
Malam ini Nadia beranjak dari tempat tidurnya. Perlahan ia mengambil handuk kecil dan sebuah bak berisi air bersih. Ia juga membawa sisir untuk menyisir rambut Merry.
Dengan sangat hati-hati, Nadia mulai mengusap wajah, tangan hingga ujung kaki Merry bergantian, dengan pandangan yang penuh kewaspadaan. Setiap hari bagi Nadia adalah neraka. Pasalnya, disana dia sering diperlukan tidak baik. Kalau dia salah sedikit saja, seorang pengawal akan datang dan memaki habis-habisan Nadia. Bahkan pernah seharian dia tak diberikan jatah makanan. Dan pernah juga pengawal itu melempar nasi jatah makan Nadia sampai berserakan di lantai dan sudah tidak layak dimakan lagi.
"Aku harus secepatnya pergi dari tempat ini," batin Nadia sambil terus melirik kanan kirinya. Takut kalau pengawal itu tiba-tiba datang dan melakukan perbuatan-perbuatan diluar dugaan lagi. "Aku tidak sanggup lagi." Nadia menangis dalam hatinya. Sampai kapan penderitaan itu akan berakhir, batinnya.
"Hey!!! kerjakan dengan benar!"
Benar saja. Baru saja Nadia berpikir, rupanya pengawal itu sudah ada di belakang Nadia, membentaknya hingga ia terkejut.
"Iya. Aku sudah mengerjakannya dengan benar," sahut Nadia sambil terus mengusap kaki dan tangan Merry dengan gugupnya.
"Iya. Terus lakukan seperti itu!!!" pekik laki-laki itu. "Awas kalau kau sampai melukainya! ku patahkan tanganmu itu."
Nadia meringis menahan takutnya saat laki-laki itu mengancam akan mematahkan tangannya.
Setelah itu laki-laki itupun pergi meninggalkan Nadia kembali dalam keadaan yang benar-benar memilukan.
***
Malam ini, malam kedua Natalie bekerja. Dia sudah sampai di cafe milik Erick setelah menaiki taksi dari tempat kerjanya.
"Huftt," Natalie menghembuskan nafasnya lelah setelah menyenderkan tubuhnya di kursi. Baru dua hari dia sudah lelah sekali rasanya.
Tok-tok-tok
Pintunya terdengar berbunyi. Seorang pelanggan cafe itu rupanya mulai berdatangan.
"Masuk!" pinta Natalie. Dia langsung memposisikan kembali badannya dengan tegap. "Silahkan duduk!"
Laki-laki berbadan besar dan tinggi itupun duduk dengan menyilangkan kedua kakinya.
"Ada yang bisa saya bantu?"tanya Natalie dengan sopan dan senyum manisnya.
Laki-laki itu diam tak menjawabnya. Dia malah melirik tubuh Natalie dengan intensnya. Merasa diperhatikan berbeda, Natalie mulai risih dibuatnya.
"Maaf, Tuan! apa ada yang bisa saya bantu?" ulang Natalie. Laki-laki itu akhirnya tersadar dari tindakannya.
__ADS_1
"Ah, iya. Saya mau pesan satu ruangan."
"Baik, silahkan dipilih!" Natalie menyerahkan sebuah kertas pada laki-laki itu. Tapi sebuah tindakan diluar dugaan tiba-tiba saja laki-laki itu lakukan.
"Jangan kurang ajar ya!" pekik Natalie tak terima saat tangan laki-laki itu dengan tak sopannya menyentuh tangan Natalie yang memberikan kertas padanya.
"Ckkk, sombong sekali. Baru dipegang begitu saja sudah tak terima. Biasanya yang sudah-sudah malah minta lanjut."
Laki-laki itu membuat Natalie geram. "Maaf ya! jangan samakan saya dengan yang lainnya. Saya berbeda."
"Oiya? bukankah semua wanita yang bekerja di tempat ini sama saja."
Natalie berusaha menahan emosinya. "Sekarang cepat! mau pesan ruangan nomor berapa? saya tidak punya waktu banyak."
"Baiklah." Laki-laki itu menunjuk sebuah ruangan. Natalie mengambil kembali kertas itu. "Mau pesan berapa pelayan?" Natalie kembali menawarkan.
"Satu saja, sudah cukup," sahut laki-laki itu.
"Baiklah, kalau begitu silahkan menunggu. Sebentar lagi pelayan wanitanya akan datang."
"Kenapa harus menunggu?" tanya laki-laki itu. "Bukankah wanitanya sudah ada di depan mataku?"
