Husband From Hell (Suami Dari Neraka)

Husband From Hell (Suami Dari Neraka)
Balasan


__ADS_3

Sejak tadi Selly selalu tak bisa diam, dia terus mondar-mandir di dalam kamarnya dengan perasaan was-was.


Jhonson datang, dia melihat putrinya seperti sedang sangat gelisah. Sontak saja dia langsung memeluk putrinya. "Ada apa denganmu anakku?"


Selly membalas pelukan Jhonson. "Aku khawatir dengan Rey, Pa."


"Rey?" Jhonson mengulang ucapan Selly. "Kenapa kau harus khawatir dengannya? biasanya juga tidak sampai seperti ini."


Selly murung, dia sendiri tidak tahu kenapa pikirannya sejak tadi tak berpaling dari Reynald.


Tok tok tok


"Permisi, Tuan. Ada panggilan telepon."


Jhonson melepaskan pelukannya, lantas ia segera bergegas mengangkat gagang telepon yang diberikan asisten rumah tangganya di ruang tamu itu.


"Apa?" pekik Jhonson. Selly yang mendengarnya dari kejauhan langsung berlari mendekat. Bertanya-tanya ada apa dengan ekspresi ayahnya itu.


"Baiklah, saya dan Selly akan segera datang ke sana."


Jhonson segera menutup teleponnya, sontak saja dia memeluk putrinya yang mendekat ke arahnya. Dan perlakuan itu sukses membuat Selly ketakutan.


"Pa, ada apa ini?" tanya Selly lagi.


"Kita harus ke rumah sakit sekarang."


Rumah sakit?


Untuk apa?


Siapa yang sakit?


Batin Selly bertanya-tanya.


"Nanti Papa jelaskan di rumah sakit."


Satu jam yang lalu


Dorr


Suara letupan pistol itu mendengung di telinga Reynald kala pelurunya tepat mengenai dadanya.


Arghhh


Dia yang tak bisa menahan tubuhnya akhirnya tergeletak tak sadarkan diri.


Mendengar suara letupan pistol itu berbarengan dengan dengang suara Reynald itu, Nicholas yakin sesuatu yang buruk terjadi pada Reynald.


Perlahan Nicholas menurunkan tubuh Natalie di lantai. "Kamu tunggu di sini ya!"


"Kamu mau kemana?"


"Aku harus menolong Rey."


"Tapi Erick bisa saja membunuhmu." Natalie mulai cemas bercampur ketakutan. Itu semua karena Erick membawa senjata api di tangannya, sedangkan Nicholas tidak.


Nicholas berusaha memberikan pengertian. "Jangan takut sayang! ... aku akan kembali dengan selamat untukmu."


Nicholas mengecup puncak kepala Natalie. Setelah itu ia langsung kembali masuk ke dalam ruangan yang kini sudah banyak bertumpahan darah.


Dugaannya tepat, dia melihat Reynald tergeletak tak sadarkan diri sendirian, sementara Erick sepertinya kembali masuk ke ruangan lain untuk membantu teman-temannya yang sedang dikepung polisi.

__ADS_1


"Rey, bangun!" Nicholas menepuk-nepuk pipi Reynald, berusaha agar laki-laki itu kembali sadar. "Rey, bangun!"


Reynald tersadar kembali, tapi wajahnya sudah pucat pasi. "Nic, jangan sampai Erick menang. Kau harus menghentikannya!" ucap Reynald terbata-bata. "Nyawa ibumu dalam bahaya jika sampai dia lolos."


Nicholas tersadar dia telah melupakan satu wanita yang saat ini sedang berada jauh di sana.


Uhuk-uhuk


Reynald batuk, menahan sesak di dadanya karena kekurangan pasokan oksigen sepertinya.


"Rey, tenanglah! ... aku akan segera membawamu ke rumah sakit."


Reynald tersenyum. "Jangan pedulikan aku! ... sekarang cepat lakukan sesuatu untuk menghentikan Erick."


"Tapi kamu..."


"Nic, tolong! hanya kamu yang bisa menghentikan ini."


Melihat harapan Reynald sangat besar padanya, akhirnya Nicholas pun mengiyakan permintaan itu. Dengan berat hati ia meninggalkan Reynald sendiri.


"Aku percaya padamu," ucap Reynald.


***


Polisi dan orang-orang suruhan Erick masih melakukan baku tembak. Beberapa diantaranya sudah menjadi korban. Ada yang mengalami luka tembak serius, sampai ada juga yang meregang nyawa di tempat.


Dor


dor


Pelatuk pistol Erick ditarik lagi olehnya. Kemampuan menembak Erick rupanya tidak bisa diragukan lagi. Meskipun dengan keadaan sebelah tangan yang terluka, Erick tetap lincah menggerakkan sebelah tangannya.


"Cepat selamatkan diri kalian. Kita harus mundur! ... kita tidak mungkin melawan jumlah mereka," ucap Erick memberikan instruksi kepada orang-orang suruhannya.


"Siapa yang akan memberikanmu izin untuk kabur?"


"Nicholas," cicit Erick.


Erick langsung mengangkat pistolnya, mengarahkannya pada laki-laki yang datang tanpa senjata apapun di tangannya.


Sebenarnya Nicholas bisa saja menggunakan senjata yang dimiliki Reynald, tapi sepertinya Nicholas tidak butuh itu semua.


