
Di tempat lain, seorang laki-laki yang masih mengenakan setelan jas Nya, masih tertidur lelap di samping seorang pasien yang sampai saat ini belum sadarkan dirinya.
"Sayang, udah siang. Bangun! hari ini biar Mama yang jagain Ibu kamu. Kamu pulang aja!" Ucap lembut Kelly sambil mengusap tangan Nicholas.
"Ah, Mama." Nicholas berusaha membuka matanya yang masih mengantuk karena semalaman tidak bisa tidur, menunggu wanita yang sangat dicintainya sadar kembali.
"Pulang aja ya! Reynald di luar udah nunggu kamu tuh."
"Nggak ah, Ma. Nicho males pulang. Aku disini aja nemenin Ibu." Sahut Nicholas yang kemudian berjalan ke kamar kecil untuk mencuci wajahnya.
"Sayang, kamu juga harus merhatiin kesehatan kamu loh. Jangan kaya gitu! ... Mama gak mau kamu sakit ya." Tutur Kelly dengan tegasnya.
"Iya, Ma. Nicho bisa jaga kesehatan kok." Sahut Nicholas setelah kembali dari kamar mandi.
"Yaudah, kalau gitu kamu pulang sekarang ya! please. Untuk kali ini aja, dengerin apa kata Mama." Kelly memasang wajah memohon.
"Ma, tapi aku males pulang ke rum_."
"Ke apartemen aja, kalo kamu males pulang ke rumah." Potong Kelly. Dia sudah yakin jika jawaban anaknya itu akan seperti itu.
"Baiklah," Nicholas mengalah. Dia memang paling tidak bisa berdebat dengan wanita yang sudah mengadopsinya sejak kecil itu.
"Nah, gitu dong. Yaudah nanti mama suruh Jennifer nemenin kamu ya hari ini."
"Gak usah, Ma."
Mendengar kata Jennifer, entah kenapa Nicholas malas sekali. Ia benar-benar ingin istirajat total hari ini. Tak ada yang boleh mengganggunya, siapapun itu, ternasuk Jennifer sekalipun sebagai kekasihnya.
"Udah, gpp. Kan biar kamu gak kesepian."
"Ada Reynald, Ma. Dia bisa nemenin aku kok." Sergah Nicholas.
"Nicho, dia kan cowok."
"Siapa yang bilang dia cewek?" Ucap Nicholas sambil mengambil ponsel yang ia letakkan di atas nakas.
Nicholas mencium kening Merry beberapa detik. Memberikan kehangatan dan ungkapan kerinduan yang selama ini ingin sekali ia utarakan secara langsung dengan bibirnya.
Cepet sembuh, Bu. Aku pulang dulu ya!
"Aku pulang dulu ya, Ma. Titip Ibu! dan tolong kabari aku secepatnya kalau terjadi apa-apa dengan Ibu!"
"Hmpp .. baiklah," Kelly menerima pelukan dari Nicholas lalu mengantar anak laki-laki yang kini sudah tumbuh dengan gagahnya itu.
"Hati-hati sayang!"
"Iya, Ma." Nicholas melambaikan tangannya sebelum ia benar-benar pergi dengan Reynald membelah jalanan kota yang mulai sepi karena sudah memasuki jam kantor.
Sepanjang perjalanan mobil, perasaan Nicholas terus menerus tertuju pada wanita yang sudah ia perlakukan dengan kasarnya tadiĀ malam. Ia menatap tangannya. Tangan yang sudah dengan teganya menampar wajah wanita yang bahkan tidak pernah berdosa padanya.
Sedetik kemudian Nicholas menitikan air matanya. Kenapa dia harus melakukan itu? kenapa dia harus melukai wanita yang dulu pernah menjadi malaikat dalam hidupnya.
Apakah kalian ingat di episode sebelumnya, ada seorang siswi yang menolong Nicholas saat teman-teman sekelas mengerjainya? Iya, siswi itu adalah Natalie. Natalie Watson. Wanita yang saat ini menjadi istri Nicholas. Wanita yang sudah dicintai Nicholas sejak lama. Wanita yang tiba-tiba hadir setelah belasan tahun terpisah karena Nicholas yang ikut dengan orang tua angkatnya.
