
Setelah berhasil menjebloskan Jennifer ke penjara, Reynald pun lantas mengurus urusan selanjutnya.
"Kamu di rumah dulu ya sama, Papa!" titah Reynald pada Selly.
"Memangnya kau mau pergi kemana?" tanya Selly sedikit cemas, tapi Rey hanya menjawabnya dengan senyuman. "Aku harus pergi ke suatu tempat."
Ia akan kembali menelusuri hasil investigasinya mengenai alasan Nicholas memilihnya sebagai direktur utama, juga pengalihan perusahaan itu yang terkesan sangat mendadak.
Reynald yakin, ada sesuatu yang disembunyikan darinya juga yang lainnya.
Saat ini Reynald berhasil mendapatkan informasi tentang sahabat dekat Nicholas bernama Anjeli.
Awalnya Anjeli tidak mau memberitahu Reynald, tapi setelah Reynald menceritakan hal yang terjadi, Anjeli pun merubah niatnya. Karena Anjeli juga sebenarnya ingin sekali melihat sahabatnya itu bahagia.
"Apa? jadi Nicholas mengidap penyakit kanker otak stadium akhir?"
Anjeli mengangguk.
Reynald tak percaya ini terjadi pada orang yang paling dekat dengannya itu.
Nicholas mengidap penyakit kanker selama ini, dan dia menutupinya hanya karena tak ingin membuat orang di sekelilingnya sedih.
Nicholas benar-benar egois. Dia tidak sadar betapa berharganya dirinya bagi banyak orang.
"Aku yakin dia memberikan perusahaan dan juga semuanya padamu itu karena dia akan memfokuskan pengobatannya di luar negeri."
Reynald terdiam. Kini dia mengerti kenapa dia begitu bersikeras ingin bercerai dengan Natalie. Rupanya perceraian Nicholas dan Natalie juga terjadi hanya untuk menutupi penyakit Nicholas.
"Gawat!"
"Gawat kenapa?" tanya Anjeli.
Reynald berdiri dari kursinya. "Sidang perceraian Nicholas dan Natalie akan dimulai tiga jam lagi. Kita harus segera memberitahukan Natalie akan hal ini. Mereka tidak boleh berpisah."
Reynald buru-buru merapikan jas dan menyambar Kunci mobilnya.
"Rey!" panggil Anjeli. "Saat ini mungkin Nicholas sudah bersiap-siap menuju bandara. Jadi, cepat bawa Natalie menemui Nicholas! aku akan memberitahu jadwal pemberangkatannya."
"Oke!"
Reynald pun segera bergegas mencari Natalie. Awalnya dia menemui Natalie di rumahnya, tapi wanita itu rupanya tidak ada di sana. Reynald langsung kembali bergegas menuju tempat dimana Natalie bekerja.
Reynald sempat kesulitan saat memaksa masuk ke perusahaan itu. Karena dia tidak memiliki kepentingan apapun, tapi jangan sebut namanya Reynald jika dia tidak bisa mensabotase keamanan di perusahaan itu.
Dia membayar orang untuk membuat keributan di luar kantor, sementara dia mencuri id card staf tersebut agar dia bisa masuk menggunakan kartunya.
Reynald berhasil masuk, dia buru-buru berlari mencari ruangan Natalie. Dia ingat, kalau Natalie adalah sekretaris di perusahaan itu. Jadi Reynald langsung tertuju pada ruangan sekretaris berada.
Samar-samar, Reynald mendengar perdebatan dua orang. Dia yakin dua orang yang sedang berdebat itu adalah Erick dan Natalie.
Tapi apa yang sedang mereka perdebatkan? Reynald langsung memasang telinga di pintu.
Dan betapa terkejutnya dia ketika mendengar Erick akan berbuat tidak senonoh pada Natalie.
"Jangan lakukan itu, aku mohon!"
"Oh my God, kau sangat menggairahkan sekali, Natalie. Pantas saja jika Nicholas begitu tergila-gila padamu."
"Lepaskan aku, Erick. Kau sudah benar-benar gila!!!"
