
Kevin tengah duduk di dalam kamar sambil merapikan berkas-berkas lamaran pekerjaan. Rencananya besok ia akan mulai melamar pekerjaan di beberapa tempat yang dekat dengan rumahnya.
"Kak, mau aku buatkan teh?" Tiba-tiba Keisha datang dari balik pintu dan mengejutkan Kevin.
"Boleh, kalau kau tidak keberatan."
"Dengan senang hati," sahut Keisha lalu kembali menarik kepalanya, menghilang dan pergi ke dapur.
"Kenapa Kakak tidak pernah pergi ke kantor lagi?" tanya Keisha dalam hatinya. "Apa dia berhenti? ... apa kejadian malam itu yang membuat Kakak berhenti?" Keisha terus bermonolog dengan dirinya sendiri sampai akhirnya ia selesai membuatkan segelas teh hangat untuk menemani kakaknya.
"Terimakasih ya!" ucap Kevin sambil mengelus puncak kepala adiknya.
"Kak, boleh aku tanya sesuatu?"
"Boleh."
"Sudah beberapa hari ini aku tidak melihat Kakak ke kantor. Kakak berhenti kerja?"
Kevin yang semula terlihat ceria itu mendadak murung. Apa yang harus ia katakan pada adik semata wayangnya itu. Bagaimana kalau Keisha tau dia benar-benar berhenti dari pekerjaannya.
"Kau tidak perlu memikirkan itu, Kei. Kau sekolah saja yang rajin ya!" Kevin memeluk Keisha.
"Apa gara-gara malam itu kakak dikeluarkan dari perusahaan itu?"
"Darimana kamu tah"
"Aku sudah tahu semuanya. Aku juga tahu kalau Kak Natalie sudah menikah dengan bos kakak."
"Jadi kau sudah tahu semuanya?"
Keisha mengangguk. "Aku tidak sengaja mendengar pembicaraan orang yang mengikatku. Mereka bilang kalau suami Kak Natalie datang malam itu, dan mereka juga bilang kalau suami Kak Natalie itu bos Kakak."
Rupanya Keisha sudah mengetahui kalau Natalie sudah menikah dengan laki-laki lain yang ternyata bos dari kakaknya sendiri.
"Kak, aku minta maaf ya! gara-gara aku, kakak akhirnya kena imbasnya. Coba aja kalo aku gak maksa kakak ngundang Kak Natalie. Pasti kejadiannya tidak akan seperti ini."
Keisha merasa bersalah. Andai saja dia tahu semuanya sejak awal, mungkin dia tidak akan membuat Kevin keluar dari tempat kerjanya.
"Tidak sayang. Kakak tidak dikeluarkan dari perusahaan itu."
"Terus kenapa kakak 'gak pernah berangkat kerja?" Keisha mendongakkan kepalanya.
"Kakak cuma ingin cari suasana baru. Sumpek di sana," bohongnya.
"Sungguh?"
__ADS_1
"Iya."
Keisha pun hanya tersenyum simpul dalam pelukan Kevin, meskipun sejujurnya Keisha belum terlalu yakin dengan jawaban Kevin, tapi setidaknya dia merasa tenang karena sudah meminta maaf.
"Kak, makasih ya!"
"Untuk apa?" tanya Kevin sambil mengelus-elus puncak kepala adik wanitanya itu.
"Karena selama ini kakak sudah menjadi Kakak, Ayah sekaligus Ibu untukku."
Tiba-tiba suasana mendadak hening. Ucapan Keisha benar-benar membuat hati Kevin terenyuh. Perjuangan dia untuk membesarkan Keisha sampai di titik ini memang sudah melewati banyak sekali rintangan. Kevin yang hanya seorang diri, dan sebagai seorang laki-laki, harus belajar bagaimana caranya merawat seorang adik wanitanya. Tetutama Keisha membutuhkan perhatian yang khusus.
Mata Kevin mulai menggenang. "Jangan bicara seperti itu! karena ini sudah menjadi tanggung jawab Kakak sebagai saudaramu sayang."
Keisha menggeleng-gelengkan kepalanya. "Tapi Keisha merasa benar-benar sangat beruntung sekali bisa memiliki Kakak seperti Kak Kevin. Kakak selalu berusaha memberikan yang terbaik untukku, dan Kakak juga tidak pernah melihatkan sedikitpun kesedihan Kakak padakku."
"Kewajibanmu hanyalah sekolah yang rajin, supaya kelak kau bisa membanggakan ayah dan ibu di surga. Jangan memikirkan Kakak, karena Kakak bisa urus sendiri keperluan Kakak."
Keisha benar-benar bahagia dan bangga bisa terlahir menjadi adik dari seorang Kevin. Semua itu terpancar dari bola matanya. Kevin adalah seorang anak laki-laki yang sangat bertanggungjawab pada keluarganya.
"Keisha sayang Kakak," ucap Keisha seraya memeluk erat Kevin.
"Kakak juga," balas Kevin sambil mengeratkan pelukannya pada Keisha.
***
Flashback
"Nat, jangan pernah pergi dariku! ... jangan lakukan hal bodoh seperti wanita di film itu. Karena aku tidak akan pernah sanggup hidup tanpa kamu."