"Halah, jangan munafik." Laki-laki itu berdiri kemudian mendekati Natalie. "Kau bekerja di sini juga karena uang kan." Matanya menatap wajah Natalie dengan penuh gairah.
"Berhenti! jangan mendekat!" Natalie mulai panik. "Kubilang berhenti! jangan mendekat!"
Bukannya berhenti, laki-laki itu malah terus berjalan mendekati Natalie. "Ayolah! hanya sebentar saja. Aku hanya ingin mencicipi tubuhmu yang molek itu." Laki-laki itu benar-benar sudah tidak waras.
Natalie mulai gemetar. Dia bahkan beberapa kali melirik kanan kirinya, berharap ada seseorang yang datang untuk menolongnya. Namun naasnya di ruangan itu tidak ada siapa-siapa selain dia dan laki-laki gila itu.
"Ayolah baby!" Laki-laki itu sudah berhasil menarik tangan Natalie, sampai Natalie tak bisa melepaskan dirinya.
"Jangan kurang ajar! lepas!" Natalie terus meronta, sampai akhirnya ....
Brugh
Satu tinjuan mendarat di pipi laki-laki itu, dan berhasil membuat laki-laki itu jatuh tersungkur.
__ADS_1
"Erick," cicit Natalie tak percaya. Dia bersyukur karena Erick datang tepat pada waktunya.
"Tuan Erick, kenapa kau melakukan ini?" Laki-laki itu berdiri dan menatap Erick tak terima. "Apa begini cara anda memperlakukan pelanggan anda?" pekiknya tak terima.
"Tidak perlu mengajari saya bagaimana caranya bersikap!" Erick balik menatap tak kalah tajamnya. "Sekarang tinggalkan tempat ini dan jangan pernah kembali lagi!"
Laki-laki itu mengepalkan tangannya penuh amarah, lalu pergi tanpa permisi dari tempat itu.
"Kau tidak apa-apa?" tanya Erick seraya memegangi tubuh Natalie. Melihat setiap inchi tubuh wanita itu. Natalie yang sejak tadi sudah dibuat benar-benar ketakutan karena laki-laki itu akhirnya tak kuasa lagi menahan air matanya untuk tidak tumpah. Dia merasa benar-benar sakit hati karena dilecehkan seperti itu. Apalagi saat laki-laki itu berkata bahwa semua wanita yang bekerja di tempat itu sudah tidak ada harga dirinya. Sungguh, hati Natalie sangat terluka. Apalagi yang membuatnya terpaksa bekerja di sana adalah suaminya sendiri. Suami yang memaksanya untuk melunasi hutang-hutang ibunya. Natalie benar-benar merasa terluka.
"Menangislah jika kau ingin menangis!" Erick lantas memeluk Natalie yang terisak. "Tapi setelah itu kau harus tenang, karena ada aku di sini. Aku tidak akan membiarkan laki-laki manapun menyentuhmu."
Natalie mengangguk dalam pelukan Erick. Dia tidak tahu lagi harus berbuat apa. Yang pasti saat ini dia benar-benar ketakutan. Dia takut kalau pelanggan selanjutnya akan bersikap sama seperti laki-laki tadi. Dan bagaimana jika Erick tidak lagi datang menyelamatkannya, apa yang akan terjadi dengannya, pikirnya.
"Lebih baik malam ini aku antar kamu pulang ya!" ajak Erick setelah melepaskan pelukannya.
"Tapi kan aku baru saja memulai pekerjaan ini."
"Syuttt!" Erick menutup bibir kecil Natalie itu. "Tidak apa-apa. Keselamatanmu lebih penting di atas segalanya bagiku."
Perkataan Erick benar-benar membuat hati Natalie merasa terenyuh. Laki-laki itu benar-benar sangat perhatian sekali padanya. Padahal, suaminya saja tidak pernah berkata seperti itu padanya.
"Hmppp," Natalie pun mengangguk pasrah. Saat ini memang tidak ada yang bisa ia butuhkan selain menenangkan dirinya.
"Gres! tolong Carikan pengganti untuk Natalie!" ucap Erick dibalik teleponnya. "Iya. Natalie sakit ... dan satu lagi, tolong mundurkan semua jadwal pertemuanku malam ini. Karena aku harus mengantar Natalie pulang."
Setelah mengucapkan itu, Erick pun menutup kembali panggilan teleponnya.
"Ayo!" Erick menggandeng tangan Natalie keluar dari ruangan itu setelah merapihkan barang-barang miliknya.
Erick
Natalie
__ADS_1
To be continued