Husband From Hell (Suami Dari Neraka)

Husband From Hell (Suami Dari Neraka)
Boncap 1 Merasa berarti


__ADS_3

Jangan lupa tekan like sebelum membaca, karena kalo ini author akan memberikan hadiah special untuk para readers yang sudah setia dan sabar menanti pasangan Nic & Nat ini bahagia. Andai kalian gak sabar, kalian gak bakal nemu part istimewa ini loh hahaha.


Sebuah chapter yang semoga bikin kalian senang ya!


Tapi maaf kalau gak maksimal, maklum author belum pernah pengalaman 🤣


So, lets go!


****


Pagi hari yang indah, seindah cahaya mentari pagi yang masuk lewat celah-celah gorden sebuah villa mewah yang ada di pesisir pantai itu.


Pagi ini sepertinya menjadi hari paling indah sepanjang perjalanan Nicholas dan Natalie menjadi pasangan suami istri.


Nicholas tidur dengan posisi mengelus-elus rambut wanita yang masih tertidur pulas dalam pelukannya.



Hal yang belum pernah mereka lakukan sebelumnya.


Nicholas mengeratkan pelukannya, ia bahkan membawa kepala wanitanya untuk terbaring di atas dadanya yang bidang itu.


"Tidur yang nyenyak, sayang!" gumamnya dalam hati sambil sesekali mengecup kening wanitanya.


Entah kenapa rasanya ini seperti hari pertama pernikahan mereka, karena sebelumnya tidak seindah ini.


Nicholas bahkan tak bisa menahan lekukan senyum di bibirnya untuk tidak terukir, saat dia mengingat moment indah tadi malam.


Jangan tanya kenapa?


Karena tadi malam, mereka sudah melakukan hubungan layaknya suami istri sepenuhnya.


Natalie dan Nicholas sudah menunjukkan bukti cinta yang sesungguhnya.


Natalie sudah menyerahkan seluruh jiwa dan raganya untuk laki-laki yang pantas ia perjuangkan.


Flashback


"Jadi, kau mencaritahu semua informasi tentangku?" tanya Nicholas pada Reynald.


Laki-laki itu mengangguk.


"Dasar kurang ajar ya!" hampir saja Reynald terkena jitakan tangan Nicholas kalau saja Selly tidak menatap Nicholas dengan tatapan kesal.


"Astaga, kalau saja bukan karena kau calon suami Selly, sudah kuhabisi kau!" kesal Nicholas. Tapi sebenarnya bukan kesal, hanya bercanda. Nicholas hanya bercanda agar suasana malam itu tidak terlalu tegang pasca semua mengetahui tentang penyakitnya.


Saat ini, mereka sedang berkumpul di rumah Mark, untuk merayakan kembalinya Nicholas dan Natalie, juga membicarakan rencana pernikahan Selly dan Reynald yang akan digelar satu bulan lagi.


"Hahaha, tapi kau harus berterima kasih banyak pada Rey, karena kalau bukan karena dia, kau mungkin saat ini sudah berada di negara orang lain, dan istrimu yang cantik ini menjadi milik orang lain," ujar Mark.


"Ayah." Nicholas tak suka dengan ucapan Mark. "Kenapa bicara seperti itu?"


Seisi ruangan itu dipenuhi dengan gelak tawa karena lucunya Nicholas yang tak suka dengan ucapan ayahnya.


"Ya sudah, kalau begitu saya permisi pulang dulu ya!" ucap Thomas. "Nadia dan Neva menunggu di rumah. Lagipula, rencananya malam ini Nada akan membawa kekasihnya untuk diperkenalkan pada kami."


"Kak Nada sudah serius untuk ke jenjang pernikahan, Yah?" tanya Natalie antusias.


"Sudah."


"Ah, syukurlah! aku senang mendengarnya. Apa aku juga boleh ikut pulang untuk melihat calon kakak ipar ku?"


