
Setelah menunggu sekitar 30 menit lamanya setelah terakhir kali adiknya, Neva menghubunginya, akhirnya laki-laki itu keluar juga dari kamar mandinya. Dia keluar dengan hanya menggunakan celana pendek dan kaos dalam, serta handuk kecil di tangannya.
"Kau berdiri selama aku mandi?" tanya Nicholas yang berjalan begitu saja melewati Natalie yang masih tegak berdiri.
"Ti_tidak, aku hanya sedang kebetulan saja berdiri di sini." Jawaban bohong dari Natalie. Dia kemudian mengekor di belakang laki-laki itu. Dia berharap Nicholas tidak melupakan janjinya. Janji untuk segera meminjamkan uang untuknya.
"Nic, kau tidak melupakan sesuatu, kan?"
Lagi-lagi Natalie harus membuang jauh-jauh egonya. Merengek seperti anak kecil yang meminta uang pada orangtuanya. Sementara laki-laki yang diminta hanya diam, seolah tak mendengar pertanyaan dari istrinya itu.
"Nic, kau dengar aku?"
"Hmpp, iya." Nicholas membalikkan badannya, "kenapa?"
"Aku tanya, kau tidak lupa kan, kalau kau akan meminjamkan uang untuk keluargaku."
"Oh, tentu tidak. Aku akan meminjamkannya." jawab Nicholas santai. Ia kemudai memilah baju dalam lemarinya, "tapi setelah kita makan malam."
"Hah, makan malam?" Natalie mengerutkan kening dan matanya bersamaan.
Setelah makan malam?
Bukannya tadi dia bilang setelah mandi.
Apa dia sedang mempermainkan aku?
"Tapi, Nic, aku butuh uang itu sekarang."
Masabodo dengan harga diriku. Aku memang sudah tidak punya harga diri lagi dihadapan suamiku sendiri.
Pluk
Nicholas menjatuhkan bajunya begitu saja, membuat Natalie terdiam.
"Kau tahu kan, kalau aku bilang nanti itu artinya apa?" ucap Nicholas seraya mengambil kembali bajunya yang ia jatuhkan. Berjalan ke arah Natalie yang mematung tak berkedip sekalipun, "kuharap telingamu masih normal." Nicholas lantas keluar dari kamar itu sambil memakai pakaiannya, "ayo makan!" ajaknya.
Setetes air mata Natalie tiba-tiba saja menetes kembali.
*Kenapa Nicholas seolah mempermainkanku?
Apa yang sebenarnya ia inginkan*?
Tiga puluh menit sudah berlalu. Natalie dan Nicholas kini tengah makan di ruangan yang berukuran raksasa itu.
"Kenapa kau tidak makan?" tanya Nicholas, "kau mau sakit?"
Natalie menggelengkan kepalanya. Tidak berselera rasanya. Yang ada dipikirkannya saat ini adalah bagaimana keadaan keluarganya. Apa mereka benar-benar di usir dari rumahnya.
Satu menit berlalu, hanya terdengar dentingan sendok dan garpu di tangan Nicholas.
"Urusan keluargamu sudah beres. Jadi cepat selesaikan makanmu!"
__ADS_1
Natalie langsung terkejut. Benarkah apa yang dikatakan Nicholas.
Tapi bagaimana caranya? dia saja belum terlihat melakukan apa-apa.
"Aku sudah meminta Reynald mengurus semuanya." Nicholas kembali membuka suaranya, membuat Natalie akhirnya sedikit percaya. Karena memang Reynald adalah kaki tangannya.
Tanpa pikir panjang lagi, Natalie langsung bergegas pergi dan mengambil ponselnya di kamar. Menghubungi Neva, adiknya.
"Halo, Neva. Bagaimana dengan_"
"Mereka sudah pulang, Kak." Neva memotong ucapan kakaknya.
"Syukurlah," ucap Natalie lega, "lalu bagaimana dengan keadaan Ayah?"
Beberapa detik 'tak ada jawaban dari adiknya, Natalie mulai khawatir.
"Ayah tidak apa-apa sayang." Suara anak yang baru saja menginjak remaja itu kini berganti dengan suara bariton milik ayahnya. Natalie akhirnya bisa bernafas lega setelah mendengar secara langsung suara orang yang sangat dikhawatirkannya.
"Katakan pada suamimu, terimakasih banyak atas bantuannya. Ayah tidak tahu kalau orang suruhan Nicholas tidak datang mungkin_"
"Ah, sudahlah ayah! nanti aku sampaikan padanya. Yang penting sekarang ayah dan keluarga baik-baik saja."
