
"Tuan," Panggil Reynald pada Nicholas yang tengah sibuk dengan dokumen-dokumennya di atas meja.
"Kenapa, Reynald?" Tanya Nicholas tanpa melirik si pemanggil. Dia masih sibuk membolak balik dokumen lalu menandatanginya. Disampingnya bediri wanita cantik dengan penampilan yang selalu membuat laki-laki yang melihatnya tergiur menelan salivanya masing-masing.
Sekretaris Kim menatap Reynald tidak suka. Laki-laki itu masuk tanpa meminta izin terlebih dulu padanya. Meskipun Reynald sudah diizinkan untuk memiliki hak akses penuh ke ruangan boss nya itu, tetap saja Jennifer tidak suka jika ada orang yang menggangu waktu berduanya dengan kekasihnya itu.
Reynald masih terdiam mematung saat melihat tatapan Sekretaris Kim padanya seolah ingin membunuh.
Karena tak kunjung juga mendapatkan jawaban dari tangan kanannya itu, Nicholas menghentikan aktivitasnya lalu melirik tajam ke arah Reynald, membuat Reynald akhirnya tersadar bahwa dia telah membuat Nicholas menunggu terlalu lama.
"Maaf, Tuan." Reynad menundukkan kepalanya. "Bisakah kita bicara 4 mata sebentar." Ucap Reynald sedikit gemetar. Dia takut membuat Nicholas marah karena telah mengganggu waktunya dengan kekasihnya itu.
Jennifer curiga, kenapa Reynald tidak ingin dia mengetahui apa yang akan dibicaraknnya dengan Nicholas. Apakah sebegitu pentingnya informasi itu, sampai dia tidak boleh tahu.
"Kenapa tidak bicara disini saja?" Tanya Nicholas yang sedetik kemudian melanjutkan aktivitasnya. Menandatangani berkas-berkas di tangan Jennifer.
Jennifer tersenyum penuh kemenangan. Dia bahagia karena kekasihnya itu berpihak padanya saat ini.
"Tidak bisa, Tuan. Ini tentang istri anda, Bu Natalie."
Plukk
Pulpen di tangan Nicholas tiba-tiba terjatuh saat mendengar Reynald menyebutkan nama Natalie.
Tanpa aba-aba lagi Nicholas langsung berdiri dari duduknya, diikuti oleh Reynald Nicholas masuk ke ruangan khusus yang biasa dia pakai untuk istirahat.
Jennifer menatap kesal keperian Nicholas dan Reynald. Dia bahkan melempar dokumen-dokumen di tangannya kasar. Kesal, kenapa Nicholas sepertinya begitu peduli pada wanita yang jelas-jelas hanya dijadikan sebagai tumbal itu.
"Sekarang katakan padaku! apa yang terjadi dengan Natalie?" Tanya Nicholas saat sudah sampai di ruangan yang dituju.
Reynald menarik nafasnya dalam-dalam.
"Bu Natalie masuk rumah sakit, Tuan."
---***---***---
__ADS_1
Natlie membuka matanya perlahan. Sudah hampir seharian dia tertidur, kini kepalanya sedikit pusing. Dia mengernyitkan bibirnya saat melihat cairan infusan yang terus mengalir lewat selang yang tersambung dengan tangannya.
"Hay, sudah bangun? lama juga tidurnya yah?"
"Kevin," Natalie mencoba bangun dari tidurnya.
"Gak usah bangun! kamu tidur aja!" Kevin menahan tubuh Natalie lantas kembali menidurkannya.
"Kenapa aku ada disini?" Tanya Natalie sambil kembali merasakan ngilu di tangannya.
"Tidak apa-apa, kau hanya pingsan." Jawab Kevin seraya mengelus rambut Natalie.
Tidak ada respon lagi dari Natalie, gadis itu terdiam, melamun dan kembali mengingat kejadian semalam dengan Nicholas. Air mata Natalie tak terasa menetes begitu saja, dia langsung menyekkanya karena tak ingin Kevin melihat kesedihannya.
Dengan sebelah tangan yang masih mengelus lembut rambut Natalie, sebelah tangan Kevin rupanya telah mengepal sempurna. Dia tahu benar, Natalie pasti menangis karena Nicholas. Laki-laki sial*n itu. Ingin sekali rasanya saat ini juga Kevin menghujam wajah Nicholas. Laki-laki bajing*an itu sudah sangat keterlaluan. Bahkan bisa-bisanya dia meninggalkan Natalie dalam keadaan sakit seperti sekarang. Suami macam apa dia? kalau saja Kevin tidak datang tepat waktu, entah apa yang akan terjadi dengan Natalie.
"Nat, boleh aku tanya sesuatu?" Kevin membuat Natalie terperanjat dari lamunannya.
"Hmpp, iya. Kenapa?" Natalie menatap wajah serius Kevin.
Tapi Kevin sudah tidak perduli. Justru jika Kevin lebih lama lagi membiarkan masalah ini, Natalie akan menderita lebih dari ini.
Kevin tidak tahu kenapa dia mendadak jadi gugup seperti ini. Kevin juga tidak yakin apakah pertanyaannya ini malah akan menyakiti hati Natalie lebih dalam lagi?