__ADS_1
Flashback On
"*Ini milik mu, tidak usah takut. Ambilah!"
"Terimakasih,"
"Sama-sama. Lain kali kalau mereka nakal, lawan saja! Mereka aslinya cengeng kok*."
Sejak pertemuan pertama itu, Nicholas tak pernah melupakan senyuman pertama yang dia dapatkan dari siswi yang akhirnya ia ketahui bernama Natalie itu. Nicholas bahkan sering mencuri-curi kesempatan agar bisa melihat Natalie saat jam pelajaran olahraga berlangsung. Biasanya kelas yang mendapat jam pelajaran olahraga akan melakukan pemanasan di lapangan utama, dan saat itulah Nicholas akan berpura-pura izin ke toilet hanya untuk bisa melihat malaikat penolongnya, Natalie.
Waktu berjalan terus menerus, takdir akhirnya memaksa Nicholas untuk ikhlas berpisah dengan malaikatnya karena ia harus pindah sekolah ke tempat dimana ia dibesarkan oleh orang tua asuhnya, dan tentunya di sekolah baru yang lebih mewah, sesuai dengan ekonomi keluarga barunya.
Namun siapa sangka, cinta yang sudah terpisah begitu lamanya akhirnya kembali bertemu saat Natalie melamar pekerjaan di tempat dimana Nicholas menjabat sebagai CEO. Kesempatan ini tentunya tak Nicholas sia-siakan begitu saja, Nicholas langsung menerima wanita itu tanpa melewati tes yang ketat seperti yang lainnya.
Nicholas benar-benar bahagia bisa bertemu kembali dengan malaikat penolongnya itu. Ditengah kemelut kesedihan karena Ibunya yang sakit, hari-harinya kembali berwarna berwarna setelah kehadiran Natalie. Tapi siapa sangka? sebuah kebetulan yang sangat tidak diinginkan Nicholas terjadi. Setelah meneliti asal usul keluarga wanita penolongnya itu, ternyata dia adalah anak dari wanita yang sudah membuat Ibunya sakit sampai hari ini.
Kenyataan menyakitkan itu Nicholas ketahui setelah melihat postingan di account pribadi Natalie. Natalie mengunggah foto masa kecilnya bersama kedua orangtuanya. Dan disitulah Nicholas mengetahui bahwa Natalie adalah putri dari wanita yang sangat dia benci.
"Gak, ini gak mungkin."
Flashback Off
"Reynald." Panggil Nicholas pada sopir pribadinya itu.
"Iya, Tuan."
"Bagaimana keadaan Natalie?"
"Helena memberikan informasi kalau Nona Natalie berangkat kerja pagi-pagi sekali." Jawab Reynald.
Tidak apa-apa, aku memang pantas untuk dibenci.
Maafkan aku, Natalie. Maafkan aku!
"Tuan, apakah saya boleh bertanya sesuatu?"
Pertanyaan Reynald membuyarkan lamunan Nicholas.
"Tentu, silahkan!" Jawab Nicholas sambil berusaha menahan agar air matanya tak lolos kembali.
"Jika suatu saat nanti Ibu Tuan sembuh, apakah Tuan akan memaafkan kesalahan orang tua Nona Natalie."
Nicholas menatap wajah Reynald dibalik kaca spionnya.
"Maaf jika pertanyaan saya terkesan lancang. Jika Tuan tidak berkenan menjawabnya, saya tidak memaksa."
Itu yang saat ini sangat ku harapkan, Reynald.
Aku ingin sekali Ibuku sembuh.
Dengan begitu, aku bisa melepaskan Natalie dari neraka ini.
"Tidak apa-apa, Reynald. Aku memang berencana memaafkan keluarga Natalie jika Ibuku sembuh seperti sedia kala."
__ADS_1
"Syukurlah."
Reynald merasa sedikit lega. Setidaknya masih ada kesempatan bagi wanita tak berdosa itu untuk selamat dari drama gila ini.
"Tapi itu tidak mungkin." Ucap Nicholas mengejutkan.
"Hah, maksud Tuan?"
"dokter sudah memfonis ibuku tidak akan mungkin bisa sembuh seperti sedia kala. Penyakit yang bersarang di tubuh Ibuku sudah tidak mungkin bisa disembuhkan."