Mata Nicholas spontan mendelik tak suka. Tidak untuk malam ini inginnya. Kan bisa nanti.


Melihat sikap Nicholas seolah tak memberi izin, Thomas pun mengerti.


"Sepertinya tidak untuk malam ini, soalnya Nada bilang, pertemuan ini hanya antara anak dan orangtuanya saja. Jadi, lain kali saja ya kalau ingin melihatnya," alasan Thomas.


"Yah, padahal aku ingin sekali bertemu."


Nicholas terlihat menahan senyumnya. Dia senang karena ayah mertuanya melarang Natalie untuk ikut.


"Ya, sudah. Kalau begitu saya permisi," ucap Thomas pamit pada Mark, Reynald, Selly, Nicholas dan juga Natalie.


Keluarga itu pun melanjutkan kembali rencana pernikahan Selly dan Reynald, dari mulai pemilihan WO sampai dengan siapa saja yang akan diundang ke acara bahagia itu.


Selang satu jam kemudian, Nicholas pun mengajak Natalie pulang. Mereka harus istirahat, karena keesokan harinya Nicholas harus menyiapkan surprise untuk istri tercintanya.


***


"Nic, ko kita lewat sini?" tanya Natalie. Dia heran kenapa jalan yang dilalui bukan jalan yang biasa mereka lewati menuju rumahnya. "Bukannya seharusnya lewat sana ya?" tunjuknya.


Tapi bukannya menjawab, Nicholas malah membalasnya dengan senyuman.


Tak lama mereka pun sampai di sebuah pantai. Di pesisir pantai itu terdapat sebuah Villa yang sangat klasik. Sepertinya Nicholas ingin mengajak Natalie bermalam di salah satu Vila miliknya itu.


"Ayo, turun!" ajak Nicholas.


Setelah pintunya terbuka, Natalie pun turun dari mobil. Dia memandang takjub pemandangan indah di depan matanya.


Dia benar-benar takjub dengan pemandangan yang sangat jarang sekali ia temui itu.


Sudah lama sekali ia tak pernah pergi jalan-jalan seperti ini. Apalagi kali ini ditemani Laki-laki yang paling ia sayangi.


"Kita akan bermalam di sini," ucap Nicholas.


"Sungguh?" Natalie terlihat begitu bahagia mendengar ucapan Nicholas.


Nicholas mengangguk.


Entah sihir atau apa Natalie pun berjalan mendekati ujung ombak yang sedang berjalan ke arahnya dengan pelan.


Melihat Natalie menyentuh air, Nicholas pun sontak ikut mendekat. Dia ikut menunduk lalu memandang ke sebelahnya, menatap wajah wanita yang sepertinya sangat bahagia itu.


"Kamu suka?" tanya Nicholas.


Natalie mengangguk dengan lekukan senyum manis di bibirnya. Manis sekali, sampai Nicholas akhirnya tak kuasa menahan dirinya untuk tidak mengangkat tubuh wanita itu.


"Eh." Natalie terperanjat saat Nicholas memeluk dan menciumnya dengan sangat lembut.



Hanya sekitar sepuluh detik lamanya Nicholas akhirnya menghentikan ciumannya. Dia menatap netra di hadapannya dengan sangat intens. Natalie seperti candu baginya. Dia terlihat begitu memabukkan bahkan jika dilihat dari jarak sedekat inipun rasanya Nicholas masih belum puas menatap wajah indahnya.


Setelah berhasil membuat pipi Natalie merah merona karena perlakuannya, tanpa aba-aba lagi Nicholas pun lantas mengangkat tubuh wanita itu ala bridal.

__ADS_1


"Nic," pekik Natalie saat dia diangkut paksa oleh lelakinya itu. "Kamu apa-apaan sih?" Natalie tertawa sambil menahan rasa malunya.


Tak ada jawaban, Nicholas hanya fokus menggendong wanitanya itu masuk ke dalam Villa.


