
Part sebelumnya.
Kelly tertawa jahat saat melihat dua tawanan di hadapannya.
Dia senang karena akhirnya dia bisa membawa dua wanita itu dalam cengkramannya.
Kelly tak membuang waktu, dengan cepat dia menghubungi orang yang bersangkutan atas penculikan itu.
"Halo, anak Mama tersayang."
Rupanya Kelly menghubungi Nicholas. Dia memintanya untuk segera mengalihkan surat-surat kepemilikan saham itu menjadi namanya.
"Ingat! jangan pernah membawa polisi atau bodyguard-bodyguard mu! ... kalau sampai kau melakukan perlawanan, aku tidak akan segan-segan menghabisi wanitamu ini."
Setelah Kelly mendengar kata persetujuan, Kelly lantas kembali kembali tertawa. Kali ini tawanya semakin kencang, hingga membuat seisi ruangan itu penuh karena suaranya.
***
Setelah beberapa jam berkutat dengan surat-surat pengalihan kekuasaan bersama Anjeli, Nicholas pun sesegera mungkin membawa berkas-berkas itu menuju tempat yang sudah disepakati.
Nicholas sudah sampai di ruangan gelap itu. Dia melihat wanitanya sedang beradu mulut dengan ibu angkatnya.
"Sebenarnya siapa kau? ... dan apa yang kau inginkan dari kami?"
"Kau mau tahu siapa aku?"
Natalie terlihat membuang wajahnya saat Kelly menatap matanya.
"Sombong sekali kau bocah sial_"
"JANGAN SENTUH DIA!!!" pekik Nicholas.
"Nicholas," cicit Kelly dan Natalie bersamaan.
Laki-laki itu berjalan dengan gagahnya, membawa koper di tangannya, mendekat ke arah Kelly dan Natalie berada.
Kelly melepaskan tangannya dari dagu Natalie. "Akhirnya kau datang juga," ucapnya seraya berdiri saat Nicholas sudah sampai di depan matanya. "Kukira kau tidak perduli dengan nyawa wanita ini."
Nicholas melirik ke arah Natalie. Betapa sakit ulu hatinya saat melihat wanita yang sangat dicintainya itu terikat tak berdaya dengan luka lebam di sekitar tubuhnya.
"Aku sudah bilang padamu! jangan menyentuhnya, kenapa kau malah menyakitinya?" sentak Nicholas tak terima. Kelly sudah ingkar janji padanya.
"Oh, tenanglah anakku! dia tidak apa-apa. hanya sedikit lecet saja. Oiya, bagaimana? apa kau sudah membawakan apa yang ku minta?"
Kelly menatap koper di tangan Nicholas.
Nicholas yang memahami maksud arah pembicaraan Kelly langsung ikut melirik koper di tangannya.
"Kau mau ini?' tanya Nicholas.
Kelly mengangguk-angguk. "Cepat serahkan!"
Nicholas menatap mata Kelly dengan penuh amarah.
"Lepaskan dulu Natalie dan Ibunya. Barulah aku akan menyerahkan ini semua."
Kelly tertawa, terbahak-bahak, membuat Nicholas bingung. Kenapa dia bukannya segera melepas Natalie dan Nadia, dia malah sibuk tertawa. Apanya yang lucu, batin Nicholas.
"Kau mau aku melepaskan mereka semua?"
Kelly melirik ke arah orang-orang suruhannya yang sedari tadi bersiap-siap di sebuah sudut dinding. Lalu sedetik kemudian dia kembali menatap Nicholas.
Sepertinya ada yang tidak beres. Kelly sepertinya mempermainkan Nicholas. Dan dugaan Nicholas terjawab saat sebuah benda tumpul menghajar kepalanya.
Bugh
"Nicho!!!" pekik Natalie saat melihat Nicholas tersungkur ke lantai. Koper di tangan laki-laki itu terjatuh dan langsung ditarik orang suruhan Kelly, lalu menyerahkannya pada Kelly.
Kelly kembali tertawa. Sepertinya hati Kelly sudah diracuni iblis hingga ia tega melukai anak angkatnya sendiri.
"Tidak semudah itu sayang," ucap Kelly seraya menerima koper dari orang suruhannya, sementara Nicholas terkapar sambil memegangi pundaknya yang kesakitan.
"Nicho!!!" lagi-lagi Natalie merintih saat melihat darah mengalir di pipi Nicholas. Natalie menangis tersedu-sedu. "Bangun Nicholas! bangun!!!" Ingin rasanya ia berlari dan menolongnya, tapi apa daya, ikatan di tubuhnya membuat Natalie tak bisa berbuat apa-apa.
