
Natalie dan Nicholas sudah berada di atas kapal pesiar mewah dan megah yang bernuansa romantis itu.
"Nic, ini serius?"
Suara Natalie terdengar bergetar, seiring dnegan rasa tidak percaya dengan apa yang ada di depan matanya saat ini.
Lautan membentang sepanjang penglihatan matanya, langit turut serta menghiasi dengan rona warna yang indah ditaburi bintang berkilauan di angkasa. Ini jelas jauh lebih indah dari apa yang dibayangkannya Natalie selama ini.
"Apakah kau suka?"
Natalie langsung menganggukkan kepalanya. Jelas saja, dia sangat suka, sangat sangat teramat malah. Ini nyaris sempurna seperti apa yang ada dalam benaknya. Bisa berlayar sambil menikmati indahnya pemandangan langit yang bertabur bintang bersama orang tersayang, ini adalah mimpi paling sempurna. Mimpi yang tak pernah ia sangka akan menjadi nyata.
Tak terasa air mata Natalie menetes, mengingat akan betapa indahnya cara Tuhan mengabulkan mimpinya. Lewat seorang lelaki bernama Nicholas, laki-laki yang ia nikahi tahun lalu. Suami yang ia sebut sebagai suami dari Neraka itu. Tapi siapa sangka, jika ternyata rencana Tuhan menghadirkan suami dari neraka itu justru membawanya ke dalam kebahagiaan yang tak pernah terduga sebelumnya.
Iya, dari Nicholas lah ia bisa merasakan apa itu arti cinta sejati. Apa artinya kebahagiaan yang sesungguhnya. Meskipun Natalie tahu, apa yang dia dapatkan saat ini hanya akan menjadi kenangan yang mungkin hanya meninggalkan sesak di kemudian hari.
Natalie yakin, suatu saat kenangan ini justru akan menjadi kerinduan yang takkan terobati.
Tapi Natalie tak perduli, yang penting saat ini dia bisa mewujudkan mimpinya bersama laki-laki yang paling dicintainya.
"Aku suka. Terimakasih Nic. Terimakasih telah menjadikanku tujuan hidupmu."
Malam semakin larut, udara dingin semakin menerpa. Tapi keduanya semakin menikmati malam indah itu.
Lantunan musik pun mengiringi malam penuh cinta dua insan yang menyatu di atas kapal pesiar yang terus berlayar, membelah lautan yang membentang, Natalie dan Nicholas berdansa mengikuti alunan musik romantis.
🎶 Titi DJ : Bahasa Kalbu
Kau satu terkasih
Kulihat di sinar matamu
Tersimpan kekayaan batinmu
M-mm
Di dalam senyummu
Kudengar bahasa kalbumu
Mengalun bening menggetarkan
Kini dirimu yang selalu
Bertahta di benakku
Dan aku kan mengiringi
Bersama
Di setiap langkahmu
Percayalah
Hanya diriku paling mengerti
Kegelisahan jiwamu, kasih
Dan arti kata kecewamu
Kasih, yakinlah
Hanya aku yang paling memahami
Besar arti kejujuran diri
Indah sanubarimu, kasih
Percayalah
***
Cinta
Sejatinya kita pikir hanyalah milik mereka yang terlihat sempurna.
__ADS_1
Tapi ternyata kita salah.
Karena kesempurnaan bukanlah definisi dari kata cinta itu sendiri.
Itu hanyalah obsesi berlebihan dari segi kegilaan kita.
Cinta
Hadir dan menyapa dua pasang manusia yang saling menerima, baik dalam suka duka, maupun segala kelebihan dan kekurangannya.
Saling melengkapi dan saling menguatkan jika salah satu tak mampu bertahan.
Dari kisah perjalanan novel ini, kita belajar banyak hal.
Tentang arti sebuah ketegaran hati seorang Natalie.
Ketika takdir cinta membawanya pada seorang suami yang ia sebut sebagai suami dari neraka.
