
Menjadi seorang sekretaris pribadi nyatanya tidak semudah yang dibayangkan. Sudah satu bulan menjadi sekretaris, nyatanya Natalie masih saja sering kelabakan, karena Natalie harus mengatur dan mengingatkan setiap jadwal Erick agar tidak ada satupun yang terlewatkan.
Seperti siang ini, Natalie hampir saja melupakan jadwal pertemuan Erick dengan salah satu customernya. Beruntung, Erick bisa menghandle keterlambatan itu dengan beralasan mobilnya mengalami gangguan di jalan, kalau tidak ... entahlah.
Sebenarnya Natalie bukanlah type pekerja yang lamban dalam mempelajari hal-hal yang baru, tapi sepertinya keadaan rumah tangganya bersama Nicholas membuat konsentrasinya selau runyam.
"Hufttt." Natalie menghembuskan nafasnya gusar. Dia meregangkan otot-otot tubuhnya setelah selesai membereskan berkas-berkasnya.
Jam pulang masih tiga puluh menit lagi, Natalie bisa sedikit beristirahat sambil menunggu Nicholas menjemputnya.
Tling
Ponselnya berdering.
Sebuah pesan masuk.
Tanpa Nama: Keisha kecelakaan
Natalie langsung terkejut ketika mendapat pesan itu. Meskipun pesan itu dikirim dari seseorang tanpa nama, tetap saja jika berhubungan dengan orang yang kita kenal pasti akan membuat siapapun khawatir dibuatnya.
Tanpa pikir panjang lagi, Natalie langsung menghubungi nomor itu, namun sayangnya nomornya malah tidak bisa dihubungi.
Natalie tidak kehabisan akal, dia kemudian menghubungi nomor Kevin.
Berhasil, Kevin akhirnya menerima panggilannya.
"Halo, dimana?" tanya Natalie pada Kevin. "Ya sudah, aku ke sana sekarang."
"Loh, Nat, mau kemana?" Erick yang baru datang terkejut melihat Natalie panik.
"Pak, saya ijin pulang duluan ya! soalnya adik saya kecelakaan," ucap Natalie panik.
"Adik kamu kecelakaan?"
"Bukan, bukan ... Bukan adik kandung saya, dia adik sahabat saya, cuma saya udah deket banget sama dia."
Erick mengangguk-angguk. "Oh ... ya sudah, bagaimana kalau saya antar?"
"Tidak perlu, Pak! terimakasih. Saya naik taksi aja. Saya permisi ya, Pak."
"Eh, Nat ..."
Natalie tak menggubris Erick, padahal Erick cuma mau bilang kalau besok ada acara makan siang bersama customer barunya.
"Ya sudahlah!" ucap Erick pasrah.
***
"Kak, beli minumannya, Kak!"
Seorang gadis kecil yang ditaksir usianya sekitar delapan tahun menawarkan minuman pada Natalie yang sedang menunggu taksi untuk segera pergI ke rumah sakit.
"Maaf ya! tapi aku sedang tidak haus," kata Natalie.
"Tolong, kak! seharian ini tidak ada yang membeli daganganku. Ibuku sedang sakit," rintih gadis itu. Berharap kalau Natalie mau membelinya.
Melihat raut kesedihan dalam wajah gadis itu, rasanya Natalie tak tega. Diapun akhirnya membeli lima botol minuman anak itu tanpa pikir panjang dan tanpa mencurigai seseorang yang sedang berdiri memantau di balik sebuah mobil hitam.
"Bagus, Natalie! cepat minum minuman itu! habiskan bila perlu semuanya," cicit wanita jahat di dalam mobilnya. Setelah memastikan Natalie masuk dalam jebakannya, wanita itupun memerintahkan sopirnya untuk pergi dari tempat itu.
"Terimakasih, Kak. Terimakasih," ucap anak itu lalu pergi meninggalkan Natalie begitu saja.
Tak lama taksi pun datang, Natalie segera masuk ke dalamnya.
Taksi sudah melaju, dan Natalie kembali teringat Nicholas.
"Ah, aku harus alasan apa padanya. Dia pasti marah kalau aku jujur padanya."
Tunggu!!! Kenapa aku mulai peduli lagi pada laki-laki itu, batin Natalie.
