
Siang ini Thomas sedang membenahi tempat dimana tempat ia mencari rezeki untuk menghidupi keluarganya.
Usaha laundry itu harus ia tutup. Karena sudah tidak ada lagi pelanggan yang datang sejak seminggu yang lalu.
Kalaupun ada satu atau dua, pasti ada saja kejadian yang membuat ia harus mengganti ruginya.
"Meira, ini upah untukmu!" Thomas memberikan sebuah amplop coklat pada karyawan setianya itu.
"Jadi, saya benar-benar dipecat?" Tanya Meira dengan mata yang berbinar.
"Maafkan saya, Mei. Tapi saya tidak tahu harus bagaimana lagi." Jawab Thomas dengan nada sendu.
"Bagaimana saya harus mengatakan ini pada anak-anak saya, Tuan? mereka pasti sedih sekali kalau tahu saya berhenti dari pekerjaan saya." Ujar Meira.
Thomas merasa bersalah. Meira memang satu-satunya karyawan setia yang ia miliki sejak usaha laundry itu dibangun. Tapi mau bagaimana lagi? Thomas tidak bisa terus menerus menombok karena pengeluaran yang lebih besar daripada pemasukan.
"Kau tidak perlu khawatir, Mei. Aku sudah menyiapkan pesangon untukmu." Thomas kemudian mengambil beberapa lembar uang di dalam lacinya. Dia memasukkan kembali ke dalam amplop. Berpura-pura bahwa dia telah menyiapkannya, padahal dia hanya merasa tidak enak dan kasihan melihat Meira yang hanya seorang single parents itu.
"Ini untukmu!" Thomas menyerahkan amplop, "semoga cukup untuk menutupi kebutuhan anak-anakmu sampai kau menemukan pekerjaan baru."
Meira menitikkan air matanya. "Terimakasih, Tuan. Semoga Tuhan membalas semua kebaikanmu." Ucap Meira seraya izin pamit pada Thomas.
Thomas menatap kepergian Meira dengan sedikit meninggalkan sesak dalam dadanya. Dari 5 karyawan yang ia miliki. Meira adalah karyawan terakhirnya yang akhirnya harus ia pulangkan juga. Sedih rasanya, tapi Thomas tak bisa berbuat banyak lagi.
"Jadi, apa selanjutnya rencanamu setelah ini?"
Saat Thomas menatap kepergian Meira, Nadia datang dan mengejutkannya.
"Entahlah. Aku belum tahu." Sahut Thomas sambil merapikan kembali kerjaannya yang tertunda.
"Bagaimana kalau kita minta saja Natalie untuk meminjam modal pada suaminya."
"Nadia! sudah kukatakan, jangan memanfaatkan Natalie untuk jadi peminta-minta pada suaminya itu." Gertak Thomas.
"Ckk, masih sombong juga kau rupanya." Nadia berkacak pinggang, "setelah semua kesialan menimpa hidup kita, kau masih belum cukup sadar juga," membuang wajahnya malas, "lagipula, siapa lagi yang akan sudi meminjamkan uangnya pada kita? ... hanya dia satu-satunya harapan kita."
Thomas menurunkan pandangannya yang semula memanas. Nadia ada benarnya juga. Selama ini hidup mereka selalu ditimpa kesialan. Dan salah satu keberuntungan yang mereka miliki saat ini hanyalah putri mereka yang menikah dengan anak Konglomerat itu.
"Aku hanya tidak ingin menyusahkan putri kita. Itu saja." Ucap Thomas jujur apa adanya. Dia memang sangat dekat dan sangat menyayangi gadisnya itu dibandingkan yang lainnya.
"Ya, akupun demikian." Nadia membalikkan badannya, "semuanya terserah padamu. Jika kau ingin rumah ini disita bank, yasudah!" Nadia melenggang pergi meninggalkan Thomas yang kebingungan.
Hutang-hutangnya pada bank memang sudah tidak bisa dihitung lagi. Kebutuhan rumah dan usaha laundry yang menyita banyak pengeluaran itu memaksa Thomas untuk meminjam uang pada bank dan juga rentenir.
__ADS_1
Haruskah aku menjadikan putriku sebagai tumbal lagi?
Saat Nicholas memikirkan bagaimana caranya ia membangun kembali usaha yang sudah ia rintis sejak dulu, seorang mantan pegawainya tengah bersukacita atas keberhasilannya.
Keberhasilan karena ia mampu membuat usaha Thomas benar-benar bangkrut.
"Bagus. Kau memang bisa ku andalkan." Ucap seorang laki-laki pada Meira dibalik teleponnya.
"Besok kau bisa datang ke salah satu cabang perusahaan Jhonson Company. Pilih saja yang kau mau! ... kau bisa mendapatkan posisi sesuai dengan kemampuanmu."
"Baik, Tuan. Terimakasih banyak, Tuan. Terimakasih." Ucap Meira berkali-kali sampai akhirnya sambungan itu diputus oleh sosok laki-laki dibalik teleponnya.
Meira tersenyum puas. Akhirnya, setelah bertahun-tahun menjadi seorang karyawan di tempat laundry, kini dia bisa merasakan indahnya kerja di perkantoran.
"Maafkan saya, Tuan Thomas." Cicit Meira dengan senyum smirk Nya, sambil mencium amplop yang diberikan sang korban itu.
Rupanya selama ini, kasus-kasus keanehan yang terjadi di usaha laundry Thomas itu adalah ulah Meira, sang karyawan setianya.
Meira sebenarnya tidak berniat jahat. Namun karena bayaran yang dijanjikan orang itu sangatlah besar, akhirnya ia tergiur juga.
