
Siang hari ini, Kelly meminta supir pribadinya untuk membawanya ke suatu tempat. Tempat dimana dia akan menumpaskan satu dendamnya.
"Kalian tunggu di sini!" ucap Kelly pada sopirnya. Sementara satu orang yang merupakan kaki tangannya ia ajak masuk ke sebuah perkantoran yang tidak begitu besar di pinggiran kota.
Kelly berjalan dengan santainya saat memasuki perkantoran itu.
Beberapa pegawainya saling bertatapan dan saling berbisik, karena melihat penampilan dan gaya berjalan Kelly yang tak biasa.
"Dimana bos kalian? saya ingin bertemu," ucapnya pada receptionist tanpa melakukan kontak langsung dengan receptionist tersebut.
"Sebentar, Nyonya! silahkan menunggu!"
"Aku tidak mau menunggu. Waktuku tidak banyak," ucap Kelly angkuh dengan nada yang terdengar sedikit tidak santai.
Mendengar ucapan itu, receptionist tadi buru-buru mengangkat gagang telepon dan menghubungi pusat tujuannya.
"Pak, ada yang ingin bertemu dengan Bapak," cicitnya pelan, karena takut membuat Kelly emosi lagi. "Sepertinya dia orang yang sangat penting, soalnya dia marah saat saya memintanya menunggu."
"Baik, Pak."
Setelah menutup teleponnya, receptionist itu pun langsung mempersilakan Kelly masuk ke ruangan, dimana bos atau lebih tepatnya keponakan Kelly itu berada.
Iya, itu adalah kantor Jela, salah satu keponakannya.
"Hay, keponakan ku!" sapa Kelly saat membuka pintu. Dia melihat Jela sedang duduk sambil menumpangkan kedua kakinya di atas meja.
"Tan_tante." Jela langsung menurunkan kakinya saat melihat ternyata yang datang adalah Kelly, istri dari pamannya. "Silahkan duduk."
Jela menyapa tantenya itu dengan senyum sumringah. Pasalnya beberapa hari yang lalu, ada yang membeli sahamnya dengan harga fantastis.
Sebenarnya Jela tidak bermaksud menjual sahamnya, tapi melihat ada yang menawarnya dengan harga diluar dugaan, siapa yang tak tergiur. Tanpa kompromi, Jela pun menjualnya.
"Mau minum apa, Tan?" tanya Jela. Kemudian dia menarik gagang telepon, menghubungi bawahannya.
"Tidak perlu. Aku rasa kau tidak perlu melakukannya. Karena kita tidak akan berlama-lama di sini."
"Kenapa, Tan? ... buru-buru sekali?"
Kelly menggelengkan kepalanya, "tidak. Maksud Tante, bukan Tante yang akan keluar dari ruangan ini. Tapi kamu."
Teg
Tangan Jela mulai lemah. Gagang telepon di tangannya saja ia letakkan kembali. Perasannya mulai was-was.
"Apa maksud, Tante?"
Kelly tersenyum miring, kemudian tangannya terangkat, meminta orang bawaan Kelly menghubungi seseorang.
Telepon itu sudah tersambung, nama Tuan Freed tertera di sana, dan Jela dapat membacanya dengan jelas karena Kelly memperlihatkan layar ponselnya pada Jela.
Rupanya Tuan Freed lah orang yang membeli saham perusahaan Jela tersebut.
"Tuan Jela! cepat katakan! saya tidak punya banyak waktu," ucap Kelly.
Jela mulai pucat pasi. Bibirnya gemetar. Dia benar-benar takut.
"Apa yang akan dilakukannya?" batin Jela.
Kelly men-loudspeaker panggilan itu.
"Tuan Jela, mohon maaf, melalui panggilan ini, saya sebagai pemilik saham terbesar perusahaan, memutuskan untuk menurunkan jabatan anda menjadi pegawai biasa. Adapun tugas-tugas yang harus anda kerjakan selanjutnya akan diatur oleh bagian umum. Untuk surat-menyurat, saya sudah menitipkannya pada Nyonya Kelly. Terimakasih."
Kelly menarik kembali telepon yang ia dekatkan pada keponakannya itu.
"Cukup?" tanyanya.
