
Satu bulan sudah Nicholas terbaring lemah. Dan selama itu pula dia tak pernah lagi membuka matanya.
dokter sudah melakukan yang terbaik, tapi tetap saja kuasa Tuhan jauh lebih berkuasa di atas segala-galanya.
Di rumah sakit itu hanya tinggal Reynald yang setia menemani Natalie, karena Tuan Jhonson harus kembali untuk mengurus perusahaannya, karena kini Reynald sang direktur utama harus menemani Natalie di sana. Mau tidak mau, karena hanya Reynald yang bisa diandalkan.
Alhasil, untuk sementara urusan perusahaan di pimpin oleh Selly dalam pengawasan Tuan Jhonson tentunya.
Sementara Merry yang beberapa hari ini kesehatannya semakin menurun juga terpaksa di bawa pulang untuk mendapatkan perawatan. Untung saja Selly sangat perhatian, sehingga mau menjaga ibu dari Nicholas itu sepenuh hati seperti orang tuanya sendiri.
***
Pagi hari, rutinitas yang akan dilakukan dokter adalah memberikan obat untuk Nicholas.
"Nat, apa kau baik-baik saja?" tanya Reynald saat melihat air mata mengalir di pipi Natalie.
Bagaimana tidak, untuk kesekian kalinya Natalie akan menyaksikan bagaimana suaminya, Nicholas akan menjalani serangkaian perawatan yang menyakitkan menurutnya.
"Aku ... aku baik-baik saja," jawab Natalie bohong.
"Kalau kau tidak sanggup melihatnya, lebih baik jangan!"
Reynald benar, seharusnya Natalie tidak perlu melihatnya karena itu hanya akan menyakitinya. Tapi sepertinya Natalie tak peduli. Dia akan tetap berdiri di sana, melihat dari kejauhan bagaimana suaminya berusaha berjuang untuknya.
"Tidak, Rey. Aku akan tetap di sini."
"Baiklah." Reynald menunduk pasrah. Tak ada pilihan. Natalie memang keras kepala jika untuk urusan suaminya.
dokter dan beberapa perawat sudah bersiap dengan peralatannya. Mereka akan memberikan rangsangan yang rutin diberikan pada tubuh Nicholas agar laki-laki itu bisa bertahan hidup.
Tapi cara yang dilakukan itu rupanya tidak mudah. dokter itu akan memberikan rangsangan lewat alat semacam alat pacu jantung atau defribrilator yang diberikan gelombang elektromagnetik yang kemudian akan ditransfer menuju jantung Nicholas, dan jelas saja itu membuat hati Natalie terluka saat melihatnya, karena tubuh Nicholas seketika akan mengejang saat bersentuhan dengan alat itu.
Sungguh sangat menyayat hati, apalagi Natalie harus melihatnya setiap hari dengan mata kepalanya sendiri.
"Satu, dua, tiga," ucap sang dokter.
Bugh
Tubuh Nicholas langsung terangkat saat alat itu menyentuh dada telanjangnya.
Dan saat itu pula hati Natalie terasa tersayat-sayat.
"Satu, dua, tiga."
Bugh
Lagi dan lagi, proses itu dilakukan sampai dirasa cukup oleh dokter. Dan selama itu pula Natalie merasakan sakit di sekujur tubuhnya seketika karena melihat suaminya tersiksa seperti ini.
__ADS_1
Sejujurnya Natalie ingin menyudahi ini semua, tapi kalau ia menyudahi ini semua itu artinya dia sama saja membiarkan Nicholas benar-benar pergi untuk selamanya. Sementara Natalie masih berharap suaminya itu akan kembali untuknya meskipun harus melalui cara yang menyakitkan ini.
"Nat, sudah! ayo!" ajak Reynald. "Kau juga harus memikirkan anak yang ada dalam kandunganmu. Kalau kau terus seperti ini, aku khawatir sesuatu yang buruk terjadi pada anakmu."
Natalie duduk di kursi sambil tertunduk. Rupanya dia sedang berusaha menahan sesak dan air matanya. "Sampai kapan Nicholas akan menderita seperti ini, Rey? ... sampai kapan?" tiba-tiba suaranya terdengar serak, dan Reynald yakin Natalie sedang menangis. Karena sejak tadi Natalie tak mau mengangkat wajahnya.
"Nat, aku mengerti perasaanmu." Tiba-tiba Reynald merangkul tubuh Natalie. "Menangis lah jika itu bisa membuatmu sedikit lebih tenang."
Natalie pun menangis dalam pelukan Reynald, kesedihan yang selama ini ia alami itu akhirnya tumpah dalam pelukan Reynald.
"Aku tidak mau Nicholas pergi, tapi aku juga tidak mau melihat dia tersiksa seperti ini, Rey. Lantas apa yang harus aku lakukan?" isaknya. "Apa, Rey, apa?"
Reynald diam. Dia juga tidak tahu apa yang harus dilakukan. Karena jalan satu-satunya ya memang hanya seperti ini.
Kalau perawatan ini dihentikan, itu sama saja mengikhlaskan Nicholas detik itu juga untuk selamanya.
Lama menangis dalam pelukan Reynald, akhirnya Natalie membuat keputusan.
"Rey, aku ..."
"Kenapa, Nat?"