__ADS_1
Dua menit kemudian, Natalie teringat pada minuman yang ia beli tadi dari anak-anak. Dia kemudian berinisiatif untuk memberikan empat botol pada sopir taksi itu, sedangkan satunya ia ambil untuk diminum.
"Pak, ini aku tadi beli minuman, tapi kebanyakan. Sisanya nanti buat bapak ya!"
Supir itu mengangguk. "Terimakasih, Nona," sahut sopir itu. Lantas Natalie pun meneggak satu botol sisanya.
Lima belas menit kemudian Natalie sudah sampai di rumah sakit, dia buru-buru keluar mobil.
"Maaf, Nona. Milikmu ketinggalan." Supir taksi itu keluar dari mobil memberikan sebuah goodiebag.
"Itu bukan punyaku, Pak," sergah Natalie. Namun supir taksi itu memaksanya agar Natalie menerimanya.
"Maaf, Nona. Tapi seharian ini penumpang saya baru Nona, karena kebetulan saya baru narik tadi sore," jelas supir taksi itu. "Jadi, ini sudah pasti punya Nona. Kalau begitu saya permisi, terimakasih untuk minumannya."
"Pak, tunggu!" cegah Natalie, namun supir taksi itu tak menggubris panggilan Natalie, dia malah pergi begitu saja meninggalkan Natalie yang masih bingung dengan apa yang diberikan supir itu.
"Ah, ya sudahlah."
Tak mau memikirkan sesuatu yang tidak penting, Natalie pun langsung mencari kamar dimana Keisha di rawat.
Dengan harap-harap cemas, Natalie akhirnya menemukan kamar itu. "Vin, bagaimana keadaan Keisha?"
Mata Kevin terlihat sembap, sepertinya dia baru saja menangis.
"Vin, Keisha gpp kan?" Natalie semakin panik.
Terlihat bibir Kevin bergetar sangat hebat. Dia seperti sedang menahan tangisannya agar tidak meledak. "Aku takut sekali kehilangannya, Nat ... Aku takut."
Melihat raut wajah penuh ketakutan, Natalie pun sontak memberikan pelukan pada Kevin. "Menangislah jika itu bisa membuatmu tenang."
Dua puluh menit kemudian, dokter keluar dari ruangan dimana Keisha sedang dirawat.
"Bagaimana keadaan adik saya, dok?" tanya Kevin.
"Pasien sudah siuman. Luka di kepalanya lumayan parah, tapi untungnya tidak berakibat buruk pada otaknya," jelas dokter itu.
Kevin dan Natalie akhirnya bisa bernafas lega setelah menerima jawaban dari sang dokter.
"Baik, dok," sahut Kevin. "Terimakasih banyak." Kevin membungkukkan sedikit badannya saat dokter itu melenggang pergi.
"Nat, titip Keisha sebentar ya!" pinta Kevin.
"Iya. Kamu pergi saja! biar Keisha aku yang menemaninya."
Kevin pun langsung bergegas menuju ruang administrasi, sementara Natalie masuk menemui Keisha.
Saat Kevin dan Natalie sudah berpisah, seorang laki-laki tiba-tiba muncul dibalik dinding.
Laki-laki yang sama dengan orang yang menguntit pembicaraan Kevin dan Natalie waktu itu.
Rupanya laki-laki itu yang sudah mensabotase kecelakaan Keisha. Dia sengaja melakukan itu atas dasar permintaan majikannya.
"Semuanya sudah dilakukan sesuai rencana," ucapnya pada wanita dibalik teleponnya. "Semua foto-foto sudah aku kirim lewat email," lanjutnya.
Laki-laki itu kemudian menutup teleponnya, sedetik kemudian dia membuka masker dan topi yang menutupi wajahnya.
Senyumnya terlihat mengembang.
Masih ingat Karan?
Teman sekaligus tangan kanan Jennifer?
Iya, dia adalah pelakunya.
Rupanya Karan mengikuti Kevin waktu itu untuk mencaritahu informasi mengenai kelemahan Kevin dan juga Natalie, dan ternyata Keisha adalah korbannya. Karan sengaja mencelakai Keisha agar Natalie dan Kevin bertemu.
Ada rencana besar yang ingin Jennifer dan Karan lakukan pada kedua orang itu.
