Husband From Hell (Suami Dari Neraka)

Husband From Hell (Suami Dari Neraka)
Ending Part 3


__ADS_3

Kelimanya sudah sampai di sebuah pulau pribadi yang diberi nama pulau harapan oleh Nicholas. Mereka langsung turun dan melangkah mendekat ke sebuah rumah megah yang dibangun di pinggir pantai dengan elegan itu.


Beberapa orang datang dan menyambut kedatangan mereka dengan memberikan bucket bunga juga kalung yang terbuat dari bunga pula. Bahkan beberapa dari mereka juga membawakan banyak sekali hadiah untuk Micho.


"Terikmakasih, Bibi, Paman," tutur Micholas ramah sambil menerima beberapa kado mewah dari beberapa orang itu.


Tak tanggung-tanggung, hadiah yang diterima Micholas berbeda dari hadiah yang diterima anak usia sepuluh tahun pada umumnya.


Jika biasanya anak-anak lain menerima hadiah play station, maka berbeda dengan anak itu. Micholas menerima hadiah beberapa kunci mobil sport keluaran terbaru yang tentunya beserta  mobil aslinya yang bisa ia ambil sepulangnya dari pulau itu. Beberapa ekor kuda untuk menambah koleksinya yang bisa ia ambil juga setelah pulang nanti. Juga hadiah-hadiah mewah lainnya yang tentunya tak bisa dibeli oleh orang sembarangan.


"Ma, apa Papa selalu melakukan ini setiap Mama ulang tahun?" protes Micholas kesal, karena kali ini ayahnya itu sudah sangat keterlaluan dalam memberikan hadiah. Tentunya bagi Micholas ini jelas sangat berlebihan. Ia tidak membutuhkan barang-barang ini karena baginya adalah pemborosan.


Natalie, Reynald dan Selly terkekeh melhat ekspresi kekesalan Micho saat menerima hadiah-hadiah itu dari orang.


"Lebih dari ini, Mic," jawab Reynald. "Bahkan ayahmu pernah membelikan puluhan kilo berlian hanya untuk melamar Ibumu."


"Bohong, jangan percaya Om mu itu! dia mengada-ada," potong Natalie. Lantas ia mengusap lembut rambut putranya. "Papa memberikan ini semua sebagai hadiah, karena kau sudah menjadi anak yang berbakti untuk kami, sayang."


"Micho berbakti pada Mama dan Papa bukan karena Micho mengharapkan ini, Ma. Tapi ini semua  karena Micho sayang Mama juga Papa."


Anak kecil itu lagi-lagi berhasil membuat siapapun yang mendengarnya terbawa suasana. Dia memang anak kecil yang terlanjur dewasa sebelum waktunya. Entah karena didikan Natalie yang begitu sempurna, atau memang anugerah yang kuasa.


"Itu rumah Papa?" tanya Micholas, menunjuk sebuah rumah besar dan mewah.


Natalie mengangguk. "Iya, itu rumah Papa."


Micholas terlihat tak sabar. Ia langsung saja menggandeng tangan Natalie untuk segera mendekati rumah itu.


"Ayo, Ma! ... aku sudah tidak sabar ingin bertemu dengan Papa."


Sesampainya di pintu utama, seorang penjaga langsung membukakan pintu untuk mereka.


Pintu itu terbuka dengan lebar.


Dari kejauhan Natalie langsung melihat Nicholas tengah berdiri dan menatap ke arahnya, menyambut kedatangan mereka dengan senyuman. Senyuman yang sampai detik ini selalu Natalie rindukan.


"Sayang, aku datang," cicit Natalie sambil tersenyum menatap Nicholas. "Aku membawa putra kita, sesuai permintaanmu."


"Ma, mana Papa?" tanya Micholas. Anak itu mengitari pandangan ke seisi ruangan besar rumah mewah itu, tapi dia tidak menemukan sipapun.


"Itu Papa, Nak! ... lihat ke sana!" Natalie menunjuk sebuah bingkai foto berukuran besar.

__ADS_1


"Mana? ... tidak ada. Itu hanya foto." Micholas lantas mencari jawaban pada yang lainnya. "Om, Tante, apa kalian bisa melihat dimana Papa ku?"


Bukannya jawaban, Reynald dan Selly malah menundukkan kepalanya. Sera dan Micholas yang bingung hanya saling bertatapan.


Ada apa ini?


"Ma ... dimana Papa?" Suara Micho mulai berat. Ada rasa khawatir dalam dirinya.


Natalie menggandeng tangan mungil putranya. "Ayo, ikut Mama, Nak!"


Natalie berjalan bergandengan bersama Micho, sementara Selly dan Reynald menunggu di kejauhan beberapa meter. Mereka membiarkan Natalie mempertemukan putranya dengan sosok ayah yang selalu Micholas pertanyakan.


"Sudah sampai. Kita sudah sangat dekat sekali dengan Papa."


