
Reynald kembali ke kota lebih cepat. Jadwal tiga hari itu ia singkat hanya dua hari, karena ada sesuatu yang tak sabar untuk ia temukan. Ia ingin segera mengetahui rahasia apa yang selama ini Nyonya Kelly sembunyikan dari keluarganya.
Sesampainya di rumah kediaman Tuan Jhonson, Reynald pun berpura-pura untuk mengambil sesuatu di kamar Nicholas yang tertinggal.
Beruntung keluarga Nicholas sudah sangat mempercayai orang itu, sehingga tak begitu susah payah bagi Reynald untuk masuk ke rumah mewah itu.
"Oh, ya sudah, masuk saja ke kamarnya!" ujar Nyonya Kelly. "Sepertinya pintu kamarnya tidak di kunci."
Reynald pun mengangguk sopan sebelum dia pergi meninggalkan Nyonya Kelly di ruang tamu menuju kamar Nicholas.
Setelah dipersilahkan masuk ke kamar Nicholas, Reynald tidak langsung masuk. Rupanya dia bersembunyi di balik dinding dan mencari tempat yang aman agar bisa memperhatikan gerak-gerik Nyonya Kelly dari jarak dekat.
Lima menit Reynald menunggu, datanglah seorang dokter menghampiri Nyonya Kelly.
"Selamat sore, Nyonya Kelly," sapa dokter itu sopan.
"Selamat sore juga dok, silakan duduk!" perintah Nyonya Kelly.
dokter itu pun kemudian duduk di samping Nyonya Kelly.
Tak lama sang dokter mengeluarkan beberapa obat dari dalam tasnya.
"Sebelumnya maaf sekali ini, saya buru-buru hari ini karena ada pasien lain yang sedang menunggu saya di rumah sakit," kata dokter itu menjelaskan. "Saya ke sini hanya ingin mengantarkan obat-obatan untuk Nyonya Merry."
dokter itu menyerahkan beberapa botol obat-obatan kepada Nyonya Kelly.
"Titip salam untuk Tuan Jhonson dan Tuan Nicholas. Saya harap Nyonya Merry akan segera sembuh kembali seperti sedia kala."
"Baik dokter, saya akan sampaikan salam anda, dan terima kasih banyak atas ketersediaannya sudah mampir ke rumah saya."
"Tentu Nyonya. ini semua sudah menjadi tanggung jawab saya sebagai dokter pribadinya Nyonya Merry. Kalau begitu Saya permisi."
Kelly pun mengantarkan dokter itu sampai pintu utama rumahnya. Dan setelah dokter itu pergi, ia kembali duduk ke tempat semula sambil membaca setiap detail kandungan obat yang menempel di botol itu.
"Sepertinya tidak ada yang mencurigakan dari gerak-gerik Nyonya Kelly," gumam Reynald. "Mungkin ini hanya dugaan ku saja. Mana mungkin Nyonya Kelly mengkhianati keluarganya sendiri. Tapi ... kalau bukan Nyonya Kelly lantas siapa lagi?" Reynald mendadak ragu pada tuduhannya, karena Nyonya Kelly terlihat sangat menyayangi keluarganya itu. Tak ada gerak-gerik yang mencurigakan darinya.
"Mungkin lain kali saja aku mencaritahu lagi."
Baru saja Reynald hendak melangkah dari tempat persembunyiannya. Matanya dikejutkan dengan kedatangan seseorang, hingga dia kembali lagi menarik kakinya.
"Siapa orang itu? kenapa dia mencurigakan sekali?"
Dugaan Reynald sepertinya tidak sepenuhnya salah. Tatapan Nyonya Kelly yang semula tenang itu kini terlihat seperti mengendap-endap, melirik kanan kirinya, seperti memperhatikan sesuatu.
Tak lama kemudian pelayan yang menurut Reynald gerak-geriknya sangat mencurigakan sudah datang dengan membawa beberapa botol kecil di genggaman tangannya.
"Ini obatnya, Nyonya." pelayan itu memberikan beberapa botol kecil tersebut kepada Nyonya Kelly.
"Obat apa itu?" batin Reynald. Dia terus berusaha menebak apa yang diberikan pelayan mencurigakan itu. Tapi jika dilihat-lihat, kenapa bentuk dan warnanya sama seperti obat yang diberikan dokter tadi untuknya Merry.
