
"Nicholas," cicit Erick. Dia tidak menyangka kenapa Nicholas bisa berada di sana. Bukankah seharusnya laki-laki itu sudah pergi ke luar negeri. "Sial kenapa dia bisa ada di sini?" batin Erick.
"Nicho," cicit Natalie. Dengan wajah yang sudah pucat pasi, Natalie menatap sosok laki-laki yang sejak tadi ia harapkan untuk datang itu. Sebenarnya dia ingin mengeluh mengatakan bahwa perutnya sangat sakit sekali, tapi sepertinya saat ini tidak pas waktunya. Natalie harus berusaha kuat di depan suaminya itu.
Betapa sakitnya hati Nicholas saat tatapannya kembali tertuju pada wanitanya itu. Natalie pasti saat ini sedang sangat ketakutan, apalagi dia yang fobia dengan darah. Natalie pasti sudah shock berat.
Baiklah, berhenti melihat Natalie untuk saat ini. Itu hanya akan membuat Nicholas semakin lemah.
Fokusnya saat ini hanyalah menghabisi Laki-laki bernama Erick itu. Dia tidak boleh lemah. Semakin cepat dia menghabisi laki-laki jahat itu semakin cepat juga Nicholas bisa membawa Natalie pergi dari tempat ini.
"Oh, rupanya pahlawan kesiangan kita datang juga," kata Erick sambil berjalan mendekat ke arah Natalie.
"Jangan sentuh dia!" pekik Nicholas. Tapi sayangnya, semakin Nicholas marah, semakin menjadi-jadi Erick menyentuh Natalie.
"Maksudmu seperti ini?" Erick meremas dagu Natalie, membuat wanita itu Meringis kesakitan.
"Bajing@n!" pekik Nicholas tak terima saat melihat wajah istrinya diperlakukan seperti itu. Nicholas sudah mengepalkan tangannya, melangkah mendekati Erick, kalau saja dia tidak ingat perkataan Reynald untuk menahan emosinya ketika berhadapan dengan seorang Erick, karena itu bisa membahayakan nyawa Natalie.
Nicholas kembali mundur, baiklah kali ini dia memang harus menahan sedikit emosinya.
Beberapa orang suruhan Reynald dan polisi juga masih bersembunyi di belakang dinding, mereka tidak langsung datang, mereka semua menunggumu moment yang pas.
"Aku minta baik-baik, lepaskan istriku!" kata Nicholas.
ha-ha-ha
Erick tertawa terbahak-bahak mendengar perintah Nicholas, dia pikir dia siapa bisa memerintah seenak jidatnya.
"Kau pikir semudah itu? ... Jangan mimpi!"
Nicholas kembali tersulut emosi. "Jangan sampai kau menyesali perbuatanmu sendiri, Erick."
"Memangnya kenapa?" Erick menyorot tajam ke arah mata Nicholas, tapi sebelah tangannya tak melepaskan cengkramannya pada dagu Natalie. "Sejak kapan seorang Erick menyesali perbuatannya sendiri? ... Sepertinya itu tidak pernah ada di dalam kamus kehidupanku."
"Sekali lagi aku katakan padamu lepaskan istriku! atau...."
"Atau apa?" tantang Erick.
"ANGKAT TANGANMU! ... KAU SUDAH DIKEPUNG!"
beberapa orang polisi keluar dari persembunyiannya, diikuti beberapa orang suruhan Reynald yang sudah siap dengan senjata apinya.
"Sial!" pekik Erick. Sebenarnya dia juga tidak sendiri, ada beberapa orang suruhannya di belakangnya yang juga siap dengan senjata apinya.
Tapi jumlah orang suruhannya dengan pasukan yang dibawa Nicholas jelas kalah jumlah dan Erick harus mengakui kekalahannya kali ini.
Erick mengangkat kedua tangannya.
"Turunkan senjata kalian!"
Beberapa orang suruhan Erick segera menurunkan senjata di tangannya kemudian ikut mengangkat kedua tangannya ke udara.
Melihat keadaan sudah membaik, Nicholas buru-buru berlari, mengejar wanitanya.
Tapi keadaan ini tak di sia-siakan Erick, dengan liciknya Erick menarik sebuah senjata tajam yang diletakkan anak buahnya dan mengarahkannya pada Natalie.
"Berhenti, atau pelatuk ini akan kutarik!"
Deg
Semua mata menatap pada Erick. Laki-laki gila itu benar-benar sudah hilang akal sehatnya. Bisa-bisanya dia mengancam nyawa Natalie seperti ini.
