
Ini pasti rumit.
Sangat-sangat rumit. Karena akan memasuki ending yang sesungguhnya.
Untuk yang tidak suka, jangan dibaca!
Jangan lupa like dan komentarnya ya!
***
Di tempat fitting baju.
Reynald sedang menemani kekasih tercinta, sekaligus calon istrinya untuk memilih gaun mana yang akan dia pakai di hari terindahnya itu.
"Kamu suka ini?" tanya Reynald.
Selly menggelengkan kepalanya lagi dan lagi. Entah untuk yang ke berapa kalinya Selly seperti ini. Lama-lama Reynald jenuh juga, jika dalam jangka waktu dua jam ini Selly masih saja belum menentukan pilihannya. Sepertinya Selly memang tidak begitu menyukai desain di tempat itu, semuanya serba terbuka, Selly merasa tidak pede dengan itu semua.
"Terus kamu mau yang mana?" suara Reynald kali ini sedikit lebih tinggi, dan hal itu sontak saja membuat Selly langsung mengernyit takut. "Kalau emang 'gak ada yang kamu suka kita cari tempat lain."
Selly terlihat menahan kesedihannya, air matanya langsung berlinang. Belum pernah Reynald bicara setinggi ini padanya, dan belum pernah ada yang membentak dia, karena sejak kecil Selly memang terbiasa dengan kelembutan.
"Ma_maaf, aku tidak bermaksud seperti itu." Reynald merasa jadi tidak enak hati saat melihat Selly berlinang air mata.
Air mata Selly langsung saja menetes, dan seiringan saat itu juga Selly memilih keluar dari ruangan itu.
"Sel, Selly, tunggu!"
Reynald langsung mengejarnya, dan dia berhasil menarik tangan Selly saat gadis itu hampir sampai di tempat parkiran mobilnya.
"Sel, Selly, maafin aku! ... maaf aku salah, aku terlalu emosi, maafin aku ya! gak seharusnya aku ngebentak kamu kaya gitu."
Selly terisak, dia benar-benar merasa Reynald berbeda hari ini. Sejak pagi Reynald memang terlihat tidak seperti biasanya, Laki-laki itu mudah sekali tersulut emosi, tak seperti biasanya. Bahkan saat seorang pesepeda motor menabrak bagasi mobilnya saja Reynald sampai memaki habis-habisan dia.
Mungkin pikiran Reynald memang sedang terbagi-bagi, bukan hanya fokus mengurusi urusan untuk pesta pernikahannya. Ia juga harus memikirkan jabatan barunya di kantor, dan satu hal lagi yang lebih penting adalah urusan Nicholas, Laki-laki yang sudah ia anggap sebagai saudaranya sendiri.
Terlebih saat ia mengetahui bahwa hasil pemeriksaan kandungan Natalie nyatanya tidak seperti yang diinginkan Nicholas, Reynald merasa ini beban untuknya.
Saat ini sepertinya prioritas Reynald adalah Nicholas. Dia ingin segera membawa Laki-laki itu pergi ke luar negeri untuk mendapatkan pengobatannya agar dia bisa sembuh, dan jalan satu-satunya adalah dengan segera menemukan Erick. Karena kalau sampai Erick tidak bisa ditemukan juga, selama itu pula Nicholas tidak akan mau pergi ke luar negeri untuk meninggalkan Natalie.
"Aku minta maaf ya!" Rey memeluk Selly, dan Wanita itu membiarkannya begitu saja, karena Selly pun yakin kalau Reynald tidak benar-benar marah padanya. "Aku janji, aku gak bakal kaya gitu lagi."
Batin Reynald berkata. "Aku harus segera menemukan Erick, apapun caranya."
***
"Terimakasih," ucap Nicholas saat dia menerima bucket bunga berukuran lumayan besar.
Selain bucket bunga, Nicholas juga sudah mengantongi beberapa coklat yang ia beli di salah satu toko terkenal di kota-nya.
Kini dia sudah kembali masuk ke dalam mobil. Rencana terakhirnya adalah Neva. Dia akan segera menjemput adik ipar bungusunya itu setelah sebelumnya meminta izin pada mertuanya terlebih dahulu.
"Kami mengerti, ini pasti sangat menyakitkan bagi Natalie," ucap Thomas saat Nicholas menceritakan keadaan yang sebenarnya pada mertuanya itu.
"Natalie pasti sangat ingin mendampingimu di sana," sahut Nadia yang tiba-tiba datang membawakan dua gelas minuman untuk suami dan juga menantunya itu.
"Ibu," ucap Nicholas. Dia langsung berdiri dan menyalami dengan hormat tangan wanita yang sudah ia sakiti itu. "Bagaimana kabarmu?"
