Husband From Hell (Suami Dari Neraka)

Husband From Hell (Suami Dari Neraka)
Selamat jalan sayang


__ADS_3

**Sebelum baca, like dulu ya!


Happy Reading**.


Natalie terus melangkah sedikit demi sedikit membawa sang Ibu untuk menjauh dari tempat itu. "Ayo, Bu! kita harus cepat pergi."


"Natalie," cicit Nadia. Langkah kaki Natalie berhenti sebentar.


"Kenapa, Bu?" Dia menatap wajah ibunya.


Nadia meraih wajah putrinya. Saat terlihat raut kelelahan dalam wajah putrinya itu, Nadia merasa sangat bersalah. Andai saja Nadia dulu tidak memperlakukan keluarga Nicholas dengan sesuka hatinya, mungkin hari ini tidak akan pernah terjadi pada mereka.


Putrinya itu seharusnya bahagia dengan laki-laki yang sangat dicintainya. "Maafkan, Ibu! ini semua salah ibu ... Ibu yang sudah membuat semua kekacauan ini. Gara-gara Ibu juga kau terseret ke dalam masalah ini."


Setetes air mata mengalir di pipi Natalie. Selama ini dia memang merasa tersiksa dengan hari-harinya. Banyak kejadian yang menimpanya, membuat hatinya hancur dan terluka padahal ia tidak pernah melakukan kesalahan apapun selama ini.


Natalie berusaha menahan air matanya untuk tidak turun lagi agar sang Ibu tidak semakin sedih. "Lupakan itu! kita bicarakan nanti saja. Sekarang kita harus segera pergi dari tempat ini."


Nadia mengangguk, lantas mereka berjalan kembali.


Dorrr


Suara letupan senjata tajam itu berhasil menghentikkan kembali langkah Natalie dan Ibunya. Natalie langsung membalikkan badannya dan melihat apa yang sudah terjadi.


"Arghhh." Kelly memegangi dadanya yang kini sudah berhasil mengeluarkan darah segar itu.


"Mama!" pekik Stelli. Dia langsung merunduk untuk menahan tubuh Ibunya, namun sebelah tangan Reynald langsung menahannya. Musuh belum hilang semua. Pistol itu masih menempel di tangan Bram. Reynald takut jika Bram akan kembali menarik pelatuknya. "Tetap di belakangku!"


"Tapi, Mama?" Stelli menatap wajah Reynald, "dia terluka."


Reynald menggelengkan kepalanya. Ia tetap bersikeras melarang Stelli menjauh darinya.


"Mama...." Melihat Kelly terluka, Nicholas langsung menendang tangan Bram, dan jatuhlah pistol itu. Beberapa orang suruhan Kelly pun langsung memborgol laki-laki pengkhianat itu.


"Lepaskan aku!" pekik Bram.


"Ma, mama." Nicholas berusaha menyadarkan ibu angkatnya. Kelly tersadar, ia tersenyum sambil menahan sakit, menatap wajah anak yang selama ini ia besarkan. "Jangan panggil aku Mama. Aku tidak pantas menjadi orang tuamu."


Nicholas menggelengkan kepalanya. "Jangan bicara seperti itu! kau tetap ibuku. Tanpamu, aku tidak akan pernah ada disini." Nicholas menangis. Terbayang akan masalalunya bersama wanita yang telah menyelamatkan hidupnya dari kesulitan. "Mama harus bertahan! Dokter pasti bisa menyembuhkan Mama!"


Melihat Bram sudah aman, Reynald akhirnya melepaskan tangan Stelli, dia membiarkan anak itu menyentuh ibu kandungnya. Sementara dia segera menghubungi ambulance, berharap agar Kelly masih bisa terselamatkan. Karena bagaimanapun Kelly adalah orang tua kandung Selli.


Sontak saja saat Reynald melepaskannya, Stelli langsung berlari dan memeluk sang ibu yang ada dalam pangkuan Nicholas. "Mama, jangan tinggalkan Selli lagi!" isaknya. "Kita baru saja bertemu, Selli masih sangat rindu."


