Husband From Hell (Suami Dari Neraka)

Husband From Hell (Suami Dari Neraka)
Wanita malang


__ADS_3

"Huh .. huh .. huh .." Suara nafas Nicholas terdengar memburu. Keringat terlihat begitu membanjiri wajahnya.


Nicholas terbangun dari mimpinya, dia menengguk segelas minuman soda lalu melempar sembarangan. Sesak kembali mengisi seluruh dadanya, mengingat kejadian 20 tahun lalu yang selalu membuat tidurnya tak pernah nyenyak.


Flashback On


Saat itu seorang anak laki-laki sedang menangis di sebuah pinggiran sungai sambil membawa dagangan yang sepertinya tidak banyak laku terjual.


Dengan baju yang lusuh, dia menutup wajahnya yang sudah penuh dengan air mata. Sesekali ia menatap makanan di nampan berwarna hijau yang sudah tak layak konsumsi.


"Maafkan aku, Ibu. Aku tidak becus menjual makanan ini. Maafkan aku!" Isak tangisnya begitu pecah terdengar nyaring membuat siapapun yang mendengarnya akan meringis pilu. Melihat seorang anak laki-laki yang masih duduk di bangku kelas 3 SD itu menangis karena jualannya tidak laku.


Dia adalah Nicholas.


Nicholas adalah anak sulung dari dua bersaudara. Ayahnya sudah meninggal karena kecelakaan di sebuah pabrik. Sementara ibunya hanyalah seorang buruh cuci dan sampingannya membuat kue-kue untuk dititipkan di warung-warung dan sisanya dijual Nicholas selepas pulang sekolah.


Adik kecil Nicholas berumur 3 tahun, Lucia, menderita penyakit langka. Dia membutuhkan biaya untuk perawatan. Namun karena keterbatasan ekonomi, Merry, Ibunya Nicholas tak bisa membawa adiknya ke rumah sakit.


Kepergian Ayah Nicholas membuat Nicholas mau tak mau harus membantu ibunya untuk mencari puing-puing rupiah, hanya demi membuat dapur mereka berasap. Merry sangat bangga memiliki anak seperti Nicholas yang mau berusaha membantu ekonomi keluarga. Namun tidak dengan hari ini, Nicholas merasa menjadi anak yang tidak bisa dibanggakan. Pasalnya hampir 90% jualannya tidak laku terjual.


Bahkan yang lebih parahnya lagi, kue-kue itu sudah tidak bisa dikonsumsi karena kotor terkena tanah. Nicholas tak sengaja menumpahkannya saat tertabrak seorang ibu-ibu yang berjalan tergesa-gesa. Dan yang membuat Nicholas sedih, Ibu itu bahkan tidak meminta maaf padanya apalagi mengganti kerugian yang harus ia tanggung karena tak satupun makanan itu bisa ia jual lagi.


Padahal uang dari hasil jualan itu akan dia tabung agar adik kecilnya, Lucia, bisa segera di bawa ke rumah sakit. Kalau seperti ini bukannya bisa ditabung, bahkan untuk modal keesokan hari saja Nicholas tidak tahu harus bicara apa pada Ibunya. Nicholas bukan takut dimarahi. Dia yakin Ibunya itu tidak akan marah. Nicholas hanya takut membuat Ibunya bersedih.


"Ibu, Lucia, maafkan aku!" isak Nya makin menjadi-jadi.


Nicholas kecil menangis sesenggukan di samping sungai sambil menatap bintang-bintang indah di atas langit. Dia berharap ada bintang jatuh dan keajaiban akan membawa keluarganya keluar dari kesedihannya ini.


"Tuhan, apakah kau benar-benar ada? jika iya, tolong bantu kami keluar dari penderitaan ini." Pinta Nicholas kecil seraya mengangkat kedua tangannya, lalu mengusapkan pada wajahnya, berharap dia akan segera mendapatkan keajaiban sepulangnya dia ke rumah.


Namun bukannya keajaiban, dia malah mendapati adiknya Lucia kejang-kejang saat dia baru saja sampai rumah.


"IBU .. IBU," pekik Nicholas mencari keberadaan Ibunya. Namun dia tak menemukannya di manapun.


