Husband From Hell (Suami Dari Neraka)

Husband From Hell (Suami Dari Neraka)
Malaikat tak bersayap


__ADS_3

Cuap-cuap author


Sebelumnya maaf karena baru bisa Up. Mau cerita sedikit, hape ku lagi rusak. Tiba-tiba mati sendiri, jadi aku tidak bisa menulis di hape untuk sementara waktu. Jadi, maklum ya kalo Up nya lama. Maklumin, oke! udah itu aja yah. Happy reading di part-part terakhir Husband From Hell.


Happy Reading


***


Pagi hari


Pukul 08.00


Di tempat dan ruang yang berbeda.


Natalie masih memejamkan matanya akibat kelelahan. Perjalanan yang menyita waktu hampir lima jam itu membuat Natalie sedikit mabuk perjalanan. Maklum, baru kali ini Natalie melakukan perjalanan sejauh ini.


Sementara Nicholas yang sudah terbiasa dengan perjalanan jarak jauh itu nampak biasa saja. Dia sudah terbangun karena jam juga memang sudah menunjukkan waktu yang tidak terlalu pagi juga.


"Nic, kamu sudah bangun?" tanya Natalie setengah sadar saat merasakan usapan lembut di rambutnya. Wanita itu kemudian membaringkan tubuhnya di atas pelukan suaminya. "Maaf ya, aku belum buatin sarapan buat kamu."


"Mppp," sahut Nicholas. "Kalau masih ngantuk lebih baik kamu lanjutkan saja tidurnya!"


Natalie menggelengkan kepalanya. "Tidak. Aku hanya sedikit mabuk perjalanan. Maafkan aku!"


Nicholas lantas memeluknya. "Tidak perlu meminta maaf untuk sesuatu yang tidak perlu penting," ucap suara berat Nicholas. "Masalah makanan kita bisa pesan."


"Oiya, jam berapa rencana jadwal bertemu dengan dokternya?" tanya Natalie sambil mengucek-ucek matanya.


"Jam 10.00, siang ini."


Natalie melepaskan diri dari pelukan suaminya. "Biar kusiapkan air hangat dulu untukmu mandi ... setelah itu kita cari tempat makan terdekat supaya kamu sarapan dulu sebelum kita berangkat ke dokter."

__ADS_1


Tak ada jawaban, Nicholas hanya membalasnya dengan senyuman. Rasa bahagia sekaligus syukur yang luar biasa besarnya karena memiliki seorang istri seperti Natalie, yang bukan hanya cantik fisik, tapi hatinya juga sangat sempurna indahnya. Nicholas benar-benar merasa jadi laki-laki paling beruntung di dunia ini karena diberikan kesempatan bisa menjadi sosok yang disayangi wanita seperti Natalie, meskipun ia tahu ini hanya sementara.


***


Setelah menikmati sarapan di salah satu restaurant yang tak jauh dari tempat tinggal baru keduanya, mereka pun segera bergegas bertemu dengan dokter spesialis seperti yang sudah dijadwalkan.


"Besar juga ya rumah sakitnya," ucap Natalie takjub saat baru saja sampai di rumah sakit itu.


"Mppp." Nicholas lantas menggandeng tangan wanitanya ketika pintu lift nya terbuka. "Temanku bilang, ini adalah rumah sakit dengan fasilitas paling lengkap."


"Oiya?" Natalie mendongakkan kepalanya agar selaras dengan Nicholas. "Kalau begitu, kemungkinan kamu sembuh semakin besar dong." Terlihat raut wajah penuh pengharapan sekaligus kebahagiaan dalam wajah Natalie. Dia benar-benar sangat berharap rumah sakit besar ini bisa memberikan harapan besar pula untuk kesembuhan suaminya. "Ah, aku jadi tidak sabar bertemu dengan dokternya."


Namun berbeda dengan Nicholas. Saat mendengar harapan besar dari istrinya itu, Nicholas malah merasakan kesedihan yang tiba-tiba datang tanpa direncanakan itu. Nicholas tiba-tiba takut untuk bertemu dengan dokternya.


"Kita pulang saja ya! ketemu dokternya nanti aja." Nicholas menarik tangan Natalie dan melenggang pergi saat pintu lift terbuka.


"Loh, Nic. Kita mau kemana? bukannya ruangan dokternya di sana."


"Nic,"


Masih tak ada jawaban.


Natalie langsung menarik sekaligus lengannya, melepaskan genggaman Nicholas tanpa aba-aba. "Kamu apa-apaan sih?" protesnya.


Langkah Nicholas terhenti ketika lengan yang ia genggam terlepas, tapi dia belum membalikkan badannya.


