
Kevin sudah sampai di depan pintu ruangan Nicholas, setelah sebelumnya seorang pegawai wanita mempersilahkannya masuk.
Ceklek, pintu terbuka.
Kevin melihat seorang laki-laki tengah duduk menyender di kursi membelakanginya.
"Permisi, Tuan." Ucap Kevin sopan, membuat Nicholas memutar kursinya.
"Kau, kemari, duduklah!" Ajak Nicholas yang kemudian memperbaiki posisi duduknya.
Kevin pun menghampirinya dan duduk di kursi yang sudah disediakan.
"Reynald, tolong tinggalkan kami berdua!" Perintah Nicholas.
"Baik, Tuan!" Tanpa aba-aba Reynald langsung keluar dari ruangan itu setelah membungkukkan badannya terlebih dulu.
Setelah sudah tidak ada siapa-siapa lagi selain mereka berdua, Nicholas mulai membuka suaranya.
"Apa kau sudah tahu maksud dan tujuanku memintamu datang kesini?"
Kevin menatap Nicholas sengit.
Katanya CEO jenius,
Kenapa hal sepele seperti ini harus dipertanyakan?
Dia pikir aku akan tahu maksud dan tujuannya menyuruhku menemuinya tanpa dia jelaskan,
Dasar bodoh.
"Tidak, Tuan. Memangnya ada apa ya?" Tanya Kevin.
"Iya, aku memang belum menjelaskannya padamu." Senyum Nicholas diikuti seringai khas miliknya yang membuat Kevin ingin muntah rasanya. Laki-laki ini sangat pandai sekali bersandiwara, pantas saja jika Natalie tergila-gila padanya.
"Baiklah, jadi begini ... " Nicholas mengambil sebuah berkas di sampingnya, dia membacanya perlahan.
"Kevin Andreas, betul itu nama lengkap mu?" Eja Nicholas.
"Betul, Tuan."
Nicholas menutup kembali berkas itu dan menaruhnya di atas mejanya. Menaikkan sebelah kakinya ke kaki satunya.
"Jadi begini, Kevin." Nicholas mulai membicarakan maksud dan tujuannya. "kau tahu kan kalau perusahaan ini punya banyak cabang di luar kota?"
Kevin mulai curiga dengan rencana Nicholas. Tapi dia berusaha tetap tenang.
"Iya, Tuan. Saya tahu."
"Bagus," Nicholas menarik map orange di sampingnya. "Salah satu cabang kita yang di luar kota sedang membutuhkan kepala team analisis baru, karena kebetulan kepala team sebelumnya mengalami kecelakaan dan cederanya tidak memungkinkan dia untuk melanjutkan tugasnya."
Kevin mulai paham. Nicholas ingin dia mutasi dari perusahaan ini.
"Lalu. apa ini ada hubungannya dengan saya, Tuan?" Kevin pura-pura tidak paham.
"Hmppp." Nicholas mengangguk,"dari hasil laporan HRD, kau adalah salah satu karyawan yang memiliki prestasi luar biasa ... dan aku tertarik untuk mempromosikanmu menjadi kepala bagian analis itu."
Benar. Dugaan Kevin tepat. Laki-laki ini ingin menyingkirkan Kevin.
"Tapi saya tidak punya keahlian dibidang analis, Tuan. Lagipula, kenapa Tuan tidak memilih salah satu diantara anggotanya saja. Bukankah mereka akan lebih berpengalaman dari pada saya."
__ADS_1
"Kau kenal pribahasa 'Bisa karena biasa'?"
Kevin mengangguuk.
"Iya, aku yakin jika kau terus belajar dan berusaha, kemampuanmu akan mampu mengalahkan mereka yang lebih dulu darimu. Oleh karena itu, aku berharap besar kau bisa memajukan cabang perusahaan itu."
Dibalik meja itu, Kevin mengepalkan tangannya, kesal. Nicholas benar-benar tengah mempermainkannya. Dia yakin, tujuan utama Nicholas memilihnya bukan karena alasan ingin dia memajukan perusahaan itu, tapi karena dia ingin Kevin tidak ikut mencampuri urusan pernikahannya dengan Natalie.
"Baiklah, kalau begitu kau boleh kembali ke ruangan mu! ... tenang saja! kau masih punya waktu sekirar 1-2 bulan lagi, jadi kau bisa mempelajari dan mempersiapkan semuanya."
Ingin sekali rasanya Kevin menolak. Tapi dia siapa? dia tidak punya kewenangan apa-apa disini. Dia hanyalah karyawan biasa yang harus menerima semua keputusan orang yang sudah membayarnya setiap bulan itu.
Nicholas berdiri dari kursinya, dan dia mengulurkan tangannya untuk menjabat tangan Kevin.
Dengan ragu, Kevin menerima uluran tangan Nicholas.
"Semoga kau berhasil!" Ucap Nicholas yang hanya dijawab anggukan kepala dari Kevin yang tak lama kemudian permisi keluar dari ruangan itu.
"Saya Permisi." Ucap Kevin seraya membungkukkan badannya.
Nicholas menghembuskan nafasnya gusar. Matanya terpejam beberapa saat.
1 masalah selesai.
Reynlad yang semula setia berdiri di depan pintu ruangan Nicholas melihat Kevin keluar dari ruangan Nicholas dengan wajah yang dipenuhi amarah.
Apa yang dibicarakan Tuan Nicholas kepadanya sampai membuatnya begitu terlihat kesal?
Setelah Kevin benar-benar pergi, Reynald segera masuk kembali ke ruangan atasannya itu.
Nicholas memijit pelipisnya perlahan. Beberapa hari ini pikirannya benar-benar terporsir dengan kejadian-kejadian yang menimpa sekelilingnya.