Micholas semakin tidak mengerti. Ada apa ini?


Dekat? dimana?


Bahkan di depannya kini hanya ada dinding dan pajangan foto besar, laki-laki yang menggunakan jas hitam dengan dasi kupu-kupu sedang tertawa dengan bahagianya.


"Itu Papamu, Nak."


"Iya, Micho tau ini Papa. Tapi ini cuma foto, Ma. Aku mau ketemu langsung sama Papa."


"Turunkan foto itu!" titah Natalie.


Meskipun sedikit bingung, Micho akhirnya mengikuti saran sang ibu. Dia mengangkat bingkai berukuran 1x1 meter itu.


Micholas langsung tercengang saat melihat apa yang ada dibalik bingkai itu.


Sebuah jendela kaca, yang di dalamnya terdapat sebuah peti yang dikhiasi banyak bunga-bunga yang sepertinya baru saja diganti karena harumnya tercium sampai ke luar jendela kaca itu.


Michoas kemudian membaca sebuah bingkai yang berisi sebuah foto ukuran kecil dari foto yang ada di bingkai tadi.


🌺**Nicholas Jhonson🌺


Lahir : 12 Juni 1980


Meninggal : 05 Mei 2010**


Tepat sepuluh tahun yang lalu. Karena hari ini juga sedang tanggal 05 Mei 2020. Itu artinya Nicholas pergi tepat di tanggal yang sama dengan kelahiran putranya.

__ADS_1


"Ma, apa maksud ini semua?" bibir Micholas bergetar hebat. Rasa takut dan tak percaya menyeruak membuat dadanya sesak. Benarkah apa yang ia lihat.


Apa ini yang dijanjikan Natalie sejak dulu?


Ibunya itu selalu berjanji akan mempertemukan Micho dengan ayahnya saat berusia sepuluh tahun.


Setetes air mata mengalir dari kelopak mata Natalie. Hari yang ditunggu akhirnya datang juga. Hari dimana ia memberitahukan sang anak tentang kenyataan sebenarnya. Kenyataan bahwa ...


"Iya, Nak. Papamu sudah tiada. Papa sudah pergi tepat di hari kelahiranmu."


Bagaikan petir di siang bolong. Pertemuan yang dinantikan Micho sejak bertahun-tahun lamanya, ternyata hanyalah pertemuan semu. Pertemuan yang tak jelas adanya.


"Maafkan, Mama, Nak! ... Mama harap Micho bisa menerimanya dengan ikhlas," ucap Natalie sambil menundukkan kepalanya, menyembunyikan deraian air mata yang mengalir lagi dan lagi.


Micholas terlihat menggelengkan kepalanya. "Tidak, ini pasti bohong. Mama bercanda kan? ... Papa pasti masih hidup kan?"


Hal yang ditakutkan Natalie pun terjadi. Putranya, Micholas tidak bisa menerima kenyataan bahwa sang ayah sudah tiada untuk selamanya. Sejak awal Natalie tidak setuju untuk memberitahukan Micholas terlalu dini tentang kematian ayahnya. Tapi ini semua permintaan Nicholas. Suaminya yang ingin anaknya tahu lebih awal, agar dia tumbuh menjadi pribadi yang selalu melindungi Natalie.


"Om, katakan padaku! ini semua bohong kan?" Micho berjalan mendekati Reynald, namun sama dengan Natalie. Laki-laki itupun tak memberikan jawaban.


Ketakutan Micho semakin dalam. Ini jelas bukan lelucon. Karena tak satupun dari mereka yang terlihat sedang bercanda.


Micholas, seorang siswa dengan IQ di atas rata-rata itu untuk pertama kalinya menitikkan air mata. Belum pernah ia merasakan kesedihan sedalam ini, hingga membuat relung hatinya terasa terkoyak.


"Jadi ini semua nyata?" ucapnya sambil menahan sesak di dadanya. "Jadi benar, kalau Papa sudah meninggal?"


Mimpi yang sejak dulu ia dambakan, bisa pergi berkuda dengan ayahnya, bisa menerbangkan helikopter bersama, pergi memanah bersama itu kini semua lenyap hilang ditelan bumi begitu saja, setelah kenyataan pahit ia terima.


Kenyataan bahwa ayahnya, Nicholas Jhonson telah pergi untuk selamanya.


**To be continued


Cuap-cuap Author


Kepada seluruh Readers tercinta. Mohon maaf, jika endingnya aku harus membuat Natalie dan Nicholas berpisah karena memang sejak awal ini semua sudah direncanakan.


Tapi percayalah, perpisahan ini adalah perpisahan termanis. Ini adalah jalan terbaik untuk Nicholas, karena dengan ini dia tidak lagi menahan sakitnya.


Semoga kalian selalu setia menemani hingga ujung cerita ini.


Cerita ini akan segera berakhir seiring dengan kepergian Nicholas untuk selamanya.

__ADS_1


Terimakasih**


__ADS_2