Husband From Hell (Suami Dari Neraka)

Husband From Hell (Suami Dari Neraka)
Melaksanakan tugas


__ADS_3

Pagi hari yang cerah, Natalie baru saja selesai menata rambutnya yang indah. Ia berjalan dengan santai menuju dapur.


"Bi, apa kau sudah menyiapkan makanan untuk Tuan?" tanya Natalie pada Helena.


"Sudah, Nona. Saya sudah menyiapkannya di meja," sahut Helena sambil membawa dua cangkir gelas kosong.


Natalie ikut mengekor di belakang Helena. Dia kemudian memperhatikan satu persatu hidangan di atas meja. Tak lama kemudian ia mendengar langkah kaki dari atas tangga mulai turun dan mendekat ke arahnya.


"Nic, ayo kita sarapan du_"


"Siapkan mobil untukku sekarang!"


Ucapan Natalie terpotong saat Nicholas berbicara dengan seseorang yang baru saja masuk, yang tak lain dan tak bukan adalah Reynald. Orang kepercayaannya.


"Kau bisa pergi dengan taksi," Nicholas mengeluarkan sebuah kartu kredit berwarna gold dari kantong celananya, "pakai kartu ini untuk keperluanmu!" setelah menyerahkan kartu itu, Nicholas pun lantas pergi tanpa pamit.


Tak ada yang bisa dilakukan Natalie saat melihat Nicholas berbicara dengan sorot mata tajam padanya, selain diam dan mematung, mencoba memahami Apalagi kesalahannya pagi ini, sehingga suaminya itu bersikap dingin sekali padanya.


"Nona, kau tidak apa-apa?" Helena yang tak sengaja melihat kejadian pagi itu, mau tak mau harus berusaha menenangkan Natalie. Meskipun sebenarnya ia tidak berhak atas hal itu. Tapi Helena merasa hubungan majikannya itu sedang dalam masa tidak baik.


"Aku tidak apa-apa, Bi!" sahut Natalie, "tolong masukkan beberapa makanan ke dalam kotak nasi ya! ... aku akan membawakannya untuk dia sarapan. Dia pasti buru-buru sekali, sampai tak sempat untuk sarapan." Natalie coba berpikir positif dan berprasangka baik pada suaminya itu. Meskipun sebenarnya, kejadian yang sebenarnya adalah ....


"Sayang, kamu masih lama gak sih?" Jennifer lagi-lagi menghubungi Nicholas karena kesal menunggu.


"Iya, sebentar lagi." Nicholas meminta Reynald menambah kecepatan mobilnya.


Setelah sampai di rumah Jennifer, Nicholas langsung masuk seperti sudah terbiasa masuk ke rumah mewah itu.


"Cuma luka kaya gini, kenapa gak minta Bibi aja yang ngobatin?" tanya Nicholas sambil mengobati luka di tangan Jennifer. Sebenarnya itu hanya luka karena goresan pisau saja. Tidak terlalu parah. Hanya saja, sikap manja Jennifer yang berlebihan itu membuat Nicholas mau tak mau harus menuruti keinginan kekasihnya itu.


"Aku gak mau diobatin sama yang lain. Aku maunya kamu, "jawabnya sambil merengek manja. Nicholas tak ada pilihan lain memang. Semenjak dia menjalin hubungan dengan Jennifer, wanita itu memang selalu bersikap kekanak-kanakan saat bersamanya. Tapi percayalah, Jennifer akan berubah sangat dewasa dihadapan orang lain terutama rekan kerjanya. Dan itulah yang membuat nilai plus di mata Nicholas.

__ADS_1


"Sudah sembuh! sekarang aku akan ke kantor. Ada yang harus ku urus."


Nicholas berdiri dari duduknya. Namun tangannya terlebih dulu dicekal Jennifer.


"Aku ikut!"


"Loh, katanya tangan kamu sakit?"


"Udah selesai. Kan kamu yang ngobatin."


Nicholas berdecak kesal. Lagi-lagi kekasihnya itu mengerjainya. Membuatnya panik di pagi hari sampai melewatkan sarapan pagi bersama istrinya hanya untuk mengobati luka yang tak seberapa itu.


"Yasudah, cepat masuk ke mobil!" titah Nicholas, "aku tidak akan menunggu lebih dari 10 menit." Nicholas kemudian benar-benar keluar dari kamar Jennifer. Menuju parkiran dan masuk ke dalam mobilnya. Sedangkan di dalam kamar, Jennifer tertawa puas karena akhirnya berhasil merusak pagi hari Natalie yang harusnya menikmati sarapan pagi bersama suaminya itu.


"UPS, maafkan aku Natalie," cicitnya seraya mengambil tas dan jas yang akan dia pakai hari ini untuk ke kantor. Setelah itu, ia menghubungi Karan. Mata-mata sekaligus tangan kanannya yang telah berhasil membantunya melancarkan aksinya pagi itu.


