Husband From Hell (Suami Dari Neraka)

Husband From Hell (Suami Dari Neraka)
Sebenarnya siapa aku?


__ADS_3

Sepanjang perjalanan Natalie tak bicara sedikitpun dengan Nicholas. Entah kenapa laki-laki itu membuat pertahanannya kembali goyah. Rencana awal untuk menghilangkan semua perasannya itu kembali dipertanyakan.


Apakah dia sanggup? apalagi jika perlakuan Nicholas semacam tadi. Jelas saja Natalie merasa Nicholas masih peduli padanya.


Citttt


Tiba-tiba Nicholas menghentikan mobilnya mendadak, membuat tubuh Natalie terhuyung ke depan, untung saja dia memasang seat belt nya dengan benar.


"Kamu apa-apaan sih?" geram Natalie.


"Ya orang ada kucing lewat," alasan Nicholas. Sebenarnya tidak ada kucing atau mahluk apapun yang melintas, dia hanya berpura-pura agar Natalie berhenti melamun dan dia bisa membuka pembicaraan dengan wanita itu.


Natalie kembali meluruskan pandangannya, meskipun hatinya menggerutu.


Satu menit kemudian


"Terimakasih."


Rencana Nicholas berhasil. Akhirnya bibir wanita itu terbuka juga.


"Untuk apa?"


"Ya, karena kau telah menolongku."


"Oh, itu." Seolah acuh tak acuh, Nicholas pun hanya menjawab seperlunya saja, padahal dia sendiri yang ingin Natalie mengajaknya bicara.


"Dasar laki-laki gila. Menyebalkan." geram Natalie dalam hatinya. Tak sadar bibirnya komat Kamit karena menyumpahi Nicholas. "Dasar manusia aneh."


"Kau sedang membicarakan ku?"


"Ah, ti_tidak."


Jelas Nicholas pikir iya. Karena hanya ada mereka berdua di sana.


"Wanita bodoh! Jangan pernah sesekali lagi kau memakai pakaian seperti itu." Nicholas bicara, tapi pandangannya tetap fokus tertuju pada jalanan.


"Memangnya kenapa? ... masalah?"


"Iya, jelas itu masalah. Aku tidak suka melihat kau membuat banyak lelaki tergoda karenamu. Dasar wanita bodoh."


"Ya jelas itu masalah. Lihat! kalau aku tidak ada di sana, mungkin semua orang sudah mengambil gambar mu untuk mereka post di laman Instagram mereka, dengan caption 'kapan lagi liat paha_"


"Apaan sih kamu?" ujar Natalie kesal. "Lagian di sana juga ada Erick. Dia juga mau bantuin aku kalo kamu 'gak nyerobot narik aku."


Cittt


"Nichoooo!!!"


Mendengar kata Erick, lagi-lagi Nicholas sengaja menginjak pedal rem nya mendadak.


"Kamu apa-apaan sih? aku mau turun aja!"


"Ya sudah, sana turun!"


Natalie benar-benar geram. Kalau dia memang tidak berniat membawanya pulang, kenapa dia harus merebutnya dari Erick.

__ADS_1


Sumpah demi apapun, Natalie kesal setengah mati pada laki-laki itu.


"Oke! aku turun."


Nicholas tak bergeming saat melihat Natalie mulai membuka pintunya, sampai akhirnya wanita itu sudah benar-benar keluar.


"Sudah?" tanya Nicholas sambil sedikit memiringkan tubuhnya untuk melihat Natalie yang berdiri di luar.


"Su_sudah."


Natalie mulai takut. Dia sebenarnya ragu keluar dari mobil itu. Apalagi saat melihat orang yang berlalu lalang menatap ke arahnya seperti mentertawakannya.


"Ya sudah, tolong tutup lagi pintunya!" kata Nicholas.


Beberapa detik kemudian.


"Kau tidak dengar aku! tolong tutup pintunya!" ulang Nicholas pada wanita yang tak bergeming dari tempatnya.


"Arghhhh," Natalie mengacak-acak rambutnya frustasi.


Sampai akhirnya


Brugh (suara pintu mobil tertutup)


"Udah, udah aku tutup," katanya. Tapi dia menutupnya dari dalam. Artinya dia kini sudah ada di dalam mobil Nicholas lagi.


"Hahaha," Nicholas tertawa penuh kemenangan, "kau pikir kau bisa menang melawan seorang Nicholas?" ucapnya dengan senyum smirknya, lalu ia pun segera melajukan kembali mobilnya.


"Sumpah demi apapun rasanya aku ingin mencincangnya," geram Natalie dalam hatinya. Kalau bukan karena Jennifer sialan itu, ia pasti saat ini tengah aman dan damai bersama Erick.


Natalie sampai lupa menghubunginya. Ia harus segera meminta maaf karena pergi begitu saja meninggalkan Erick seorang diri di sana. Ya mau bagaimana lagi? nasibnya memiliki suami seperti Nicholas. Laki-laki yang suka memaksanya semau-maunya.


"Halo, Rick. Maaf ya, aku pulang duluan," kata Natalie. Dia bicara dengan seseorang dibalik teleponnya.


"Iya, aku minta maaf juga ya atas perbuatan Nicholas. Aku 'gak tahu kalau dia akan berbuat seperti ini."


"Ngapain sih Natalie minta maaf sama Erick? ... segala bawa-bawa nama aku lagi." geram Nicholas.


"Iya. Besok pagi aku tunggu di tempat biasa ya." Natalie lega, karena ternyata Erick tidak marah padanya.