"Ibu sudah lebih baik," jawab Nadia. Lantas dia meletakkan gelas itu pada tempatnya. "Ibu turut prihatin atas musibah yang menimpa kalian."
"Terimakasih, Bu." Nihcolas terlihat menundukkan kepalanya. "Oiya, Saya mau minta maaf sama Ibu atas apa yang sudah saya perbuat selama ini. Saya benar-benar menyesal. Seharusnya saya lebih dulu menggali penyebab sakitnya Ibu, bukan langsung terhasut ucapan Ibu angkat saya."
Nadia duduk di samping Thomas, lantas Thomas merangkulnya dengan hangat. Wanita itu memang baru bisa beraktifitas seperti sedia kala setelah melalui masa pemulihan pasca traumanya. "Tidak apa-apa, lupakan saja!" Nadia menatap Thomas, lantas keduanya tersenyum menatap Nicholas. "Ibu sudah melupakan semuanya. Lagipula, mungkin ini memang rencana Tuhan agar Ibu sadar bahwa selama ini Ibu sudah bersikap tidak baik pada orang-orang di sekeliling Ibu," tutur Nadia. "Bahkan seharusnya Ibu yang harus meminta maaf, karena dulu Ibu sudah memperlakukan keluarga kamu dengan tidak baik."
"Itu juga lupakan saja!" saut Nicholas. "Saya dan Ibu juga sudah melupakan semuanya."
"Oiya, bagaimana kabar Ibumu?" tanya Thomas.
"Baik," sahut Nicholas. "Tadi pagi dr. Steven memperlihatkan bagaimana kondisi Ibuku di sana. Dia bahkan sudah bisa menikmati makanan sendiri dan juga berkomunikasi dengan orang lain."
"Sungguh?" tanya Nadia.
"Mpppp." Nicholas mengangguk.
"Syukurlah, Ibu senang mendengarnya. Ibu jadi tidak sabar untuk segera bertemu dengannya. Ibu ingin sekali meminta maaf padanya."
"Aku juga yakin kalau Ibu juga ingin segera bertemu dengan besannya," timpal Nicholas.
Thomas membuang nafasnya lega. Akhirnya konflik kesalahpahaman kedua keluarga itu berakhir juga. Keduanya sudah sama-sama saling memaafkan, karena pada dasarnya manusia memang tidak luput dari salah dan dosa, dan kita sebagai insan biasanya hendaknya saling memaafkan jika seandainya kesalahpahaman itu terjadi pada orang-orang di sekeliling kita.
"Nah, itu Neva sudah datang," ujar Nadia saat anak bungsunya yang baru pulan sekolah itu datang.
"Eh, Kak Nicho." Neva menyalami Nihcolas dengan sopan, lantas berganti pada Ibu dan Ayahnya.
"Hay, cantik," puji Nicholas sambil mengelus lembut rambut anak kecil yang sekilas senyumnya mirip istrinya itu.
Neva duduk di pangkuan Thomas, Thomas menyambutnya sambil sesekali menciumi kiri dan kanan bergantian pipi anaknya. "Capek?" tanyanya.
"Mppp... lumayan."
Thomas pun menjelaskan maksud dan tujuan Nicholas datang menjemputnya. Tentu bukan sesuatu yang mungkin Neva tolak, datang ke rumah kakak iparnya itu adalah hal yang sangat menyenangkan bagi Neva karena dia bisa bertemu dengan kakaknya tercinta.
__ADS_1
Tanpa menunggu lama, Neva pun segera berganti baju dan ikut Nicholas ke rumahnya.
"Nanti, tugas Neva itu bikin mood Kak Natalie balik lagi ya!" titah Nicholas saat mereka sudah sampai di garasi rumah mewah itu. "Kalau Neva berhasil, Neva boleh minta apa aja dari Kakak."
"Serius?" tanya Neva antusias. Tentunya ini adalah sesuatu yang sangat mudah sekali. Hanya sekedar mengembalikan mood kakak perempuannya itu Neva sudah bisa mendapat hadiah apapun yang ia inginkan.
"Iya, Kak Nicho serius."
"Siap delapan enam." Neva mengangkat tangannya dengan posisi hormat. Nicholas terkekeh, ternyata sikap lucu dan manja Neva dituruni dari sosok Natalie juga.
"Yasudah, ayo kita masuk! dan ingat, Neva harus membuat Kak Natalie melupakan kesedihannya ya!"
"Iya, Kak."
Setelah sampai di depan pintu kamar, Nicholas pun membiarkan Neva mengetuk pintunya, sementara dia menjauhkan diri dan bersembunyi di belakang tembok agar Natalie tidak melihat kehadirannya. Nicholas yakin, Natalie masih enggan bertemu dengannya. Karena Nicholas takut kehadirannya malah akan mengorek luka hatinya kembali.
