Husband From Hell (Suami Dari Neraka)

Husband From Hell (Suami Dari Neraka)
Suami dari Neraka


__ADS_3

Nicholas geram. Sudah sepuluh kali ia menghubungi Natalie. Dan sebanyak itu pula wanita itu tidak menjawab panggilannya.


"Kemana sebenarnya dia pergi?"


Prankk


Gelas di depannya akhirnya menjadi korban. Dengan sorot mata yang tajam, Nicholas mengepal ponselnya dalam satu genggaman.


"Makasih, ya!" Natalie melambaikan tangannya pada Erick setelah menurunkannya tepat di depan pintu gerbang rumah mewah milik Nicholas.


"Huffft." Natalie menghembus nafasnya setelah menutup pintu rumah itu. Hari ini melelahkan sekali rasanya. Belajar banyak hal yang harus mulai dia kuasai, lumayan melelahkan juga pikirnya. Kedepannya dia perlu suplemen tambahan, agar daya tahan tubuhnya tidak cepat menurun saat dihempas habis-habisan dengan rutinitasnya yang padat.


"Aku harus lebih giat lagi, supaya aku segera bisa segera melunasi hutang Ibu. Dan dengan begitu aku bisa segera keluar dari neraka ini," gumamnya dalam hati.


Srett


Baru saja Natalie hendak membuka kulkas untuk mencari air minum, tangannya tiba-tiba saja ditarik paksa oleh Nicholas.


"Nicho," cicit Natalie.


"Apa yang kau lakukan sampai pulang selarut ini?" Nada bicaranya terdengar berat dan tak suka. Tapi Natalie sudah tidak perduli. Mau marah ataupun tidak suka, Nicholas sudah tidak berhak lagi melarangnya.


"Lepaskan tanganku!" Mata Natalie mendelik marah. "Kau sudah tidak berhak lagi mengatur semua kehidupanku. Kita sudah menentukan jalan masing-masing. Jadi kuharap kau tidak lagi mengurusi hidupku, sama seperti aku yang tidak akan lagi mengurusi hidupmu, termasuk dengan wanita manapun kau pergi." Natalie mencecarnya dengan ungkapan kebencian. Dia memang sudah tidak peduli lagi dengan Nicholas. Meskipun dia masih sangat mencintainya, tapi Natalie tidak mau jadi budak cinta yang hanya melukai diri sendiri dengan terus berusaha bertahan di sampingnya. Karena nyatanya hidup tak seindah cerita di novel pada umumnya. Dia harus berjuang. Dia harus memperjuangkan harga dirinya.


"Apa kau bilang?" Mata Nicholas mulai merah, "kau masih istriku. Dan sebelum surat perceraian itu kita tanda tangani, aku masih punya hak sebagai seorang suami."


"Apa kau bilang, Hak?" Natalie terkekeh geli mendengar kata hak yang terlontar dengan santainya dari mulut Nicholas. "Hak apa yang kau maksud? hak mencampuri semua urusanku?" telunjuk Natalie terangkat, "ingat ya! jangan pernah bicara tentang hak di depan mataku! karena sampai detik ini pun, kau tidak pernah memberikan hak-ku sebagai seorang istri. Ingat itu!" Natalie melepaskan genggaman tangannya dari Nicholas. Ia sudah tak lagi haus. Malas rasanya berdekatan dengan laki-laki yang selalu saja membuat mood nya hancur seketika.


Natalie sudah sampai kamar. Ia segera menggantungkan tas miliknya dan meraih handuk untuk segera mandi. Panas rasanya bicara dengan laki-laki arogan seperti Nicholas. Namun gerakan tangannya seketika terhenti ketika Nicholas berhasil menariknya dan membalikkan tubuhnya dalam sekali hentakan, membuat kedua mata mereka akhirnya bertemu.

__ADS_1


"Kau mau aku memberikan hak-mu sebagai seorang istri?" Mata Natalie terbuka lebar kala mendapati wajah Nicholas hanya tinggal beberapa senti lagi bersentuhan dengan wajahnya. "Baiklah, aku akan memberikannya malam ini juga."


"Apa yang akan dilakukan Nicholas?" batin Natalie. Dia tak bisa menyembunyikan keterkejutannya kala Nicholas langsung mendorong dan membawa tubuh Natalie duduk di sofa kamarnya.


"Arghh," Natalie sudah duduk di atas sofa. "A_pa yang akan kau lakukan?" Bibir Natalie mulai gemetar, melihat Nicholas semakin garang.


Tak ada jawaban. Nicholas sibuk melucuti pakaiannya. Mulai dari kemeja hingga kaos dalam putih polos itu kini sudah berserakan di lantai, meninggalkan dada bidang yang berbentuk kotak-kotak itu.


Susah payah Natalie berusaha menelan salivanya saat Nicholas semakin mendekat ke arahnya. "Jangan lakukan itu, ku mohon!" Natalie berusaha memohon agar Nicholas tidak melakukan hal yang tidak semestinya. Benar jika mereka memang suami istri. Tapi ingat, mereka akan segera bercerai. Dan tentunya Natalie tidak mau hal itu terjadi. Bagaimana nasib anaknya nanti jika sampai Natalie mengandung.


