
Pagi hari.
Suara dentingan sendok dan garpu yang saling bertautan terdengar di meja makan. Sudah ada dua pelayan yang sedang berdiri menunggu perintah dari majikannya yang sedang sarapan bersama seorang wanita yang bukan istrinya.
"Kau sudah membangunkannya?" tanya Nicholas pada Helena.
"Sudah, Tuan. Nona sudah bangun! dia sedang bersiap-siap untuk turun sebentar lagi mungkin."
Mendengar pertanyaan itu terlontar, Jennifer mendelik malas, sementara Helena yang menyadari tingkah laku Jennifer juga sama mendelik malas padanya.
"Sebenarnya dia itu siapanya Tuan Nicholas, sih? sombong sekali sepertinya. Dia juga sepertinya tidak menyukaiku Nona Natalie."
Sepuluh sampai dua puluh menit lamanya Nicholas menunggu, Natalie tak datang juga. Makanan yang ia pertahankan untuk berlama-lama agar bisa sarapan dengan Natalie pun akhirnya ludes juga karena menunggu terlalu lama, dan wanita itu belum datang juga.
"Lama sekali ... Kemana dia?" batin Nicholas seraya melirik jam di tangannya lalu pintu kamar yang tak mau juga terbuka.
"Sayang, kita berangkat sekarang yuk! nanti aku telat." Rengek manja Jennifer pada Nicholas, membuat Helena yang sedang merapikan piring bekas keduanya itu jijik dibuatnya.
"Sayang, sayang, kepalamu peang. Dasar pelakor!" batin Helena yang terus menyumpahi wanita itu.
Tak tok tak tok
Akhirnya yang ditunggu-tunggu datang juga. Suara sepatu Natalie menuruni anak tangganya setelah keluar dari kamar.
"Nah, itu dia orangnya datang" ujar Jennifer malas. "Ayo kita berangkat."
"Tunggu dulu! kita tunggu dia sarapan dulu."
"Hah, tapi ini sudah siang, Nic! nanti aku bisa telat."
Tak menghiraukan ucapan Jennifer, Nicholas menatap penampilan Natalie hari ini. Sedikit berbeda, pikirnya. Ada rona merah di bibirnya. Padahal biasanya dia hanya menggunakan Liptint pink di bibirnya.
"Kenapa lama sekali?" tanya Nicholas datar.
"Ah, maaf. Aku lupa memberitahumu." Natalie duduk dengan santainya di samping Nicholas. Ia mulai mengambil nasi ke dalam piringnya beserta beberapa lauk pauknya. "Aku memang sengaja sarapan lebih siang, karena jam kerjaku memang masih lama."
"Ckk, apa maksudmu?" sambar Jennifer. "Sudah merasa jadi Nyonya sekarang? sejak kapan jam kerja di kantor berubah?"
__ADS_1
Natalie yang tengah menuangkan air minum itu mendelikkan matanya ke arah Jennifer, tapi dia tak berminat untuk berdebat dengan wanita itu.
"Ada apa dengannya?" batin Nicholas. "Tidak seperti biasanya dia bersikap seperti ini."
Lima menit berlalu. Nicholas masih setia menunggu Natalie menyelesaikan makannya.
"Ah, kenapa kalian masih di sini? katanya udah telat?" tanya Natalie.
"Apa? ... kau sudah gila ya?" pekik Jennifer kesal. Sudah jelas-jelas dia menunggu Natalie sarapan. Kenapa wanita itu masih bertanya juga? "Cepat habiskan makananmu itu. Aku ada meeting pagi ini dengan client. Makan aja lama banget," ketusnya.
"Oh, jadi kalian menungguku?" Natalie menepuk jidatnya, "maaf-maaf aku sampai lupa." Natalie mengeluarkan selembar kertas lalu menyerahkannya pada Nicholas.
"Apa ini?"
Jennifer yang melihatnya langsung menyambar kertas itu dari tangan Nicholas.
"Surat pengunduran diri," eja Jennifer. "Apa maksudmu?"
Nicholas yang terkejut langsung menyambar lembar surat itu dari tangan Jennifer.
"Hey! jaga tingkah lakumu!" Helena yang sejak tadi tak suka dengan sikap Jennifer akhirnya bersuara. "Nona! sebaiknya kau lanjutkan sarapanmu!" Helena memasukkan kembali sepotong ikan ke dalam piring Natalie, "jangan dengarkan wanita itu!"
"Jenni, benar apa kata Bibi, kau jangan kasar seperti itu!" ujar Nicholas.
"Tapi dia_"
"Duduk!" perintah Nicholas.
Dengan kesal Jennifer pun akhirnya duduk sambil menghentakkan kakinya, sementara Natalie kembali melanjutkan sarapannya setelah Helena berhasil merayunya.