"Tuan, apa kau butuh obat?" Reynald menawarkan diri, mendekat ke arah Bos Nya itu.
"Baik, Tuan. Saya akan segera meminta pelayan membutakannya." Reynlad pamit.
Nicholas menyeret ponsel di depannya, dia membuka sebuah pesan masuk.
Natalie : "Jangan lupa sarapan ya, sayang."
Nicholas kembali menaruh ponselnya tanpa membalas pesan itu. Dia melirik kotak makan berwarna biru muda di atas meja kerjanya. Senyumnya sedikit menyeringai saat dia membaca sebuah note yang ditempelkan disana.
Note : Semoga pekerjaanmu hari ini berjalan lancar, sayang! always love you.
Nicholas terkekeh geli membacanya. Anak itu, selalu saja berhasil membuatnya tertawa dengan kelakuannya yang nyeleneh.
Dia pikir, aku ini anak kecil apa?
Tak lama, Reynald datang membawa lemon tea yang diminta Nicholas.
"ini, Tuan." Reynald menaruh lemon tea hangat di atas meja Nicholas.
"Terimakasih," Ucap Nicholas seraya langsung menyeruput minuman favourite nya itu.
"Reynald,"
"Iya, Tuan."
"Aku ingin bertanya sesuatu padamu."
__ADS_1
Raut wajah Nicholas begitu serius. Reynald yakin ini adalah pembahasan yang sangat penting.
"Duduklah!" Pinta Nicholas seraya menyuruh Reynald untuk duduk di hadapannya.
Nicholas sempat memejamkan matanya terlebih dulu beberapa saat sebelum dia menanyakan ini pada Reynald. Dia belum yakin sepenuhnya, apakah dia benar-benar akan menceritakan hal ini pada orang lain. Mengingat hal ini hanyalah dia, Jennifer dan kedua orang tuanya yang mengetahuinya.
Tapi, Nicholas rasa ini adalah waktu yang tepat, karena Nicholas merasa selama ini Reynald sudah sangat setia padanya. Dan Nicholas juga yakin kalau Reynald memang bisa menjaga rahasia ini, seperti dia menjaga rahasia-rahasia lainnya selama ini.
Nicholas hanya ingin memiliki teman cerita yang benar-benar bisa ia mintai pendapat. Dan sepertinya Reynald adalah orang yang tepat. Selain dia memang jenius di bidang akademis, Usia mereka terpaut hanya 3-5 tahun saja. Karena itu, Nicholas merasa Reynald adalah sosok figur seorang kakak yang selalu berusaha melindungi Nicholas. Dan Nicholas juga yakin, suatu saat Reynald bisa membantunya menghadapi masalah ini.
"Reynald, tolong jawab dengan jujur!"
Tubuh Reynald mendadak bergetar. Apa yang akan ditanyakan Nicholas?
"Apa kau tidak penasaran mengenai hubunganku dengan kedua wanitaku?"
Kedua wanita?
Maksud Nicholas, Jennifer dan Natalie.
"Ma_maksud Tuan?" Tanya Reynald, pura-pura bodoh.
"Maksudku, apa kau tidak penasaran kenapa aku masih menjalin hubungan dengan Jennifer, sementara aku menikahi wanita lain."
Dugaan Reynald benar. Nicholas akan menyebutkan dua nama wanita itu. Tapi kenapa? ada apa tiba-tiba Nicholas menanyakan hal itu padanya. Tentunya dia penasaran sekali, tapi apa hak Reynald? dia hanyalah seorang abdi yang tugasnya hanya melayani Tuan mudanya itu, tanpa harus ikut campur dengan urusan pribadinya.
"Ma_maaf Tuan, sejujurnya saya tidak pernah ingin ikut campur urusan pribadi Tuan Muda. Tapi ... "
"Jawab Iya atau tidak saja, Reynald!" Gertak Nicholas yang melihat nada bicara Reynald tak jelas.
Bagimana ini, kau tidak mungkin menjawab tidak. Nicholas pasti mengira kau berbohong. Bagaimana mungkin kau tidak penasaran, sementara setiap hari kau selalu berada di samping Nicholas, menemani laki-laki itu menemui kedua wanitanya bergiliran. Tidak penasaran? mustahil.
Tidak ada pilihan, Reynald hanya bisa menjawab Iya.
"I_iya Tuan, saya bingung kenapa Tuan bisa menikahi Nona Natalie, sementara Tuan masih menjalin hubungan asmara dengan Sekretaris Kim." Jawab Reynald dengan dada yang sudah berdebar. Dia benar-benar tidak mengerti apa maksud Nicholas menanyakan in padanya.
"Kau ingin aku menceritakan alasannya?"
Reynald yang semula menunduk kini menegakkan tubuhnya tak percaya. Pupil matanya memebesar.
Sungguhkah?
Nicholas akan menceritakan masalah pribadinya kepadaku?
"Dengarkan aku, Rey! Aku akan menceritakan semuanya dari awal. Tapi kau harus berjanji satu hal padaku!"
Janji?
Janji apa lagi ini?
"I_iya Tuan, katakan lah!"
"Kau harus berjanji padaku, kau akan membantuku!"
Oke, Reynald mengerti. Sepertinya ini bukan masalah kecil. Nicholas sepertinya akan membawanya masuk ke dalam sebuah permainan besar. Dimana Reynald akan ambil bagian didalamnya.
"Tapi ... apakah Tuan yakin saya bisa membantu Tuan?"
"Hanya kamu, Rey. Hanya kamu satu-satunya yang saat ini bisa ku andalkan."
__ADS_1
Reynald terdiam menatap mata Nicholas yang sangat terlihat tajam ke arahnya.
"Baiklah ... saya akan berusaha."