"Bagus. Ini upah untukmu." Nyonya Kelly terlihat memberikan beberapa lembar uang kertas kepada pelayan itu sebelum sang pelayan pergi meninggalkan ruangan.
"Apa ini artinya?"
Perasaan Reynald terus menebak-nebak, kenapa Nyonya Kelly membeli obat yang warna dan bentuknya sama dengan yang diberikan dokter itu.
"Apa mungkin ....." Dugaan Reynald terhenti saat dia melihat sendiri dengan mata kepalanya sendiri bagaimana Nyonya Kelly mengganti isi obat yang diberikan dokter dengan obat-obatan yang diberikan sang pelayan tadi. Sedangkan obat asli dari dokter itu ia buang ke tempat sampah di sampingnya.
"Maafkan aku, Merry. Tapi sepertinya aku tidak berniat melihatmu sembuh."
Teg
__ADS_1
Reynald menganga tak percaya. Ternyata selama ini Nyonya Kelly yang sudah membuat Ibu Nicholas tak kunjung sembuh.
Reynald memang tidak tahu apa isi kandungan obat dari pelayanan itu. Tapi jika di dengar dari kata-kata yang keluar dari mulut Kelly, sepertinya Kelly sengaja membuat Merry sakit berlama-lama, dan Reynald yakin ada sesuatu yang lebih besar yang disembunyikan Kelly dari keluarganya yang belum Reynald ketahui.
"Siapa Nyonya Kelly Sebenarnya? dan kenapa dia melakukan ini pada Nyonya Merry?"
***
Acara hari ini sudah selesai, beberapa tamu undangan sudah ada yang bersiap-siap untuk pulang. Sebagian besar dari mereka sedang melakukan sesi foto bersama, termasuk Nicholas dan juga Erick.
Sebetulnya Erick sempat mengajak Natalie untuk ikut menemaninya foto bersama, namun wanita itu menolaknya dan lebih memilih berdiri menunggunya.
"Oke, lihat kamera ... 1, 2, 3."
Ceklek
Satu gambar berhasil diabadikan.
"Satu kali lagi ya!" pinta sang fotografer.
Menunggu Erick selesai pemotretan rupanya lumayan jenuh juga ya, pikir Natalie. Dia pun akhirnya memilih untuk mengambil minuman yang ada di atas meja-meja bundar.
"Aku haus sekali," gumamnya dalam hati seraya berusaha meraih gelas di atas meja.
"Oke, 1 ... 2 ..."
Sretttt
Beberapa pasang mata menatap ke arah sumber suara. Rupanya suara itu berasal dari gaun yang dipakai Natalie yang robek sampai potongan pahanya karena diinjak oleh seseorang.
"UPS, maaf aku 'gak sengaja."
"Hah?" Mata Natalie membelalak tak percaya. Apalagi saat melihat beberapa pasang mata sudah menatap aneh ke arahnya, buru-buru dia menutupnya dengan tangan. Namun sialnya tangannya tak cukup lebar untuk menutupi pahanya yang terekspos begitu lebarnya.
"Bagaimana ini?" Natalie mulai panik saat melihat sobekan itu semakin naik ke atas pangkal pahanya. Dia benar-benar sudah malu.
"Hey, bukankah itu wanita yang tadi naik ke atas panggung ya?" kata seorang tamu wanita.
"Iya. Lihat tuh kayaknya gaunnya sobek deh. Ikh kalo aku sih udah malu banget," sahut temannya.
Merasa rencananya sudah berhasil membuat Natalie malu, Jennifer pun pamit.
"Makanya jangan sok cantik. Rasain akibatnya! ... Bye!"
Jennifer, wanita tak tahu malu itupun pergi begitu saja setelah berhasil melakukan tindakan jahatnya tanpa ada rasa bersalah sedikitpun.
Sementara Natalie kini kebingungan, apa yang harus ia lakukan, tubuhnya mulai berkeringat saat mendapati semua mata mulai menatapnya dengan tatapan mencemooh. Ingin rasanya ia meminta tolong pada Erick tapi sepertinya laki-laki itu tengah sibuk berfoto bersama teman-temannya.
Beberapa orang bahkan sudah ada yang mentertawakannya, jelas ini membuat Natalie semakin malu berada di sana.
"Loh, Nat, kamu kenapa?"