Perlahan Nicholas melepaskan genggaman Kelly, membiarkan anak dan ibu itu saling menggengam.


"Selli, anakku. Maafin, mama sayang! ... mama udah buat hidup kamu menderita selama ini. Maafkan Mama karena telah membuangmu hanya karena harta, mama menyesal," isak Kelly.


Selli terlihat mengangguk-anggukan kepalanya. Dia terlihat berusaha mungkin agar air matanya tidak banjir. "Selli udah maafin semua kesalahan Mama. Yang penting sekarang Mama harus kuat! kita mulai semuanya dari awal ya, Ma!"


Kelly tersenyum sambil mengusap lembut rambut putrinya. "Kau sangat cantik sekali, Nak! Andai saja waktu mama masih banyak. Mama ingin sekali melihat kau bersanding dengan laki-laki yang kau cintai di hari pernikahanmu."


Selli tak bisa lagi menahan sesak di dadanya. Rindu yang selama ini ia pendam selama puluha tahun itu terancam lagi. Ia takut jika pertemuan pertama setelah sekian lamanya itu akan menjadi pertemuan terakhirnya juga dengan sang ibu.


"Mama jangan bicara seperti itu! Rey sudah menghubungi ambulance, sebentar lagi Mama akan di bawa ke rumah sakit. Mama pasti sembuh."


"Ah, Rey," cicit Kelly. Saat Selli menyebutkan nama Rey, dia teringat sesuatu. Dia masih memiliki dosa pada anak itu. "Rey!" panggil Kelly.


Rey yang semula hanya diam dan berdiri di belakang Stelli itu kemudian menundukkan badannya. Ia kemudian duduk di samping Stelli sambil menatap wajah wanita yang selama ini ingin ia bunuh rasanya. Tapi melihat Kelly dalam keadaan seperti ini, sepertinya Reynald mencabut kembali keinginannya itu. Ia ingin Kelly terselamatkan, dan Selli masih bisa merasakan hangatnya pelukan seorang ibu.


"Rey, aku tahu mungkin ini sedikit terlambat. Tapi aku hanya ingin kau tahu, bahwa aku juga sangat menyesal telah membuat kau kehilangan ayahmu."

__ADS_1


Reynald berusaha menahan kesedihannya saat mengingat bagaimana peristiwa itu terjadi. Ia mengangguk, seolah menjawab bahwa ia memaafkan semua kesalahan Kelly.


"Rey, boleh aku minta sesuatu?"


Reynald kembali mengangguk.


Perlahan Kelly menggenggam tangan Reynlad dan menyatukannya dengan Selli. Melihat perlakuan Ibunya itu, Selli langsung terperanjat kaget.


"Tolong jaga putriku! aku yakin, kau adalah laki-laki baik. Seperti ayahmu, kau adalah lelaki yang sangat setia. Maka dari itu aku mohon, lindungi putriku, karena aku tidak mungkin lagi menjaganya."


Selli dan Reynald saling bertatapan. Meskipun mereka tidak mengerti kenapa Kelly bisa berkata seperti itu, tapi mereka paham apa yang diinginkan wanita itu.


"Saya janji, saya akan melindungi putrimu sampai akhir hayatku," jawab Reynald dengan sangat mantap.


Dalam keadaan sedih seperti ini, entah kenapa hati Selli bahagia sekali saat mendengar kata-kata yang terucap dari bibir laki-laki di sampingnya itu. Reynald terlihat begitu yakin saat berjanji akan menjaganya.


Reynald berjanji akan melindunginya sampai akhir hayat, itu artinya ....


Tak lama Natalie datang. Rupanya saat mendengar suara letupan pistol itu, ia segera melepaskan ibunya duduk di sebuah kursi. Sementara dia berlari ke arah sumber suara itu. Takut kalau yang terkena itu adalah Nicholas, tapi ternyata bukan. Dia sedikit lega, tapi tetap saja dia shock dengan apa yang dilihatnya. Karena ternyata yang terkena peluru itu adalah orangtua Nicholas.


Natalie mematung. Dia ternyata fobia terhadap darah. Dia tidak bisa melihat darah sebanyak itu di hadapannya.


