Husband From Hell (Suami Dari Neraka)

Husband From Hell (Suami Dari Neraka)
Siapa yang akan dipilih?


__ADS_3

Jangan lupa vote sebelum membaca!


Jangan lupa komentar setelah membaca!


Oiya, sebelumnya mau ngucapin terima kasih banyak buat yang udah vote besar-besaran. Terimakasih karena kalian sudah sadar, bahwa hal itu yang bikin aku semangat nulis meskipun dalam keadaan kurang fit.


Aku hanya sekedar mengingatkan, bahwa bonus chapter novel ini akan segera habis.


Itu artinya, kalian akan segera mengetahui ending yang sebenarnya.


Jadi, berikan semangat terbaik kalian ya untuk penulis!


Salam sayang penulis Husband From Hell 💜


***


"Jangan terburu-buru, biarkan saja kita sedikit bermain-main dengannya" ucap Erick begitu lugasnya.


"Tapi bukankah lebih cepat itu lebih  baik," kata tangan kanan Erick.


"Cihh." Erick membuang ludahnya. "Kau tidak perlu mengajariku!"


"Maafkan aku, Tuan." Tangan kanan Erick itu menundukkan kepalanya, meminta maaf atas kelancanganannya.


Erick tersenyum sinis. Tatapan mata bak terkaman elang itu membuat siapapun yakin jika ambisi yang ada pada dirinya memang tak tak bisa diragukan lagi.


"Kita tunggu saja tanggal mainnya. Kita biarkan dulu dia bersenang-senang dengan istrinya yang cantik itu." Erick menenggak segelas minuman di tangannya. "Aku ingin tahu, siapa yang dia pilih nantinya?"


***


"Pak, Kevin. Ini berkas yang anda minta." Seorang sekretaris datang dan memberikan beberapa lembar kertas dalam satu map file.


"Terimakasih," ucap Kevin.


"Sama-sama, Pak. Kalau begitu saya permisi," ucap sekretaris itu sopan.


"Tunggu!"


Wanita itu berbalik badan kembali. "Iya, ada yang bisa saya bantu, Pak?"


Kevin menggigit bibir bawahnya. Ada rasa gugup dalam hatinya untuk melakukan hal ini. Tapi ini harus. Kapan lagi dia akan memulai.


"Oiya, bisa panggilkan Eliza ke ruangan ku!"


"Oh, baik, Pak." Wanita itu kembali meneruskan langkahnya yang terunda, keluar dari ruangan manajer yang baru itu.


Lima menit kemudian Eliza datang. Entah kenapa saat masuk ia terlihat sedikit gugup, mungkinkah karena ini pertama kalinya Eliza masuk ke ruangan baru Kevin.


Di mata Eliza, Kevin terlihat lebih gagah saat menjabat sebagai seorang manajer.


Apa mungkin karena pakaiannya yang terlihat lebih rapih dengan setelan jas hitam dengan dasi tu, atau memang karena Eliza yang sejak awal sudah jatuh hati? jadi apapun yang dipakai Kevin selalu terlihat sempurna di matanya.


"Liz, duduk! kenapa malah bengong?" ucap Kevin.


"Ah, iya." Ragu-ragu Eliza mulai mendudukkan dirinya di depan Kevin. Dengan dada yang sudah berdegup tak menentu, Eliza coba menetralkan dirinya.


"Ngomong-ngomong ada apa ya?"

__ADS_1


Tanpa menjawab, Kevin menyerahkan sebuah tiket nonton. "Malam ini kau tidak sibuk kan?"


Tunggu!


Apa ini?


Mata Eliza melotot. Apa dia tidak salah liat? tiket bioskop?


Apa benar, Kevin mengajaknya jalan?


Apa ini mimpi?


"Ti_tidak," jawab Eliza gugup. "Tapi, tapi untuk apa tiket ini?"


Kevin terkekeh lucu melihat ekspresi wajah Eliza. Dia yakin Eliza sangat senang


saat mendapatkan tawaran darinya. "Ya sudah, jam tujuh malam nanti aku jemput kamu ya!"