Selain ia mendapatkan upah dari hasil kerjasama itu, dia juga dijanjikan akan mendapatkan pekerjaan baru di salah satu perusahaan milik Jhonson Company. Dengan syarat agar ia menghancurkan usaha laundry Thomas lambat laun. Dia juga diperintahkan untuk meracuni Nadia, istri Thomas agar berhutang pada bank, bahkan rentenir, dengan membeli barang-barang mewah yang sebetulnya tidak begitu dibutuhkan olehnya. Seperti halnya perhiasan, tas, sepatu dan barang-barang mewah lainnya.
Dan kini tugas Meira sudah berhasil. Dia sudah membuat usaha laundry itu gulung tikar. Dan bahkan Thomas terjerat hutang dimana-mana.
***
"Jadi usaha laundry itu sudah benar-benar tutup?" Tanya Nicholas pada laki-laki dihadapannya. Laki-laki yang selama ini menjadi kepercayaannya dalam menjadi mata-mata keluarga istrinya itu.
"Sudah, Tuan. Mereka benar-benar sudah berakhir." Jawab laki-laki berinisial TS itu.
"Bagus. Lalu apa rencanamu selanjutnya?" Nicholas kembali memberikan pertanyaan.
"Saya akan mendesak para rentenir itu untuk segera menagih hutang pada mereka." Jawab TS dengan yakinnya.
"Apa yang akan kalian lakukan jika mereka tak bisa membayarnya?" Nicholas kembali bertanya.
"Kami akan menghina dan mencaci makinya."
"BAGUS!" Suara Nicholas mendadak tinggi, membuat Reynald yang semula hanya diam menunduk itu menengadahkan kepalanya.
"Hina mereka! caci mereka! bahkan bila perlu, buat mereka merasa jadi manusia paling hina di dunia ini ... terutama wanita tua bernama Nadia itu."
"Baik, Tuan."
__ADS_1
Nicholas tertawa bangga saat akhirnya apa yang ia nantikan selama ini terwujudkan.
Satu demi satu harapannya untuk bisa menghancurkan keluarga itu akhirnya terjalan mulus sesuai rencana.
Kini hanya tinggal beberapa langkah lagi untuk membuat hidup keluarga itu benar-benar hancur, seperti mereka menghancurkan keluarga Nicholas dulu.
"Selamat menikmati, Nyonya Nadia." Gumam Nicholas dalam hatinya.
TS pamit pergi dari ruangan bosnya itu setelah selesai melaporkan hasil kinerjanya, juga mendiskusikan langkah selanjutnya. Dia pergi dengan senyuman yang tak luntur sampai keluar dari pintu utama perusahaan itu. Pasalnya, Nicholas memberikannya upah lebih dari yang dijanjikan. Bukan hanya uang tunai. TS juga mendapatkan kesempatan berlibur selama satu Minggu bersama kekasihnya kemanapun dia mau. Dan semua biayanya itu ditanggung oleh Nicholas.
"Yes." Ucap TS seraya masuk ke dalam mobilnya dan melesat pergi meninggalkan perusahaan besar milik Nicholas Jhonson itu.
"Tuan, apa kau tidak berlebihan memberikan upah padanya?" Tanya Reynald, "Nyonya bisa marah kalau melihat pengeluaran yang begitu besar tanpa keterangan." Lanjutnya.
Reynald benar. Meskipun perusahaan itu sepenuhnya sudah dipegang oleh Nicholas. Namun pada kenyataannya, Kelly masih memantau arus kas, pengeluaran juga pemasukan dari perusahaan milik suaminya itu. Dan dia adalah salah satu manusia yang paling teliti. Oleh karenanya, sedikit saja kelalaian dan kesalahan yang dilakukan karyawannya, Kelly akan menindak tegas akan hal itu.
"Tenang saja, Reynald. Untuk masalah bayarannya, aku akan memakai uang pribadiku." Jawab Nicholas dengan santainya.
"Tapi, Tuan. Saya tahu benar bagaimana orang itu. Dia akan memanfaatkan kesempatan ini sebagai ladang penghasilannya." Ujar Reynald, "saya hanya takut kalau dia memeras, Tuan."
Nicholas berdiri dari duduknya.
"Reynald, apa kau lupa? aku tidak akan segan memberikan apapun pada orang yang berhasil membuat keluarga itu menderita."
Nicholas berjalan mengganti jas yang dipakainya dengan jas warna lainnya.
"Sudahlah, lupakan urusannya! itu bukan ranahmu. Kau bisa kembali ke ruanganmu!"
"Baik, Tuan. Maafkan saya kalau perkataan saya terkesan lancang! kalau begitu saya permisi." Ucap Reynald seraya menundukkan kepalanya.
"Iya, silakan!"
Nicholas memandang kepergian Reynald, setelah itu perlahan ia membuka dompet miliknya. Disana ada sebuah foto yang sudah kusut. Ia menatapnya dengan sangat khusyuk.
Di foto itu, terdapat seorang wanita muda yang tengah menggendong bayi wanitanya, dan juga seorang anak laki-laki yang digandengnya erat. Siapa lagi kalau bukan Merry, Nicholas dan adiknya almarhumah Lucia.
Tergambar jelas kebahagiaan dari raut wajah ketiganya. Moment indah mereka yang sedang berjalan di taman itu diabadikan oleh sang ayah sebelum meninggal.
Nicholas menitikkan air matanya. Entah ini air mata kesedihan atau kebahagiaan.
Yang jelas, saat ini Nicholas hanya ingin mengatakan pada orang-orang yang sangat berarti dalam hidupnya itu, bahwa dia telah berhasil membalaskan dendam mereka.
"Aku sangat merindukan kalian." Ucap Nicholas seraya mencium foto itu.
__ADS_1