Husband From Hell (Suami Dari Neraka)

Husband From Hell (Suami Dari Neraka)
Untuk apa?


__ADS_3

*Ada kalanya memang apa yang kita inginkan tak sesuai dengan kenyataan.


Ada saatnya, kita juga harus belajar menerima kenyataan bahwa tak semua harapan bisa berakhir dengan membahagiakan.


Iya. Sama halnya seperti pasangan.


Meskipun kita sudah mati-matian mengejar dan berusaha mempertahankan, kalau dia tidak melakukan hal yang sama dengan yang kita harapkan, kita bisa apa*?


***


Beberapa menit Natalie terdiam dalam lamunannya sambil menatap nanar rumah mewah itu. Meskipun hati dan perasaannya sudah hancur lebur tak tersisa, tapi dia harus tetap berada di sana untuk melihat secara langsung apa yang sebenarnya dilakukan Nicholas di sana.


Tak lama kemudian, akhirnya yang ditunggu-tunggu datang juga. Nicholas keluar rumah itu bersama seorang wanita yang ternyata benar adalah Jennifer.


Nicholas berjalan dengan sebelah tangannya mengangkat sebuah panggilan telepon, sementara satu tangan lainnya dipeluk erat oleh seorang wanita yang jelas itu membuat hati istri manapun akan sakit melihatnya.


"Dia terlihat sangat bahagia sekali bersama wanita itu?" gumam Natalie. Mata Natalie membelalak tak percaya. Kejadian di depan matanya terlihat lebih gila. Jennifer mengecup pipi Nicholas dengan lembutnya.


"Semua ini sudah jelas."


Natalie tak kuasa menahan sesak di dadanya saat melihat laki-laki yang sangat dicintainya itu kini malah diam saja saat ada wanita lain yang menyentuhnya. "Kenapa dia diam saja?"


"Nicho benar-benar telah mengkhianati janji suci ini." Natalie terisak sambil memegangi dadanya dan menatap cincin berlian yang melingkar di jari manisnya.


💔 Astrid : Aku bisa apa?


*Indah kulihat senyum mu saat ini


Walau itu bukanlah untuk ku


Lama tak ku rasa bahagia dirimu


Sejak kita tak lagi bersama


Dan biarlah ku sendiri


Teruskanlah bahagia mu


Terasa menyenangkan melihat dirimu bahagia


Hidup bersamanya, ku doakan untuk selamanya

__ADS_1


Walaupun hatiku tak mampu untuk memiliki mu


Bila kau bahagia aku bisa apa*


----


Nicholas pergi meninggalkan Jennifer setelah melambaikan tangannya terlebih dulu. Laki-laki itu pergi sendiri tanpa mengajak Jennifer. Ini kesempatan bagi Natalie untuk menanyakan secara langsung, sebenarnya sejauh apa hubungan diantara keduanya itu.


"Aku harus turun!" ucap Natalie seraya menarik jaket di senderan kursinya, dan segera keluar dari mobil, mengejar Jennifer yang hampir saja masuk kembali ke dalam rumahnya.


"Tunggu!"


Langkah Jennifer terhenti saat mendengar ada suara yang menghentikannya.


"Kau." Matanya menyipit. "Untuk apa Natalie datang menemuiku?" gumamnya dalam hati. "Ada perlu apa? ... aku tidak punya banyak waktu," ujar Jennifer dengan tangan yang menyilang diantara dadanya dengan angkuh.


Natalie tak habis pikir. Wanita semacam apa Jennifer ini. Sudah jelas-jelas mengganggu rumah tangga orang. Tapi masih bersikap angkuh di depan istri sah-Nya.


"Aku mau bicara." Natalie mulai kesal.


Mata Jennifer mendelik malas. "Katakan! aku sudah bilang, kalau aku tidak punya banyak waktu."


"Wanita ini benar-benar tidak tahu diri." Natalie geram dengan tingkah laku Jennifer. Kini sudah tidak alasan lagi baginya untuk menahan segala emosinya yang selama ini ia pendam. "Ada hubungan apa kau dengan Nicholas?"


"Kenapa kau diam?"


"Ah," Jennifer tersadar dari lamunannya. "Mpppp, bukankah kau sudah melihat sendiri barusan?" Jennifer terlihat sangat bangga. Dia yakin bahwa sepertinya Natalie melihat secara langsung kejadian barusan di depan rumahnya.


Nafas Natalie mulai tak stabil. Emosi dan rasa sakitnya saling beradu saling mendahului. "Cepat! katakan saja! jangan bertele-tele!"


Jennifer menatap angkuh wanita di depannya. "Baiklah, jika itu yang kau mau ... tapi berjanjilah padaku untuk tidak menangis di sini. Karena aku tidak suka mendengar suara cengeng tangisanmu memenuhi seisi rumahku."


Natalie masih menatap Jennifer tak bergeming sedikitpun. Rupanya selain penghancur hubungan orang, Jennifer juga sangat angkuh dan sombong, batin Natalie.


Jennifer mengatur nafasnya. Kali ini dia sudah bersiap-siap melihat ekspresi raut kesedihan wanita di hadapannya. Dia yakin, Natalie tidak akan bisa tidur setelah mendengar kenyataannya. "Aku dan Nicholas sudah bertunangan."