Hahaha
"Iya, aku memang sudah gila. Aku gila karena Laki-laki bernama Nicholas itu. Kau tahu?"
"Lihat aku, Natalie! lihat aku!! ... Baiklah, jika kau menantangku! aku akan buat kau takkan bisa berpaling dariku."
"JANGAN, kumohon jangan lakukan ini?"
"Tolong aku!!!"
Brakk
"******** kau!!!"
Tanpa pikir panjang lagi, Reynald langsung mendobrak pintu itu.
Bugh
Sebuah pukulan mendarat di wajah Erick.
"Rey," cicit Natalie.
Reynald langsung memasang badan di depan Natalie. "Kau tidak apa-apa?"
Natalie mengangguk sambil berusaha menahan tangisannya yang sudah ingin meledak. Ia benar-benar shock saat mendapati sikap asli seorang Erick ternyata lebih menyeramkan dari seorang Monster baginya.
"*******!!!" pekik Erick tak terima. Baru saja dia berdiri, Reynald langsung kembali menendang tumit kakinya.
*Bugh
Bugh*
Reynald menghujani Erick dengan pukulan berkali-kali sampai Laki-laki itu tersungkur ke lantai sambil memegangi dadanya yang kesakitan.
"Ini adalah balasan untuk laki-laki bejad sepertimu," ucap Reynald. Lalu Reynald menarik tangan Natalie. "Ayo, Nat! kita harus cepat pergi dari sini."
Natalie mengangguk.
Tapi sebelum pergi, Reynald sempat menarik kerah baju Erick. "Ingat! urusan kita belum selesai sampai di sini." Setelah itu Reynald pun menghempaskan tubuh Erick kembali. Dia membawa Natalie pergi menemui Laki-laki yang saat ini tengah menunggu keberangkatannya ke di bandara.
***
Sesampainya di bandara, Reynald dan Natalie buru-buru mencari keberadaan Nicholas.
Jarak dari tempat mereka ke bandara memang lumayan cukup jauh, sehingga Natalie dan Reynald harus buru-buru mencari di mana Nicholas berada sebelum dia benar-benar pergi.
__ADS_1
Jika sesuai jadwal yang diberitahukan Anjeli, keberangkatan Nicholas akan dilaksanakan jam tiga lewat lima belas menit. Itu artinya tinggal lima belas menit lagi.
"Bagaimana ini? kita belum menemukannya juga." Natalie semakin takut. Takut jika ia tidak bisa lagi bertemu dengan laki-laki itu.
Tanpa pikir panjang lagi Reynald langsung menghubungi Nicholas. Hanya itu cara satu-satunya. Tapi baru saja panggilan itu tersambung. Reynald sudah berhasil menemukan dimana Nicholas.
"Halo," ucap Reynald.
"Bagaimana hasil keputusannya?" tanya Nicholas.
"Hasil persidangan sudah diputuskan, kau dan Natalie resmi bercerai," sahut Reynald bohong.
"Ya sudah, terimakasih ya, Rey! ... kau sudah melakukan semuanya dengan sangat baik. Aku sangat berterimakasih padamu."
"Oiya, Rey! jangan lupa untuk melakukan apa yang ku minta. Kirimkan setiap bulannya, sepuluh persen dari laba penjualan perusahaan ke nomor rekening yang kuberi."
"Tentu. Aku akan memberitahukan padamu jika aku sudah mentransfernya," sahut Reynald.
"Tidak, kau tidak perlu memberitahu atau menghubungiku jika kau sudah mengirimkannya."
"Oh, begitu ya? baiklah," sahut Reynald lagi. Sampai detik ini juga Nicholas belum menyadari jika orang yang sedang bicara dengannya ada di sampingnya.
"Iya. Sekali lagi terimakasih banyak, Rey. Terimakasih karena selama ini kau selalu ada di sisiku, terimakasih karena sudah menjadi sosok sahabat juga figur seorang kakak yang selalu ku banggakan."
