Husband From Hell (Suami Dari Neraka)

Husband From Hell (Suami Dari Neraka)
Bertemu di cafe


__ADS_3

Setelah membasuh badannya di bawah guyuran shower untuk mendinginkan hasrat dan juga emosinya, Nicholas keluar dengan hanya menggunakan handuk antara pusar dan lututnya. Dia berjalan kembali masuk ke dalam kamar. Dilihatnya wanita itu tengah meringkuk sambil menutup tubuhnya dengan selimut. Rasa menyesal dan merasa bersalah kembali hadir dalam diri Nicholas.


"Kenapa aku terus-menerus menyakitinya, padahal aku sangat takut kehilangannya." Nicholas merutuki dirinya sendiri. Perlahan ia mengambil sebuah jaket miliknya yang terbuat dari bulu lembut yang ditaksir harganya mencapai jutaan rupiah itu. Ia juga melangkah ke dapur untuk mengambil sesuatu di sana.


"Kamu." Natalie terperanjat saat Nicholas membuka selimutnya. "Apalagi yang akan lakukan padaku?" Natalie terlihat sangat ketakutan.


Nicholas melihat mata Natalie sudah sembap. Sepertinya wanita itu baru berhenti menangis dan tertidur setelahnya. Sungguh, jika bisa terlihat, hati Nicholas saat ini sudah hancur dan remuk tak berjenis lagi. Melihat wanita yang dia cintai harus terluka karena keegoisannya selama ini. "Kenapa harus kamu yang ditakdirkan menjadi istriku, Natalie. Kenapa harus kamu?" cicitnya dalam hati sambi menatap dalam-dalam mata wanitanya itu."Jangan takut! aku hanya ingin mengobati lukamu." Nicholas kemudian perlahan mengusap bibir Natalie dengan handuk kecil yang ia rendam dengan air hangat.


"Arghhh," Natalie meringis menahan perihnya. Sungguh Natalie sedang dalam keadaan dilema. Antara takut dan nyaman saat seperti ini. Jika mengingat kejadian tadi, rasanya ia ingin mencakar-cakar wajah Nicholas, tapi melihat dia yang begitu lembut mengobati luka di wajahnya, rasanya hati kecil Natalie kembali menang lagi kali ini. Dia nyaman. Sangat nyaman seperti ini.


Setelah membersihkan darah di bibir Natalie, Nicholas meneteskan Cotton Bud yang sudah ia olesi dengan obat merah. Natalie kembali meringis menahan perihnya. Namun ia berusaha untuk tenang, karena ia tak mau terlihat lemah di depan Nicholas.


Setelah selesai, Nicholas pun meraih jaket yang tadi ia ambil dari dalam lemarinya, lalu menyelimuti tubuh Natalie dengan lembutnya. "Kau bisa kedinginan, ini sangat ampuh untuk menghangatkan badanmu."


Entah sihir apa yang sudah datang dan menyelimuti pikiran Natalie. Sejak tadi ia hanya diam dan mengikuti semua pergerakan Nicholas tanpa membantah sedikitpun. Bahkan setelah Nicholas menaikan resleting jaket itu sampai atas, Natalie pun tunduk dan patuh saat Nicholas membawa tubuhnya untuk terlelap di atas bantal. Sepertinya sihir sang maha cinta itu benar-benar ada, dan ini adalah buktinya.


"Tidurlah! hari sudah sangat malam," ucap Nicholas seraya mengelus lembut rambut Natalie.


***


Keesokan harinya, seperti biasa Natalie dan Nicholas akan berangkat bersama. Meskipun tanpa sepatah kata pun sepanjang perjalanan.


"Reynald," panggil Nicholas.


"Iya, Tuan," sahut Reynald yang melirik wajah tuannya lewat kaca spion mobil itu.


"Aku mau kita mampir dulu di cafe samping kampus itu."


Natalie melirik Nicholas tak percaya. Kenapa dia ingin berhenti di cafe itu. Apa dia mau sarapan pagi di sana. Mengingat tadi pagi Helena tidak sempat membuatkan mereka sarapan. Tapi ternyata Helena bukan kesiangan, melainkan memang Nicholas yang memintanya berpura-pura kesiangan agar tak sempat menyiapkan sarapan untuk mereka. Nicholas memang berniat mengajak Natalie makan di cafe tempat yang dulu mereka sering datangi saat masih pacaran.


"Baik, Tuan." Reynald pun segera memasang lampu sen ke arah kiri, Karena kebetulan memang letaknya sudah tak jauh lagi.


Sesampainya di depan cafe. Reynald segera membukakan pintu untuk Nicholas, disusul pintu untuk Natalie. Namun wanita itu tak bergeming dari tempat duduknya. Ia masih diam dan tak mau menatap keluar.


"Keluar!" Suara bariton itu memaksa Natalie untuk menoleh ke arahnya.


"Aku tidak lapar," sahutnya dengan kembali membalikkan wajahnya.

__ADS_1


"Perlu aku gendong?"


