
Sejatinya, tak pernah ada matahari yang terbit tanpa malam yang gelap.
Tak ada pelangi yang tercipta tanpa hujan yang melanda.
Begitupula cinta. Natalie yakin, dia akan menemukan kebahagian sejatinya bila ia mampu melewati semua rintangan yang ada.
"Sabarlah! bukankah cinta tak pernah lupa jalan untuk pulang." Natalie terus berusaha menyemangati dirinya sendiri di depan cermin kamar mandi kantor. Iya, sejak kepergiannya dari Nicholas tadi, dia memang belum masuk ke kantor. Dia terlebih dulu membenahi penampilannya agar tidak terlihat begitu kacau dan membuat banyak orang berpikiran buruk tentang dia dengan Nicholas. "Sudah cukup! waktunya bekerja!" ucap Natalie seraya keluar dari kamar mandi.
"Eh, Liz."
Tak sengaja Natalie berpapasan dengan Eliza yang melintas. "Kamu kenapa?" Natalie melihat wajah Eliza lebih pucat dari biasanya. "Kamu sakit?" Natalie memgangi pundak Eliza dengan sedikit cemas.
"Aku gpp, kok," sahut Eliza seraya menurunkan tangan Natalie dari bahunya. "Aku cuma belum sarapan, jadi maag ku kambuh."
"Astaga, kok bisa? ... yaudah yuk aku temenin kamu sarapan dulu."
"Tapi kan ini jam kerja?"
"Gpp, kamu lupa siapa aku?" Natalie menatap wajah Eliza penuh kekhawatiran. "Kali ini aku akan pergunakan statusku sebagai istri dari seorang Nicholas. Jadi gak perlu khawatir. Ayo!"
Eliza pun mengangguk dan ikut dengan Natalie menuju kantin kantor itu.
"Makanya kalo punya penyakit maag itu jangan pernah lupa sama yang namanya sarapan, Liz!" Omel Natalie kesal, karena sahabatnya itu selalu saja melupakan hal yang satu itu.
"Iya, tadi pagi aku buru-buru soalnya."
"Kamu kesiangan lagi?"
Eliza menunjukkan gigi rapihnya. "Semalem final ending Crash Landing On You soalnya, jadi aku nungguin sampe jam 01 malam sampai ada yang nge-share subtitle'nya."
__ADS_1
Natalie mendelik malas. Selalu saja drakor yang membuat Eliza lupa akan waktu istirahatnya. "Lain kali jangan seperti itu, Liz. Kesehatan kamu jauh lebih penting loh. Emangnya Kapten Ri kebanggan kamu itu mau peduli kalo sampe kamu masuk rumah sakit. Emangnya dia bakal dateng dan bantu kamu kalau sampe kamu pingsan," cerocos Natalie.
"Ish, apaan sih, Nat. Iya,iya. Kan udah selesai. Besok-besok lagi nggak kok."
"Yakin selesai?" Natalie menatap wajah Eliza tak percaya. "Bentar lagi juga keluar drakor baru, ujung-ujungnya begini lagi."
Natalie benar. Ini bukan kali pertama bagi Eliza dia sampai bangun kesiangan dan tak sempat sarapan hanya karena marathon nonton film drama korea kesukaannya.
"Eh, Nat, bibir kamu kenapa? kok kaya bekas benturan gitu? kamu jatuh?" Eliza melihat bibir Natalie sedikit beda dari biasanya.
"Ah ini," Natalie memegangi ujung bibir kanannya yang ia sadari bekas gigitan Nicholas semalam. "Ini ... ini kepentok meja, iya, meja."
"Ya ampun, sampai segininya?" Eliza terus melihat bekas memar di bibir Natalie itu, sementara si empunya sibuk teringat kejadian malam tadi, saat Nicholas dengan ganasnya membuat bekas di bibir manisnya itu.
"Natalie, kamu kok di sini?" ucap Kevin yang tiba-tiba datang, mengejutkan keduanya.
"Eh, Vin, kamu kesini juga?" balas Natalie. "Iya nih. Aku lagi nemenin Eliza sarapan. Maag nya soalnya kambuh." Mendengar namanya disebut, Eliza mendadak sangat senang sekali, karena dengan begitu dia berharap kalau Kevin akan memberikan bentuk perhatian padanya.
"Ah, aku gpp, kok." Lagi-lagi Natalie harus siap berbohong untuk menjelaskan keadaan yang sebenarnya.
"Kamu jatuh?"
"Nggak, aku cuma kepentok aja kok."