"Sama-sama. Begitu pula aku, aku sangat berterima kasih banyak karena selama ini kau sudah menganggapku sebagai saudara."
Nicholas kembali menitikkan air matanya. Mengingat kenangan hidupnya bersama Reynald saja rasanya sudah sesak.
"Ya sudahlah, aku tutup teleponnya. Aku harus menemani Ibuku makan dulu," ucap Nicholas bohong.
Reynald sempat menggeleng gelengkan kepalanya saat mendengar jawaban kebohongan dari Nicholas.
"Lagi dan lagi ia membohongiku," cicit Reynald. "Tapi sayangnya, kau tidak begitu handal dalam urusan berbohong."
Reynald sudah menutup teleponnya.
Natalie terisak-isak saat melihat laki-laki itu mematahkan kartu ponselnya. Sepertinya Nicholas memang berniat meninggalkan semua kenangan bersamanya.
Reynald melihat wanita di sampingnya sudah banjir dengan air mata.
Reynald kemudian mempersilahkan Natalie untuk mendekati laki-lakinya itu. Dia mengulurkan tangannya sambil tersenyum sebagai tanda.
Dengan air mata yang berlinang dan sekuat tenaga yang ia kumpulkan, Natalie pun berjalan mendekati laki-laki yang sangat dicintainya itu. Ia kemudian duduk di sampingnya. Menatap dari samping, kesedihan yang dirasakan Nicholas sepertinya sangat mendalam.
Dan sepertinya Nicholas belum menyadari kehadirannya karena laki-laki itu sibuk menangis.
Nicholas terisak. Ia menangis sambil menutup wajahnya. Sepertinya selama ini Natalie salah menilai. Bukan hanya ia yang tersiksa karena jalan cerita cinta mereka, laki-laki di sampingnya juga sepertinya sangat terluka.
Melihat Nicholas tak henti menangis, Natalie mengeluarkan sapu tangan dari dalam tasnya, kemudian memberikannya pada Nicholas. "Apa kau butuh ini?"
Nicholas menerimanya, lalu mengembalikannya kembali. "Terimakasih," ucapnya. "Maaf, aku tidak bisa mencucinya terlebih du_"
"Natalie."
Nicholas bertanya dalam hatinya, apakah ini mimpi?
"Reynald," cicit Nicholas.
Ternyata bukan hanya Natalie yang ada di sana, Reynald juga.
Nicholas menatap heran. "Kenapa ... kenapa kalian ada di sini?" tanya Nicholas bingung. "Bukannya kalian?"
Reynald mengangkat selembar kertas yang harusnya hari ini diserahkan pada hakim , tapi rupanya sidang itu telah dibatalkan oleh Reynald. Tidak ada sidang, tidak ada perceraian seperti yang ia katakan barusan. Semuanya bohong.
Nicholas kembali menatap wanita di sampingnya. Wanita yang sangat dicintainya itu masih menatapnya dengan air mata yang berderai.
Nicholas pun buru-buru mengusap air mata Natalie dengan ibu jarinya. "Kenapa kau menangis?"
Air mata Natalie tak bisa terbendung lagi. Melihat wajah laki-laki yang sudah di vonis kanker stadium akhir itu berjuang sendirian selama ini. Dia merasa jadi pasangan paling berdosa.
"Kamu jahat!" dada Natalie sesak, benar-benar perih rasanya. Laki-laki yang selama ini ia anggap sebagai suami dari Neraka itu nyatanya menanggung beban hidupnya sendirian di pundaknya. "Kenapa kamu 'gak pernah cerita sama aku kalau kamu sakit parah?"
Nicholas terkejut.
Dari mana Natalie tahu kalau dia sakit? sedangkan selama ini tidak ada satupun yang tahu tentang penyakitnya itu selain dokter dan Anjeli.
"Kenapa kamu menyembunyikan semua ini dariku? ... kenapa Nicholas? kenapa?"
Natalie semakin terisak menahan sakit hatinya. Kekecewaannya pada laki-laki itu telah membuat relung hatinya benar-benar terkoyak.