"Serius, Kevin mengajakku jalan?" batin Eliza dalam hatinya. Semula dadanya yang berdegup kencang itu makin menjadi-jadi. Kali ini pompanya lebih cepat temponya.


"Mppp." Eliza mengangguk, lantas dia segera izin keluar ruangan karena merasa ada sesuatu yang harus ia selamatkan. Sesuatu yang meledak-ledak di dalam dadanya.


"Yes!!!" Eliza tersenyum penuh kemenangan sesaart setelah menutup pintu ruangan Kevin, tanpa dia sadari pintu yang masih sedikit terbuka itu membuat Kevin sedikitnya bisa mendengar apa yang diucapkan Eliza.


Kevin menatap kepergian Eliza dibalik punggung wanita itu.


"Aku akan belajar mencintaimu, Liz," gumam Kevin dalam hatinya.


Rupanya dia melakukan ini semua karena ingin membalas semua kebaikan Natalie. Dia ingin menunjukkan pada Natalie bahwa ia bisa mengabulkan permintaan Natalie, permintaan untuk mencintai sahabatnya, Eliza.


***


Sepulangnya dari rumah sakit, Natalie memang tak mengizinkan Nicholas masuk ke kamar. Dia ingin sendiri dan tak mau diganggu siapapun, termasuk suaminya sendiri.


Helena tiba-tiba menghampirinya dengan nampan di tangannya yang berisi makanan.


"Tuan, Nona_"


"Biarkan saja dulu!" potong Nicholas sambil mengangkat tangan tanpa melihat ke arah Helena.


Helena mengangguk, makanan kedua yang ia bawa kembali ditolak Natalie terpaksa ia kembalikan ke asalnya. "Baik, Tuan."


Setelah Helana pergi, Nicholas menghembuskan nafasnya gusar. Pusing, penat semua jadi satu dalam kepalanya.


"Kenapa ini semua harus terjadi padaku?" batinnya.


Dia melirik kembali pada pintu kamar dimana Natalie berada, bayangan betapa kecewanya Natalie akan hasil pemeriksaan kandungan  yang ia terima begitu sangat terbayang di benak Nicholas. "Dia pasti sangat terpuruk sekali."


Flashback pagi tadi


"Maafkan aku, Nic, tapi aku sudah mengujinya di lab sebanyak dua kali, dan hasilnya tetap saja sama. Kondisi janin yang ada dalam kandungan istrimu sangat lemah. Aku tidak menyarankan istrimu untuk bepergian dengan pesawat terlebih dahulu sampai kondisi janinnya benar-benar kuat."


Natalie yang masih duduk di atas kasur setelah menjalani pemeriksaan itu tak dapat menutupi kesedihannya. Apa yang dia takutkan akhirnya terjadi juga. Hasil pemeriksaan telah keluar, dan ternyata kandungannya memang lemah. Itu artinya kesempatan Natalie untuk bisa menemani Nicholas pergi sudah hilang. Dia tidak akan bisa merawat Nicholas di sana. Natalie benar-benar terpuruk, dia merasa jadi wanita yang tidak berguna saat ini. Untuk sekedar menemani suaminya saja dia tidak mampu, pikirnya.


Drttt ... drttt ...


Ponsel Nicholas membuyarkan bayangan pagi itu. Dia  segera meraupnya dan nama dr. Steven tertera di sana.

__ADS_1


Sebuah telepopn masuk dari sahabatnya yang tengah mengurusi orang tuanya di luar negeri itu rupanya.


"Sungguh?" Mata Nicholas berbinar-binar. Sepertinya ada kabar baik dari sahabatnya itu. "Baiklah, pastikan semuanya tetap seperti itu. Jangan lewatkan sedikitpun prosedurnya, supaya Ibuku cepat sembuh."


Kemajuan pesat rupanya telah terjadi pada Ibu kandung Nicholas itu. Bukan hanya sudah mau berkumpul dengan pasien lainnya, Merry juga mulai mau berinteraksi dan menjawab sedikit demi sedikit pertanyaan yang ditujukan padanya.


Nicholas senang, dia benar-benar bahagia. Setidaknya, ada secercah harapan Nicholas untuk bisa melihat ibunya kembali seperti sedia kala.


