Husband From Hell (Suami Dari Neraka)

Husband From Hell (Suami Dari Neraka)
Jadi ini alasannya


__ADS_3

Beberapa karyawan terlihat sibuk membereskan berkas-berkasnya di atas meja setelah jam kantor habis. Begitu juga dengan Natalie dan Eliza.


"Nat, kita mampir dulu yuk ke tempat makan. Katanya ada tempat makan mie yang enak banget. Dan cabangnya itu baru launching hari ini." ucap Eliza begitu semangat sambil memasukkan berkas ke dalam lacinya. "Cuma tempatnya lumayan jauh."


"Mppp ... maaf, Ya! kayaknya aku gak bisa deh." Natalie menolak ajakan Eliza karena dia pulang bersama suaminya, dan tidak mungkin mengajak Nicholas mampir. "Soalnya kan aku pulang sama Nicholas."


"Yah, sayang banget loh." Eliza terlihat sedikit kecewa, "tapi yaudah gpp deh, lain kali aja kita kesana."


Bukannya menjawab ucapan Eliza. Natalie malah terpokus pada seorang wanita seksi yang baru saja memasuki ruangan Nicholas. "Wanita itu lagi," gumamnya dalam hati. Perasaan cemburu tiba-tiba hadir lagi dalam benaknya. Tapi dia segera menepisnya jauh-jauh karena tak mau berpikiran buruk. "Mungkin hanya urusan pekerjaan," lanjutnya.


Beberapa menit kemudian, semua berkasnya sudah rapih dan kini waktunya Natalie dan Eliza pulang.


Drtt ... drtt ...


Ponsel Natalie berdering. Sebuah pesan dengan nama Nicholas tercantum di sana. Dengan cepat Natalie membuka pesannya.


Nicholas : Hari ini kau bisa pulang terlebih dulu. Aku ada urusan dengan client. Mungkin juga pulang tengah malam. Kau bisa makan malam tanpaku. Jadi, jangan menungguku!


Natalie menghela nafas kekecewaan sekaligus keheranannya. Kenapa setiap kali ada wanita itu datang, ada saja urusan mendadak yang membuatnya harus pulang sendiri.


"Sebenarnya ada urusan apa dia dengan wanita itu? kenapa setiap kali dia datang, ada saja yang dia urus." Natalie bergumam sambil menatap nanar ruangan suaminya itu. "Andai saja aku bisa masuk ke sana."


"Nat, aku pulang duluan ya!" kata Eliza sambil menyambar tas miliknya.


"Eh, Liz, tunggu!" tak ingin memikirkan sesuatu yang hanya membuatnya sakit, akhirnya Natalie memilih ikut bersama Eliza untuk makan di tempat baru itu.


"Aku ikut deh."


"Hah?" Eliza memandang aneh, "ikut kemana?"


"Katanya tadi kamu ngajakin aku makan Mie?"


"Loh, emangnya kamu mau?"


"Hmppp,"


"Katanya pulang sama suami kamu?"


Natalie hanya tersenyum. Tak berniat menjawab pertanyaan Eliza. "Yasudah ayo! katanya lumayan jauh. Ayo! nanti kemaleman." Natalie menggandeng tangan Eliza keluar dari kantor itu. Sementara Eliza yang semula bingung akhirnya ikut senang juga, karena ada teman makannya hari ini.


***


"Ayo sayang! udah sore nih. Nanti kita telat datang ke sana." Jennifer terlihat memajukan bibirnya kesal karena Nicholas belum juga bangun dari kursinya.


Hari ini, Jennifer diundang salah satu temannya untuk menghadiri sebuah acara. Dan dia meminta Nicholas untuk menemaninya. Tentunya untuk memamerkan ketampanan dan kekayaan Nicholas di depan teman-temannya nanti.


"Sebentar lagi, Jen!" Nicholas terlihat menunggu sebuah pesan di ponselnya. Seperti ada sesuatu yang mengganjal, batin Jennifer.

__ADS_1


"Hish, nunggu apa lagi sih?" Jennifer kesal sambil membuang wajahnya.


Drtt .. drtt ..


Ponsel Nicholas berdering, akhirnya yang ditunggu-tunggu datang juga.


Mr. X \= Nona Natalie sudah keluar kantor bersama sahabatnya.


Setelah membacanya, Nicholas lalu menutup teleponnya, tanpa berniat membalas pesan itu.