"Ini Vila siapa?"


"Aku," jawab Nicholas.


"Oh, aku kira kamu menyewanya."


"Tidak ada kata sewa bagiku. Kalau aku suka, aku bisa langsung membelinya," jawab Nicholas sombong.


Mendengar kesombongan suaminya itu, Natalie hanya tersenyum seolah meledek.


Sesekali Nicholas menatap wajah wanitanya itu, dan sialnya semakin lama wajah Natalie dipandang Nicholas jadi semakin candu.


"Lihat ke depan! nanti kamu nabrak," omel Natalie yang kini sudah mengalungkan tangannya di leher Nicholas.


Nicholas tertawa kecil saat ia sudah masuk ke dalam vila itu, lantas ia menurunkan tubuh Natalie di atas kasur.


"Kamu mau kemana?" tanya Natalie saat melihat Nicholas keluar dari kamar itu.


"Aku mau mandi."


"Kok mandi ke sana?" tanya Natalie lagi. Nicholas bilang mau mandi, tapi kenapa dia bergegas ke luar, bukan masuk ke kamar mandi.


Rupanya Nicholas akan mandi di kolam renang yang ada di samping kamar itu. Ia ingin berendam di kolam kesukaannya yang sudah lama ia tinggalkan.


Melihat Nicholas terus melenggang keluar, Natalie pun ikut menyusul di belakangnya.


"Kamu mau renang?"


Nicholas mengangguk, lantas membuka satu persatu pakaiannya.


"Ini kan sudah malam? apa tidak dingin?"


"Kalau dingin kenapa? kan tinggal pakai handuk," sahut Nicholas.


"Ya sudah, aku ambilkan handuk dulu!"


Baru saja Natalie berbalik badan, tangannya sudah dicekal Nicholas. "Gak perlu!"


Natalie menatap heran. Tadi bilangnya tinggal pakai handuk, kenapa sekarang bilang 'gak perlu. "Loh, tadi kamu bilang kamu mau pakai handuk?"


"Kan handuknya udah ada."


"Mana?"


"Ini!"


Natalie melirik kanan kirinya, mana? tidak ada apa-apa di sana. Mana ada handuk seperti yang Nicholas katakan?


"Kamu tahu gak? handuk ini tuh istimewa dari handuk-handuk yang lainnya."


Natalie menyipitkan matanya. Seistimewa apa sih, pikirnya.


"Handuk ini aku beli dari seseorang bernama Thomas. Handuk ini bisa bersuara jika aku menyentuhnya."


"Oiya?"


Nicholas mengangguk. Natalie makin penasaran, handuk seperti apa yang Nicholas maksud.


"Mau dengar suaranya?" tanya Nicholas.


Natalie mengangguk antusias. Ia ingin mendengar seperti apa sih handuk istimewa yang dimaksud Nicholas itu.


Tak lama Nicholas pun langsung menghujani Natalie dengan ciuman di wajah Natalie dengan brutal.


*Cup


cup


cup*


Nicholas mencium kening, pipi, hidung sampai bibirnya bergantian.


"Ish, kamu apa-apaan sih?" Natalie mendorong tubuh Nicholas darinya.


Nicholas langsung berekspresi seperti sedang menerawang. Matanya mendelik ke atas. "Tuh, kamu denger kan? dia bunyi!"


Natalie masih bingung, mana ada? dia tidak mendengar suara apapun.


"Apaan sih kamu? aneh banget deh," omel Natalie. Horor sekali suaminya itu, pikirnya.


Malas, Natalie pun akhirnya memilih bergegas menuju sebuah kursi sandaran yang ada di pinggir kolam itu.


Melihat Natalie merajuk, Nicholas pun tak kuasa untuk tak menahan tawanya. Ia langsung mendekati Natalie. Dengan tubuh yang sudah bertelanjang dada dan hanya meninggalkan celana sebatas lutut, Nicholas mendekat dan langsung memeluknya kembali dari belakang.


