terlalu berlebihan baginya untuk saat ini. Berharap sampai tua? mana mungkin. Belum satu bulan pernikahan saja, Nicholas sudah mencampakkannya. Apalagi nanti, pikir Natalie.
Air mata Natalie kembali menetes. Dia menundukkan wajahnya, memejamkan matanya, berharap ada sebuah kekuatan yang bisa menenangkan hatinya saat ini.
Sepertinya tuhan menjawab do'a Natalie. Dia benar-benar merasakan sebuah sentuhan. Pelukan yang dulu selalu menghangatkan setiap harinya. Pelukan yang selalu menenangkan amarahnya.
Deru nafas yang bergemuruh juga tak asing lagi ditelinga Natalie.
"Nicholas." cicit Natalie. Dia berusaha membalikkan badannya, namun Nicholas malah menahan dan mengeratkan pelukannya.
"Jangan bergerak! biarlah seperti ini, sebentar saja."
__ADS_1