"Natalie." Nicholas langsung membaringkan tubuh Kelly dalam pelukan Reynald, sementara ia segera memeluk wanita itu, membalikkan badannya agar Natalie tak melihat darah itu. "Tidak apa-apa! jangan melihatnya jika kau tidak bisa."


Natalie masih diam. Dia takut, dia benar-benar takut. Tubuhnya gemetar hebat. Tapi dia juga ingin melihat wanita yang Nicholas panggil Mama itu. Meskipun Kelly sudah jahat dan hampir saja membunuhnya, tapi bagaimanapun juga dia adalah wanita yang sudah membesarkan Nicholas dengan cinta. Tanpanya, Nicholas tidak mungkin ada saat ini bersamanya.


"Natalie," cicit Kelly.


Mendengar panggilan itu, Natalie langsung berbalik badan lagi. Tapi dia kembali takut saat melihat darah bergelimang.


"Tidak perlu!" Nicholas menahan tangan Natalie yang hendak melangkah. "Cukup di sini saja!"


Melihat Natalie sungguh-sungguh ingin mendekati Kelly, Nicholas pun melepasnya. Wanita itu kini sudah sangat dekat dengan orang yang selama ini menjadi dalang dibalik peristiwa yang menimpanya.


"Natalie, kemarilah!" panggil Kelly. Natalie pun segera duduk di sampingnya, sambil terus berusaha menahan diri untuk tidak pingsan.


Melihat Natalie mulai banjir keringat, Nicholas langsung dengan sigap duduk di belakang wanitanya. Ia memegang pundak wanitanya agar tidak jatuh.


Kelly meraih tangan Natalie. "Maafkan aku! ... maafkan semua kesalahan yang sudah kuperbuat padamu," ucap Kelly sambil menggenggam tangan Natalie.


Natalie tak bicara. Matanya masih berusaha menghindari warna merah di depannya. Ia hanya mengangguk.


"Terimakasih." Kelly tersenyum lagi. "Sejak awal Nicholas memperlihatkan wajahmu padaku, aku memang yakin kau adalah wanita baik ... tetaplah di samping Nicholas. Dia sebenarnya sangat mencintaimu."


Natallie memutar kepalanya, menatap laki-laki yang dimaksud Kelly, tapi Nicholas malah menundukkan kepalanya. Apa yang dikatakan Kelly memang benar adanya.


"Itu mereka orangnya. Tangkap mereka!!!" Pekik Mark Jhonson yang tak lain dan tak bukan adalah suami dari Kelly. Rupanya dia berhasil diselamatkan oleh supir pribadinya yang kala itu memang sudah mencurigai Kelly akan rencana jahatnya. Beruntung dia adalah mantan pembunuh bayaran, sehingga kemampuannya dibidang melumpuhkan lawan tak bisa diragukan.


Saat kejadian penculikan, supir itu memang tengah membeli minuman untuk tuannya. Tapi saat dia kembali, mobilnya sudah tidak ada lagi di parkiran. Beruntung dia sudah memasang GPS di mobil itu, sehingga ia bisa mengikuti mobil majikannya itu.


Saat sang sopir menjelaskan kejanggalan itu, Mark pun langsung mengecek CCTV di rumahnya. Dan benar saja, Kelly membawa Bram ke rumahnya, dan lebih parahnya mereka bahkan sempat bercumbu. Mark juga bahkan mendengar pembicaraan mereka tentang rencana untuk merebut semua harta Mark.


Rupanya bukan sekali dua kali juga Kelly sering menggelapkan uang perusahaan di beberapa cabang.


Mark benar-benar murka.


Tanpa basa-basi lagi, Mark langsung menghubungi polisi. Ia harus menyeret dua orang itu atas kasus penculikan dan juga kasus penggelapan uang yang selama ini Kelly lakukan di belakang Mark. Beruntung Mark selalu menyadap lokasi Kelly, sehingga ia bisa secepat mungkin menemukan dimana Kelly.


Nihcolas dan yang lainnya langsung menatap ke arah sumber suara. Beberapa polisi datang dengan senjatanya.


"Angkat senjata kalian!"