Nicholas sudah semakin dekat. Ditariknya dagu Natalie dengan sebelah tangannya. "Kau selalu menyalahkan aku karena aku tidak pernah memberikan hak mu sebagai seorang istri. Tapi kau selalu saja menolakku ketika aku akan melakukan ini. Jadi, jangan salahkan aku jika aku melakukannya dengan sedikit kasar dan memaksa."


Natalie menggelengkan kepalanya, namun Nicholas sepertinya sudah tidak perduli lagi. Hasratnya sudah sampai di ujung kepalanya. Andai saja Natalie tahu, bahwa selama ini Nicholas pun berusaha menahan hasrat itu karena tak ingin melukai Natalie di kemudian hari. Tapi nyatanya Natalie selalu saja mempermainkan gairahnya.


Srettt


"Lepaskan! kenapa kau tutup?"


"Aku tidak mau." Natalie menggeleng-gelengkan kepalanya lagi.


"Harus mau!" Nicholas menyingkirkan kedua tangan Natalie. Dengan cepat dia menindih tubuh Natalie sampai wanita itu kini sudah terlentang di atas sofa. Nicholas lalu mencium dengan rakus bibir ranum yang selama ini ia jauhi. Bahkan saking terbakar hasratnya, Natalie sampai meringis merasakan perih di bibirnya yang ternyata sudah berdarah akibat gigitan kecil yang diberikan Nicholas.


"Hmppp," Natalie meronta mencoba melepaskan dirinya dari laki-laki berbadan tegap yang kini menindihnya.


"Brengs3k," Natalie menangis dalam hatinya seiringan dengan turunnya air mata di kelopak matanya yang indah. "Kenapa aku harus mengalami nasib seperti ini. Melayani nafsu bejad suamiku sendiri." Natalie terus meronta berusaha melepaskan dirinya dari Nicholas. Namun laki-laki itu masih terus saja menghisap bibirnya dengan rakus. Ia bahkan tidak perduli dengan rintihan dari rasa perih yang Natalie derita.


Puas menghisap bibir ranum Natalie, Nicholas mulai beraksi turun ke bagian bawah wajah wanita itu. Dia menciumi leher Natalie dengan kasarnya, seperti haus akan sebuah percintaan.


"Hiks .. hiks .." Tangisan Natalie akhirnya bersuara setelah bibirnya terlepas dari pagutan Nicholas.

__ADS_1


Mendengar Natalie menangis, Nicholas menghentikan aktivitasnya. "Kenapa kau menangis? bukankah kau meminta hak mu?" tanyanya sambil terus memegangi kedua tangan Natalie.


Mendapatkan kesempatan, Natalie langsung mengutarakan perasaannya. "Aku memang menginginkannya, tapi dengan Nicholas yang dulu mencintaiku. Bukan dengan Nicholas yang sebentar lagi akan menceraikanku." Ucapannya terjeda, dia mengumpulkan segenap kekuatannya untuk kembali bicara. "Aku ... aku tidak mau anakku terlahir tanpa kasih sayang seorang ayahnya."


Teg


Jantung Nicholas terasa terhenti berdetak saat kata-kata itu keluar dari bibir Natalie yang ternyata sudah berdarah akibat keganasannya.


Perlahan cengkraman tangan Nicholas mulai melemah dan melepaskan begitu saja. Nicholas mendadak merasa jadi laki-laki paling brengs3k, karena menyetubuhi seorang wanita dengan rakusnya tanpa memperdulikan perasaan takutnya.


"Arghhh." Nicholas mengacak-acak rambutnya frustasi seraya berdiri melepaskan tubuhnya dari Natalie. Kemudian dia masuk ke dalam kamar mandi sambil membanting pintu itu.


Sesampainya di kamar mandi Nicholas langsung menghantamkan pukulan ke depan cermin yang menempel di dinding. "Sial, brengs3k. Kau benar-benar laki-laki brengs3k Nicholas." Dia memaki dirinya sendiri kala kembali teringat ucapan Natalie barusan.


Sementara wanita yang ditinggalkannya kini perlahan turun dari sofa sambil terisak, lalu mengambil selimut, menutupi tubuhnya karena bajunya yang dirobek Nicholas.


Natalie menatap tubuhnya yang menyedihkan di depan cermin. Pantas saja dia merasakan perih di sekitar bibirnya, ternyata laki-laki itu telah menggigitnya dengan kasar.


"Jangan menangis! Kau pantas diperlukan seperti ini, Natalie," isaknya seraya menutup kembali tubuhnya dengan selimut, berjalan dan naik ke atas kasur, meringkuk sambil terus menangis, meratapi dirinya dengan segala kemalangannya. Menikah dengan seorang laki-laki yang menurutnya berasal dari neraka.



Natalie Watson



Nicholas Jhonson


To be continued

__ADS_1


__ADS_2