Reynald menatap heran Nicholas dibalik spionnya. "Tuan, bukankah anda sendiri yang mengatakan kalau dokter bukanlah Tuhan. Lantas kenapa anda tiba-tiba menjadi psimis seperti ini?"
"Tidak, Reynald. Ini bukan psimis. Aku hanya berusaha menerima sebuah kenyataan, bahwa Ibuku tidak akan mungkin kembali mengingat ku sebagai anaknya." Nicholas membuang wajahnya ke arah jendela. Rasa sakit tiba-tiba kembali menjalar ke seluruh tubuhnya. Kenyataan bahwa Ibunya memang tidak mungkin bisa kembali sehat seperti sedia kala.
"Tapi sejauh ini Ibu Tuan sudah berjuang dengan sangat baik untuk Tuan."
"Reynald, sekalipun ia bertahan hidup sampai saat ini, itu mungkin dia belum lega karena belum melihat musuhnya benar-benar tumbang."
"Ah, seperti itu ya." Reynald mengangguk-anggukan kepalanya seolah mengerti, "tapi saya berharap semoga sebuah ketidakmungkinan itu menjadi sebuah kenyataan Tuan."
"Ya, semoga."
Di tengah perbincangan itu mendadak Nicholas ingin mampir dulu ke kantor. Ia ingin sekali bisa melihat wajah Natalie siang ini. Rasa bersalah pada wanita itu terus menerus menjalar ke seluruh isi hatinya. Dengan senang hati Reynald mengantar Nicholas ke kantor tanpa mengetahui tujuan utama Nicholas datang ke kantor. Namun belum sampai mereka di parkiran kantor, Nicholas melihat Natalie bersama temannya yang tak lain adalah Eliza. Mereka sedang melakukan makan siang di sebuah cafe yang tidak begitu jauh dari kantor.
Nicholas melihat Natalie dan temannya sedang tertawa sambil menikmati minuman ditangannya.
Sepertinya Natalie sangat bahagia bersama temannya.
Mungkinkah dia sudah benar-benar melupakan kejadian semalam, atau dia hanya berpura-pura bahagia di depan temannya.
Beberapa detik lamanya Nicholas memandangi wajah cantik wanita yang ia sia-siakan itu, namun beberpa detik kemudian senyumnya mendadak luntur saat seorang laki-laki datang bergabung dengan dua wanita itu.
"Reynald, bukankah itu Kevin?"
Reynald mengikuti arah tatapan Nicholas. Ia mengerutkan keningnya berusaha untuk melihat dengan detail siapa laki-laki yang duduk di samping Natalie.
"Iya, Tuan. Benar, itu Kevin."
Nicholas mengeratkan giginya. Kenapa Natalie tak menggubris permintaanya agar menjauhi laki-laki itu. Berani sekali dia dekat lagi dengan laki-laki itu.
"Kenapa Natalie masih saja berhubungan dengan laki-laki itu?" Pekik Nicholas kesal, "aku akan membawa wanita itu pulang."
Baru saja Nicholas membuka pintu mobil dan berencana membawa Natalie pulang, Nicholas tiba-tiba saja teringat kalau ia bahkan saat ini tidak lebih baik dari laki-laki bernama Kevin itu.
"Kenapa, Tuan?" Tanya Reynald bingung, "bukankah anda bilang anda akan membawa Nona Natalie pulang."
"Ah, tidak Reynald. Kita pulang saja!"
Nicholas kembali menutup pintu mobilnya, dia meminta Reynald untuk membatalkan permintaannya ke kantor. Toh, tujuan utama dia datang ke kantor memang hanya untuk mengetahui keadaan wanitanya itu. Melihat dia baik-baik saja, Nicholas memilih untuk memeberikan kesempatan Natalie untuk berkumpul dengan teman-temannya, termasuk Kevin. Dia tidak akan marah sekalipun Natalie bertemu dengan Kevin, karena dia berusaha untuk tahu diri.
Natalie benar-benar sudah membuat pribadi tegas Nicholas menjadi penuh ketidaktegasan.
Kau benar-benar membuatku tersiksa, Natalie.
__ADS_1
To be Continued