Husband From Hell (Suami Dari Neraka)

Husband From Hell (Suami Dari Neraka)
Prioritas


__ADS_3

Reynald benar-benar tidak percaya.


Itu artinya, Nicholas selama ini memiliki dendam pada ibu mertuanya. Dan jangan-jangan ...


"Kau sekarang pasti berpikir, aku menikahi Natalie karena dendam ku pada Ibunya." Nicholas melepas kerah baju Reynald, membuatnya bisa bernafas lega.


"Kalau kau bertanya demikian, maka aku akan menjawabnya dengan kata IYA ... Aku memang menikahi gadis itu karena dendam."


Reynald tak berkedip sedikitpun mendengar kenyataan gila ini.


"Tapi, Tuan ... apakah kau sadar kalau kau melukai orang yang salah. Kau dendam pada ibunya, tapi kau melukai putrinya yang tidak bersalah."


"Iya ... aku sadar. Aku sangat sadar akan hal itu."


"Lalu, kenapa kau masih melakukannya, Tuan?"


"Aku tidak tahu, Reynald. Awalnya aku ingin menyudahi semua permainan gila ini sebelum aku benar-benar menikahi Natalie, tapi ... "


"Tapi kenapa, Tuan?"


Bukannya menjawab, Nicholas malah melamun, diam dan tak lama kemudian malah memejamkan matanya. Membuat Reynald semakin bingung dibuatnya.


Nicholas kembali membuka matanya. "Sudahlah, kita akhiri saja pembicaraan kita hari ini." Laki-laki itu kembali duduk di kursinya dan membuka sebuah dokumen. "Tinggalkan aku sendiri!" Titah Nicholas.


"Ba_baik, Tuan." Reynald menundukkan kepalanya, lalu membalikkan badannya. Walau sebenarnya isi kepalanya masih tak bisa menerka maksud isi pembicaraan keduanya. jawabannya masih terasa menggantung baginya.


"Reynald, tunggu!"


Langkah kaki Reynald terhenti sebelum ia membuka pintu utama ruangan itu. Dia kembali membalikkan badannya ke arah Nicholas tanpa berkata-kata.


"Tolong jaga rahasia ini," Ucap datar Nicholas yang menatap mata Reynald penuh harap.


"Tentu, Tuan. Saya akan menjaga rahasia ini sampai kapanpun."


Nicholas tersenyum bahagia mendengar jawaban dari tangan kanannya itu.


"Dan satu lagi, aku minta tolong. Lindungi Natalie jika aku berbuat kasar padanya."


Reynald dibuat bingung. Apa yang sebenarnya ada di pikiran bos nya itu. Dia berniat dan berencana melukai wanita itu, tapi dia juga meminta Reynald untuk melindungi wanita itu.


Itu artinya Reynald harus melawan Nicholas suatu waktu, jika Nicholas benar-benar menyiksa wanita tak berdosa itu.


Permintaan macam apa ini?


Reynald benar-benar gila dibuatnya.


"Tunggu, Tuan ... Tuan bilang, kalau Tuan menikahinya karena ingin membalas dendam pada orang tuanya, tapi Tuan meminta saya untuk menjaga Nona Natalie, Apa jangan-jangan ... sebenarnya Tuan memang mencintai Nona Natalie?"


Lidah Nicholas mendadak kelu. Seperti merasa Reynald sedang menghakimi dirinya.

__ADS_1


"Jangan gila kau Reynald ... aku hanya tidak ingin wanita itu mati sebelum aku menyelesaikan dendam ku."


Reynald menyipitkan matanya. Kenapa Nicholas terasa seperti monster yang menyeramkan sekali malam ini.


"Jadi, perhatian yang Tuan berikan itu hanya sebatas_"


"Iya, itu hanya kepura-puraan semata, agar Natalie percaya kalau aku benar-benar mencintainya?"


Reynald menggeleng-gelengkan kepalanya, tak percaya. Nicholas ternyata tak sepenuhnya sempurna. Dia juga punya sisi kejam yang ternyata lebih parah dari yang Reynald kira.