Kelly menatap koper di tangannya. Bram yang semula menghindar itu pun kembali.mendekat.
"Kau hebat sayang," puji Bram.
Kelly tersenyum bangga. Lalu sedetik kemudian tatapannya berubah sadis lagi. "Habisi mereka semua!" ucap Kelly seraya melenggang pergi meninggalkan tempat gelap itu begitu saja.
Orang-orang suruhan Kelly itu mulai menghajar habis-habisan Nicholas.
"Nichoooooooo!!!" pekik Natalie.
Darah mulai bercucuran di wajah Nicholas, Natalie semakin mengencangkan suaranya.
"Kumohon jangan lakukan itu!" Natalie terus menangis. "Hentikaaaan!"
Tapi tak ada siapapun di sana yang membelanya. Semua orang di sana adalah orang-orang suruhan Kelly semua.
Sampai akhirnya
"Cukup, Ma! hentikan ini semua."
Seorang gadis berambut pirang datang dengan suaranya yang lantang, dia berhasil membuat semua orang menatap ke arahnya.
Nicholas akhirnya bisa bernafas setelah orang-orang itu berhenti memukulinya.
Dia tidak sendiri. Dibelakangnya ada Reynald, rupanya selama lima jam Reynald menghilang, dia membujuk Stelli agar mau membantunya menyadarkan ibu kandungnya. Awalnya Keluarga Stelli tidak mengizinkannya, tapi karena Reynald terus membujuknya, dia luluh juga.
__ADS_1
Beberapa jam yang lalu
"Saya mohon! hanya Stelli satu-satunya harapan saya saat ini. Hanya dia yang bisa menghentikan kejahatan Ibu kandungnya."
"TIDAK!" Pekik ayah angkat Stelli. "Pokoknya saya tidak setuju jika kau membawa anak kami bertemu dengan ibu kandungnya." Ayah angkat Stelli tetap bersikeras tidak mengizinkan Reynald membawanya pergi. Mereka takut sesuatu yang buruk terjadi pada anak angkatnya itu.
Sebenarnya bukan hanya orang tua angkat itu yang takut jika Stelli terluka Reynald juga sama. Reynald juga takut Stelli terluka, tapi hanya wanita itu satu-satunya harapan Reynald.
Sudah hampir dua jam Reynald merayu dan menjelaskan semuanya pada orang tua angkat Stelli, tapi mereka tetap bersikeras tidak mau.
Reynald mulai pesimis bisa membawa Stelli. "Saya janji! saya akan melindunginya. Saya mohon, bantu saya kali ini saja! ini darurat. Kalau kita membiarkan wanita jahat itu menang, akan banyak yang jadi korbannya."
"Pokoknya sekali tidak tetap tidak!!!" pekik Ayah angkat Stelli lagi, sementara sang istri hanya bisa diam dan merundukkan kepalanya. Dia juga sebenarnya ingin membantu Reynald tapi dia juga takut sama seperti suaminya. Takut jika hal buruk terjadi pada anak angkatnya itu, mengingat Stelli tidak sama seperti anak lainnya.
"Baiklah! ...." Reynald sudah tidak punya kesempatan lagi, waktu terus saja berjalan. Kalau cara ini tidak bisa ditempuh, maka dia harus segera kembali, setidaknya dia harus mencari cara lain agar bisa melawan Kelly.
"Saya permi_"
"Tunggu!" ucap Stelli. Rupanya diam-diam wanita itu mendengarkan pembicaraan kedua orang tuanya dengan Reynald balik pintu kamarnya.
Kini dia sudah tahu siapa Reynald, dan apa yang dicari Laki-laki itu selama ini darinya.
Lagipula sebenarnya Stelli tidak pernah lupa akan kejadian kelamnya itu. Saat dia diculik dan hampir saja dibuang ke panti asuhan oleh ibunya sendiri. Hanya saja Stelli berpura-pura lupa agar dia tidak mengingat kejadian yang membuat hatinya sakit itu.
"Stelli." Ibu angkat steli langsung menghampiri wanita itu dan memeluknya. "Dengarkan Ibu sayang, kau tidak perlu melakukan apapun."