"Oh, oke kalau begi_"


"Tidak perlu repot-repot menjemput istriku. Aku sendiri yang akan mengantarkannya. Dan mulai hari ini dan seterusnya aku yang akan mengantar jemput dia. Mengerti?"


Tut..Tut..


Sambungan telepon langsung diputuskan setelah Nicholas meminta Erick untuk berhenti menjemput Natalie.


Pluk


Nicholas melempar ponsel itu ke pangkuan Natalie, sementara wanita itu sudah tak kuasa lagi menahan emosinya yang sejak tadi ia tahan-tahan.


"Sebenarnya mau kamu apa sih?"


Nicholas berpura-pura tak mendengarnya. Dia tetap fokus pada jalanan.

__ADS_1


"Nicho!"


Masih diam.


Natalie mulai kesal.


Sampai akhirnya


Citttttttt


Suara decitan ban dengan aspal itu sangat nyaring. Natalie menarik kedua tangan Nicholas sampai Nicholas menginjak pedal rem nya dengan spontan. Beruntung Nicholas segera menginjaknya, kalau tidak mungkin mobilnya akan menabrak pembatas jalan.


"Natalie!!! kamu mau mati ya?"


Mata Natalie tak berkedip. "Biarkan!!! biarkan aku mati daripada hidup dalam ketidakpastian."


Nicholas diam.


"Kenapa? ... aku tanya kenapa sikapmu selalu membuatku bingung. Sebenarnya mau kamu itu apa?" pekik Natalie. "Kalau memang kamu mau balas dendam pada keluargaku kenapa kau tidak langsung saja membunuhku?"


Teg


"Jadi, Natalie sudah mengetahuinya." Tiba-tiba Nicholas teringat kejadian malam itu saat ada vas bunga jatuh tatkala dia sedang membicarakan dendamnya pada keluarga Natalie. "Apa mungkin malam itu dia yang sudah menjatuhkan vas bunga?"


"Kenapa diam? kenapa?"


Air mata Natalie tiba-tiba menetes. "Kamu tahu? aku capek kaya gini terus, aku capek." Dia berusaha terus menahannya. "Kamu sudah terang-terangan mengatakan bahwa kau memiliki dendam pada keluargaku. Bahkan kau menikahiku hanya untuk membalaskan dendam pada keluargaku, tapi kenapa kau bersikap seolah kau peduli padaku, kenapa?"


"Jadi, kau benar-benar sudah mengetahui semuanya?"


"Iya. Aku sudah tahu semua tentang kamu. Tentang dendammu pada keluargaku. Tentang rencanamu untuk menghancurkan keluargaku, aku sudah tahu semuanya, Nic. Aku sudah tahu."


Nicholas tak bisa mengelak lagi.


"Kalau kamu memang ingin menghancurkan keluargaku, kenapa tak langsung kau bunuh saja aku? ... bukankah itu akan mempercepat dendammu untuk terbalaskan?"


"Kenyataannya tidak seperti itu Natalie. Jangankan untuk membunuhmu, jauh darimu saja aku tidak bisa." batin Nicholas.


Natalie terus berusaha menahan emosinya, tapi ia tak bisa membohongi perasaannya, ia hancur. Ia bingung, kenapa sikap Nicholas selalu membuatnya dilema. Laki-laki itu dengan gamblangnya menjelaskan kalau dia menikahinya hanya karena dendam. Tapi kenapa dia memperlakukan Natalie seolah ia peduli. Seolah ia tak mau kehilangan Natalie.


"Aku ... aku," Nicholas gugup. Dia tidak tahu harus menjawab apa.


"Kau dendam pada keluargaku, kau menyekap ibuku, kau juga memintaku melunasi semua hutang-hutang ibuku. Tapi kenapa saat aku berusaha keras memenuhi permintaanmu, kau malah terus menerus menghalangiku?"


Nicholas tidak bisa menjawabnya. Kenyatannya dia memang tidak mau Natalie melunasi hutang-hutang Ibunya. Dia tidak mau Natalie pergi lebih cepat dari yang dia bayangkan. Dia belum sanggup kehilangan wanita itu.


"Lebih parahnya lagi, kau malah bersikap seolah-olah kau peduli, seolah-olah kau takut kehilanganku." Natalie menahan amarahnya sesaat. "Lihat saja hari ini. Di depan orang banyak, kau perlakukan aku layaknya seorang yang sangat kau sayangi, kau lindungi, tapi pada kenyataannya apa? di matamu aku tak lebih hanya sebagai wanita penebus hutang."


Nicholas semakin bungkam.


"Kau tahu kan aku ini seorang wanita? aku lemah, aku tidak mungkin hanya diam saat diperlakukan seperti ini, apalagi oleh yang aku cintai." Air mata Natalie mulai membanjiri pipinya. Ia tak tahan lagi. "Mati-matian aku berusaha menghilangkan perasaanku padamu. Tapi kalau seperti ini, aku jadi semakin sulit untuk melupakanmu. Kau tahu itu?"


"Maafkan aku, Nat. Tapi aku tidak mau kau berhenti mencintaiku." cicit Nicholas dalam hatinya. Tak ingin berlama-lama melihat Natalie menangis ia pun segera melajukan mobilnya kembali, sementara Natalie akhirnya menumpahkan kesedihannya dengan menutup kedua wajahnya.


"Sebenarnya siapa aku di hatimu, Nic?" Natalie Watson.

__ADS_1


To be continued


__ADS_2