
"Selamat datang, Tuan Nicholas." Sapa seorang penjaga pintu utama rumah kediaman Jennifer Kim, atau yang biasa dipanggil Sekretaris Kim.
Nicholas hanya menganggukkan kepalanya dan sedikit membalasnya dengan senyuman hangat. Dia terus berjalan memasuki rumah mewah itu diikuti Reynald yang selalu stay dibelakangnya.
"Pagi, sayang!" sambutan yang diberikan Jennifer diikuti kecupan mesra di pipi kiri dan kanan Nicholas.
Nicholas tak mengelak. Dia hanya diam dan menerima setiap sentuhan yang diberikan kekasihnya itu. Biar bagaimanapun, Jennifer memang kekasihnya. Meskipun statusnya saat ini dia memang resmi menjadi suami Natalie, tetap saja, posisi Jennifer juga sangat berpengaruh dalam kehidupan Nicholas.
"Selamat pagi, Om, Tante." Sapa Nicholas seraya membungkukkan badannya.
"Iya, selamat pagi juga calon menantu. Silahkan duduk!" jawab Julia spontan, lalu mempersilahkan Nicholas duduk di kursi yang sudah sengaja dikosongkan di samping Jennifer. Seorang pelayan menarik kursi itu agar Nicholas bisa langsung duduk.
Tak menunggu lama, hidangan mewah datang silih berganti dari para pelayan dan kini semuanya fokus dengan hidangan mewah di atas meja itu.
"Bagaimana kabar Jhonson group?" Roy memulai pembicaraan pagi itu.
"Baik, Om. Semua berjalan sesuai rencana." Jawab Nicholas setelah sebelumnya menengguk segelas orange juice.
"Wah, aku memang tidak salah memilih menantu. Kau memang persis seperti ayah mu. Kau sangat jenius dan ambisius. Aku suka anak muda seperti mu." Puji Roy yang diikuti gelak tawa dari Julia dan Jennifer.
"Kau memang anak Mama yang pintar, Jennifer. Kau pandai memilih calon suami." Imbuh Julia yang berhasil membuat Jennifer tersipu malu.
"Mama bisa aja." Ucap Jennifer seraya menyelipkan beberapa helai rambut di telinganya.
Melihat keluarga ini tertawa bahagia, entah kenapa Nicholas mendadak malas sekali mendengarnya. Tidak seperti dulu, akhir-akhir ini Nicholas jadi kurang respect dengan orang tua Jennifer. Entah karena orang itu sering meminta jatah pensiun berlebih dari perusahaan untuk sekedar jalan-jalan, atau karena memang sikap mereka yang terlihat sangat berambisi menjadikan Nicholas sebagai menantunya. Entahlah, yang pasti Nicholas tidak begitu menyukainya.
Kalau bukan karena jasa-jasa dan kebaikan keluarga ini terhadapnya, Nicholas pastinya tak akan Sudi duduk dan sarapan pagi bersama orang-orang ini, meninggalkan Natalie yang ingin sekali sarapan pagi dengannya.
Ngomong-ngomong soal Natalie, kenapa aku jadi merindukannya lagi? padahal baru beberapa jam yang lalu aku bertemu dengannya.
"Nic," panggil Jennifer. Namun Nicholas masih terdiam dan mematung, membuat Roy dan Julia ikut heran. Apa yang sedang anak itu pikirkan? kenapa sesekali dia tersenyum seperti orang gila.
"Nicholas ... apa yang sedang kau pikirkan?" pekikan suara Jennifer membuat Nicholas akhirnya tersadar dari lamunannya.
"Ah, a_aku. Tidak ... aku sedang tidak memikirkan apa-apa." Elak Nicholas lantas menaruh sendok dan garpu Nya bersamaan. "Om, Tante, mohon maaf sepertinya saya tidak bisa lama-lama karena saya masih ada jadwal meeting pagi ini dengan client saya yang dari luar negeri." Nicholas bergegas dari tempat duduknya, diikuti oleh Rio dan Julia. Sementara Jennifer langsung pergi meninggalkan tempat makan itu karena merasa kesal dengan Nicholas.
"Oh, begitu ya. Baiklah Semoga semuanya berjalan lancar ya!" ucap Roy seraya menjabat tangan Nicholas.
"Terimakasih, Om." begitu jawab Nicholas yang diikuti dengan sedikit senyumnya.
"Kalau begitu saya permisi." Nicholas membungkukkan sedikit badannya. Dia berlalu meninggalkan Roy dan Julia di meja makannya. Sementara Jennifer sudah duduk di dalam mobil bersama Reynald, menunggu kedatangan Nicholas.
"Sebenernya apa yang sedang kau pikirkan?" Begitu Nicholas masuk, Jennifer langsung mengintrogasi Nicholas.
__ADS_1
Dengan tangan yang dilipat di dadanya, Jennifer memandang wajah Nicholas sengit.
"Kau sedang tidak memikirkan wanita bodoh itu kan?"
"Berhenti mengatakannya bodoh, Jennifer!" sentak Nicholas.
"Kau ... " Ucapan Jennifer terbata-bata ketika Nicholas dengan beraninya membentak dia hanya karena wanita itu. "Kau memarahiku hanya karena wanita itu, Nic?" Tiba-tiba setetes air mata Jennifer hadir, membuat Nicholas yang semula teredam amarah kini jadi merasa bersalah.
"Bukan ... bukan itu maksudku."
Jennifer menyeka air matanya lalu memilih keluar dari mobil itu.
