Husband From Hell (Suami Dari Neraka)

Husband From Hell (Suami Dari Neraka)
Pasrah


__ADS_3

Sore hari ...


Di jalanan trotoar yang tidak begitu ramai, seorang wanita berjalan dengan tatapan yang sepertinya sangat mencerminkan keadaannya saat ini, 'sendu' mungkin itulah satu kata yang tepat untuk menggambarkan keadaannya.


Cuaca juga sedang tidak begitu bersahabat dengan alam. Sepertinya sebentar lagi akan turun hujan, begitu perkiraan Natalie.


Mendadak, datang rasa sesak di dadanya, ketika ia harus kembali ke rumah megah itu. Rumah yang dulu sering hadir dalam dunia khayalan masa kecilnya. Rumah yang ternyata pada kenyataannya tidak lebih baik daripada rumah kecil neneknya di desa.


Kalau boleh memilih, rasanya aku ingin kembali saja seperti dulu. Menjadi kekasihnya, menurutku itu lebih menyenangkan dibanding sekarang.


"Natalie."


Natalie tersadar dari lamunannya, saat seorang laki-laki mengejutkannya secara tiba-tiba. Dia membuka helm setelah menghentikan mesin motornya di samping jalan. Dia berjalan dan mendekati Natalie.


"Eh, Vin. Baru mau pulang juga?"


Ternyata itu Kevin, pria tampan, sang pemuja rahasia Natalie.


"Hmppp," Kevin mengangguk, "ayo bareng! sekalian aku juga mau lewat rumah kamu."


Natalie sempat terdiam dan menimang-nimang tawaran Kevin.


"Tidak usah, Vin. Aku naik bus aja."


Meskipun sempat ingin meng-iyakan permintaan Kevin, namun Natalie tidak akan gegabah, dia masih ingat betul kalau Nicholas melarang ia untuk dekat dengan laki-laki di hadapannya.


"Gpp, aku antar sampai dep_"


"Nggak, Vin. Makasih! aku pulang naik bus aja!"


Setelah menolak halus, Natalie kembali melangkahkan kakinya.


"Kenapa?" Tanya Kevin, namun Natalie terus berjalan dan tidak menghiraukan ucapan Kevin.


"Takut Nicholas marah?"


Teg


Langkah kaki Natalie langsung terhenti saat ucapan yang keluar dari bibir Kevin sesuai dengan jawaban yang sesungguhnya.


Kevin berjalan dan mendekati Natalie yang masih diam dengan nafas yang sudah tak beraturan.


"Aku sadar, aku emang gak bakalan bisa menghapus rasa sedih mu, Nat." Mata Kevin mulai berkaca-kaca, "tapi aku janji! aku akan buat orang yang udah buat kamu sedih, nyesel udah ngelakuin ini sama kamu."

__ADS_1


Setelah selesai mengutarakan itu, Kevin langsung berbalik badan dan mengendarai motornya. Meninggalkan Natalie yang masih berdiri mematung karena tidak mengerti ucapan Kevin.


Kenapa Kevin berkata seperti itu?


Apa yang dia maksud?


Natalie menatap kepergian Kevin sekilas sebelum ia benar-benar menghilang dengan motornya yang melesat cepat. Natalie berpikir, bukankah tidak ada yang tahu mengenai masalah pribadinya, kecuali Eliza yang hari ini terpaksa ia beritahu.


Apa mungkin Eliza menceritakan ini pada Kevin?


Kalau iya, Natalie akan benar-benar marah pada sahabatnya itu. Pasalnya, Natalie tidak pernah ingin membebani siapapun dengan masalahnya, terlebih ini adalah masalah pribadinya yang sangat sensitif. Dia juga tidak ingin Nicholas dipandang buruk oleh orang lain. Biar bagaimanapun Nicholas adalah privacy yang harus ia jaga apapun keadaannya.


Sedikit melupakan kejadian bersama Kevin, kini Natalie sudah berada di dalam bus. Meskipun sejak tadi perasaannya terus bergelut dengan banyak problem, tapi Natalie tidak bisa mengungkiri rasa kantuknya, karena semalaman ia benar-benar tidak bisa tidur. Kini di dalam bus yang tidak begitu banyak penumpang, Natalie tertidur. Padahal tinggal menunggu satu halte lagi untuk sampai di pemberhentian terdekat dengan lokasi rumah Nicholas.


"Maaf, Nona. Ini sudah sampai pemberhentian terakhir."


Natalie tersadar dari tidurnya.


"Hah," Natalie benar-benar terkejut. Dimana dia sekarang?