"Ayo!" ajaknya pada Jennifer. Dia meraih jas dan juga menyambar kunci mobilnya. Sementara Jennifer terlihat senang dan mengekor di belakangnya.


"Tapi nanti kita mampir ke Mall dulu ya!" ucap Jennifer, "soalnya aku gak punya baju yang pas dengan tema."


Nicholas menatap wajah Jennifer. "Kenapa gak pake baju yang ada aja?"


"Nggak mau. Aku udah bosen."


"Ckk, yasudah!"


Nicholas pun mulai menyalakan mesin mobilnya. Melesat meninggalkan kantor menuju sebuah Mall besar untuk menemani Jennifer belanja.


***


"Ini tempatnya, Liz?" Natalie dan Eliza baru saja sampai di sebuah tempat makan yang mulai ramai karena akan menghadiri acara launching itu. Sepertinya karena baru buka, Restauran itu banyak menawarkan diskon yang lumayan fantastis, sehingga banyak orang berbondong-bondong datang untuk menikmati makanan enak dengan harga murah itu.


Setelah menunggu sekitar 15 menit, akhirnya seorang pembawa acara mulai terdengar bersuara.


"Baiklah, hadirin sekalian. Kita akan memulai acara launching Restoran The Flo hari ini." Begitu ucapnya sambil terlihat begitu antusias. "Kalau saya lihat, wajah-wajah tamu di sini sudah tidak sabar ya untuk menikmati makanan yang sudah sangat populer di kota-kota lainnya." Beberapa orang tertawa karena merasa tersindir. "Baiklah, untuk mempercepat marilah kita undang pemilik Restoran The Flo, Mrs Floara beserta suami."


Riuahan tepuk tangan mengiringi kedatangan pemilik restoran tersebut. Gaun bernuansa pink cantik dan anggun terlihat begitu menghiasi tubuhnya yang nampaknya masih terlihat sangat muda. Berbeda dengan laki-laki yang berjalan di sampingnya, ia terlihat sudah berumur jika dibandingkan dengan istrinya itu.


"Nat, suaminya lebih cocok jadi Kakeknya ya!'' bisik Eliza di telinga Natalie.


"Hustt!! jangan sembarangan!"


"Heeee," Eliza menunjukkan gigi rapihnya.


Beberapa kalimat mengiringi sambutan pemilik Cafe itu. Terkahir, Mrs. Floara itu berkata bahwa berdirinya restoran itu tak lepas dari bantuan sahabat-sahabatnya yang sudah banyak berjasa sampai restoran itu benar-benar sukses dan memiliki banyak cabang di beberapa kota besar. Oleh karena itu, ia meminta perwakilan sahabatnya untuk datang ke atas panggung dan memperkenalkan dirinya.


"Baiklah, mari kita sambut sahabatku tercinta, Jennifer."


"Jennifer?" Samar-samar Natalie melihat wanita yang sedang berjalan itu adalah orang yang ia kenal. Tak ingin penasaran, Natalie langsung berusaha maju menerobos ke depan untuk melihat apakah yang dimaksud itu adalah Jennifer mantan sekretaris ayah Nicholas atau hanya kebetulan namanya yang sama.


Eliza yang melihat Natalie maju, langsung mengekor dibelakangnya. "Eh, Nat. Tunggu!"


Prok .. prok .. prok ..

__ADS_1


Riuhan tepukan tangan mengiringi kedatangan wanita yang sangat cantik dengan gaun malamnya yang terkesan sangat seksi itu. Disebelahnya, ada seorang laki-laki tampan dengan perawakan besar dan tinggi, tampan dan berkarisma, membuat mata kaum hawa langsung terpukau seketika.


"Nicholas," cicit Natalie begitu ia sampai tepat di barisan paling depan. Hati dan perasaannya kini sedang beradu saling bersautan. "Kenapa dia ada di sini? dan kenapa dia bergandengan begitu mesra dengan Jennifer?" Natalie terus bertanya-tanya sampai akhirnya Jennifer yang berada di atas panggung menyadari kehadiran Natalie.


"Wah, sepertinya kesempatan emas bagiku." Tiba-tiba saja Jennifer semakin mengeratkan genggaman tangannya, membuat Nicholas melirik ke arahnya.


"Wah, gila ... itu suami apa pacarnya? ... ganteng banget, sumpah." Beberapa wanita berbisik-bisik saat melihat kedatangan Jennifer dan laki-laki di sampingnya, membuat hati dan perasaan Natalie terasa semakin bergemuruh.