"Kamu kenapa sih?" tanya Natalie lagi. Perasaannya tiba-tiba berubah menjadi takut lagi setelah melihat perubahan sikap suaminya itu. Baru saja dia merasa Tuhan memberikan harapan setelah mendengar bahwa rumah sakit besar ini memiliki fasilitas yang baik, kini harapannya itu seakan dijatuhkan kembali karena sikap Nicholas membuatnya curiga. "Kenapa mendadak kamu membatalkan pertemuan ini?" Bulir air matanya yang lemah itu akhirnya jatuh lagi. "Bukankah sejak awal kamu begitu semangat untuk datang ke sini?"


Nicholas bungkam. Apa yang harus ia jelaskan? ini terlalu rumit.


Dulu, ia memang sangat ingin datang ke tempat ini untuk mengobati penyakitnya. Tapi semuanya berubah setelah ia tahu bahwa penyakit yang ia derita adalah penyakit buatan orang yang dendam terhadapnya. Dan sebelum kejadian Reynald sekarat kala itu pasca menolongnya.

__ADS_1


Sekarang keadaannya sudah berbeda. Nicholas bukan takut mendengar kenyataan bahwa hidupnya tidak akan lama lagi, dia hanya takut melukai hati Natalie.


Nicholas takut jika Natalie sedih mendengar kenyataan ini. Dia tak mau membuat hati wanitanya itu kembali terluka. Sudah cukup selama ini derita istrinya itu karena sikapnya. Dia hanya ingin melihat Natalie bahagia. Kenapa rasanya sulit sekali?


Andai saja Nicholas bisa menukarnya. Apapun akan ia lakukan, agar dia bisa melihat wanitanya bahagia. Karena sakit rasanya ketika kita gagal memberikan yang terbaik untuk orang yang kita cintai karena keterbatasan yang kita miliki.


"Maafkan aku!" ucap Nicholas. Laki-laki itu lantas membalikkan badannya, menunduk dan memasang wajah penuh rasa bersalahnya. "Aku salah."


"Katakan padaku! kenapa kau tiba-tiba ingin membatalkan ini?" Mata Natalie sudah merah, menahan sesak sekaligus ketakutannya.


Lagi-lagi Nicholas tak bisa menjawabnya. Pertanyaan ini tidak membutuhkan jawaban bagi Nicholas.


"Kenapa? ... kamu takut?" cecar Natalie. "Kamu takut jika hasilnya nanti buruk? kamu takut jika dokter itu menyerah sebelum berusaha? kamu takut mereka bilang waktumu tidak banyak lagi? iya?" Tubuh Natalie mulai lemah saat menahan sesak di dadanya. Ini sangat menyakitkan.


Setetes air mata tiba-tiba luruh dari pelupuk mata Nicholas. Sepertinya ketakutan Nicholas sudah tiba pada puncaknya. Dia benci menghadapi kenyataan pahit ini.


"Kalau kamu takut, terus kau pikir aku tidak?" Kali ini air mata Natalie menetes lebih deras. "Kau pikir semalaman tadi aku tidur nyenyak, hah? kau pikir tadi sarapanku enak? kau pikir aku ..."


Nicholas langsung memeluk Natalie erat ketika melihat wanitanya terisak-isak menahan tangisnya.


"Kau pikir ..." Ucapan Natalie terjeda karena sesak di dadanya. "Kau pikir aku tidak takut dengan hasilnya nanti. Aku jauh jauh lebih takut, Nic. Bahkan jika boleh aku menukarnya. Biarlah saja aku yang ada di posisimu saat ini. Supaya aku tidak terlalu merasakan takut sehebat ini."


"Maafkan aku! jangan menangis lagi, Nat! Kumohon. Aku salah, aku minta maaf."


"Aku juga ingin lari, Nic. Aku juga ingin pergi dari kenyataan ini." Natalie berusaha menahan tangisannya. "Tapi hatiku terlalu rapuh untuk meninggalkanmu berjuang sendirian di sini. Aku tidak bisa." Hati Natalie benar-benar sudah rapuh. "Kumohon! jangan pernah menghindar. Aku yakin kita pasti bisa melewati ini bersama. Kau pasti sembuh, Nic. Kau pasti sembuh."


Nicholas merasa sangat bersalah karena telah melukai perasaan wanitanya lagi. "Iya, sayang, Iya. Aku tidak akan menghindar lagi, aku janji." Nicholas melepas pelukannya. Ia memangku wajah Natalie. "Udah ya! jangan nangis lagi." Lantas ia mengusap air mata Natalie dengan ibu jarinya. "Maafkan aku!"


Natalie mengangguk lantas kembali menghamburkan pelukannya. "Apapun yang terjadi nanti, aku akan selalu ada di samping kamu. Jadi, jangan takut lagi ya!"


"Iya, sayang. Aku tidak akan takut lagi karena aku punya malaikat tak bersayap yang selalu menemaniku."

__ADS_1


To be continued


__ADS_2