"SEKALI LAGI KAU BERANI MENYENTUHNYA, KAU AKAN MATI DI TANGANKU" geram Nicholas, tapi dia tidak beranjak dari tempat dia berpijak, karena dia takut jika laki-laki psikopat itu akan benar-benar melukai wanitanya.
"Oiya?" Erick menunjukkan senyum smirk-nya. "Lalu, jika aku menyentuhnya apa yang akan kau lakukan padaku?" ejek Erick. "Bahkan untuk bergerak pun kau tidak mampu kan?"
Erick benar. Bagaimana mungkin Nicholas bisa membunuh Erick, jika untuk melangkah satu langkah saja dia takut.
"Sekarang turunkan semua senjata kalian!" kali ini Erick yang mengambil perintah.
Awalnya tidak ada seorangpun yang mau menurunkan senjata tajamnya, karena mereka pikir jumlah mereka jauh lebih banyak.
__ADS_1
"Ikuti apa katanya!" perintah Nicholas dengan suara yang gemetar.
Melihat kekhawatiran Nicholas begitu besar pada Natalie, semuanya pun akhirnya terpaksa menyerah. Mereka terpaksa menurunkan senjata agar wanita yang kini dalam sekapan Erick selamat.
Ha-ha-ha.
Erick kembali tertawa.
"Bagus!" Erick kini memaksa tubuh lemah Natalie untuk bangun, dengan senjata tajam yang terus dia todongkan di kepala wanita itu. "Cepat bangun! ikut aku."
Erick terus menuntun Natalie agar keluar dari ruangan itu, sementara 2 dari beberapa orang suruhannya diperintahkan untuk menyiapkan mobil mereka akan kabur.
Dengan darah yang menetes, dan tubuh yang sudah lemah, Natalie terpaksa mengikuti perintah Erick.
"Hikss." Natalie terisak, menahan sakit dan perihnya perutnya.
Sungguh Nicholas merasa gagal, apa yang harus ia lakukan saat ini?
Jika dia berontak itu sama saja artinya dia mengancam nyawa wanitanya sendiri. Tapi jika dibiarkan Erick akan pergi membawa Natalie, lalu apa yang harus ia lakukan?
"Jangan mendekat!" ancam Erick lagi saat ia melihat langkah Nicholas terangkat, "atau nyawa wanita yang sangat kau cintai ini akan habis saat ini jug_"
Dorrr
Suara letupan pistol meledak. Sasaran itu tepat mengenai kaki Erick.
Arghhhh
Laki-laki itu langsung mengerang kesakitan sambil memegangi kakinya.
Beberapa menit yang lalu.
Reynald mendaratkan helikopternya tepat di depan kantornya. Dia langsung buru-buru masuk ke salah satu ruangan yang hendak ia tuju.
"Selamat siang, Pak."
"Siang, Pak."
"Pak, Reynald," ucap Kevin. Dia langsung berdiri saat atasannya itu datang.
"Kevin, cepat ikut aku!" Reynald menarik lengan Kevin.
"Ada apa, Pak?"
"Nanti saya jelaskan."
Kevin mengangguk, dia terus mengikuti langkah kaki Reynald di belakangnya yang berjalan dengan cepat.
Kevin terkejut saat Reynald mengajaknya masuk ke dalam sebuah helikopter yang terparkir di depan kantornya.
"Aku tahu ini mimpimu. Ini saatnya kau menunjukkan kemampuanmu," ucap Reynald.
Kevin masih bingung, apa maksud dari ucapan Reynald.
Diketahui, ternyata Reynald adalah kakak kelas sewaktu di bangku kuliah dulu, hanya saja Kevin tidak menyadarinya.
Reynald tahu, jika cita-cita Kevin adalah menjadi seorang pilot. Reynald juga pernah memergoki Kevin sedang latihan menerbangkan helikopter di salah satu pusat pelatihan kala itu.
"Da_dari mana Bapak tahu?" tanya Kevin.
"Ini Bukan saatnya aku menjelaskan. Sekarang cepat kemudian helikopter ini!" titah Reynald.
Tanpa basa-basi lagi Kevin angsung mengambil alih tempat di depan kemudi sementara Reynald duduk di sampingnya.
Dengan canggung, Kevin mulai menunjukkan kemampuannya.
Apa alasan tiba-tiba Reynald menjemput Kevin?
Rupanya sepanjang perjalanan Reynald khawatir pada Nicholas. Dia takut jika Erick akan berbuat hal-hal yang lebih gila.
Reynald tidak bisa meninggalkan Nicholas sendirian dia harus membantunya. Reynald tahu, Nicholas pasti akan lemah jika melihat Natalie terluka. Tapi di satu sisi dia juga sudah berjanji pada Nicholas bahwa dia akan menyelamatkan ibunya.