***
__ADS_1
Saking sibuknya menemani Keisha, Natalie sampai lupa ini jam berapa.
"Astaga." Dia segera mengecek ponselnya. "Nicholas pasti marah besar."
"Kamu kenapa, Nat?" tanya Kevin. Keisha pun melirik ke arah wanita itu.
"Kakak kenapa?"
Natalie buru-buru membuka isi pesannya. Benar saja, Nicholas rupanya sudah menunggunya sejak dua jam yang lalu. Dia benar-benar lupa tidak mengabarinya.
Lima panggilan telepon, dan tiga pesan singkat tanpa variasi berhasil masuk ke ponselnya.
17.00 Nicholas : Aku di depan
17.20 Nicholas : Dimana? masih lama?
17.40 Nicholas : Cepat!!!
"Duh!!! bagaimana ini?" gumam Natalie dalam hatinya. Sejujurnya ia ingin sekali menemani Keisha lebih lama lagi di sini. Karena ia tidak tega membiarkan adik kecil itu sendirian dan hanya ditemani Kevin. Tapi bagaimana kalau Nicholas sampai tahu kalau dia menemani Kevin di rumah sakit, Nicholas pasti akan salah paham lagi.
"Nat, Nicholas marah?"
Dari awal Kevin memang sudah menduga, Natalie panik pasti karena Nicholas.
Mendengar pertanyaan sang kakak, Keisha mendadak tak enak hati. Ini pasti karena Natalie menemaninya, pikirnya.
"Kak, kakak pulang aja! aku gpp kok."
Natalie jadi serba salah jadinya,
"Sayang, maaf ya! Kak Natalie gak bisa menemani kamu lebih lama. Besok, jam istirahat Kakak sempetin jenguk kamu lagi ya!" ucap Natalie sambil mengelus-elus kepala Keisha.
"Iya, Kak."
Natalie pun memberikan kecupan di kening Keisha sebelum ia akhirnya benar-benar kembali ke kantor untuk menemui Nicholas.
"Vin, aku pulang ya."
"Hmppp, terimakasih ya!"
Sepuluh menit setelah kepergian Natalie
"Kakak beli minuman hangat dulu ya! kamu tunggu di sini sebentar!" ucap Kevin, sementara Keisha hanya membalasnya dengan anggukan.
Cuaca di ruangan itu memang lumayan dingin, Kevin membutuhkan sesuatu yang hangat untuk menemani sang adik bernalam di rumah sakit.
Baru saja Kevin keluar rumah sakit untuk mencari cafe terdekat, tiba-tiba sebuah pukulan mendarat di pipinya.
Brugh
Kevin terhempas dan jatuh ke tanah. Beberapa orang yang melihat kejadian itu sempat berteriak histeris.
"Nicholas," cicit Kevin saat melihat siapa yang sudah melakukan itu padanya. Darah segar berhasil mengalir di sudut bibirnya, Kevin lantas mengusapnya dengan ibu jarinya. Kevin tidak tahu apa salahnya, kenapa laki-laki itu tiba datang dan memukulnya.
"Bangun kau ********!" Tatapan mata Nicholas menyorotnya dengan tajam dan penuh amarah, Nicholas lantas kembali menarik kerah baju Kevin dan kembali menghujamkan pukulan di pipi dan perut Kevin bertubi-tubi hingga membuat Kevin lemah tidak berdaya.
Tak sampai disana, Nicholas lantas mencengkram kerah baju Kevin dan mengangkatnya hingga Kevin kesulitan bernafas.
Uhuk-uhuk
Kevin terbatuk-batuk dengan wajah yang sudah lebam.
"Ini adalah balasan untuk laki-laki yang sudah bermain-main dengan wanitaku," geram Nicholas, kemudian satu pukulan tepat di mata Kevin menjadi final dari aksi kemarahan Nicholas malam itu.
Brugh
Tubuh Kevin pun ambruk ke tanah, samar-samar Kevin melihat Nicholas menatapnya penuh amarah, hingga matanya tak sanggup terbuka lagi. Kevin akhirnya tak sadarkan diri, sementara Nicholas pergi meninggalkannya begitu saja.
Sebenarnya apa yang terjadi ?
__ADS_1
Kenapa Nicholas tiba-tiba datang dan memukuli Kevin.
To be continued