Jela benar-benar tidak percaya Tuan Freed melakukan ini padanya. Dan yang lebih ia tak terima, kenapa Tuan Freed bisa bekerjasama dengan Kelly.
__ADS_1
Jelas ini jebakan, batinnya.
Jela mengeratkan kepalan tangannya. Ia kemudian berdiri dan menggebrak mejanya. "Tuan Freed. Anda tidak bisa melakukan ini pada saya. Saya ini pemilik perusahaan ini. Saya yang sudah meniti perusahaan ini dari awal," Pekik Jela tak terima.
"Saya tahu, tapi apa anda lupa, kalau anda sudah menjual 85% saham anda kepada saya? ... saya harap anda tidak lupa itu. Sudahlah! saya sibuk. Silahkan lanjutkan itu dengan Nyonya Kelly, karena beliaulah yang mulai saat ini saya tunjuk sebagai pengganti anda. Untuk pengesahannya, akan diatur secepatnya."
Panggilan itu kemudian diputuskan oleh Kelly.
"Berikan surat-suratnya!" titah Kelly pada orang bawaannya.
"Ini, Nyonya."
Kelly pun langsung meletakkannya di atas meja Jela.
Mata Jela langsung terbelalak. Ia harap ini mimpi. Ia berharap tantenya itu tidak sungguh-sungguh melakukan ini padanya.
"Bisa segera tinggalkan tempat ini! soalnya saya ingin segera duduk di kursi itu," tunjuk Kelly pada kursi yang ada di belakang Jela.
Jela tak terima. Ini jelas-jelas pengkhianatan.
"Tante! kau benar-benar keterlaluan!"
"JANGAN SEBUT AKU TANTE, AKU BUKAN TANTEMU!" Wajah Kelly berubah murka, suaranya benar-benar tinggi sampai Jela terkejut.
Melihat Kelly murka, rasanya tak ada yang bisa Jela lakukan lagi. Dengan rasa kesal, marah, kecewa, Jela pun keluar dari ruangan itu sambil membanting pintu dengan kasarnya, sementara Kelly kemudian segera duduk di kursi bekas Jela, ia tertawa penuh kepuasan karena berhasil menyingkirkan satu musuhnya.
"Tinggal satu bocah lagi," ucapnya sambil menyunggingkan senyum licik penuh arti.
***
Di tempat berbeda, Natalie mengajak Kevin untuk bertemu di salah satu cafe tak jauh dari kantor Erick.
Natalie sengaja mengajaknya bertemu di siang hari karena Kevin juga belum bekerja sampai saat ini.
"Nat, nunggu lama?" tanya Kevin yang baru saja datang. Dia langsung duduk bersebelahan dengan Natalie.
"Mppp ... sudah pesan makanan?"
"Sudah, mungkin sebentar lagi akan datang."
"Oh, oke."
Seperti yang dikatakan Natalie, tak lama pelayan pun datang membawa beberapa makanan yang dipesan oleh Natalie.
Keduanya pun akhirnya menikmati makanan sebelum masuk ke pembicaraan.
"Nat, bagaimana kabarmu dengan Nicholas?"
Mendengar pertanyaan itu, Natalie spontan menghentikan garpu dan sendok yang sedang beradu di piringnya.
"Mppp ... baik," sahutnya bohong.
"Tidak perlu menutupi semua itu dariku, Nat. Aku sudah tahu semuanya."
Tak ingin membahas itu lebih jauh Natalie pun akhirnya mengalihkan pembicaraan.
"Oiya, tujuanku mengundangmu kesini, Sebenarnya ada yang ingin ku katakan padamu."
Oke, kali ini Kevin harus mengalah lagi. Natalie memang tidak suka ketika orang lain membahas masalah pribadinya dengan Nicholas. Wanita itu terkesan sangat menutupi kejahatan suaminya.
"Apa?"
"Aku mau kau kembali lagi ke perusahaan Jhonson."
Kevin langsung terkejut saat mendapati permintaan itu dari Natalie.
"Aku tidak mungkin kembali ke tempat itu, Nat."
__ADS_1
"Kenapa?"
"Kau kan tahu sendiri, mereka ingin aku mutasi ke luar kota. Sedangkan aku tidak mungkin melakukan itu. Bagaimana dengan Keisha?" Kevin terlihat frustasi jika harus kembali membahas masalah itu.