"Ke - kenapa kau bertanya seperti itu? jelas aku baik-baik saja? apa kau melihat tanda KDRT di tubuhku? tidak kan?" Natalie berusaha tertawa dan memperlihatkan bagian wajahnya saat menjawab pertanyaan sahabat sekaligus kakaknya itu. Dia berusaha tersenyum walau hatinya tengah menangis.
Nicholas memang tidak melakukan kekerasan fiisk, tapi jika boleh memilih rasanya lebih baik Natalie merasakan sakit di sekujur tubuhnya, daripada harus menahan sakit hati karena sikap Nicholas yang tiba-tiba berubah.
"Berhenti membohongiku, Nat!" Kevin memegang kedua pundak Natalie. Dia menatapnya dengan tatapan membunuh membuat Natalie gugup.
"Apakah Kevin mulai curiga padaku?" gumam Natalie.
"Natalie!" Panggil Kevin, "katakan padaku! apa yang sebenarnya terjadi dengan kalian? kenapa Nicholas meninggalkanmu sendirian?"
Natalie tidak tahu harus menjawab apa. Karena memang kenyataannya Kevin sendiri melihat secara langsung bahwa Nicholas menginggalkannya sendiri.
__ADS_1
"Apa Nicholas berubah padamu? bukankah kamu menikah dengannya atas dasar cinta."
Natalie kembali tersadar dari lamunannya saat Kevin menggoyang-goyangkan tubuhnya. Kevin benar, mereka memang menikah atas dasar cinta sama cinta. Tapi itu dulu, sepertinya saat ini hanya Natalie yang mencintai Nicholas, sedangkan Nicholas tidak.
Bicara tentang Nicholas. Jangankan Kevin, Natalie saja tidak tahu sejak kapan Nicholas berubah menjadi laki-laki menyeramkan seperti sekarang.
"Kamu kenapa sih, Vin. Aku sama Nicholas baik-baik aja kok. Pernikahan kami juga baik-baik saja. Sudah ah, apaan sih?" Natalie mencoba melepas tangan Kevin dari pundaknya, namun secepat mungkin Kevin menariknya kembali.
"Nat! lihat aku!" Kevin mulai emosi. Tatapannya yang semula sendu kini berubah menjadi kesal.
"Kau tanya aku kenapa, Nat?" batin Kevin. "Seharusnya pertanyaan itu tidak perlu keluar dari mulutmu. Kau tahu betapa aku sangat mengkhawatirkanmu. Melihatmu diperlakukan seperti ini oleh dia, aku tidak terima, Nat. Aku marah."
"Vin, kamu nangis?"
Natalie melihat setetes air mata Kevin menetes dari pelupuk matanya. Dengan secepat mungkin Kevin menyekanya dan membalikkan badannya.
"Bodoh, kenapa aku harus terlihat lemah di depannya." batin Kevin.
"Vin, apa aku menyakiti perasaanmu?" Natalie langsung terperanjat, "maafkan aku! tapi aku benar-benar tidak bermaksud." Natalie begitu panik. Apakah benar perkataanya telah menyakiti hati laki-laki yang selalu ada untuknya.
"Tidak apa-apa." Kevin kini kembali membalikkan badannya, ia duduk di samping Natalie. Dan Natalie kini sudah dalam keadaan posisi duduk. "Aku hanya takut kamu kenapa-kenapa." Kevin kembali mengelus-elus rambut Natalie. Entah kenapa Kevin selalu merasakan nyaman melakukan hal ini pada sahabatnya itu, meskipun sekarang dia sudah berstatus sebagai istri orang lain. Kevin berharap tuhan masih memberikan kesempatan padanya untuk tetap bisa menjaga wanita dihadapannya saat ini.
Wanita yang sangat dicintainya.
"Nat, biarkan aku menjagamu." gumam Kevin seraya memberikan senyumnya yang langsung dihadiahi pelukan dari Natalie.
"Makasih ya, Vin. Kamu selalu perhatian sama aku." Isak Natalie dalam pelukan Kevin. Natalie merasa ini adalah saat yang paling tepat untuk menangis dalam pelukan Kevin, agar laki-laki ini tidak mencurigai air matanya. Natalie hanya ingin menumpahkan segala kepedihan dalam hatinya selama ini tanpa Kevin curiga jika penyebabnya adalah suaminya sendiri, Nicholas.
Sudah lama Natalie membutuhkan sandaran seperti ini. Semenjak menikah dengan Nicholas, rasanya hdupnya kelam dan tak bercahaya. Dia butuh bahu untuk bersandar sejenak mengusik rasa kelamnya.
Awalnya Kevin sedikit canggung saat mendapatkan pelukan dari wanita yang sudah menjadi istri orang lain. Namun mendengar isak tangis Natalie dalam pelukannya, dengan sedikit ragu Kevin membalas pelukan Natalie dan mengeratkannya perlahan.
"Aku akan selalu ada untukmu, Nat." Ucap Kevin seraya mengelus punggung Natalie. "Jika kau butuh aku, jangan sungkan-sungkan datang padaku yah!" Lanjutnya.
Natalie tak menjawab, dia hanya mengangguk dalam pelukan Kevin.
__ADS_1
"Datanglah padaku, Nat!" gumam Kevin. "Datanglah padaku jika suatu saat Nicholas sudah tidak membutuhkanmu lagi."