Natalie menganga tak pecaya. Apakah kata-kata barusan ini benar pada kenytaannya, atau Nicholas hanya sedang membodohinya seperti dulu.
Natalie buru-buru menarik tangannya. Erick yang tersadar dari ponselnya melirik ke sebelahnya. "Kenapa, Nat?"
"Gpp," sahut Natalie, sementara Nicholas hanya menundukkan kepalanya sambil menatap telapak tangannya yang dicampakkan itu.
"Aku tahu, kau pasti tidak akan pernah lagi percaya padakui,Nat!" gumam Nicholas dalam hatinya.
Flashback OFF
Natalie menatap sayu pada wajah yang kini tengah fokus memainkan ponsel di sampingnya. Mereka sudah kembali pulang ke rumah setelah selesai menyaksikan film. Tanpa makan malam seperti yang sudah Erick bayangkan, Nicholas langsung memaksa Natalie pulang dengan alasan Erick tak punya hak mengajak makan malam sekretarisnya di luar jam kerja.
"Apakah dia benar-benar takut kehilanganku?" batin Natalie.
Natalie buru-buru mengalihkan pandangannya saat Nicholas menyadari bahwa dia sedang diperhatikan.
__ADS_1
Melihat Natalie sudah menutup matanya, Nicholas pun kembali mengalihkan wajahnya pada layar gadget di depannya. Dia sedang membaca sebuah laporan yang dikirimkan karyawannya lewat email tentang beberapa peningkatan saham di beberapa cabang perusahaannya.
Beberapa menit kemudian, perlahan Natalie membuka matanya. Ada pertanyaan yang selama ini ingin ia tanyakan. Mengenai keadaan ibunya, bagaimana Nicholas memperlakukan ibunya selama ini? apa dia baik-baik saja.
"Bagaimana kabar ibuku?" tanya Natalie.
Nicholas menghentikan gerakan jarinya yang sedang berselancar di atas layar ponselnya "Dia baik-baik saja. Tidak perlu khawatir!"
Setelah menjawab pertanyaan itu, Nicholas pun melanjutkan aktivitasnya.
Mendengar jawaban dari Nicholas, rasanya Natalie lega, meskipun sebenarnya tidak ada yang baik-baik saja saat mengetahui ibunya sedang dalam sekapan laki-laki yang memiliki dendam pada keluarganya.
"Aku ingin bertemu dengannya."
Teg
Nicholas langsung melirik tajam ke arah Natalie. "Tidak bisa. Dia tidak bisa ditemui mendadak."
"Kenapa tidak?"
Nicholas kembali menatap layar ponselnya.
"Nicho!!! jawab aku! kenapa aku tidak bisa menemui ibuku? ... memangnya dimana kau menyembunyikan ibuku?"
"Di tempat yang jauh," sahut Nicholas asal.
"Ckkk," Natalie mendecak kesal. "Iya, dimana? seberapa jauh memangnya? di benua yang berbeda? ... tidak kan?"
Membahas masalah Nadia, mendadak membuat Nicholas tidak konsentrasi dengan kegiatannya. Ia buru-buru menarik selimut dan menutup layar ponselnya, menyimpan benda pipih itu di atas nakas, kemudian menyalakan lampu tidurnya dan mematikan lampu utama. "Bahas itu lain kali saja! aku ngantuk."
Natalie benar-benar kesal. Bisa-bisanya Nicholas mendadak bilang ngantuk saat ditanya tentang kabar ibunya, padahal dari tadi Natalie tak melihat sedikitpun tanda-tanda Nicholas mengantuk.
"Aku tau kamu tidak benar-benar tidur," ucap Natalie. "Ingat, Nic! kalau sampai kau melukai ibuku, aku tidak akan segan-segan melaporkanmu atas tindakan penganiayaan."
Nicholas membuka mata dibalik selimutnya, dia mendengarkan apa yang Natalie bicarakan tapi tak berniat menjawabnya.
"Jika dengan menyakitiku itu bisa membantu mengurangi rasa dendammu, maka lakukanlah sesuka hatimu, aku siap menanggungnya!"
Nicholas tertegun mendengar pernyataan wanita yang ia acuhkan di sampingnya. Andai Natalie tahu, sejujurnya Nicholas tidak pernah rela melihat Natalie terluka. Keegoisan dan kebutaan mata hatinya lah yang sudah membuat hawa nafsu selalu menang dalam menahan emosinya.
"Tapi aku mohon! jangan pernah melukai keluargaku. Cukuplah aku yang menjadi pelampiasanmu." Natalie berusaha menahan sesak di dadanya. "Aku ikhlas menanggung semuanya, hikss." Natalie menangis setelah mengucapkan kata-kata itu. Ia sendiri sejujurnya tidak yakin akan kata-kata yang baru ia ucapkan. Tapi hanya itu yang bisa ia lakukan untuk melindungi keluarganya. ia sangat mencintai keluarganya melebihi apapun yang ia miliki saat ini.
Begitulah nyatanya cinta kasih seorang anak pada orangtuanya, meskipun seorang anak kadang sering melukai perasaan orang tua karena lisannya, namun nyatanya seorang anak takkan rela melihat orangtuanya terluka.
__ADS_1
To be continued