"Akhirnya Ibu akan segera pulih kembali," batinnya.


"Boleh aku melihat Ibuku?"


"Tentu," sahut sahabat Nicholas. Laki-laki itu segera mengganti mode panggilan suaranya menjadi panggilan video.


Dengan jelas Nicholas bisa melihat wajah siapa  yang sedang duduk sambil menikmati roti bakar itu di atas kursi roda. Wanita itu  terlihat sangat menikmati sekali, sesekali bahkan wanita itu tersenyum berseri-seri ketika melihat teman-teman pasien lainnya melakukan tindakan-tindakan konyol yang menurutnya sangat lucu sekali.


"Lihatlah senyumnya yang indah!,sepertinya dia senang sekali bukan?" ucap Steven.


"Iya, kau benar," sahut Nicholas dengan tatap mata yang tak pudar. Senyumnya


terukir jelas. Tak terasa setetes air matanya turun, ada harapan yang sangat besar dalam benak Nicholas untuk segera melihat wanita itu secara langsung di depannya, memeluknya, mengajaknya bicara, sama seperti saat dulu kala Nicholas masih dalam pangkuannya.


"Ya sudah, aku tutup dulu teleponnya. Sudah jadwalnya Ibumu minum obat."


"Ah, baiklah. Sekali lagi terimakasih ya! aku berhutang budi padamu."


"Apaan sih kau ini. Kau tidak berhutang budi padaku. Aku kan dapat bayaran yang besar darimu, hahaha." Sahabat Nicholas itu tertawa.


"Iya, iya. Secepatnya akan segera ku transfer upah untukmu, sekaligus bonusnya juga."


"Jangan bodoh! aku tidak pernah berharap itu darimu. Kau sudah kuanggap sebagai sodaraku sendiri. Menjaga Ibumu sama halnya seperti merawat Ibuku sendiri." Steven terdengar sangat ikhlas saat bicara. " Ya sudahlah, aku tutup dulu teleponnya, bye!"


Nicholas terkekeh mendengar jawaban dari sahabatnya itu. Rasa bahagia karena memiliki orang-orang baik di sekelilinngnya, juga karena melihat kemajuan pesat yang dialami Ibunya  saat ini benar-benar membuat kesedihan yang sejak tadi berkecamuk setidaknya seditik terusik.


Masalah Ibunya hampir selesai, kini fokus Nicholas harus kembali pada wanitanya.


Bagaimana merayu Natalie agar dia tidak bersedih lagi. "Ya, aku harus bicara dengannya!" Nicholas lantas berdiri dari tempat duduknya. Dia berpikir sepertinya dia harus melakukan sesuatu. Dia akan membeli seikat bunga mawar merah juga coklat. Tak hanya itu, Nicholas juga akan menjemput adik kesayangan istrinya itu, Neva. Dia berharap kehadiran Neva akan sedikit mengurangi kesedihan istrinya.


Beban dalam benak Nicholas sedikit terangkat, meskipun beban sejatinya belum dapat ia temukan obatnya. Dia pikir masalah Ibunya sudah selesai? sebenarnya tidak. Karena di jauh sana, seorang laki-laki berkedok kain hitam yang menutupi hampir seluruh wajahnya tiba-tiba menusuk perut Steven yang sedang nendorong kursi roda Merry untuk membawa wanita itu kembali ke kamarnya.


Jlebb


Arhhh


Darah mengalir deras seiring dengan tumbangnya Steven di atas tanah.


Keadaan sepi itu sepertinya menjadi moment yang sangat bagus, karena tak ada seorang pun yang melihat kejadian itu.


Steven terkapar dan akhirnya menghembuskan nafas terakhirnya, sementara Merry yang shock akhirnya  tak sadarkan diri.


"Bagus ... sekap wanita itu dan tunggu perintahku selanjutnya!"


"Baik, Tuan!"


Laki-laki jahat yang kini duduk di atas kursi putar itu tertawa melengking setelah menutup teleponnya.


"Aku ingin tahu, seberapa kuat Nicholas? dan aku juga ingin tahu, siapa yang akan dia pilih? Ibu tersayang istri tercintanya?"

__ADS_1


To be continued


__ADS_2