__ADS_1
Di saat kegelisahannya, Reynald teringat akan adik kelasnya yang mempunyai bakat sepertinya yaitu mampu mengemudikan helikopter, Kevin. dia ingat adik kelasnya yang pernah populer kala itu yang kini menjadi anak buahnya di kantor.
Reynald bisa memanfaatkan Kevin untuk membantunya terbang ke luar negeri, sementara ia kembali membantu Nicholas. Terlebih Reynald tahu, jika Kevin sangat akrab dengan Natalie, dia yakin kalau Kevin mau membantunya.
"Tapi, Pak. Saya tidak punya surat-surat izin penerbangan," ucap Kevin takut saat Reynald menjelaskan apa yang harus Kevin lakukan.
"Tenang saja! ini bukan penerbangan ilegal, ini darurat," ucap Reynald. "saat kau mendarat nanti, aku sudah memerintahkan beberapa polisi untuk menyambutmu, jadi kau tidak perlu takut."
Sejujurnya Kevin masih ragu, apakah dia akan benar-benar melakukan ini?
Ini adalah kali pertamanya ia menerbangkan helikopter sendiri ke luar negeri tanpa pengawasan, meskipun sebenarnya kemampuannya di bidang penerbangan memang tidak bisa diragukan lagi. Kevin sering menyempatkan dirinya untuk latihan bersama temannya yang merupakan seorang pilot.
"Aku yakin kau bisa," kata Reynald. "Kali ini aku minta tolong sekali."
Meskipun ragu, tapi akhirnya Kevin menyetujuinya juga, ini semua ia lakukan karena Reynald bilang bahwa nyawa Natalie adalah taruhannya.
Mereka sudah sampai kembali di depan rumah tempat penyekapan Natalie. Reynald buru-buru turun dari helikopternya. "Aku percayakan padamu!" Reynald menepuk bunda Kevin, memberikan semangat bahwa dia yakin kalau Kevin mampu.
"Ya, aku akan berusaha semaksimal mungkin," sahut Kevin dengan mantapnya.
Tanpa basa-basi lagi, Reynald langsung berlari masuk menerobos rumah itu setelah Kevin pergi.
Dugaan Reynald tepat sasaran, Erick laki-laki jahat itu melakukan tindakan diluar dugaan.
"Bangs@t," pekiknya. Tanpa kompromi, Reynald langsung beringsut bersembunyi dan mencuri salah satu senjata tajam milik salah satu polisi yang tergeletak di lantai tanpa sepengetahuan siapapun.
Dan tanpa aba-aba lagi, Reynald langsung menarik pelatuk pistol itu tepat di kaki Erick.
"Arghhhh."
Erick mengerang kesakitan.
Melihat kondisi Erick yang memegangi kakinya Nicholas langsung berlari meraih tubuh wanitanya.
"Kamu tidak apa-apa sayang?"
Natalie menangis di pelukan Nicholas, tapi itu tak lama. Karena Nicholas buru-buru menggendongnya membawanya menjauh dari Erick.
"Cepat amankan dia!" teriak Reynald pada polisi.
Beberapa polisi langsung bersigap menarik kembali senjata tajamnya, berlari dan menyergap beberapa orang suruhan Erick.
Tapi sepertinya Erick tak mau kalah, dia juga memerintahkan orang-orang suruhannya untuk menyerang polisi polisi dan orang suruhan Nicholas itu.
"BUNUH MEREKA SEMUA! BILA PERLU KITA SEMUA MATI DI SINI," teriak Erick.
Sehingga terjadilah baku tembak antara kubu Erick dan kubu Nicholas.
*Dor
Dor*
Suara letupan pistol itu menggema ke seluruh penjuru ruangan. Baku tembak antara polisi dan orang-orang suruhan Erick itu tak bisa terhalang kan lagi.
Reynald dengan gagahnya menghalangi tubuh Nicholas dan Natalie. "Cepat bawa dia kabur!" titah Reynald sambil terus meledakkan senjata tajamnya mengarah ke orang-orang suruhan Erick.
Nicholas langsung mengiyakan perintah Reynald, membawa Natalie ari kabur, keluar dari tempat itu.
Tapi baru saja sampai pintu, Nicholas mendengar teriakkan Reynald.
Dorr
"Arghhh."
Reynald terkena tembakan Erick yang tepat mengenai dadanya.
"Rey," pekik Nicholas.
Reynald tumbang dengan darah yang mengalir. Erick menatap sinis ke wajah Reynald. Meskipun kakinya terluka, namun rupanya tangan Reynald masih bisa berfungsi dengan baik untuk sekedar menembak.
"Mati kau, Rey!"
__ADS_1