Teg


Mata Natalie terbuka sempurna saat mendengar jawaban gila dari Jennifer.


"Apa? ... tunangan?"

__ADS_1


"Hmppp,"


"Kau pasti bohong!"


"Terserah, kalau kau tidak percaya." Jennifer mencibirkan bibirnya. Lalu, tiba-tiba sebelah tangan kirinya, "tapi mungkin cincin yang melingkar indah di jari manis ini bisa membuatmu sedikit percaya." Jennifer menipu Natalie dengan cincin yang ada di jarinya itu. Padahal jelas itu bukan cincin pertunangan mereka. Itu hanyalah sebuah hadiah pemberian dari Nicholas tempo hari itu.


Natalie menatap tangannya. Rupanya cincin yang melingkar di jari tangan Jennifer sama persis dengan cincin yang melingkar di tangannya.


"Itu artinya ... itu artinya, cincin itu memang benar pemberian Nicholas, dan mereka ... " Nafas Natalie makin memburu. Dia berusaha menahan air matanya agar tidak turun. Dia harus terlihat tegar, meskipun sebenarnya hatinya sudah tak berbentuk lagi di sana.


"Kenapa kau melakukan ini?" Mata Natalie mendelik tajam. Tangannya tiba-tiba menarik kerah baju Jennifer. "Kenapa kau melakukan ini padaku? KAU TAHU KAN KALAU NICHOLAS SUDAH MENIKAH DENGANKU?" Natalie sudah benar-benar emosi.


Jennifer menghempaskan tangan Natalie dari kerah bajunya sampai Natalie terdorong. "Lepas!!! jangan menyentuhku!" Sorot mata Jennifer tak kalah panasnya. "Kau tidak berhak berkata seperti ini padaku."


"Kenapa? ... kenapa kau tidak mau menjawab pertanyaanku? apa kau buta? apa kau tuli? kenapa kau mau menerima lamaran dari laki-laki yang jelas-jelas sudah memiliki istri? apa tidak ada lagi laki-laki di luar sana selain Nicholas, hah? apa kau sudah tidak punya harga diri lagi?"


"Cukup, Natalie!!" tiba-tiba suara bariton yang tidak asing itu menggelegar memenuhi seisi ruangan. Rupanya Nicholas kembali karena meninggalkan dompetnya di rumah Jennifer.


"Nicho." Mata Natalie membelalak. Kenapa dia harus datang di waktu yang tidak tepat.


"Hentikan ucapan mu! dan kenapa kau bisa ada di sini?" tanya Nicholas dengan tatapan dari mata tajamnya mendekat ke arahnya.


Natalie terdiam. dia tidak mungkin bilang kalau dia membuntuti Nicholas.


"Aku ... aku hanya ingin tahu, sebenarnya ada hubungan apa kau dengan Jennifer."


"Ckkk, kau membuntuti ku?"


Melihat suasana panas. Jennifer mengambil kesempatan untuk memperkeruh suasana. "Kalau hubungan sudah tidak didasari dengan kepercayaan, untuk apa dipertahankan?" cibirnya sambil menaikkan kedua tangannya dalam lipatan.


"Diam kau wanita murahan!" bentak Natalie sambil menunjuk wajah Jennifer dengan telunjuknya.


"Kau yang diam, Natalie!!!" Nicholas membentak Natalie sambil menarik tangan Natalie untuk turun. Membuat Natalie terperanjat tak percaya. Baru kali ini Nicholas membentak dirinya di depan umum.


"Kau ... kau lebih membela dia dibandingkan aku sendiri, istrimu?" Mata Natalie sudah berkaca-kaca. Bibirnya mendadak gemetar tak percaya jika Nicholas akan lebih membela wanita itu dibandingkan dia. Tapi tak ada jawaban dari Nicholas.


"Aku sekarang mengerti, kenapa selama ini kau tidak pernah memperlakukanku layaknya seperti seorang istri." Matanya menatap tajam Nicholas yang tak bisa menjawab pertanyaannya.


Melihat Nicholas hanya terdiam. Natalie pun akhirnya menyambar tas yang semula terjatuh karena dorongan Jennifer. "Baiklah, jika ini yang kalian inginkan. Aku rasa, sebagai manusia yang memiliki hati, sebaiknya aku tidak menghalangi niat dua insan yang ingin bersatu karena cinta." Suaranya terdengar parau. Setelah itu Natalie lalu menabrak tubuh Nicholas begitu saja. Meninggalkan tempat itu dengan rasa sakitnya yang sudah amat teramat menusuk sampai ke dasar relung hatinya.


Sepanjang perjalanan menuju mobilnya, air matanya turun berderai tak ber-jeda. "Maafkan aku, Tuhan. Tapi sepertinya aku menyerah saja." Ia sudah sampai di dalam mobil. Ia menundukkan kepalanya di atas stir mobil, "untuk apa aku memperjuangkan seseorang yang tak pernah mengharap untuk diperjuangkan."

__ADS_1


To be continued


__ADS_2