"Hah." Natalie membelalakan matanya, "benar-benar sudah tidak waras lagi," batinnya. Tak ada pilihan, dia pun keluar dari mobil itu dengan kesal. Dia sangat tahu sifat Nicholas. Laki-laki itu tidak pernah main-main dengan ucapannya. Oleh karena itu, daripada dia harus menjadi bahan gibahan orang, lebih baik Natalie mengalah saja kali ini.


"Mau makan apa?" tanya Nicholas saat keduanya sudah sampai dan dilayani seorang waiters.


"Terserah," sahut Natalie.


Melihat wajah Natalie yang sejak tadi sudah badmood, Nicholas pun memilih sendiri menu untuk sarapan pagi mereka berdua. Dia tahu, Natalie sangat menyukai makanan junk food, dia pun memesan banyak makanan Junk food.


"Kau memesan makanan sebanyak itu untuk siapa?" tanya Natalie heran. Kenapa dia memesan makanan untuk porsi lima orang, pikirnya.


"Yang jelas untuk orang yang sedang menemaniku makan."


"Aku?" Natalie menunjuk dirinya sendiri. "Sudah gila ya kau ini? mana mungkin aku bisa menghabiskan makanan sebanyak itu?"


"Salah siapa aku tanya, kamu malah jawab terserah."


Mendengar balasan jawaban Nicholas, Natalie pun memilih tak melanjutkannya. Malas berdebat dengan laki-laki itu di pagi hari yang cerah ini, batinnya.


"Bukannya itu Erick?" gumam Natalie. Dia pun spontan berdiri dari duduknya lalu menghampiri laki-laki yang sedang duduk sendiri sambil minum kopi itu, meninggalkan Nicholas yang menatapnya bingung.


"Mau kemana dia?" tanya Nicholas dalam hatinya, seraya memperhatikan gerak gerik Natalie yang rupanya menghampiri seorang laki-laki yang ia kenal.


"Hay!" Natalie menyapa Erick dengan senyum bahagia. Melihat Erick di pagi hari memang sedikti mengobati paginya yang sumpek bersama Nicholas.


"Natalie," Erick pun tak kalah terkejutnya. "Kamu di sini juga?"


"Hmppp, aku boleh duduk di sini?"


"Ya, ya, tentu. Silahkan! dengan senang hati." Erick pun menggeser tempat duduknya, dan memberikan tempat untuk Natalie. Wanita itu duduk di samping Erick dengan anggunnya.


"Sarapan juga?" tanya Erick lagi.


"Hmppp," Natalie menganggukkan kepalanya, "kamu 'gak sarapan? kok cuma minum kopi? nanti sakit perut loh."


Melihat Natalie begitu perhatian pada laki-laki lain, tangan Nicholas mengeras dalam kepalannya. Wajahnya sudah merah padam dibuatnya.

__ADS_1


"Heee, kamu perhatian juga ya ternyata. Sebenernya sih aku gak terlalu nafsu makan awalnya, tapi pas lihat ada bidadari cantik datang dan memberikan perhatian, kenapa mendadak nafsu makanku naik yah." Erick menggoda Natalie dan berhasil membuat wanita itu tersipu malu.


"Pelayan!" Erick pun langsung memanggil pelayan, "saya minta dua menu untuk sarapan ya!"


"Kita punya banyak menu pilihan, Tuan. Yang mana sekiranya Tuan inginkan?" tanya pelayan itu sopan.


"Yang paling enak."


"Ah, baik Tuan. Kalau begitu saya akan segera pesankan." Pelayan itu pun segera pergi setelah menerima pesanan dari Erick.


"Loh, Rick, kok dua? aku ..."


"Gpp, hari ini aku traktir. Tapi nanti setelah gajian, kamu yang harus traktir aku."


"Bukan, itu mak_"


"Siapa yang berani minta traktir sama istri orang?"


Suara khas itu membuat wajah Natalie dan Erick terarah bersamaan.


"Nicholas."


Mata Natalie dan erick mendelik karena laki-laki yang baru datang itu tiba-tiba menyeret kursi dari belakang dan menempatkannya diantara Natalie dan Erick


Dia duduk di tengah-tengah keduanya dengan santainya, tanpa permisi dan tanpa izin terlebih dahulu, membuat Erick merasa terganggu.


"Ini tempat umum kan? jadi semua orang bisa memilih tempat duduknya untuk makan," ucap Nicholas seraya menatap tajam ke arah mata Erick. Natalie yang melihatnya hanya memejamkan mata, tak habis pikir kalau Nicholas akan melakukan hal memalukan seperti ini.


Tak lama setelah itupun, beberapa pelayan datang membawa banyak makanan yang semula dari meja Nicholas, berpindah ke meja Erick.


"Ayo makan!" ajak Nicholas pada Erick dan Natalie seraya mulai menuangkan makanan ke dalam piringnya, sementara yang diajak bicara keduanya masih menatapnya dengan tatapan heran.


***


Pembaca yang bijak sedia meninggalkan jejak. Karena ia paham, penulis akan semakin semangat Up jika karyanya diapresiasi.


To be continued

__ADS_1


__ADS_2