"Handuk yang aku maksud itu sekarang sedang ada dalam pelukanku."


Deg


Jantung Natalie lagi-lagi terasa berhenti berdetak saat Nicholas memperlakukan dia seperti ini.


Rupanya handuk itu tidak benar-benar ada. Nicholas hanya sedang mempermainkan perasaan Natalie, dan itu sukses membuat Natalie tersipu.


"Handuk istimewaku, mau mandi sama aku 'gak?" tanya Nicholas sambil membalikkan badan wanitanya.


Natalie menggeleng. "Nggak ah, dingin."


"Mau ya, ya." Nicholas merajuk manja layaknya anak kecil. Tapi Natalie tetap bersikeras tak mau.


Tapi Nicholas tak habis akal, dia langsung mengangkut kembali tubuh Natalie.


"Nicho, aku gak mau!!!" Natalie memukuli dada bidang suaminya. "Turunin, aku 'gak mau!"


Tapi bukannya menurunkan Natalie, Nicholas malah sudah berancang-ancang untuk menceburkan wanita itu ke dalam kolam.


"Satu."


"Dua."


"Ti_"


Natalie memejamkan matanya saat Nicholas mulai mengayun tubuhnya untuk masuk ke dalam kolam itu.

__ADS_1


Cup


Tapi bukannya menjatuhkan tubuh Natalie, Nicholas malah mengecup bibir wanitanya.


Sepertinya bibir Natalie memang berhasil jadi candu untuknya.


"Kamu manis banget sih kalau lagi takut kaya gini," gombal Nicholas.


Natalie membuka matanya perlahan. Nicholas dan Natalie saling terdiam, saling menatap beberapa detik lamanya.


Lalu Nicholas pun malah membalikkan badannya, menjauh dari kolam itu.


"Loh, katanya mau mandi?" protes Natalie.


"Gak jadi," sahut Nicholas.


"Kenapa?"


"Karena aku lebih tertarik mandi di atas kasur."


Mendengar kata itu, Natalie pun langsung mencubit pinggang Nicholas.


"Ah, ah. Sakit, Nat," omel Nicholas. Laki-laki itu pun terpaksa menurunkan tubuh Natalie.


"Lagian suruh siapa mesum?"


Natalie melangkah meninggalkan Nicholas.


"Nat, ingat! selama kita bersama, kita belum pernah melakukannya dengan cinta." teriak Nicholas.


Teg


Langkah kaki Natalie terhenti. Lidahnya terasa Kelu untuk menyahutinya.


Nicholas memang benar, selama pernikahannya, mereka tidak pernah sekalipun melakukan hal tersebut dengan cinta. Sekalipun pernah itu karena Nicholas marah karena Natalie dituduh melakukannya dengan Kevin.


Tak sadar kini kepala Nicholas sudah bersandar di pundak Natalie.


"Eh." Natalie terperanjat. Tapi dia tak merubah posisinya, sedikit canggung rasanya.


Nicholas pun memutar badan Natalie, menatapnya dengan sangat intens.


"Apa boleh aku memintanya malam ini?"


Pertanyaan itu berhasil membuat Natalie tak bisa berkata-kata. Air matanya tiba-tiba turun. Dengan spontan ia pun menganggukkan kepalanya.


"Sejak saat dimana kita mengucapkan janji sehidup semati kala itu. Sejak saat itu juga seluruh jiwa dan ragaku telah ku pasrahkahkan seutuhnya untukmu," ucap Natalie. "Maka dari itu, kau tidak perlu ragu dan bertanya lagi padaku! lakukanlah dan perlakukan aku seperti yang kau inginkan."


Air mata Nicholas tiba-tiba turun. Kata-kata yang keluar dari bibir Natalie itu berhasil membuat dirinya seakan jadi laki-laki paling beruntung di muka bumi ini karena bisa memiliki wanita seperti Natalie.