"Sudahlah, Reynald. Sekali lagi kukatakan! tugasmu hanya melindungi wanita itu dari amarah ku. Aku tidak mau dia mati sebelum aku puas menyiksa Ibunya ... kau bisa pergi." Ucap Nicholas datar.


Reynald sempat mematung beberapa detik sebelum akhirnya dia benar-benar keluar dari ruangan itu. Menganga, tak percaya. Dendam yang dilampiaskan pada sebuah ikatan cinta itu rupanya bukan hanya terjadi di dunia fiksi saja, pikirnya.


***


"Ibu, terlalu banyak menggunakan uang untuk barang-barang yang tidak penting ini." Pekik Thomas kesal karena seorang kolektor bank baru saja menagih cicilan pada mereka.


"Ah, ayah ini. Tinggal minta uang saja pada anak perempuan mu itu. Beres kan?" Nadia melengos pergi meninggalkan suaminya.


"Bu, sudah ayah bilang. Jangan keseringan meminta uang pada anakmu itu. Dia baru menikah. Dan kau ... "


"Kau apa?" Nadia menghentikan langkah kakinya dan beralih menatap wajah Thomas yang sudah memerah.


"Kau ini benar-benar keterlaluan, yah." Thomas hampir saja mengangkat tangannya hendak melampiaskannya pada pipi istrinya itu.


"Bu, Neva laper."


"Kau lapar sayang? ayo kita pergi ke rumah makan. Ibu juga lapar." Nadia menuntun pergi Neva keluar rumah.


Seperti tak ada rasa menyesal dan bersalah, Nadia pergi begitu saja meninggalkan Thomas dengan amarahnya.


Thomas menggeleng-gelengkan kepalanya, istrinya, Nadia sudah benar-benar keterlaluan. Semenjak usaha laundry nya bangkrut. Nadia berubah menjadi istri yang tidak berbakti lagi pada suaminya. Mentang-mentang kini Thomas tak bisa memberikannya uang jatah bulanan sebesar dulu, Nadia makin menjadi-jadi. Dia bahkan sering menyuruh-nyuruh Thomas, seolah Thomas bukan suaminya. Tak ada lagi rasa hormat dari wanita yang ia perjuangkan mati-matian itu.


Kalau saja, Nadia tahu pengorbanan Thomas yang memilih hidup bersamanya dan meninggalkan wanita lain yang sangat dicintainya demi dia. Akankah Nadia masih bisa menyia-nyiakan Thomas seperti ini?.


Thomas seringkali menyesal karena telah memilih Nadia sebagai istrinya, namun jika teringat wajah ketiga putra putrinya, Nada, Natalie dan Neva, Thomas mengusap wajahnya dan menarik kembali kata-katanya.


Semua sudah ditakdirkan dan digariskan sedemikian rupa oleh Tuhan. Tak pernah ada yang tahu rencana apa yang sebenarnya akan diberikan tuhan kedepannya.


Tapi salahkah Thomas jika di saat-saat seperti ini, ia sering teringat wajah wanita yang sudah ia tinggalkan demi Nadia.


"Bagaimana kabarmu dan anak kita? ... aku benar-benar merindukan kalian."


***


"Nona, lebih baik kau menunggu Tuan di kamar saja! kalau Tuan sudah sampai, nanti saya kabari." Begitu ucap Helena pada Natalie yang sedari tadi menunggu kedatangan Nicholas untuk makan malam.


"Tidak apa-apa, Bi. Saya disini saja." Natalie mengulas senyumnya sesaat membuat Helena pasrah merayu wanita itu.

__ADS_1


Kenapa dia belum pulang juga?


Natalie melirik jam di tangannya, sudah menunjukkan pukul 21.00, dan suaminya masih belum pulang juga.


Lagi-lagi Natalie enggan menghubungi suaminya karena takut mengganggu dia yang dikhawatirkan sedang melakukan pertemuan dengan orang penting.


"Hufttt ... " Natalie merebahkan tubuhnya di atas meja makan.