Stelli menggelengkan kepalanya saat menjawab ucapan dari ibunya, lalu dia melepaskan pelukan ibunya. "Tidak Ibu! aku harus membantunya. Dia membutuhkan pertolonganku. Bukankah ayah dan ibu sendiri yang bilang padaku kalau aku harus membantu orang yang membutuhkan pertolongan."
Mendengar jawaban mencengangkan itu dari anak angkatnya, ayah dan ibunya akhirnya diam. Sementara Stelli berjalan menghampiri laki-laki yang mengenakan jas hitam itu. "Aku mau ikut denganmu."
Bagaikan mendapat angin segar dari surga Reynald tidak menyangka bahwa Stelli dengan sukarela mau membantunya.
"Tapi kau harus berjanji akan menjagaku!"
"Aku janji, aku akan melindungimu dengan segenap jiwa dan ragaku," ucap Reynald, mantap sambil menatap mata Stelli dengan penuh kesungguhannya.
Mereka pun akhirnya pergi melesat menuju tempat dimana Nicholas, Kelly, dan Natalie berada.
Betapa terkejutnya Stelli saat melihat dengan mata kepalanya sendiri, bagaimana Ibu kandungnya memperlakukan orang lain.
Reynald benar, Ibunya itu sudah sangat keterlaluan.
"Cukup! hentikan, Ma!"
Saat Stelli datang dan bersuara, semua hening. Semua menatap padanya dengan rasa heran.
Siapa dia?
Dan kenapa dia menyebut nama Kelly dengan sebutan Mama?
Netra mata Stelli terasa tak asing di hadapan Kelly. Dia terus bertanya-tanya siapa gadis itu? kenapa detak jantung Kelly terasa begitu cepat bergerak saat gadis itu berjalan mendekat ke arahnya.
"Hentikan semua ini, Ma! Selli mohon!"
Selli?
Koper di tangan Kelly langsung terjatuh. Tubuhnya mendadak lemah. Ia tak pernah menyangka jika ia akan kembali melihat anak gadisnya itu.
"Ma, aku mohon, cukup!" ucap Stelli sambil terisak. "Mau sampai kapan Mama seperti ini? ... sudah, lupakan semua dendam Mama! hiduplah sederhana dengan damai. Harta bukan segalanya, Ma. Tidak cukupkah aku yang menjadi korban keserakahan Mama?"
Hati Kelly sakit mendengar ucapan putrinya. Kelly juga mau hidup damai seperti yang diinginkan Setlli. Dengan keluarganya, hidup rukun dan damai. Tapi sepertinya jalan Kelly ditakdirkan bukan seperti itu. Kelly ditakdirkan untuk jadi manusia luar biasa. Luar biasa dengan ambisi hilang.
Tubuh Selli mendadak lemah. Dia sudah lelah. Dia sudah mengumpulkan seluruh keberaniannya hanya untuk meminta orangtuanya menghentikan perbuatannya. Selli tahu, jika sejak dia masih tinggal bersama orang tuanya itu, Ibunya itu memang sangat menginginkan harta warisan perusahaan raksasa itu.
Tiba-tiba tubuh Selli ambruk, dan Reynald langsung menangkapnya.
"Selli," pekik Kelly. Dia berniat membantunya, tapi Bram menghalanginya. "Jangan lakukan hal bodoh. Ini hanya jebakan."
"Selli, kau tidak apa-apa?" tanya Reynald. Wanita itu memijit-mijit kepalanya yang sakit. Dia menggeleng pelan, lalu kembali berusaha menyeimbangkan kembali tubuhnya dengan bantuan Reynald.
Kelly masih diam. Dia masih bungkam. Kelly tidak tahu apa yang harus dilakukan? di depannya kini ada anak yang selama ini dia rindukan.
Air mata Kelly tiba-tiba luruh. Dia ingin sekali memeluk putrinya. Dia benar-benar sangat merindukannya. "Selli, anakku." Lalu dia berjalan mendekat, Bram sempat menahan, tapi Kelly melepaskan dirinya dan bersikeras ingin memeluk Selli.
"Apa Mama tidak salah lihat? ini benar-benar kamu kan?"
Hati ibu mana yang tidak sakit saat melihat anak yang selama ini ia cari itu kini ada di depan matanya.
Sebenarnya Kelly menyesal karena telah membunuh Raymond kala itu. Andai saja dia tidak terlalu ketakutan Raymond mengadukan hal ini pada suaminya, mungkin Selli tidak akan lama-lama pergi darinya. Iya, Kelly memang berencana mengambil kembali Selli, saat dia sudah berhasil mendapatkan perusahaan Jhonson Company. Tapi kenyataannya berbeda. Kelly yang termakan hasutan sisi jahatnya malah membunuh satu-satunya sumber informasi yang bisa ia pergunakan untuk menemukan Selli. Hingga akhirnya dia benar-benar kehilangan Selli waktu itu.