Astaga, dia tertidur terlalu lama sampai ia melewatkan halte tujuannya, dan kini ia benar-benar sampai di pemberhentian terakhir dan itu artinya ia harus naik bus lain untuk kembali lagi. Dan sialnya, bus terakhir yang beroperasi melewati rumah Natalie sudah berangkat sekitar 5 menit yang lalu.


Oke, jalan terakhir hanyalah dengan memesan taksi online, karena tidak mungkin dia menunggu taksi lewat di tempat yang sudah mulai sepi ini.


"Arghh, sial sekali aku malam ini." Natalie menendang kaleng kosong di depannya saat ia tak kunjung juga menemukan taksi konvensional yang beroperasi.


"Hey! kurang ajar ya kau."


Natalie membuka matanya lebar-lebar saat mendapati laki-laki dengan tampang preman itu berlari ke arahnya. Rupanya, kaleng yang ia tendang tadi mengenai kepala laki-laki itu. Karena laki-laki itu terus memegangi kepalanya.


"Aduh, bagaimana ini?"


Laki-laki itu sudah sampai di depan Natalie. Dengan amarah yang memuncak, laki-laki itu menatap Natalie tajam.


"Maaf, aku benar-benar tidak sengaja!" Natalie menundukkan kepalanya, berusaha meminta pengertian pada laki-laki itu. Namun tanpa di duga laki-laki itu malah memberikan perlakuan yang tidak mengenakan.


"Sepertinya aku bisa memanfaatkan kesempatan ini." Pikiran buruk laki-laki itu muncul.


"Hey, tidak usah takut begitu Nona cantik! ... aku tidak akan kasar kok padamu." Laki-laki itu menyentuh tangan Natalie dengan senyum smirk Nya.


Sial, dia sepertinya berniat buruk padaku.


Natalie memutar-mutar matanya, berharap ada yang bisa pintai pertolongan. Namun sialnya malam itu benar-benar sepi. Mungkin karena hujan juga mulai turun meskipun dengan rintik yang tidak begitu deras.

__ADS_1


"Tolong jangan kurang ajar padaku!" Pekik Natalie sambil berjalan mundur. Dia semakin ketakutan karena laki-laki itu terus mengikutinya.


"Mau kemana Nona manis?" Ucap laki-laki berkalung rantai yang semakin membuat kesan ganasnya terpancar.


"Tolong, aku mohon!" Lirih Natalie.


Dia mencari-cari kesempatan agar bisa kabur dari lelaki jahat itu.


Natalie dengan perlahan melepaskan satu persatu sepatunya. Setelah high heels yang dipakainya sudah lepas semua, Natalie segera berlari sekencang-kencangnya.


"Hey, tunggu!"


Tak mau kehilangan kesempatan, laki-laki itu segera mengejar Natalie.


Hujan akhirnya tak kuasa lagi menahan dirinya untuk tidak turun malam itu.


Natalie di tengah ketakutannya yang teramat dahsyat, terus menangis di bawah guyuran hujan.


"Tuhan, tolong aku!" Begitu isak-Nya dalam hati.


Namun lagi-lagi kesialan menimpa dirinya. Kakinya tersandung batu. Ia terjatuh.


"Aww," Natalie mencoba untuk segera bangun. Namun laki-laki itu rupanya sudah berdiri di hadapannya.


"Sudah bermain-main Nya cantik?" Ucap laki-laki itu sambil memandang takjub tubuh putih Natalie.


"Pergi kau!" Pekik Natalie sambil terus beringsut mencoba menjauhkan jarak dengan laki-laki jahat itu.


"Sudahlah! kita bersenang-senang saja dulu!" Laki-laki itu mulai membuka bajunya.


Jalanan itu memang benar-benar sepi. Sumpah, rasanya Natalie ingin marah sekali. Kenapa tak ada satupun orang disana yang bisa membantunya.


Datanglah! meskipun hanya anak kecil. Setidaknya dia bisa sedikit saja mengalihkan perhatian laki-laki jahat itu sebentar saja, pinta Natalie dalam hatinya.


Tubuh Natalie membentur sebuah tong sampah yang berjejer di pinggir tembok itu. Membuatnya kini tak bisa lagi menjauhkan jaraknya.


"Ayolah! kau pasti ketagihan."


Antara takut dan pasrah. Natalie tidak tahu lagi apa yang harus ia lakukan. Tak ada lagi yang bisa Natalie lakukan selain menangis sesenggukan dalam guyuran hujan malam itu.


Akankah Natalie benar-benar memberikan kesuciannya pada laki-laki biad*b dihadapannya itu.


"Maafkan aku, Nic." Natalie memejamkan matanya saat laki-laki itu sudah benar-benar menghabiskan jarak antara keduanya.

__ADS_1


__ADS_2