Dia ingin menghabisi Erick dengan tangan kosongnya sendiri. Tangannya sudah terlalu gatal untuk menghabisi laki-laki ******** yang sudah membuat hidupnya susah selama ini.


Beberapa orang polisi datang, mereka juga mengangkat senjata tajamnya.


Nicholas mengangkat tangannya, memberikan perintah agar polisi-polisi itu tidak melukai Erick, karena ini adalah jatahnya.


Tanpa ragu Nicholas melangkah maju, mendekati Erick.


"Jangan mendekat! atau kau akan mati di sini saat ini juga," ancam Erick sambil berjalan mundur. Tapi sepertinya Nicholas sudah kesurupan, sehingga tak ada sedikitpun rasa takut dalam hatinya untuk mundur selangkah pun.


Erick mulai gemetar, karena sepertinya Nicholas tidak gentar sedikitpun pada ancamannya.


Erick ingin menarik pelatuk itu, tapi dia juga takut karena banyak pistol yang mengarah padanya. Ini akan jadi senjata baginya sendiri.


Tapi sepertinya Erick tidak punya pilihan lain, kalau pun dia harus mati di sini setidaknya dia tidak penasaran, karena dia sudah berhasil membunuh Nicholas terlebih dahulu.


"Baiklah, jika kau sudah tidak sabar untuk bertemu dengan Sea di alam sana, mari kita pergi bersama-sama."


Erick mulai menarik pelatuknya.

__ADS_1


Sampai akhirnya ...


Dor


Sebelum peluru itu menembus dada Nicholas, kaki jenjang Nicholas terlebih dulu menendang pistol itu, hingga pistol itu melayang bersama pelurunya yang mendarat di atap rumah itu.


"Bangs@t," pekik Erick. Dia langsung menggunakan sebelah tangannya untuk menghujam pukulan di wajah Nicholas.


Bugh


Tapi bukannya berhasil memukul Nicholas, Erick malah tersungkur karena lagi-lagi Nicholas duluan yang berhasil menendang tulang keringnya hingga ia terjatuh.


Erick tersungkur, tapi dia kembali bangun.


Namun pada akhirnya dia kembali tersungkur karena Nicholas menghujaninya dengan pukulan.


Bugh


Bugh


Bugh


Erick terkapar, wajahnya sudah babak belur. Sepertinya emosi Nicholas memang sudah mencapai batasnya.


Beberapa polisi mendekat, hendak meringkus Erick, tapi Nicholas menahannya.


"Tunggu!"


Nicholas mendekati Erick, dia menarik kerah baju Laki-laki yang sudah tak berwujud itu.


Hahahaha


Erick tertawa lagi?


Sempat-sempatnya Erick tertawa saat dalam keadaan sekarat seperti itu.


"Bunuh saja aku, Nicholas. Bunuh saja aku!" ucap Erick. "Kalaupun aku harus mati, setidaknya aku tenang. Karena kau juga akan menyusul sebentar lagi. Kau akan mati karena penyakitmu, Nicholas. Kau akan mati."


Nicholas mengepalkan tangannya. ingin rasanya dia membunuh laki-laki itu sekarang juga tapi dia ingat masih ada wanita di jauh sana yang harus diselamatkan. Nicholas masih butuh informasi dari Erick. Laki-laki itu tidak boleh mati dulu.


"Sekarang katakan dimana kau menyekap ibuku!" titah Nicholas.


"Aku tidak akan memberitahumu," sahut Erick. Dia tertawa sinis lagi. "Sampai kapanpun aku tidak akan memberitahumu, Nicholas, hahaha. Biarkan saja kau mati penasaran karena bisa melihat ibumu untuk terakhir kalinya."


Melihat sepertinya tidak mungkin mendapatkan informasi langsung, Nicholas pun tak hilang akal, dia segera merebut ponsel yang ada di kantong baju Erick. Dia yakin, semua informasi ada di sana.


Erick mendelik. "Kembalikan ponselku!"


Nicholas langsung melemparkan ponsel itu pada salah satu orang suruhannya. "Periksa isi pesannya!" titah Nicholas.


Setelah berhasil merebut ponselnya, Nicholas pun kembali menghujani Erick dengan pukulan mautnya. Tak banyak, hanya dua kali saja, Erick sudah tak sadarkan diri, dan polisi segera memborgolnya.


bugh


bugh


"Itu balasan untuk orang yang bertindak tanpa mencari tahu kebenarannya terlebih dulu," ucap Nicholas sambil melemparkan wajah Erick.


Orang-orang suruhan Nicholas dibantu polisi segera melakukan pengecekan pada ponsel milik Erick itu, dan akhirnya mereka berhasil menemukan lokasi dimana Erick menyekap Merry.


Orang-orang suruhan Nicholas juga sudah mengantongi siapa siapa saja nama yang tersangkut kasus penculikan itu, dan para polisi sudah meminta pihak polisi di luar negeri untuk membantu menangani kasus ini dan menangkap para pelakunya, sehingga satu jam kemudian akhirnya Merry dengan cepat ditemukan, dan Kevin membawanya kembali. Karena Nicholas tidak mau Merry kenapa-napa lagi di sana.

__ADS_1


To be continued


__ADS_2