***
Di dalam kamar, Natalie masih diam dan mematung, menatap langit-langit ruangan kamar itu dengan tatapan kosong tanpa arah dan tujuan.
Hasil pemeriksaan tadi pagi berhasil membuatnya benar-benar frustasi.
Ketakutan yang ia khawatirkan nyatanya menjadi kenyataan. Janin yang ada dalam kandungannya memaksa Natalie untuk tetap tinggal di sini dan tak bisa menemani suaminya pergi.
Untuk ke sekian kalinya Natalie terisak, dan entah sudah seperti apa penampilannya jika dilihat di depan cermin.
Tok...tok..tok
Suara pintunya terdengar ada yang mengetuk.
"Kak."
Sepertinya Natalie kenal siapa orang itu.
Buru-buru dia membuka pintunya.
"Neva."
Lantas dia segera memeluk adiknya. "Kamu ngapain ke sini?" Dia juga buru-buru menyeka air matanya. Ia tak mau adiknya itu tahu kalau ia sedang menangis.
Natalie melirik kanan kirinya. Sepertinya dia tahu siapa yang sudah membawa adiknya itu datang. "Ayo masuk!" ajaknya.
Neva pun ikut masuk. Sementara laki-laki yang sejak tadi menguping pembicaraan mereka akhirnya keluar juga. Tapi dia tidak ikut masuk, dia hanya menitipkan bunga dan coklat itu pada Neva, berharap agar mood wanitanya itu kembali membaik setelah menerima hadiah darinya.
"Ini untuk Kakak." Neva menyerahkan seikat bunga juga beberapa batang coklat pada Natalie.
"Dari siapa?"
"Kak Nicho."
"Sekarang dia dimana?"
"Entah. Tadi dia hanya menemaniku sampai depan pintu," jawab Neva.
Natalie kembali ke pintu kamar, dia membukanya, dan dia melihat seorang laki-laki yang tengah duduk di kursi utama.
Sebenarnya Natalie ingin sekali menemuinya, tapi entah kenapa rasa sakit di hatinya itu rasanya semakin membesar saat dia melihat wajahnya.
"Kak," panggil Neva.
"Kenapa sayang?"
"Sebenarnya Neva datang kesini karena ingin menanyakan pendapat Kakak."
"Pendapat?" ulang Natalie. "Perihal apa?"
"Bagaimana caranya membuat orang yang kita suka peka sama perasaan kita?"
"Hah? serius?" Natalie terkekeh geli tak percaya jika adiknya itu kini sudah mulai menyukai lawan jenis. "Kau masih kecil tapi sudah centil ya!"
Rencana Nicholas dan Neva berhasil, Wanita itu akhirnya tertawa juga.
Nicholas memang meminta Neva untuk menghibur istrinya itu, apapun caranya. Termasuk jika harus mengarang cerita sekalipun. Nicholas hanya ingin Natalie sedikit melupakan kesedihannya, itu saja.
"Ayo ceritakan padaku! aku jadi tidak sabar, laki-laki seperti apa sih yang sudah berhasil membuat adik kecilku ini jatuh cinta."
Natalie pun kembali menutup pintunya, dia mengajak adik kecilnya itu duduk di kasur, mendengarkan apa yang ingin adik kecilnya itu bicarakan.
"Sungguh? hahahaha."
Suara gelak tawa Natalie begitu keras sampai Nicholas yang ada di ruang tamu berhasil mendengarnya.
"Akhirnya rencanaku berhasil juga," gumam Nicholas dalam hatinya sambil tersenyum menatap pintu kamar yang tidak sepenuhnya tertutup rapat itu.
Setelah itu Nicholas pun kembali merentangkan kepala di atas sofa.
Nicholas berpikir keras bagaimana caranya agar ia bisa segera menemukan Erick. Laki-laki dibalik semua kekacauan ini.
Jika Nicholas sudah berhasil menemukan Erick, setidaknya dia sedikit tenang meninggalkan Natalie sendiri, meskipun sebenarnya Nicholas tidak ingin meninggalkannya atas alasan apapun, termasuk penyakitnya.
Drttt ... drtt ...
__ADS_1
Ponsel Nicholas berdering.
Panggilan telepon dari dr. Steven masuk.
"Ah, pasti dia ingin memperlihatkan perubahan Ibu lagi."
Tanpa pikir panjang, Nicholas langsung mengangkat teleponnya.
Namun siapa sangka, bukannya kabar baik, malah kabar kematian sahabatnya itu yang ternyata ia terima.