"Mereka tidak akan pernah lagi memintamu untuk mutasi," ucap Natalie.
"Maksudmu?"
"Aku sendiri yang akan meminta kepada Nicholas untuk membatalkan mutasi mu keluar kota. Jadi, aku mohon kembalilah ke perusahaan itu." Natalie terlihat menunjukkan pengharapan yang sangat besar. "Aku tahu, kau kesulitan mencari kerja bukan?"
Kevin tertegun tak percaya. Kenapa Natalie sampai melakukan hal ini untuknya.
Apa Natalie masih sangat peduli padanya.
Natalie benar, mencari pekerjaan di tengah besarnya persaingan di kota ini memanglah tidak mudah, harus ada relasi yang memungkinkan dan uang yang bisa diandalkan, dengan begitu kerjaan apapun akan mudah kau dapatkan.
"Tidak perlu, Nat. Kau tidak perlu melakukan itu."
"Vin," Natalie memotong pembicaraan Kevin. "Ada seseorang yang menunggumu."
Kali ini raut wajah Natalie terlihat sangat serius. "Eliza sering murung setelah kamu berhenti."
Kevin terdiam. Rupanya Natalie melakukan ini bukan murni karena memperhatikan dirinya, tapi sahabatnya yang bernama Eliza itu yang menjadi alasan utamanya. Natalie masih saja bersikeras menjodohkan Kevin dengan Eliza. Padahal jelas-jelas cinta Kevin hanya untuk Natalie.
"Vin, ayolah! kasihan dia. Sampai kapan kau akan menutup hati untuknya?"
Kevin bergumam dalam hatinya. "Dan sampai kapan kau juga terus menutup hati untukku?"
"Mau ya?" rayu Natalie. Dia berusaha memasang wajahnya dengan sangat lembut, agar Kevin mau mengabulkan permintaannya.
Kevin menimang-nimang kembali permintaan Natalie.
Jika dipikir-pikir, Kevin sampai saat ini memang belum menemukan pekerjaan yang pas untuknya, sedangkan biaya pengobatan dan biaya sekolah Keisha terus harus mengalir seperti biasanya.
"Baiklah, akan ku pikirkan."
Natalie mengembangkan senyumannya, tak sadar ia langsung menghamburkan pelukannya pada Kevin
"Makasih, Vin. Makasih!" ucapnya berulang-ulang karena sangat senang, Kevin akhirnya mau menerima masukannya.
Kevin mengangkat kedua tangannya dan membalas pelukan Natalie. Ini adalah kesempatan baginya untuk merasakan pelukan dari wanita yang selama ini selalu mengusik hari-harinya.
"Aku senang walaupun hanya bisa memelukmu seperti ini," batin Kevin.
Merasa Kevin memeluknya terlalu dalam, sontak saja Natalie pun langsung melepaskan pelukannya. "Ma_maaf," dia meminta maaf dan kembali memperbaiki posisi duduknya.
"I_iya." Kevin pun ikut gugup dibuatnya.
Natalie mengangkat sebelah tangannya, "Ah, sudah jam 1. Aku harus kembali balik ke kantor," ucapnya. "Kalau begitu, nanti aku kabarin lagi ya! pokoknya aku jamin, mereka tidak akan pernah memaksamu untuk mutasi lagi."
Tak ada yang bisa Kevin lakukan selain mengiyakan perkataan Natalie.
Wanita yang satu itu memang selalu membuat daya tarik tersendiri bagi Kevin untuk tidak menolak apapun yang dikatakannya.
Rasanya, Kevin akan melakukan apapun yang bisa membuat Natalie bahagia, termasuk mencoba membuka hatinya untuk Eliza.
"Aku akan melakukannya jika itu membuatmu bahagia," ucap Kevin dalam hatinya seraya melambai-lambaikan tangannya ketika Natalie keluar dari cafe itu.
Saat Kevin memilih keluar juga dari cafe itu, seorang laki-laki bertubuh tegap dan tinggi yang semula duduk di kursi tepat di belakang Kevin, membuntuti kemana Kevin pergi.
Rupanya sejak tadi dia mendengarkan pembicaraan Kevin dan Natalie.
Siapa dia?
Apa yang akan dilakukannya?
To be continued
__ADS_1