Husband From Hell (Suami Dari Neraka)

Husband From Hell (Suami Dari Neraka)
Berdebar


__ADS_3

Natalie dan Nicholas sudah berdiri di depan pintu gerbang rumah orang tua Natalie. Keduanya sepakat untuk kembali ke rumah mewah Nicholas selepas makan siang.


Nicholas tak mau berlarut-larut tinggal di rumah wanita yang paling ia benci sampai saat ini. Siapa lagi, kalau bukan Nadia, Ibu dari Natalie.


Sudah cukup baginya hari ini bersandiwara dan berpura-pura ramah dengan wanita itu. Nicholas sudah mual.


"Sayang, Kakak pulang dulu ya!" Natalie mencium kiri kanan pipi adiknya, sementara Neva hanya memajukan bibirnya karena kesal. Natalie yang semula berkata akan menginap, malah pulang lebih awal.


"Yah, Natalie pulang dulu ya!" Natalie memeluk Thomas erat. Masih teramat sangat rindu rasanya dengan laki-laki yang penuh kehangatan itu. Tapi kini ada laki-laki di sampingnya yang harus dia prioritaskan.


"Iya, sayang ... kabarin Ayah ya, kalau udah nyampe rumah." Thomas melepaskan pelukannya.


Terlihat jelas cetakan garis senyum di bibir Nicholas saat melihat wanitanya itu bersikap sangat manja di depan ayahnya. Padahal selama ini, Natalie yang dia kenal adalah wanita paling mandiri. Tapi ternyata sikap asli di depan orang tuanya benar-benar berbeda, dan jujur saja, Nicholas sampai gemas dibuatnya.


"Iya, Yah." Ucap Natalie sambil terus mengerucutkan bibirnya.


Natalie kini berganti memeluk Ibunya, Nadia.


"Ibu jangan sering berantem sama Ayah ya! kasian Ayah."


Kali ini pesan yang terucap dari bibir Natalie untuk ibunya berbeda dengan pesan untuk ayahnya. Natalie malah meminta ibunya untuk tidak sering bertengkar dengan ayahnya.


"Ish .. apaan sih. Orang Ibu sama Ayah baik-baik aja, kok. Iya kan, Yah?" Nadia merangkul pinggang Thomas begitu saja. Ia tak ingin terlihat tidak harmonis di depan menantu kaya rayanya itu.


Thomas hanya membalasnya dengan senyuman yang memperlihatkan gigi rapihnya dan sontak saja berhasil membuat gelak tawa dari Nadia dan Natalie.


"Yaudah, kalau begitu saya bawa Natalie pulang dulu ya, Bu, Yah." Nicholas pamit setelah menyalami kedua tangan mertuanya itu.


"Iya, Nak. Hati-hati yah!" Kata Thomas.


"Iya, kabarin kalau udah sampai ya sayang!" pekik Nadia, saat Natalie sudah masuk ke dalam mobil yang sebelumnya sudah dibuka pintunya oleh Nicholas.


Kenapa Nicholas yang membuka pintu mobil untuk Natalie?


Memangnya kemana Reynald?


Nicholas memang sengaja menyetir sendiri saat menjemput wanitanya. Dia hanya ingin terlihat menjadi sosok suami yang penuh perhatian di depan mertuanya. Oleh sebab itu, dia meminta Reynald untuk pulang sebelum jam kerjanya habis.


"Iya, Bu." Jawab Natalie.


"Jangan lupa, cucu ya!" Pekik Nadia kembali yang berhasil membuat wajah Natalie merah seketika di dalam mobil.


"Muka kamu kenapa merah?" Nicholas mengerutkan keningnya.


"Hmppp ... nggak."


Bukannya menjawab, Natalie malah melambaikan tangannya pada ketiga manusia yang sedang berdiri menatapnya.


"Dah, Ayah, Ibu, Neva." Ucap Natalie sambil melambai-lambaikan tangannya sebelum akhirnya Nicholas benar-benar membawanya pergi.


***


Natalie menyandarkan tubuhnya di kursi. Memandang jalanan dengan penuh teka-teki. Sesekali ia melirik laki-laki di sampingnya.


Dia tetap sama.


Tampan,

__ADS_1


Meneduhkan,


Tapi ...


Natalie segera menarik pandangannya kembali dan berpura-pura menatap jalanan saat Nicholas menyadari bahwa dia sedang diperhatikan.


"Kenapa?" Tanya Nicholas datar yang kembali mengalihkan pandangannya ke jalanan.


"Tidak apa-apa." Jawab Natalie bohong.


Perlahan, sebelah tangan Nicholas menggenggam tangan Natalie penuh kelembutan. Beberapa detik kemudian mobil yang dikendarainya menepi di jalanan yang lumayan sepi.


"Dia bukan siapa-siapa. Dia hanyalah masalalu ku." Ucap Nicholas sambil menatap wajah Natalie.


Ada rasa tak percaya dalam hati Natalie.


Kalau dia benar masalalu Nya, kenapa dia tiba-tiba mengirim foto di malam yang sama saat Nicholas tidak berada di rumah.


"Semalam, aku dan Reynald pergi bertemu dengan klien. Lalu aku tak sengaja bertemu dengannya."


Natalie masih mematung, mendengarkan setiap detail penjelasan dari bibir suaminya.


"Kita sempat makan bersama, karena dia mengajakku. Dan aku tidak mungkin menolaknya hanya karena dia mantan kekasihku." Lanjutnya lagi dengan penuh kebohongan. "Hanya itu saja, setelah itu aku dan Reynald pulang kembali ke apartemen."