Hanya nafas kesal yang mengiringi malam itu. 30 menit telah kembali berlalu. Angin malam di ruangan itu tiba-tiba mengusik rasa kantuk Natalie, dan tak bisa dipungkiri lagi, Natalie benar-benar lelah menunggu, sampai dia beberapa kali menguap dan akhirnya dia benar-benar tertidur.


Sementara seorang istri menunggu kedatangan suaminya untuk makan malam bersama, di luar sana suaminya malah melakukan makan malam bersama wanita lain.


"Sayang, aku gak mau pulang ke rumah." Rengek manja Jennifer setelah selesai menghabiskan makan malam romantisnya dengan kekasihnya.


"Kenapa?"


"Aku sedang bertengkar dengan Papa. Aku tidak mau pulang. Aku nginep di apartemen kamu ya?" Jennifer berjalan mendekati Nicholas, memperbaiki dasi yang sebetulnya tidak perlu dirapikan.


"Tidak bisa, Jen. Kau harus pulang! ... aku tidak mau membuat Mama dan Papamu khawatir."


"Tapi aku tidak mau. Pokoknya aku mau ikut kamu." Ucap Jennifer kesal. Dia merengut dan menekuk kedua tangan di dadanya. "Kalau kamu tidak mengizinkan aku ikut. Besok aku tidak mau pergi ke dokter." Ancam Jennifer.


Satu hal yang harus kalian ketahui. Jennifer adalah pengidap penyakit Leukimia. Dia harus rutin berobat setiap minggunya, agar penyakitnya itu lekas membaik. Dan orang yang selalu mengantar Jennifer kontrol itu adalah laki-laki yang saat ini duduk di hadapannya, Nicholas.


Jennifer memang mengajukan syarat pada kedua orangtuanya, jika dia hanya ingin ke dokter bila ditemani sang kekasih. Dan Nicholas tidak ada pilihan, selain mengiyakan, karena dia juga tidak mau sesuatu hal yang buruk menimpa kekasihnya itu.


Nicholas menghembuskan nafasnya gusar.


"Baiklah, kau boleh ikut. Tapi dengan satu syarat."


"Syarat apa?" Mata Jennifer berbinar bahagia, akhirnya setelah bertahun-tahun menjalin hubungan, dia bisa tidur berdua dengan Nicholas.


Selama berhubungan, Nicholas dan Jennifer memang tidak pernah melakukan hubungan diluar berpelukan atau berciuman. Meskipun kesannya Nicholas adalah pemain wanita. Nyatanya laki-laki itu tidak pernah menodai wanita manapun. Dia bahkan sampai saat ini tidak pernah memiliki mantan kekasih. Jennifer adalah pacar pertamanya sejak kuliah dulu dan sampai sekarang.


"Kau harus langsung istirahat begitu sampai di apartemen ku. Kau tidak boleh meminta hal lain setelah sampai sana, mengerti?" Ucap Nicholas seraya menyambar jas miliknya.


Jennifer mengangguk bahagia. Tentu ia akan mengiyakan permintaan Nicholas saat ini. Urusan bagaimana setelah sampai apartemen nanti, itu akan dia atur setelah sampai sana.


"Yes." Jennifer mengepalkan tangannya dan berlari kecil dibelakang Nicholas. Dia terlalu bahagia karena akhirnya bisa menikmati malam ini dengan laki-laki yang sangat dicintainya.


Keduanya masuk ke dalam mobil setelah Reynald membukakan pintu untuk mereka.


Nicholas merapikan setelan jas nya sesaat setelah duduk di kursi mobil. Dia merogoh ponselnya, seperti berharap ada pesan dari seseorang yang ia harapkan.


Dia men scroll puluhan pesan yang masuk. Namun tak ada satupun pesan dari orang yang dimaksud.


Mungkin dia sudah tidur.


Ah, sial. Kenapa Nicholas begitu mengkhawatirkannya?

__ADS_1


Mau dia sudah tidur atau belum, itu bukan urusannya. Dia hanya perlu memprioritaskan wanita yang kini di sampingnya. Wanita yang selama ini selalu setia menemaninya dalam keadaan apapun.


"Tidurlah, aku akan membangunkan mu jika sudah sampai."


__ADS_2