"Kerja bagus, Karan! awasi terus wanita jal@ng itu!" ucap Jennifer seraya berjalan menuju parkiran.


***


Semua karyawan yang berpapasan dengan CEO dari perusahaan itu menunduk dan mengucapkan rasa hormatnya dengan sigap. Namun, suasana berubah canggung saat Jennifer dengan santainya memperbaiki letak posisi dasi Nicholas yang sebenarnya sudah rapih itu. Beberapa karyawan saling tatap dan berbisik atas kelakuan Jennifer di tempat umum itu. Terlebih semuanya telah mengetahui bahwa Nicholas telah menikah dengan salah satu karyawan di perusahaan itu.


''Hey, lihatlah! Tuan Nicholas bahkan tidak menolak saat sekretaris Kim memperbaiki dasinya. Ini benar-benar menganehkan. Padahal kan istrinya ada disini. Bagaimana kalau dia melihat atau mendengarnya dari karyawan lain?" bisik salah satu karyawan pada rekannya.


"Iya, aku curiga. Apa mungkin Tuan Nicholas ada hubungan istimewa dengan sekretaris Kim?" timpal karyawan lainnya.


"Sepertinya bisa saja. Karena sekretaris Kim memang cantik dan juga modis. Wajar saja jika Tuan Nicholas tergoda padanya."


Bisikan demi bisikan itu mengganggu telinga Eliza. Dia sesegera mungkin berjalan menemui sahabatnya yang merupakan orang yang dibicarakan itu.


"Nat, kok kamu diem aja sih?" Eliza semakin geram saat melihat secara langsung dari dekat kedatangan Nicholas yang berdampingan dengan Sekretaris Kim, pemilik nama Jennifer itu.

__ADS_1


"Terus kamu mau aku apa?" sahut Natalie.


"Ya, nggak. Kenapa dia bisa-bisanya benerin dasi Nicholas di depan umum gitu, padahal kan dia tahu kalo Nicholas udah nikah, dan istrinya malah ada disini ... kok aku jadi kesel liatnya." Eliza menggerutu di samping wanita yang merupakan istri dari pemilik perusahaan itu. Sadarkah dia, bahwa jauh di lubuk hati Natalie, dia lebih kesal. Bahkan rasanya ia ingin sekali menarik rambut wanita itu. Tapi apakah daya, lagi-lagi Natalie ingat bahwa ia harus bersikap profesional saat sedang di lingkungan kantor.


"Perasaan kamu aja kali, Liz. Wajar, dia kan mantan sekretaris ayahnya Nicholas. Sudah sewajarnya dia bersikap seperti itu juga pada anaknya. Mungkin cuma refleks aja kali."


"Tapi, Nat ...."


"Udah, ah. Mendingan kamu kerjain tuh tugas dari Kevin. Nanti dia ngambek loh kalo kamu gak beresin hari ini juga. Tahu sendiri Kevin kalo udah ngambek kaya wanita lagi PMS." Natalie coba menghibur dirinya dengan mengalihkan pembicaraannya dengan Eliza. Meskipun setelah Eliza kembali dengan pekerjaanya, matanya kembali tak lepas dari Nicholas dan Sekretaris Kim yang baru saja sampai di depan pintu lift dan setelah itu pintu lift tertutup.


Sebenarnya ada hubungan apa Nicholas dengan wanita itu?


Kenapa aku merasa ada yang Nicholas tutupi dariku?


Natalie teringat akan bekal yang dibuatkan Helena untuk Nicholas. Ingin sekali ia masuk dan mengantarkannya secara langsung. Tapi sepertinya ini bukan saat yang tepat. Ia ingat betul bagaimana kejadian hari itu saat ia mengantarkan minuman untuk Nicholas bertepatan dengan adanya wanita itu juga di ruangannya. Bukannya mendapat apresiasi dari sang suami, ia malah mendapatkan perlakuan yang kurang baik dari suaminya.


"Pak, boleh saya minta tolong!"


Beruntung ada seorang OB yang lewat di depan mejanya.


"Iya, Bu Natalie. Ada yang bisa saya bantu?" tanya OB tersebut.


"Ini!" Natalie menyerahkan sebuah kotak makanan, "tolong antar ini ke ruangan Tuan Nicholas." pintanya.


OB tersebut menatap wajah Natalie bingung. Kenapa bukan dia aja yang mengantarkannya. Bukankah Natalie adalah istri dari pemilik perusahaan tersebut? Kenapa juga dia malah meminta seorang OB untuk mengantarkannya.


"Ba_baik, Bu."


"Terimakasih ya!"


"Sama-sama, Bu." OB tersebut langsung pergi menuju lantai atas, dimana tempat Nicholas berada. Sementara Natalie hanya membuang nafasnya dengan sedikit sesak.

__ADS_1


*Setidaknya aku sudah melaksanakan tugasku sebagai seorang istri. Aku hanya ingin memastikan kau sarapan dengan baik, Nic.


*** To be continued*


__ADS_2