Melihat Kelly berjalan ke arahnya, Stelli langsung menggenggam tangan Reynald, takut. Dia takut kalau ibunya itu akan menyakitinya.
"Jangan takut! ... aku ada di sini untukmu."
Kelly semakin mendekat. Jarak Kelly dan putrinya Selli yang kini sudah berubah nama menjadi Stelli itu hanya tinggal beberapa jengkal lagi.
"Nak, boleh Mama peluk kamu?"
Stelli menatap mata Reynald seolah meminta persetujuan, tapi Reynald tidak langsung mengiyakannya. Reynald takut kalau Kelly punya rencana jahat pada wanita dalam pelukannya.
"Sebentar saja! Mama rindu padamu."
Stelli menarik nafasnya dalam-dalam. Ini kesempatan emas untuknya.
"Tapi Mama harus janji satu hal padaku! berhenti mengejar harta keluarga Papa! Selli ingin bahagia dan hidup seadanya."
Kelly terlihat berpikir, tapi tak lama. Ia akhirnya mengangguk. Dia baru sadar, jika selama ini keserakahannya terjadi karena ia kehilangan orang-orang yang sangat dicintainya.
"Satu hal lagi!" pinta Stelli. "Tolong akui saja jika Mama yang sudah membunuh Ayah Rey!"
__ADS_1
Nicholas langsung membulatkan matanya tak percaya. Apa yang barusan ia dengar?
Ibu angkatnya telah membunuh Ayah Rey?
"Da_dari mana kau tahu?" tanya Kelly gugup.
"Tidak penting aku tahu dari siapa. Tapi aku mohon. Akui saja semuanya. Dengan begitu hidup Mama akan tenang."
"Iya, Mama janji. Mama akan berhenti. Mama akan mengakui semua kesalahan Mama. Tapi kamu mau kan memaafkan kesalahan Mama dan kembali lagi pada Mama?"
Stelli lagi-lagi melirik Reynald. Sepertinya kali ini Kelly sangat tulus. Reynald pun membiarkan anggukan, seolah mengiyakan permintaannya.
"Tidak apa-apa. Aku akan terus berdiri di belakangmu," ucap Reynald meyakinkan Stelli. Lalu Stelli pun perlahan berdiri dibantu Reynald. Dia melangkah sedikit-sedikit mendekati Ibunya.
"Ini Mama, Nak. Mama rindu sekali padamu."
Kelly pun lantas memeluk Stelli dengan sangat hangatnya. Ia menangis tersedu-sedu, mengingat kesalahan besar seperti apa yang sudah tega ia lakukan pada putri semata wayangnya itu. "Maafkan Mama, Nak. Maafkan Mama!"
Melihat Kelly sepertinya lupa akan rencana dan tujuan mereka, Bram pun merasa marah. Dia tidak boleh membiarkan Kelly menyerahkan kembali apa yang sudah hampir ia raih itu.
Beruntung Bram sudah membawa sebuah surat perjanjian yang sudah ia siapkan jauh-jauh hari. Surat-surat kesepakatan perjanjian kekuasaan. Bram memang berencana mengambil alih seluruh perusahaan Jhonson Company dari tangan wanita bodoh yang ia jadikan kekasih simpanannya itu.
Tanpa pikir panjang, Bram pun menarik sebuah pistol dari tangan salah satu orang suruhan Kelly.
"Hentikan!" pekik Bram. Kelly dan yang lainnya langsung terarah pada Bram. Mereka terkejut saat melihat Bram sudah menodongkan pistol sambil menodongkannya ke arah satu persatu orang yang ada di dekatnya. Mendadak, semua orang mengangkat tangannya. Kecuali Nicholas yang masih memegangi dadanya, dan juga Natalie yang masih terikat.
Melihat semua orang lengah, Nicholas perlahan beringsut mendekati Natalie. Dia melepaskan ikatan tangan wanitanya.
"Kau tidak apa-apa, kan?" tanya Nicholas.
Tanpa pikir panjang, saat terlepas Natalie pun segera memeluk Nicholas. "Aku tidak apa-apa, justru aku sangat menghawatirkanmu."