"Bertahanlah, sayang! kakak akan mencari ibu dulu sebentar." Ucap Nicholas yang sudah penuh dengan air mata.


Dengan langkah gemetar, Nicholas terus berlari ke suatu tempat.


Meskipun Nicholas tidak yakin dan tidak tahu di mana keberadaan ibunya, Nicholas tetap mencari dan berlari, berharap dia segera menemukannya.


"Bu, saya mohon! pinjami saya dulu uang. Saya janji akan segera membayarnya."


Dugaan Nicholas benar. Ibunya itu sedang berada di rumah tetangganya itu.


Tapi tunggu? Nicholas menghentikan langkahnya.Kenapa ibunya bertekuk lutut di hadapan tetangga itu?


"Ckkk, kau sudah banyak berhutang padaku, Merry. Mau dengan apa lagi kau membayarnya? gaji mu saja tiap bulan tidak cukup melunasi hutang-hutang mu yang dulu."


"Saya janji, Bu. Saya janji melunasi secepatnya." Merry makin menundukkan kepalanya. "Tolong saya, Bu. Tolong saya! anak saya harus dibawa secepatnya ke rumah sakit. Kalau tidak ... "


"Kalau tidak kenapa? mati?"


Merry menatap tidak percaya ucapan tetangga sekaligus majikannya itu. Mudah sekali dia mengatakan bahwa anaknya akan mati.


"Kau ingat Merry, urusan kita hanya sebatas babu dan majikan, tidak lebih dari itu. Jangan anggap aku ini mesin ATM mu. Aku bahkan tidak perduli jika anakmu itu mati. Ingat itu!" Ucap wanita paruh baya itu seraya membanting pintunya keras tanpa memperdulikan Merry yang masih berdiri mematung di depan pintu.


Sesak. Itu yang saat ini Nicholas rasakan. Melihat Ibunya diperlakukan begitu tidak manusiawi oleh tetangganya sendiri. Bahkan kini Nicholas ingat, wanita yang sudah memarahi Ibunya barusan adalah orang yang menabrak dagangannya di pasar tadi siang.


Tangan Nicholas mengepal. Matanya memerah. Namun dia kembali teringat adiknya Lucia di rumah. Dia segera berlari mengejar Ibunya yang sedang berjalan diikuti tangisan.


"Bu, Lucia Bu." Pekik Nicholas.


"Nicholas, kau sudah pulang, Nak?"


"Iya, Bu." Jawab Nicholas lemah.


"Bagaimana dagangan mu hari ini? apakah laku semua? berapa uang yang kau bawa? kita harus membawa Lucia secepatnya ke rumah sakit, Nak. Ayo berikan uang mu pada Ibu!" Merry menengadahkan tangannya berniat meminta uang yang ada pada Nicholas.


Namun bukannya memberikan uang hasil jualan, Nicholas malah menangis dan bersujud di kaki Ibunya.


"Maafkan aku, Bu. Maafkan aku." Isak Nicholas membuat Merry merasa cemas.

__ADS_1


"Kenapa, Nak? apa dagangan nya tidak habis semua?"


Nicholas menggelengkan kepalanya.


"Tidak apa-apa. Seadanya saja! cepat ibu perlu, Nak." Merry mengangkat tubuh kecil Nicholas.


Dengan tangan gemetar Nicholas merogoh kantongnya dan mengeluarkan beberapa recehan yang dia dapatkan dari hasil jualannya hari ini.


"Hanya ini?" Tanya Merry dengan bibir gemetar.


Nicholas mengangguk kecewa. Dia kecewa pada dirinya sendiri karena tak bisa menjadi anak yang bisa dibanggakan.


"Maafkan aku, Bu." Ucap Nicholas dengan nada pilu seraya menundukkan wajahnya.


"Tidak apa-apa, Nak. Kau adalah anak ibu yang paling hebat. Lucia pasti sangat bangga memiliki kakak sepertimu." Merry mengusap dan mencium lembut kepala Nicholas. "Ayo cepat! kita harus bawa Lucia ke rumah sakit."


"Tapi bagaimana dengan biayanya, Bu."


Merry terdiam sesaat mendengar pertanyaan itu.