Wajah Natalie terlihat bingung. Dia sendiri tidak yakin akan keputusannya.
Tapi sepertinya dia harus melakukan ini. Ini yang terbaik untuk Nicholas.
"APA???"
Reynald memekik tak percaya.
Kenapa tiba-tiba Natalie memutuskan hal ini.
"Nat, tapi kan usia kandunganmu belum waktunya untuk melahirkan."
"Tidak apa-apa, Rey. Anakku sudah delapan bulan. Kurasa ini cukup kuat untuk dia lahir ke dunia."
"Tidak, Nat. Masalahnya bukan hanya itu saja, kita kan sudah pernah membahas ini sebelumnya," ucap Reynald. "Kau ingat? dokter bilang, mereka tidak akan melakukan tindakan Caesar padamu sebelum bayi yang ada dalam kandunganmu sendiri yang memintanya."
Rupanya kandungan Natalie tergolong kandungan yang lemah dan sedikit lama dalam tumbuh dan berkembang. Oleh sebab itu dokter tidak menyarankan tindakan operasi Caesar sebelum waktunya pas, atau minimal sampai menginjak sembilan bulan, usia normal pada umumnya.
Lagipula bagaimana kandungan Natalie tidak lemah, jika setiap hari Natalie selalu sedih dan frustasi memikirkan suaminya yang sedang berjuang melawan mautnya, jelas saja ini akan berpengaruh pada kesehatan janinnya.
"Tapi, Rey. Aku tidak sanggup jika harus melihat Nicholas seperti ini setiap hari. Dia pasti berjuang sejauh ini karena anaknya yang ada dalam kandunganku."
Natalie kembali terisak. Sambil mengusap perutnya yang buncit, ia membayangkan betapa malangnya nasib anaknya itu jika dikemudian hari dia tahu bahwa ayahnya sudah tidak ada di dunia lagi.
"Tolong aku, Rey. Tolong aku! ... siapa lagi yang akan membantuku kalau bukan kamu."
__ADS_1
Natalie kembali menatap perutnya. "Tolong katakan pada dokter, bahwa aku bisa. Katakan pada mereka, bahwa aku dan anakku sanggup."
Melihat Natalie tak berhenti menangis, Reynald merasa bersalah karena tak bisa melakukan apa-apa untuk wanita yang dititipkan Nicholas padanya itu.
"Aku mohon, Rey. Aku mohon!"
Ini bukan yang pertama kalinya Natalie memohon untuk melakukan operasi Caesar pada dokter, dan dia yakin kalau Reynald pun sama seperti dokter. Reynald tidak mungkin menaruhkan nyawa anak dan ibu itu.
"Nat," panggil Reynald lirih, "jika ini yang terbaik untuk Nicholas, aku akan mendukung apapun keputusanmu."
Natalie mengangkat wajahnya, seolah mendapat dukungan dari Reynald.
"Aku akan berusaha meyakinkan dokter untuk melakukan operasi Caesar secepatnya. Tapi tidak hari ini, Nat. Karena aku ingin dokter mempersiapkan segala kemungkinan yang terjadi. Aku tidak ingin sesuatu hal yang buruk terjadi padamu dan juga anak yang ada dalam kandunganmu."
"Rey, apa kau sungguh-sungguh?"
"Mppp, aku akan membantumu untuk membujuk dokter."
"Terimakasih, Rey. Terimakasih!" Natalie memeluk Reynald kembali. "Terimakasih, karena kau sudah mengerti aku."
Tak ada Jawaban, Reynald hanya tersenyum membalas pelukan Natalie, sementara dalam hatinya ia menangis karena tak menyangka jika nasib orang yang dia sayangi itu harus se-tragis ini.
***
Reynald pamit untuk mandi dan mengganti pakaian, sementara Natalie masuk ke dalam ruangan dimana Nicholas berada.
Ia berjalan dengan langkah lemah, tak tentu arah. Ia kemudian duduk di samping Nicholas sambil memegangi tangan suaminya yang kini sudah tak nampak begitu kekar lagi. Setelah satu bulan lamanya ia terbaring tak berdaya di tempat tidur itu, rasanya tak terhitung lagi berapa banyak berat badan Nicholas yang menyusut.
"Sayang, aku datang," ucap Natalie sambil menggenggam tangannya. "Do'akan aku dan Reynald agar bisa membujuk dokter untuk segera melakukan operasi ya, Sayang."
"Do'akan aku juga agar aku dan anak kita bisa melewati ini semua. Supaya anak kita lahir dengan selamat dan sehat tanpa kurang suatu apapun."
"Dan setelah itu, kau bisa pergi dengan tenang, suamiku."
Air mata Natalie menetes lagi. "Meskipun sejujurnya aku tak sanggup kehilanganmu, tapi aku lebih tak sanggup lagi jika melihatmu tersiksa setiap hari seperti ini."
Natalie terisak lagi dan lagi. Andai saja saat ini ada yang bisa melihat bagaimana bentuk hatinya, mungkin sudah remuk tak berwujud lagi. Karena saking begitu terlukanya ia menerima kenyataan pahit ini.
Drtt ... drtt ...
Ponselnya berdering.
Pesan dari Reynald.
Reynald : Bersiaplah! dua hari lagi operasinya akan dilakukan.
To be continued
__ADS_1