Tak lama Natalie memeluk Nicholas. Ia hanya ingin memberikan jawaban bahwa ia baik-baik saja.
Natalie juga segera membuka ikatan ibunya. "Bu, bangun!" cicit Natalie, namun sepertinya Nadia sudah sangat lemah. Dia hanya membuka matanya tapi tak mampu bicara.
"Kalian harus segera pergi dari tempat ini," ucap Nicholas.
Kalian?
Itu artinya tidak dengan Nicholas.
"Lalu bagaimana denganmu?" tanya Natalie.
Nicholas memegang pipi Natalie lembut. "Dengarkan aku! ... aku akan segera kembali setelah membantu Rey."
Natalie menggelengkan kepalanya. "Aku tidak akan meninggalkanmu sendirian di sini."
"Nat, aku mohon. Cepat pergi, sebelum mereka menyadarinya."
Natalie terus menggelengkan kepalanya. Dia tidak mau meninggalkan Nicholas dalam keadaan seperti ini. Dia ingin pergi bersama Nicholas.
"Nat, aku mohon!" Kali ini Nicholas memasang wajah pilunya. "Cepat pergi dari sini! selamatkan dirimu! aku tidak akan bisa memaafkan diriku sendiri jika sesuatu hal yang buruk kembali terjadi padamu."
Melihat ketulusan Nicholas yang sangat dalam, Natalie pun akhirnya menurut. Diam-diam dia membawa Ibunya pergi dari tempat itu.
Natalie menggandeng Ibunya yang masih belum sepenuhnya sadar dengan susah payah.
Baru beberapa langkah, dia kembali menatap Nicholas. Rasa takutnya kembali datang. Laki-laki itupun masih berjaga-jaga memperhatikan Natalie yang kabur.
Bagaimana kalau laki-laki itu tak selamat? batin Natalie.
Tapi sepertinya Nicholas berjanji bahwa dia akan kembali. Dari tatapan mata Nicholas, Natalie seolah melihat bahwa Nicholas akan kembali padanya.
"Bram, apa yang kau lakukan?" pekik Kelly. Tapi Laki-laki itu tak menjawabnya. Dia segera mengeluarkan sebuah surat dari kantong jasnya.
"Cepat tanda tangani ini!" perintah Bram.
"Apa ini?"
Kelly meneirma surat itu, membaca secara detail isi surat. Dan betapa terkejutnya dia setelah membaca isi surat itu.
Ternyata selama ini Bram telah mengkhianatinya.
"Jadi kau?" tanya Kelly tak percaya. Dia tak menyangka jika selama ini Bram hanya mengincar hartanya.
"Sudah, cepat kau tandatangani saja surat itu!" pekik Bram, atau aku akan membunuh putrimu."
Kelly dan yang lainnya langsung membelalakkan mata, saat Bram mengarahkan pistol itu pada Stelli.
"Jangan pernah menyentuh dia, atau aku akan membuatmu mati hari ini juga," Pekik Reynald.
Stelli ketakutan. Tubuhnya bergetar, dan Reynald dengan cepatnya langsung menjadikan tubuhnya sebagai tameng untuk wanita itu. "Langkahi dulu mayatku sebelum kau menyentuhnya."
Bram tertawa. "Dramatis sekali hidupmu, anak muda." Dia menarik pistolnya sebentar lalu meniup-niupnya layaknya seorang gangster, lalu kembali menodongkannya pada Stelli, ah tidak, lebih tepatnya ke depan wajah Reynald. Karena Laki-laki itu saat ini tengah menjadi tameng Stelli. "Tenang saja! peluru dalam pistol ini cukup untuk memecahkan isi kepalamu juga, kok."
"Bangs@t kau Bram!" pekik Kelly. "Rupanya selama ini kau hanya mempermainkanku."
"Hahaha." Bram tertawa kencang. "Bagus kalau kau sudah menyadarinya wanita bodoh." Tatapan matanya menatap netra coklat Kelly seolah mengejeknya. "Sekarang cepat tandatangani surat ini, atau...."
Tak mau kalah, Kelly pun langsung merebut pistol dari tangan Bram. "Tidak semudah itu kau menipuku Laki-laki biadab."
Bram menahan pistol di tangannya yang ditarik Kelly, terjadi tragedi perebutan senjata tajam itu, hingga akhirnya pelatuk dari senjata itu tak sengaja tertarik, dan ....
Dor
Sebuah tembakan berhasil melesak masuk ke dalam dada.
To be continued
__ADS_1