"Apa? dr. Steven di bunuh, dan ibuku di culik."
Nicholas langsung mengeratkan kepalan tangannya. Dia sudah yakin, dalang dibalik semua ini adalah Erick.
"Bangs@t!" Nicholas langsung menendang apapun yang ada di depannya, hingga terdengar pecahan kaca yang sangat nyaring di telinga.
Brakk
"Kak, suara apa itu?" tanya Neva yang sedang bercanda tawa bersama Natalie.
Natalie buru-buru berlari dan melihat apa yang terjadi di luar sana. Entah kenapa pikirannya sudah tertuju pada Nicholas.
Tapi saat ia keluar, dia sudah tidak menemukan apapun.
Yang ada hanya pecahan pajangan Vas bunga di lantai yang berserakan.
Natalie mulai khawatir. Dia coba menghubungi Nicholas, tapi tidak menghasilkan apapun.
"Nona, Tuan sudah pergi barusan." Helena datang dengan tergesa-gesa, memberitahukan Natalie.
"Kemana dia pergi?"
"Saya tidak tahu, Nona. Tapi sepertinya dia sangat tergesa-gesa."
Natalie makin panik, dia takut sesuatu terjadi pada suaminya itu.
"Kak," panggil Neva. "Ada apa dengan Kak Nicholas?"
Natalie langsung memeluk Neva, "tidak apa-apa sayang!" jawabannya. "Sekarang kamu kembali ke kamar ya! Kakak harus pergi dulu."
"Kakak mau kemana?"
"Kakak harus pergi menemui seseorang." Natalie menatap Helena. "Bi, tolong jaga adikku!"
"Baik, Nona. Tapi Nona akan pergi kemana?" tanya Helena.
Natalie segera meraih kunci mobil. "Aku harus pergi."
"Tapi, Nona. Tuan pernah berpesan supaya Nona tidak mengendarai mobil selama kehamilan," pekik Helena.
Tapi Natalie tak menghiraukan ucapan Helena, dia segera pergi mengendarai mobilnya. Tanpa pikir panjang lagi dia menginjak pedal gas mobilnya.
***
"Rey, aku minta tolong padamu kali ini, tolong cepat siapkan helikopter untukku sekarang juga!" titah Nicholas. "Dan satu lagi! setelah kau menyiapkan Helikopter untukku, segera pergi temui Natalie di rumah. Tolong jaga dia selama aku pergi sampai aku kembali."
"Kau mau pergi kemana?"
Nicholas menjelaskan semuanya. Reynald mengepalkan tangannya. "Bajing@n!" pekiknya. Dia buru-buru meminta kekasihnya untuk pulang. "Sayang, kamu pulang duluan ya! nanti aku jemput kamu di rumah."
"Kamu mau kemana?" tanya Selly.
"Aku harus pergi." Reynald memberikan kecupan hangat setelah menemani Selly masuk ke dalam taksi yang melintas di depannya. "Ingat! jangan pergi kemana-mana. Tetap di rumah bersama Papa!"
Selly mulai khawatir. Ada apa ini?
Tapi dia tak punya pilihan selain mengangguk untuk mempermudah urusan kekasihnya itu.
"Hati-hati!" kata Selly.
"Iya, sayang."
Setelah memastikan Selly pergi, Reynald segera masuk ke dalam mobilnya. Ia segera memesan helikopter seperti yang diperintahkan Nicholas. Ia juga segera melesat pergi menemui tempat kemana dia harus pergi.
***
"Semua berjalan sesuai rencana, Tuan." kata orang suruhan Erick.
"Kerja bagus," ucap Erick. "Nicholas pasti akan langsung terbang ke luar negeri mencari ibunya." Laki-laki jahat itu nampaknya sangat bangga karena berhasil menjalankan rencananya dengan sempurna. "Ternyata dia lebih bodoh dari yang ku kira. Dia terlalu terfokus pada Ibunya, sampai melupakan nyawa istrinya yang kini sedang dalam bahaya, hahahaha." Gelak tawanya semakin membesar.
"Oh iya, lalu bagaimana dengan istrinya yang cantik itu?"
"Seperti dugaan, dia keluar dan mengejar Nicholas," sahut orang suruhan Erick.
"Lalu?"
"Tenang saja! orang suruhan kita sudah berhasil mengamankannya."
"Bagus, hahahaha." Erick tertawa terbahak-bahak saking bahagianya.
"Nicho, Nicho. Sepertinya hidupmu akan berakhir hari ini. Kau akan kehilangan dua wanita yang paling kau sayangi dalam sekejap mata."
__ADS_1
Erick berdiri dari tempat duduknya. "Ayo, antarkan aku ke tempat Natalie disekap!"
To be continued