Nicholas bungkam. Ia tak bisa bicara. Lidahknya kelu. Jawaban apapun rasanya tidak akan membuat Natalie percaya lagi pada alasannya.
Tubuh Natalie lemah. Dia hampir saja ambruk kalau Nicholas tidak menahannya.
"Lepas!" Natalie menghempaskan tangan Nicholas darinya. "Kamu takut aku sakit jika aku mengetahui penyakitmu. Tapi apa kau sadar, bahwa dengan caramu menyembunyikan semua ini dariku malah lebih-lebih menyakitiku?"
Natalie masih berusaha menahan nafasnya yang mulai sesak. "Apa sebegitu tidak pentingnya aku buat kamu, hah?"
"Bukan, bukan begitu."
"Terus kenapa???"
"Aku hanya ... aku." Ah, sungguh Nicholas tidak tahu lagi apa yang harus ia jawab. Andai saja Natalie tahu kalau dia sudah berusaha memperjuangkan, hanya saja orang tua Natalie yang tak menginginkan mereka bersama.
"Terus aku tanya sekarang kamu mau pergi kemana?" tanya Natalie. "Setelah kau menyembunyikan penyakitmu sekarang kamu mau pergi ninggalin aku?"
Nicholas menundukkan kepalanya. "Maafkan aku!"
Bukan jawaban itu yang ingin Natalie dengar.
Bukan permintaan maaf, Natalie hanya ingin Nicholas membatalkan kepergiannya. Tapi sepertinya Nicholas tak ada niatan untuk itu.
"Ya sudah, kalau memang kau ingin pergi, pergilah!" Natalie mengusap air matanya dan mengangkat wajahnya agar sesak di dadanya sedikit berkurang. "Jika dengan meninggalkanku itu bisa membuatmu bahagia, pergi saja. Mungkin sudah takdir dan suratanku untuk menjalani hidup sendiri tanpamu."
Andai saja Natalie tahu, batin Nicholas.
__ADS_1
Nicholas masih diam dan tak mau mengangkat wajahnya. Dia terlalu takut Menatap wajah Natalie. Takut jika langkahnya kembali mundur.
Karena tak ada respon, Natalie pun akhirnya menyerah. Ia tidak akan lagi memaksa Nicholas untuk tetap bersamanya. Ia kemudian berdiri dari duduknya, dan sebisa mungkin ia menahan dadanya yang semakin sesak, meskipun air matanya yang terus menerus mengalir semakin membasahi wajahnya.
"Seharusnya sejak awal aku sadar, bahwa aku tidak pernah berarti di hatimu."
"Seharusnya sejak awal aku tidak pernah memberikan hatiku seutuhnya untuk laki-laki yang tidak pernah menanggap aku berharga di hatinya."
Sepertinya rencana Reynald untuk mengembalikan mereka berdua akan gagal. Nicholas sejak tadi tidak merespon Natalie. Laki-laki itu sepertinya sudah mantap untuk berpisah dan meninggalkan Natalie selamanya.
Hikss
Natalie kembali terisak. Susah payah dia menelan salivanya. Memejamkan matanya sesaat, menerima kenyataan bahwa Nicholas tidak lagi mengharapkan mereka kembali bersama.
"Sudahlah, ikhlaskan dia pergi, Natalie," gumamnya dalam hati sambil memejamkan matanya.
Ini adalah akhir dari semua mimpi Natalie bersama Nicholas. Natalie harus pasrah dan ikhlas menerima kenyataannya.
Natalie hanya berharap, semoga Nicholas bahagia meskipun bukan bersamanya.
"Semoga kau bahagia dengan keputusanmu."
Setelah mengucap kata-kata itu, Natalie pun berlari pergi meninggalkan Nicholas dengan segudang rasa kekecewaannya. Ia takkan lagi berharap lebih pada laki-laki yang tak lagi menginginkannya kembali, sementara Reynald hanya bisa menatap adegan di depannya dengan rasa pilu.
Sampai akhirnya
Nicholas membanting koper di tangannya.