"Ah, kamu tenang saja! ibu baru saja dapat pinjaman dari tetangga yang baik. Sudah ayo cepat kita pulang!" Merry menarik tangan Nicholas paksa. Sejujurnya Merry tidak mau Nicholas memikirkan masalah biaya itu. Biarlah Merry sebagai Ibunya yang harus memikul beban ini sendiri. Sudah cukup Nicholas tersiksa selama ini.


Nicholas hanya menurut pasrah, padahal dia sendiri melihat dengan mata kepalanya bagaimana perlakuan tetangganya barusan. Dia tidak memberikan pinjaman apapun, malah dia mencaci maki Ibunya.


"Kenapa Ibu selalu menutupi kesedihan Ibu?" Cicit Nicholas dalam hatinya. "Aku berjanji suatu saat Nanti Ibu tidak akan kekurangan uang lagi, bahkan uang yang akan terus mengejar-ngejar kita."


Begitulah masalalu Nicholas yang selalu hadir dalam tidurnya. Sampai pada puncaknya dia harus kehilangan adik kecilnya, Lucia, karena terlambat mendapatkan penanganan.


"Luciaaaa .. jangan tinggalkan Ibu, Nak!"


Bayangan itu.


Teriakan Ibunya saat baru sampai di rumah sakit yang mau menerima mereka tanpa biaya administrasi.


Hal itulah yang paling Nicholas tak bisa lupakan sampai saat ini. Saat harus melihat Ibunya menangis tak kuasa merelakan kepergian adiknya.


"Lucia ...."


Flashback off


Nicholas memukul keras tembok apartemennya.


"Arghhhh, sial, sial ... kenapa aku harus terjebak dalam keadaan gila ini. Kenapa harus aku? kenapa?"


Reynald yang semula tertidur di sofa langsung terperanjat dan panik melihat keadaan Nicholas saat ini, apalagi melihat setetes darah mengalir dari tangannya.


"Tuan, tangan tuan!" Ujar Reynald panik.


Nicholas sempat melirik tangannya yang mulai perih. Namun dia kembali acuh dengan lukanya itu, mengingat luka dihatinya lebih dalam dan lebih perih dibandingkan luka di tangan yang tak seberapa itu.


"Tinggalkan aku, Reynald! kau bisa pulang!" Ucap Nicholas seraya merebahkan tubuhnya di atas kasur.


"Tapi, Tuan."


"Pergi, Reynald."


Nada bicara Nicholas lebih tinggi dari biasanya, membuat Reynald akhirnya pasrah meninggalkan Nicholas dalam keadaan tidak baik-baik saja.


Nicholas memejamkan matanya. Rasa sakit di kepalanya kembali hadir. Dia akhirnya memilih masuk ke kamar mandi untuk mengguyur tubuhnya.


Sementara Nicholas membenamkan tubuhnya di atas bath up kamar mandi dengan guyuran shower, di tempat lain juga Natalie melakukan hal yang sama. Hanya saja Natalie tidak memendam tubuhnya dalam bath up. Dia duduk sambil memegangi kedua lututnya. Menangis, hanya itu yang bisa dilakukan Natalie saat ini.


Rasa tak percaya dan kesedihan dalam hatinya sudah tak bisa dibendung lagi.


Laki-laki yang paling ia cintai saat ini telah menampakkan siapa dirinya yang sebenernya. Dia bukan laki-laki yang ia kenal di lift waktu itu.


Dia bukan Nicholas.


---***---***---


Keesokkan paginya, Nicholas kembali ke kantor. Seperti biasa Reynald sudah bersiap siaga di depan mobilnya.

__ADS_1


"Silahkan, Tuan!" ucap Reynald seraya membukakan pintu mobil.


Tak lama kemudian Reynald mulai melajukan mobilnya memecah jalanan kota.


---***---***---


"Eliza, apa kau lihat Natalie?" Tanya Kevin yang sejak tadi tidak menemui wanita yang dikhawatirkannya.


Jam sudah menunjukkan pukul 11 siang. Dan Natalie belum juga datang. Tidak biasanya anak itu datang terlambat. Kalaupun dia tidak bisa masuk, seharusnya dia meminta izin terlebih dulu, terutama pada Kevin sebagai atasannya.


"Tidak. Sejak tadi aku tidak melihatnya ... Sudah coba ku telpon juga tidak diangkat."