__ADS_1


Polisi langsung meringkus Bram dan juga orang-orang suruhan Kelly. Beruntung jumlah polisi yang datang lebih banyak dari orang suruhan Kelly, sehingga mereka akhirnya menyerah pasrah saat polisi memborgol tangan mereka.


"Kelly," cicit Mark Jhonson. Dia tidak percaya dengan apa yang dilihatnya. Meskipun ia membawa polisi untuk meringkus istri yang telah berkhianat itu, tapi melihat Kelly sekarat seperti ini, hati suami mana yang tidak terluka.


"Apa yang terjadi denganmu?" tanya Jhonson seraya mendekatkan dirinya.


Kelly tersenyum sambil menuntun mata Jhonson untuk menatap anak di sampingnya.


"Siapa dia?"


"Dia anak kita. Dia Selli, putri kita."


Mark Jhonson menganga tak percaya. Apakah benar wanita cantik itu adalah putrinya?


"Maafkan aku! ... sebenarnya dia tidak hilang. Aku yang sudah membuangnya. Aku membuangnya karena aku kesal pada keluargamu yang selalu menghina anak kita." Kelly mengakui semua perbuatannya, karena merasa waktu hidupnya tak banyak lagi. "Aku hanya ingin Selli hidup tenang meskipun tak bersama kita."


Netra mata Stelli dan Mark saling bertatapan. Mark tidak menyangka bahwa putri yang sangat dirindukannya itu masih hidup. "Apa kau benar putriku?"


Selli mengangguk. Mark benar-benar tak menyangka hari ini akan datang. Hari dimana dia bisa melihat wajah cantik anak gadisnya yang selama ini selalu hadir dalam mimpinya.


"Ini Selli, Pa!" ucap Stelli.


Hati Mark sakit.


Suasana gedung itu penuh haru, tak lama suara ambulance terdengar datang.


"Itu mereka datang. Cepat bawa Mama!" perintah Nicholas. Reynald dan Mark langsung bergegas membangunkan Kelly, tapi sepertinya terlambat. Kelly sudah kehabisan banyak sekali darah. Pandangan matanya sudah mulai berkunang-kunang. Ia tidak bisa lagi berdiri.


"Ma! Mama!" Selli yang melihat mata ibunya tertutup langsung memekik hebat, membuat yang lain tersadar bahwa Kelly sudah kewalahan.


"Mama!" pekik Nicholas. Natalie yang melihatnya ikut sakit.


Perlahan Kelly menggengam tangan Mark. "Terimakasih telah menjadi teman hidupku, dan maafkanlah semua kesalahanku!"


Pluk


Kelly menghembuskan nafas terakhirnya dalam pelukan suaminya.


"Kelly, Kelly bangun!" Mark terus berusaha membangunkannya.


"Ma ... Mama. Bangun!" Selly merintih mencoba membangunkan wanita yang sudah melahirkannya ke dunia itu. "Mama jangan Pergi! jangan tinggalkan Selli!"


Tapi sayang, semua sudah tidak berguna. Kelly tidak akan pernah bangun lagi. Dia sudah pergi untuk selamanya.


"Sudah, ikhlaskan Mamamu pergi!" Reynald memeluk Selli dari belakang, mencoba memberikan ketegaran pada wanita itu, sementara Mark yang sudah pasrah akhirnya mencium wajah wanita yang sudah menemaninya selama puluhan tahun itu. Meskipun pada akhirnya Kelly tak setia, tapi dia tetap jadi wanita terindah dalam hidup Mark.


"Selamat jalan istriku."


Selamat jalan Kelly


Meskipun kejahatan Kelly telah berhasil menghancurkan hidup banyak orang, tapi tetap saja, sejatinya kebenaran akan menunjukkan kekuasaannya.


To be continued


Kepada seluruh Readers Husband From Hell, mohon dimaafkan semua kesalahannya Nyonya Kelly ya! supaya dia tenang di alam sana 🤭


Bagaimana perasaan kalian?


Sedih atau malah jingkrak-jingkrak bahagia?


Tulis komentar kalian di bawah ya!!!

__ADS_1


__ADS_2