"Sekarang jelaskan padaku apa maksudnya semua ini?"
Sekarang giliran Nicholas yang membuat suapan nasi Natalie terasa hambar. "Ckk, kukira hanya sekretarisnya saja yang buta huruf." Natalie menyindir Jennifer, membuat wanita yang di sindir itu mengeram kesal. "Ternyata CEO nya juga sama." Kemudian dia benar-benar menyudahi sarapan paginya itu. "Kurasa semuanya sudah jelas dan tidak perlu ada lagi yang dipertanyakan. Aku mengundurkan diri dari perusahaan Jhonson Company," ucapnya seraya meraih tas dan ponselnya. "Terimakasih atas kesempatannya yang selama ini diberikan kepadaku. Aku minta maaf kalau selama bekerja banyak berbuat kesalahan."
"Apa? Natalie benar-benar mau resign?" tanya Nicholas dalam hatinya.
Tin tin
__ADS_1
Suara klakson mobil terdengar sudah sampai di depan gerbang. Sepertinya Erick sudah datang, pikir Natalie.
"Ah, jemputanku sudah datang. Aku pemrisi duluan ya!"
"Tunggu!"
Baru saja Natalie berdiri tangannya sudah dicekal oleh Nicholas. "Jangan bilang kalau kamu bekerja di perusahaan Erick!" rupanya Nicholas melihat mobil yang terparkir di depan gerbangnya, dan dia hafal bahwa mobil itu adalah mobil temannya, Erick.
"Kalau iya kenapa?"
Nicholas mengepalkan tangannya ketika dia tahu bahwa Natalie ternyata resign dari kantornya dan memilih bekerja bersama Erick.
"Mulai hari ini aku akan menjadi sekretaris pribadinya." Natalie melepaskan tangan Nicholas dari lengannya. "Maaf, aku harus pergi."
"Hah? sekretaris? hahaha." Jennifer tertawa seolah meledek penampilan Natalie. Dia berjalan mendekati Natalie. "Dengan penampilanmu yang seperti ini kau mau menjadi seorang sekretaris? Ckk." Dia menyentuh gigi kemeja yang dipakai Natalie. "Ish, penampilan kau bahkan sangat norak tau gak sih?" ledeknya, "punya kaca?"
Emosi Natalie kembali memuncak ke ubun-ubunnya. Wanita ini rupanya tak henti-hentinya menguji kesabaran Natalie. Tapi dia harus sabar,dia tidak boleh terpancing emosi. Ini masih pagi. Mood-nya harus benar-benar dijaga, agar tidak mengganggu pekerjaannya di hari pertama sebagai seorang sekretaris pribadi.
"Setahuku, tidak semua Bos itu mengharuskan sekretarisnya berpakaian seksi sepertimu. yang penting sopan dan rapi," sahut Natalie. "Ah, aku lupa, cara berpakaianmu bukan seksi, tapi menggoda ... menggoda suami orang," ralat Natalie.
"Sialan! jaga mulutmu!" Jennifer mengangkat tangannya, namun sesegera mungkin Nicholas menahannya.
"Tahan emosimu, Jenni! kau tidak berhak melakukan itu padanya!" sentak Nicholas. Jennifer pun kemudian menurunkan tangannya dengan kesal.
"Terus siapa yang berhak? ... kamu?" ledek Natalie sambil menatap ke arah Nicholas.
Nicholas terdiam beberapa detik. "Cepat katakan pada Erick kalau kau membatalkan rencanamu untuk menjadi sekretarisnya."
"Apa? batal?" ulang Natalie. "Tapi kenapa?"
"Aku tidak menyetujuinya."
"Memangnya kau siapa? ingat!!! aku dan kamu sudah berjanji untuk tidak saling mencampuri urusan masing-masing ... jadi, kau tidak berhak melarang ku," ucapnya seraya kembali membalikkan badannya. "Ah, satu lagi." Kali ini sasarannya adalah Jennifer, wanita jadi-jadian. "Kurasa, dalam kode etik seorang sekretaris itu tidak pernah mengatur pakaian apa dan make-up seperti apa yang wajib digunakan. Tapi disana, diatur seberapa jauh batasan hak dan kewajiban seorang sekretaris berhubungan dengan bos. Di sana dijelaskan bagaimana sikap seorang sekretaris yang profesional salah satunya adalah dengan tidak mencampuri urusan pribadi boss-nya. Termasuk mencampuri urusan rumah tangga Bos-nya, mengerti!" bisik Natalie tepat di telinga Jennifer, yang membuat wanita itu kembali mengeratkan kepalan tangannya. "Lihat kau Natalie!"
Setelah itupun, Natalie masuk ke dalam mobil Erick, meninggalkan Nicholas dan Jennifer yang berhasil dibuat malu.
To be continued
__ADS_1