Jawaban Eliza makin membuat Kevin khawatir.


"Apa dia baik-baik saja?" gumam Kevin dalam hatinya.


"Vin," Panggil Eliza yang melihat Kevin diam melamun.


"Liz, aku pergi dulu! kalau ada yang nanyain aku, bilang saja aku ada urusan sebentar di luar."


Kevin langsung menyambar jaket dan kunci motornya.


"Vin, kamu mau kemana?" pekik Eliza yang tak dihiraukan Kevin.


"Huftttt .... " Eliza menghembuskan nafasnya gusar.


Brughhh


"Hey! hati-hati kalau jalan!" Pekik Reynald yang kesal karena tertabrak karyawan yang berjalan terburu-buru tanpa melihat ke depan.


"Maafkan aku!"


Tanpa melihat wajah korban, Kevin menundukkan kepalanya dan langsung berlari kembali.


"Kurang ajar sekali anak itu." Gerutu Reynald sambil mengibas-ngibas jas abu-abu terang kesukaannya.


"Kenapa dia seperti terburu-buru sekali? ada apa dengannya?"


Nicholas terus memperhatikan Kevin sampai laki-laki itu pergi mengendarai motor merah Nya.


---***---***---


Sementara Kevin melajukan motornya dengan kecepatan tinggi, seorang wanita tengah menggigil di balik selimutnya. Wajahnya sudah pucat pasi. Tubuhnya terlalu lemah bahkan hanya sekedar mengangkat ponsel yang berdering sejak tadi saja dia tak sanggup.


Seperti yang diketahui, di rumah seluas itu tak ada satupun penghuni selain Natalie dan Nicholas. Sehingga kini tak ada satupun yang mengetahui keadaan Natalie. Sejak semalam setelah mengguyur badannya semalaman suntuk, badan Natalie mendadak panas tinggi karena sejak kecil dia memang tidak bisa lama-lama bersentuhan dengan air. Suhu badannya akan segera tinggi jika terlalu lama bersentuhan dengan air.


"Nat, ayo angkat teleponnya!"


Kevin terus berusaha menghubungi Natalie sepanjang perjalanannya. Namun lagi-lagi usahanya tak membuahkan hasil. Dengan kesal dan penuh kekhawatiran akhirnya Kevin kembali menaikkan kecepatan motornya agar segera sampai tujuan.


Karena merasa suhu tubuhnya makin panas, Natalie berusaha membuka sebagian selimutnya untuk meraih gelas di atas nakas di samping tempat tidurnya, tenggorokannya terasa sangat kering.


Prakkkkkk ...


Natalie malah memecahkan gelas tersebut. Matanya membelalak karena terkejut. Air matanya kembali menetes. Apa yang harus ia lakukan sekarang.


Natalie melihat ponselnya tak jauh berada di samping bekas gelas tadi. Dia harus segera menghubungi Ayahnya, hanya Ayahnya yang tahu benar keadaan putrinya itu.


Awalnya Natalie memang tidak berniat memberitahukan keadaannya karena tak ingin membuat orang tuanya khawatir, namun karena tubuhnya benar-benar lemah tak berdaya, Natalie pikir dia harus memberitahukan ini pada keluarganya. Dia tak mau mati konyol di tempat ini.


Dengan tangan dan tubuh yang gemetar, Natalie berusaha meraih benda pipih itu. Dia harus segera menghubungi Ayahnya.


Namun lagi-lagi usahanya gagal. Bukan ponsel yang diraihnya, dia malah terjatuh dari kasur tersebut, dan sontak saja dia memekik hebat karena tangannya terkena pecahan gelas tadi.


Jlebbb (Pecahan gelas itu menusuk telapak tangan Natalie dan berhasil membuatnya mengeluarkan darah segar)


"Ahhhhhhhhh .... " Natalie menjerit hebat saat merasakan sakit di tangannya.


"NATALIE," pekik seorang laki-laki yang baru saja datang dengan nafas terengah-engah.


Natalie sempat melihat ada laki-laki yang datang dari arah pintu kamarnya, namun dia tidak bisa melihat dengan jelas karena sedetik kemudian pandangannya sudah gelap. Dia tak sadarkan diri dan jatuh tergeletak diantara pecahan gelas kaca.

__ADS_1


__ADS_2