"Tapi kenapa dia bisa tahu nomor telepon ku?"


Nicholas menggigit bibir bawahnya.


Astaga, apa yang harus ku katakan.


"Ah, itu. Aku juga tidak tahu, mungkin dia mencari tahu informasi mengenai mu karena dari yang aku tahu, dia masih sangat mencintai ku." Nicholas memeluk Natalie. "Mungkin dia iri padamu, sayang. Jadi dia berencana menghancurkan hubungan kita."


Nicholas benar. Dia hanya ingin menghancurkan hubungan ku.


Andai saja wanita itu tidak menutupi wajahnya dengan stiker. Mungkin Natalie akan mengurungkan niatnya untuk mempercayai Nicholas. Karena Jennifer memang patut dicurigai atas tingkah lakunya.


"Sekarang kau percaya kan padaku?" Nicholas memangku kedua pipi Natalie.


"Hmpp," Natalie mengangguk.


"Terimakasih,"


Cup


Satu kecupan kembali mendarat di kening Natalie.


"Ayo kita pulang! aku punya sesuatu untuk mu." Nicholas kembali memperbaiki posisinya, lalu mulai menyalakan kembali mobilnya.


"Sesuatu?" Natalie mengerutkan keningnya.


"Iya, kau pasti suka."


Natalie terlihat menyunggingkan senyumnya.


Mobil kembali melesat, membelah jalanan kota yang sedikit ramai.


***

__ADS_1


Flashback On


"Kembalikan sepatu ku!" Nicholas kecil menangis saat teman-teman sekelasnya kembali berulah.


Nicholas adalah anak yang hidup serba kekurangan. Bisa sekolah dan mengikuti pelajaran seperti anak yang lainnya saja sudah cukup beruntung baginya. Dia tak pernah berkhayal bisa memiliki tas mahal, sepatu bagus juga peralatan sekolah lainnya yang branded. Keinginannya hanya satu. Dia bisa sekolah saja dan itu sudah cukup baginya.


"Sepatu butut kayak gini, masih aja dipake. Hahaha." Ledek teman sekelasnya yang ternyata adalah anak dari salah satu guru di sekolah tersebut.


"Kembalikan!" Nicholas mengejar anak laki-laki itu.


"Hahaha ambilah jika kau mampu." Ejekan itu terdengar jelas di telinga Nicholas, membuatnya terbakar emosi.


Peletak (Suara jitakan kepala)


"Sudah ku bilang, jangan suka mengerjai anak itu." Murid siswi yang di kuncir dua itu mengambil paksa sepatu Nicholas di tangan laki-laki yang kini menangis karena kesakitan.


"Ini milik mu." Murid siswi itu memberikan sepatu Nicholas dengan senyum dan mata berbinar, "tidak usah takut. Ambilah!"


Nicholas menerima sepatunya kembali. Dia menerimanya dengan sangat hati-hati.


"Terimakasih," Ucapnya malu-malu.


"Sama-sama. Lain kali kalau mereka nakal, lawan saja!" Bisik-nya di telinga Nicholas. "Mereka aslinya cengeng kok."


Nicholas hanya tersenyum malu saat siswi itu berada sangat dekat dengannya. Karena sebelumnya tak ada yang mau sebegitu dekatnya dengan dia. Semua memandangnya sebelah mata karena dia hanyalah siswa miskin yang memaksakan untuk tetap bersekolah.


Setelah berbisik tadi, siswi itu langsung pergi begitu saja sebelum Nicholas mengetahui namanya.


Padahal Nicholas berencana berkenalan, tapi balik lagi. Nicholas merasa minder dan tidak percaya diri, hingga akhirnya dia menarik kembali tangannya.


Flashback OFF


"Nic, kamu lagi mikirin apa?" Natalie yang baru saja berganti pakaian menghampiri Nicholas yang berdiri di depan balkon kamar mereka.


"Ah, aku gpp." Nicholas memandangi wajah Natalie, "kau cantik sekali malam ini."


Mendengar pujian dari Nicholas, wajah Natalie seketika merah padam.


"Masa sih?" Dia membalikkan badannya hendak menghindar, namun tangan Nicholas dengan sigapnya menarik pinggang Natalie dan berhasil membuat wajah wanitanya kini berhadapan sangat dekat dengannya.


"Aww," Pekik Natalie saat dia berhasil jatuh ke dalam pelukan laki-lakinya. Nicholas benar-benar membuat jantung Natalie berdegup kencang lebih dari biasanya.


Beberapa detik lamanya mereka saling bertatapan. Natalie sudah mulai mengatur nafasnya.


"Nic," Cicit Natalie yang benar-benar gugup.


"Nat," Nicholas memajukan wajahnya.


Natalie memejamkan matanya.


"Aku suka melihat pipi mu merona seperti ini." Ucap Nicholas seraya melepaskan tangannya dari pinggang Natalie.


Mata Natalie yang semula terpejam langsung terbuka begitu saja. Dia sesegera mungkin menutup pipinya.


"Jangan di tutup!" Nicholas menarik perlahan tangan wanitanya. "Biarkan aku puas menatapnya."


Natalie kembali berdebar saat wajah Nicholas kembali dekat sekali.

__ADS_1


"Sudah, ayo kita jalan!" Tangan Nicholas menarik lengan Natalie.


To be continued


__ADS_2