"Jennifer, tunggu!" Nicholas segera mengejar Jennifer. Ia memeluk kekasihnya itu.
"Maafkan aku, aku tidak bermaksud melukai perasaan mu."
Jennifer diam dan tak menjawab ucapan Nicholas. Dia makin mengeraskan Isak tangisnya yang membuat Nicholas makin bersalah.
"Maafkan aku ... " Nicholas melepas perlahan pelukannya. "Nanti malam aku jemput kamu ya! ... sudah, jangan menangis lagi!"
Jennifer mengangguk mengerti, lalu kembali memeluk Nicholas manja. Dia senang dan bahagia karena pada akhirnya Nicholas memang tidak bisa menang melawan dirinya.
---***---***---
Suasana di perusahaan Jhonson Company tidak berbeda dari biasanya. Riuh dari langkah kaki para karyawan dan bunyi telepon masuk tak pernah membuat ruangan itu sunyi.
Begitu suara khas Receptionist manis yang selalu terdengar setiap harinya. Dengan pelafalan yang sedikit lebay ala-ala wanita jaman now, Regina selalu membuat orang yang mendengar suaranya terkekeh geli.
"Vin, apa tidak sebaiknya kita menjenguk Natalie?" Eliza membuyarkan konsentrasi Kevin di depan laptopnya.
"Vin ... " panggil Eliza lagi.
"Hmppp ... nanti ku pikirkan dulu." Jawab Kevin tanpa melihat sipenanya.
Eliza yang semula mendekatkan jarak kursi keduanya kini kembali menarik kursinya.
Aku heran, laki-laki ini tercipta dari apa sih? bongkahan batu es aja kalo ditetesi terus bisa meleleh. Kenapa dia nggak leleh-leleh juga sih?
Eliza mengerucutkan bibirnya kesal karena sejak pagi tadi Kevin sama sekali tak mengajaknya bicara. Apa karena Natalie tidak masuk kerja? jadi Kevin puasa bicara. Begitu pikir Eliza. Menyesal dia mengajaknya bicara, kalau cuma itu jawabannya.
"Selamat pagi, Tuan Nicholas." Ucap Karyawan serentak yang melihat kedatangan CEO muda itu.
Kevin dan Eliza pun ikut menatap ke arah sumber keramaian itu.
__ADS_1
"Wah, makin hari, Nicholas makin ganteng aja ya ampun. Dia emang benar-benar type laki-laki idaman wanita." Ucap Eliza polos tanpa dia sadari jika ada laki-laki yang berdiri di sampingnya yang sangat membenci Nicholas.
Dengan kesal, Kevin mendelikan matanya malas.
Idaman wanita?
Laki-laki baj*ngan itu?
Andai saja Eliza tahu, bagaimana Nicholas memperlakukan Natalie selama ini. Pasti dia akan menarik kembali ucapannya barusan.
Nicholas bahkan tidak pantas bersanding dengan wanita sebaik Natalie.
Baru saja Kevin duduk di kursinya, seorang laki-laki paruh baya yang bekerja sebagai HRD di perusahaan itu mengejutkan Kevin.
"Pak Kevin, anda ditunggu Tuan Nicholas di ruangannya."
Kevin menyipitkan matanya.
"Saya?" Kevin menunjuk dirinya sendiri.
"Iya ... Anda."
Untuk apa Nicholas memintaku masuk ke ruangannya?
Kevin masih diam tak bergeming dengan ucapan HRD itu barusan.
"Pak Kevin ... mohon jangan terlalu lama membuat Bos Muda menunggu. Dia bisa marah kalau anda membuang waktunya sedetik saja."
"Ah, baiklah Pak. Saya akan segera menemuinya."
Setelah HRD itu pergi, Kevin lantas bergegas dari duduknya, menarik jas hitam di kursi miliknya.
Eliza yang semula menguping pembicaraan mereka, tak betah untuk tidak bertanya.
"Wah ... ada apa nih? tumben-tumbenan banget Bos manggil kamu?" Ucap Eliza seraya mendekatkan jarak kursi keduanya, "jangan-jangan kau mau naik jabatan." Tebak Eliza yang diikuti seringai khas Nya.
Kevin tak menghiraukan ucapan Eliza. Dia berusaha merapikan pakaiannya terlebih dulu sebelum masuk ke ruangan paling menegangkan di kalangan karyawan itu.
"Vin ... " panggil Eliza.
"Kenapa?" Tanya Kevin dengan muka datarnya.
"Jangan lupa baca do'a yah! ... semangat!" Eliza menyemangati Kevin dengan mengangkat dan mengepalkan tangannya. Dia berharap Nicholas benar-benar akan menaikkan jabatan Kevin. Mengingat Kevin memang salah satu karyawan yang sangat berprestasi di bidangnya. Kevin bahkan nyaris tidak pernah melakukan kesalahan dalam pekerjaan. Itulah yang membuat Eliza yakin jika Kevin berhak untuk jabatan yang lebih baik lagi.
__ADS_1
Belum lagi biaya pengobatan adiknya yang harus menjalani terapi pasca pengangkatan tumor dan juga depresinya. Eliza yakin bahwa Kevin membutuhkan biaya besar untuk itu. Dan Eliza benar-benar berharap ini adalah kesempatan baik untuk laki-laki yang sangat dicintainya itu.
"Semoga kau beruntung, Kev." Ucap Eliza lemah sambil menatap kepergian Kevin.