Erick akhirnya datang juga. Dia melihat sekretaris pribadinya itu sudah menitikkan air matanya sambil terus berusaha menutupi pahanya.
"Gaun kamu kenapa?" Erick makin terkejut saat melihat gaun Natalie robek parah sampai membuat paha wanita itu terekspos.
Natalie tak sanggup bicara. Ia sudah benar-benar tak punya muka lagi di sana.
"Ya sudah, ayo kita pulang!"
Baru saja Erick mengangkat tubuh Natalie, tiba-tiba tangan kekar menahannya dan menarik Natalie dalam pelukannya.
__ADS_1
"Awhhh."
Erick terpental sementara Natalie jatuh dalam pelukan Nicholas.
"Jangan berani-beraninya menyentuh istriku!" geram Nicholas.
Sorot mata bak macan asia itu tak asing lagi di mata Erick. "Nicholas."
Nicholas tak memperdulikan Erick, dia segera melepaskan jas yang melekat di badannya dan tiba-tiba saja mengikatkannya di pinggang Natalie, menutupi bekas robekan itu.
Perlakuan Nicholas kali ini begitu romantis, sampai membuat beberapa pasang mata berdecak kagum tak percaya.
"Wah, Pak Nicholas romantis sekali," bisik seorang pengusaha wanita pada temannya yang direspon dengan anggukan saja.
Tak hanya pengusaha-pengusaha wanita itu yang terpukau karena perlakuan Nicholas. Wanita yang menjadi objek utama pun sedari tadi terus mematung tak percaya.
Natalie tak percaya kalau Nicholas akan melakukan ini padanya.
Tapi berbeda dengan Jennifer. Dia merasa menyesal telah melakukan ini pada Natalie. Kalau dia tahu ujung-ujungnya akan seperti ini, dia tidak akan melakukan hal bodoh itu.
"Kenapa?" tanya Nicholas pada Natalie yang terus menatapnya, "aneh banget liat aku perhatian?"
Natalie menggeleng-gelengkan kepalanya. Gugup, grogi, semuanya jadi satu dalam dirinya.
"Terimakasih, Pak Nicholas atas perhatian anda pada sekretaris saya." Erick kembali mendekat. Dia tak suka melihat Nicholas bertatapan dengan intens seperti itu dengan sekretarisnya. "Tapi saya harus membawa sekretaris saya kembali ke kantor saya."
Erick menarik tangan Natalie.
"Bawa jika kau bisa?"
"Aww," Natalie memekik saat tubuhnya diangkat paksa oleh Nicholas.
Semua diluar dugaan, Sebelum Erick berhasil menggenggam tangan Natalie, Nicholas sudah terlebih dulu membopong wanita itu ala bridal, pergi keluar dari tempat itu sambil membopong sekretarisnya.
Beberapa orang bersorak ramai melihat perlakuan Nicholas yang menurut mereka super romantis itu.
"Sialan!" umpat Erick kesal saat melihat Nicholas dengan santainya membawa Natalie pergi darinya.
"Lepas! apa-apaan kamu?" Sepanjang perjalanan Natalie tak henti-hentinya berusaha melepaskan dirinya dari laki-laki menyebalkan itu. "Lepas, Nic! aku harus pergi ke kantor dengan Erick!"
Bukannya melepas, Nicholas malah semakin mengeratkan cengkeramannya.
"Diam!!! atau robekan gaun-mu ini akan semakin naik ke atas dada, dan jas milikku tak sanggup lagi menutupinya."
Natalie langsung bungkam saat mendengar ancaman itu dari Nicholas. Tak ada pilihan lain lagi. Bersama laki-laki brengs3k itu lebih baik daripada menahan malu di depan puluhan orang di sana.
"Nic, tunggu! kamu mau kemana?" Jennifer lagi-lagi datang menghalangi Nicholas.
"Kau bisa pulang dengan taksi hari ini. Aku ada urusan."
"Tapi, Nic."
Tanpa memikirkan Jennifer, dan seolah tak percaya lagi pada kekasihnya itu, Nicholas pun buru-buru memasukkan Natalie ke dalam mobilnya setelah sebelah kakinya berhasil membuka kenop pintu mobilnya.
Setelah itu, keduanya pun melesat meninggalkan gedung pertemuan itu.
"Sialan!" umpat Jennifer kesal.
To be continued
__ADS_1