Nicholas yang berada di panggung berusaha tersenyum menyapa hadirin yang ada. Dan baru saja ia hendak menarik pandangannya, tiba-tiba matanya bertemu dengan wanita yang saat ini sah menjadi istrinya. "Natalie," gumamnya dalam hati. "Kenapa dia bisa ada di sini?"


"Nat," Eliza memegang tangan Natalie, "sabar ya! mungkin Nicholas cuma kebetulan nemenin aja."


Natalie masih tak bergeming pada ucapan Eliza. Ia masih menatap ke arah Jennifer dan Nicholas. Bertanya-tanya, apa yang sebenarnya akan dilakukan mereka di atas panggung itu. Apa hubungan keduanya sampai harus se-intens itu di sana. Dia hanya berharap, semoga bukan sesuatu yang menyakitkan baginya.


"Baiklah, Nona Jennifer, sebagai sahabat yang sudah membantu Nona Floara, apa yang ingin anda sampaikan?" tanya si pembawa acara itu.


Jennifer pun menyampaikan sepatah dua patah kata untuk kelangsungan bisnis sahabatnya itu.


"Oiya, ngomong-ngomong, siapa laki-laki yang anda bawa ini? apakah pacar?" tanya si pembawa acara itu lagi.


"Ah, bukan," sahut Jennifer.


"Tuh kan, Nat. Mungkin Jennifer dan Nicholas hanya kebetulan datang bersama aja." Eliza berusaha menenangkan perasaan Natalie yang sudah tak menentu. Namun ia yakin, keadaan baik yang dikatakan Eliza tak sepenuhnya benar. Natalie melihat ada gelagat lain dibalik jawaban bukan dari mulut Jennifer.


Nicholas sempat menarik nafasnya lega karena Jennifer tidak membuat suasana semakin panas antara dirinya dengan Natalie. Namun senyumnya tak bertahan lama saat ...


"Lalu, kalo boleh tau, siapa?" pembawa acara itu kembali bertanya.


"Calon suami."


Teg


Jantung Natalie dan Nicholas terasa berhenti berdetak. Air mata yang sejak tadi Natalie bendung akhirnya menetes. Saat dengan lantangnya, Jennifer mengatakan bahwa laki-laki yang masih sah menjadi suaminya itu adalah calon suami Jennifer.


"Kenapa kau mengatakan ini?" cicit Nicholas pada Jennifer. Namun Jennifer tak menggubrisnya. Ia terus terpokus pada si pembawa acar itu. Ia yakin, saat ini Natalie pasti sudah menangis darah saat mendengar ucapannya barusan.


Ucapan penuh kekaguman berhasil terlontar dari beberapa pengunjung. "Wah, beruntung sekali ya wanita itu." Ucapan itu jelas membuat hati Natalie semakin sakit.


"Nat," Eliza mulai khawatir saat melihat Natalie mulai kesusahan bernafas. "Nat, kamu gpp kan?" Eliza semakin panik saat Natalie terus memegangi dadanya.


"Ini gak mungkin ...." Natalie menatap nanar wajah Nicholas yang hanya diam dan tak bergeming saat Jennifer mengatakan hal itu di depan publik. Padahal jelas-jelas Nicholas juga mengetahui Natalie ada di sana. "Kenapa dia diam saja, Liz?" dadanya semakin sesak, "kenapa dia tidak menemuiku dan menjelaskan kepadaku apa yang sebenarnya terjadi ... kenapa dia tidak menyangkalnya? ... kenapa dia tidak mengatakan bahwa di sini ada istri sahnya, aku." Natalie terus bergumam pada Eliza. "Apa yang dikatakan wanita itu benar? ... apa mereka akan benar-benar akan menikah? dan mereka ingin aku mengetahuinya di sini, dengan cara seperti ini?"


Eliza tertunduk tak bisa menjawab pertanyaan sahabatnya itu, karena dia sendiri juga sangat terkejut dengan kejadian ini.


Air mata Natalie terus berderai. Sementara Nicholas yang masih berada di panggung tak bisa melakukan apa-apa selain hanya menatap Natalie dari kejauhan. Sejujurnya ia juga ingin turun dari panggung itu dan menjelaskan yang terjadi, namun Jennifer yang tak mau melepas tangannya membuat ia tak bisa meninggalkan Jennifer begitu saja.


"Jadi ini, alasan dia selama ini tidak pernah Sudi menyentuhku."

__ADS_1


To be continued


__ADS_2