Ia bangkit berlari dan langsung memutar tubuh wanitanya.
Nicholas langsung melum@t bibir wanitanya, begitu dalam sambil memeluknya, menarik tengkuk leher wanita itu untuk memperdalam ciumannya.
Natalie yang awalnya sudah benar-benar takut Nicholas akan membiarkannya pergi begitu saja, hanya diam dan mematung membiarkan Nicholas memeluk dan menciumnya.
Beberapa detik lamanya Nicholas membiarkan bibirnya bersentuhan dengan wanitanya. Sampai akhirnya saat dia mendengar Natalie kembali terisak ia melepaskan pagutannya.
Nicholas mengusap kembali air mata itu dengan ibu jarinya. Menatap mata Natalie dengan penuh cinta.
Natalie masih tak berani mengangkat wajahnya.
"Untuk apa lagi kau melakukan ini padaku?" tanya Natalie. "Apakah ini tanda perpisahan darimu?"
Tak lama, Thomas, Mark, dan Selly datang.
Rupanya Reynald sengaja memberitahukan mereka untuk membantu mencegah kepergian Nicholas.
"Ayah," cicit Natalie. Sontak saja Nicholas langsung melepaskan pelukannya. Dia tidak mau Thomas marah karena dia sudah berani mengingkari janjinya.
Tapi sepertinya dugaan Nicholas salah. Thomas malah memberikan senyumnya yang tulus.
Ia berjalan mendekati anak dan menantunya itu.
Thomas kemudian mengangkat tangan Nicholas dan Natalie bersamaan.
"Kembalilah bersama anakku! dia sangat mencintaimu," pinta Thomas pada Nicholas. Kemudian dia menatap keduanya. "Kembalilah bersama!" lanjutnya. "Jangan sampai kalian menyesal di kemudian hari karena telah menyia-nyiakan cinta suci ini."
Setelah menyampaikan pesannya, Thomas pun kembali mundur, sementara Nicholas yang masih belum percaya kalau Thomas merestui hubungan mereka itu tak bisa menyembunyikan rasa bahagianya.
Ditatapnya wanita di hadapannya. Nicholas tersenyum, disambut Natalie.
Akhirnya badai yang selama ini bergelombang itu surut juga.
Akhirnya semua rintangan cinta Nicholas dan Natalie habis juga.
Kini, tak ada lagi alasan Nicholas untuk pergi.
Dia akan tetap tinggal di sini, bersama wanita yang paling ia cintai.
"Apa kau masih mau pergi?" tanya Natalie.
Nicholas menggelengkan kepalanya mantap
"Tidak akan. Aku tidak akan pergi kemanapun, selain bersamamu kekasih hatiku."
Nicholas memangku wajah Natalie. Dia memberikan ciuman kasih sayang di kening wanitanya dengan sangat hangat.
"Aku mencintaimu."
"Aku juga sangat mencintaimu, suamiku."
END
Alhamdulillah, sesuai permintaan readers ku tercinta. Novel ini berakhir dengan happy ending.
Jawab jujur, kalian seneng gak?
Semoga tidak ada lagi yang menghujaniku dengan komentar-komentar karena aku terus menyiksa tokoh utama novel ini.
Aku memang sengaja menarik ulur dan membuat ini sedikit rumit, agar kalian semakin mencintai tokoh yang ku buat. Semoga berhasil sih.
Dan ada satu hal yang harus kalian tahu, bahwa sebenarnya Novel ini belum sebenarnya tamat. Masih ada beberapa chapter lagi yang akan ku buatkan.
Kenapa?
Karena aku belum membuat adegan mesra Nicholas dan Natalie saat mereka sudah saling menyatakan perasaannya.
Kalian pasti nunggu kan adegan itu? wkwkw adegan apa?
Ada deh.
Aku bakal update setelah membaca kesan-kesan kalian selama membaca novel ini. Yah, minimal dapet lima puluh komentar saja aku sudah senang.
So, berikan komentar terbaik kalian!
__ADS_1
To be continued