"Iya, kali ini baik-baik saja. Entah besok?" cibir seorang wanita yang tak lain dan tak bukan adalah ibu Natalie sendiri.
"Kau yang memulai semua ini, Nadia!" Rupanya Thomas sudah mulai tersulut emosi karena kelakuan istrinya yang tidak pernah berubah. Ia tetap saja bersikeras merasa bahwa dirinya korban. Padahal Nadia adalah dalang dari semua kekacauan yang terjadi pada keluarganya.
"Oh, jadi kau menyalahkan aku?" sahut Nadia tak mau kalah. Sambil berdecak pinggang, Nadia menyolotkan matanya.
Thomas terdengar menarik nafasnya dalam-dalam, dan berusaha mengambil pasokan oksigen sebanyak mungkin agar akal sehatnya tidak dikuasai amarahnya.
"Maafkan Ayah, Nak!"
"Sudahlah! jangan bertengkar terus, Yah! dalam keadaan sekarang, seharusnya Ayah dan Ibu bisa bekerjasama untuk mencari jalan keluar dari masalah ini. Bukan hanya mementingkan ego masing-masing."
"Kau benar. Maafkan Ayah!" Thomas berkali-kali meminta maaf. Dia akhir-akhir ini mudah tersulut emosi karena keadaan rumah tangganya yang sedang dalam masa kalut.
Tak-tok-tak-tok
Suara langkah kaki seseorang masuk.
"Yasudah, aku tutup dulu ya teleponnya! suamiku datang."
"Ah, baiklah. Jaga dirimu!"
"Baik, Ayah."
Natalie segera menutup teleponnya saat seorang laki-laki datang.
Dia berdiri tepat di depan Natalie. Menatapnya tajam, seolah Natalie telah berbuat kesalahan.
"Kau meninggalkan suamimu saat tengah makan malam, kau pikir itu perbuatan benar?" ucap Nicholas.
__ADS_1
"Ma_maaf, Nic. Aku tadi hanya ingin memastikan keadaan keluargaku saja."
"Kenapa? ... Kan sudah kukatakan kalau Reynald sudah mengurus semuanya! kau tidak percaya padaku? kau pikir aku berbohong, iya?"
Entah kenapa Natalie melihat raut kekecewaan dan emosi yang begitu besar dalam diri Nicholas.
"Aku salah, aku minta maaf." Natalie tertunduk, " aku bukan tidak percaya, aku hanya_"
"Hanya apa?" potong Nicholas. Laki-laki itu berjalan mendekati Natalie. Wajahnya mendekat sampai membuat Natalie memejamkan matanya karena takut, " Kau harus bertanggung jawab atas kesalahanmu malam ini!"
"Hah? mak_maksudmu?"
Nicholas 'tak menjawab pertanyaan Natalie. Dia berjalan begitu saja menuju sofa. Ia duduk sambil merentangkan tangan dan memejamkan matanya.
"Nic, aku hanya pergi sebentar untuk menghubungi keluargaku. Apa yang salah dengan itu?"
Nicholas tetap diam. Dia tak berniat menjawab pertanyaan Natalie.
Kesal, karena Nicholas tak menganggap keberadaannya. Natalie mendengus kesal.
"Oke! kamu mau apa dariku?" ucap Natalie dengan nada yang sedikit meninggi.
Mendengar pertanyaan yang diinginkan, Nicholas membuka matanya. Senyumnya terlihat miring, seperti ada kebahagiaan dalam hatinya.
"Aku mau ini!" Nicholas menengadahkan wajahnya. Seolah menunjukkan lehernya.
Apa maksudnya?
Kenapa dia menunjukkan lehernya padaku?
Natalie bergumam dalam hatinya.
"Mak_maksudmu?"
Natalie tak ingin terlalu pede. Dia ingin memastikan, apakah perkiraannya sesuai dengan keinginan Nicholas yang sebenarnya.
Tak menjawab. Nicholas mengangkat jari telunjuknya dan mengetuk lehernya sebanyak tiga kali. Menjelaskan apa yang dia inginkan.
Sebuah kecupan.
Nicholas ingin Natalie memberikan itu.
Natalie terdiam. Apa maksud permintaan Nicholas ini? Haruskah ia bahagia karena Nicholas mengizinkan Natalie menyentuhnya layaknya seorang istri yang melayani suaminya.
Tapi kenapa Natalie merasa ada yang aneh. Nicholas meminta Natalie melakukan ini saat dirinya sedang tersulut emosi.
*Apa maksudnya?
Kalau dia ingin aku melakukan ini, kenapa harus dengan cara seperti ini?
***
__ADS_1
To be continued*