"Jangan menangis! karena aku sendiri sudah lama menantikan hari ini datang," ucap Natalie.


Tanpa pikir panjang lagi, Nicholas langsung menggenggam tangan Natalie, menuntunnya masuk ke dalam kamar kembali.


Sesampainya di kamar, Nicholas langsung menuntun Natalie untuk merebahkan tubuhnya di atas kasur.


Dengan lembut, Nicholas mulai membuka satu persatu pakaian yang melekat di tubuh Natalie, sementara Natalie hanya diam sambil memejamkan matanya.


Meskipun ini bukan untuk yang pertama kalinya, tapi tetap saja ini adalah sesuatu yang tak pernah mereka lakukan sebelumnya.


Bercinta dengan cinta.


Nicholas pun mulai melakukan aksinya.


Dari mulai kening, pipi, hidung sampai bibir wanitanya sudah ia hujani dengan ciuman mesra.


Kini wajahnya sedikit turun ke bawah wajah Natalie.


"Mpppp," Natalie mulai mendesah saat lidah Nicholas sudah bermain di cerucuk lehernya. Dan desahan itu semakin hebat saat Nicholas mulai bermain di atas dua benda bulat yang kenyal. Nicholas sedikit meremasnya hingga membuat Natalie menggeliat, merasakan nikmatnya.


"Ahh." Lenguhannya mulai terdengar. Apalagi saat Nicholas mulai memainkannya dengan bibirnya.


"Nic, ah."


Tiba saatnya pada proses inti.


Nicholas sempat menatap sejenak wajah wanitanya yang sudah berhasil ia buat mendesah itu.


"Sudah siap?" tanya Nicholas.


Bukannya menjawab, Natalie malah menutup wajahnya malu-malu. Mungkin karena ini kali pertama untuknya ditanya seperti ini.


Tanpa ragu, akhirnya Nicholas pun mulai menyatukan dua raga itu, hingga membuat tangan Natalie dengan kuatnya meremas sprei kasur bermotif bunga tulip itu.


Flashback OFF


***


Mengingat kejadian semalam memang membuat Nicholas tak henti-hentinya berbunga-bunga. Dia tidak pernah menyangka bahwa dia akhirnya bisa merasakan hal indah itu bersama wanita yang sangat dicintainya.


Cup


Satu kecupan lagi-lagi mendarat di kening Natalie.


"Mpppp." Natalie menggeliat saat merasakan sentuhan di keningnya.


Saat mata Natalie terbuka, ia langsung kaget karena melihat wajah laki-laki dihadapannya dengan senyum manis yang penuh arti.


Natalie pun langsung menyembunyikan wajahnya dibalik dada Nicholas.


"Hey! kenapa?" tanya Nicholas sambil menarik wajah wanita itu.


Namun Natalie hanya menggeleng-gelengkan kepalanya. Seakan dia malu atas apa yang terjadi tadi malam dengan mereka berdua.


"Kenapa sih? lihat aku dong!"


"Nggak, aku malu."


"Kenapa harus malu?" Nicholas menarik dagu Natalie. Dia melihat pipi Natalie merah seperti kepiting rebus. "Tidak usah malu! tadi malam kamu mainnya hebat kok."


Mendapat perlakuan seperti itu, Natalie malah bertambah malu rasanya. Ia kembali menyembunyikan wajahnya dibalik dada Nicholas. "Udah ah, jangan dibahas lagi! aku beneran malu."


Melihat Natalie yang menggemaskan itu, Nicholas pun lantas memeluknya erat, seakan ingin Natalie tahu bahwa dia sangat bahagia hari ini. "Terimakasih sayang. Terimakasih karena kau sudah membuat aku merasa berarti ada di dunia ini."


To be continued

__ADS_1


Jadi bagaimana perasaan kalian?


__ADS_2