"Tapi ini kayaknya dalam deh," Kevin memegangi dagu Natalie dan melihat luka di bibirnya itu.
"Maaf, Vin," ucap Natalie seraya melepaskan wajahnya dari tangan Kevin. "Tapi aku beneran gpp, kok." Natalie mulai gelisah. Ia melihat sekelilingnya. Ia takut ada seseorang yang melihat kejadian barusan. Nicholas bisa marah besar jika mengetahui hal ini.
"Nat, kayaknya aku udah baikan deh. Aku balik duluan ya ke ruangan."
__ADS_1
"Loh, Liz. Tapi kan makanannya belum habis," kata Natalie. "Kamu juga belum minum obatnya," lanjutnya.
"Ah ini." Eliza memasukan obat yang baru ia beli di warung itu ke dalam kantong kemejanya. "Aku minum di ruangan aja nanti," ucapnya dengan senyuman yang terkesan dipaksa. "Aku duluan ya!"
"Loh, Liz, tunggu!" Natalie pun segera menyambar tas miliknya. "Aku duluan ya, Vin."
Kevin hanya menatap kepergian dua wanita yang merupakan rekan kerjanya itu, tanpa memahami bahwa salah satu diantara mereka sedang merasakan cemburu karena perlakuannya yang terkesan tidak adil bagi Eliza.
"Kenapa sih, Kevin selalu saja memprioritaskan Natalie di atas segalanya. Bahkan, saat aku membutuhkan perhatiannya saja, dia malah lebih mengkhawatirkan keadaan Natalie yang jelas baik-baik saja," isak Eliza sambil terus melangkahkan kakinya menjauh dari Natalie yang berusaha mengejarnya.
Natalie menghentikan langkahnya. Dia mencoba mengatur nafasnya karena tak mampu mengejar langkah Eliza yang dirasa terlalu cepat dari biasanya.
"Ada apa sebenarnya dengan Eliza? kenapa dia tiba-tiba pergi begitu saja?" tanya Natalie dalam hatinya. Tiba-tiba dia teringat akan perhatian Kevin padanya barusan di kantin itu. "Apa jangan-jangan Eliza cemburu karena Kevin memberikan perhatian padaku?" Natalie memukul jidatnya. "Astaga, kenapa aku baru kepikiran itu ... dia pasti sangat sedih sekali. Apalagi tadi Kevin memegangi wajahku seperti itu." Natalie menengadahkan wajahnya. "Ternyata bukan cintaku saja yang begitu rumiit."
***
"Loh, kamu darimana?" Eliza tak sengaja berpapasan dengan Jennifer, mantan sekretaris sekaligus kekasih Nicholas itu. "Jam kerja, seorang karyawan baru keluar dari kantin, ada apa?" Jennifer menatap wajah Eliza yang mulai gugup. Jauh di sana, Jennifer melihat Natalie tengah ngos-ngosan dan mengatur nafasnya. Tiba-tiba saja pikiran jahat datang merasuk ke pikirannya. "Sepertinya wanita ini tengah bermasalah dengan Natalie. Ini kesempatan bagus untukku." Dasarnya memang wanita jahat. Jadi, peluang sekecil apapun akan langsung dimanfaatkan oleh Jennifer. "Kamu bukannya teman Natalie, kan?"
"Da_dari mana kau tahu?" Eliza mulai panik. Dia takut Jennifer akan mengadukannya pada atasan karena Eliza keluar kantor di saat jam kerja. "Aku tadi hanya sarapan saja kok. Soalnya perutku sakit sekali," jelasnya.
"Ah, tidak perlu takut seperti itu! kamu sakit?" Jennifer memegangi pundak Eliza, dan jelas itu membuat Eliza benar-benar gugup dan terkejut. Sejak kapan sekretaris yang terkenal sombong dan angkuh itu mau merangkul bawahan seperti Eliza.
"Ayo ikut aku! aku akan mengobatimu."
Meskipun dengan keadaan yang sedikit bingung, Eliza pun akhiirnya mengikuti kemana Jennifer membawanya. Wanita itu membawa Eliza ke sebuah ruangan. Ruangan pribadi miliknya yang senagaj dibuatkan Nicholas untuknya jika dia datang dan berkunjung ke perusahaan itu. Ruangannya tidak begitu luas, tapi akses dekorasinya terlihat sangat elegan dan mewah, menggambarkan kepribadian Jennifer sendiri.
Sebenarnya rencana apa yang akan dilakukan Jennifer?
Kenapa dia membawa Eliza masuk ke dalam ruangan pribadinya?
__ADS_1
To be continued