Natalie
Wanita yang dengan sabar mencintai dengan tulus pria yang selalu saja berusaha mematahkan hatinya.
Pria yang begitu mudahnya bermain tangan hingga akhirnya dengan terang-terangan menduakan cintanya di depan mata kepalanya.
Pria yang selalu saja bersikap semena-mena, menganggap seolah Natalie tak pernah ada.
Tapi siapa sangka? karena ketulusan dan ketabahan hati seorang Natalie lah, keajaiban itu muncul. Nicholas, laki-laki yang dulunya ia anggap suami dari neraka itu akhirnya mengakui dengan terang-terangan, bahwa ia tak bisa hidup tanpa Natalie.
Mereka pun berjanji untuk saling melengkapi.
Tapi kesulitan yang dialami Natalie tak selesai sampai di sana.
Rupanya selama ini Nicholas menderita penyakit langka.
Penyakit yang tak bisa disembuhkan oleh dokter pada umumnya, karena penyakit itu berasal dari orang yang dendam pada Nicholas di masa lalunya.
Natalie tak patah semangat, ia terus berjuang, menemani sang suami untuk bertahan hidup lebih lama lagi bersamanya.
Semua cara telah ia tempuh agar suaminya itu bisa hidup sehat seperti sedia kala, menemaninya hingga hari tua.
Natalie percaya, kekuatan cinta mereka bisa membawa mereka ke dalam kebahagiaan yang seutuhnya. Meskipun Natalie ragu, di dunia ini tak ada tempat untuk kebahagiaan bagi mereka.
"Nat," panggil Nicholas.
"Kenapa, Nic? ... kamu capek?" Natalie memegang dahi Nicholas yang sedikit dingin. Mungkin akibat cuaca yang lumayan ekstrim. "Kita udahan dulu ya dansanya!"
Nicholas buru-buru menggelengkan kepalanya. "Nggak, Sayang. Sampai pagi pun aku akan tetap menemanimu menari jika kau ingin," jawab Nicholas.
"Nic, udah! ... lihat! bibirmu bahkan terlihat sangat pucat. Ayo! lebih baik kita istirahat dulu! kita bisa lanjutkan nanti."
"Aku gpp, Nat. Kamu jangan khawatir. Aku tidak ingin merusak sedikitpun mimpimu ini."
Suasana berubah mendung. Nicholas sebenarnya sejak tadi sudah kelelahan dan menahan sakitnya, tapi dia terus berusaha sekuat mungkin menemani Natalie mewujudkan mimpinya.
Rasa sesak mulai hadir dalam dada Natalie, melihat wajah suaminya yang mulai pucat pasi Natalie merasa bersalah karena telah mengungkapkan mimpinya ini.
"Ini sudah cukup, Nic. Kau sudah mewujudkan semua mimpiku. Kau sudah berhasil membuatku merasa jadi wanita paling beruntung di dunia ini karena memilikimu."
"Aku yang seharusnya bicara seperti itu, Nat. Aku yang beruntung karena bisa memiliki wanita seindah dirimu."
Tangan Nicholas terangkat saat sebutir air mata menetes dari kelopak mata Natalie. "Kau adalah hal terindah yang kumiliki, Nat. Kau adalah alasan untuk apa aku ada di dunia ini."
Tak kuasa menahan haru, Nicholas pun ikut menitikkan air matanya. "Ini tidak ada apa-apanya jika dibandingkan dengan semua perjuangan dan pengorbananmu untukku, Sayang. Terimakasih .... terimakasih telah setia mendampingiku dengan segala kekuranganku ini. Terimakasih karena kau memilih tinggal di sisiku, bersusah payah hidup menahan sulit bersamaku, saat jutaan kesempatan untuk bahagia di luar sana menunggumu, terimakasih karena kau telah memberikan aku seutuhnya kasih sayangmu. Istriku, aku tidak tahu, dengan apa aku harus membalas semua kebaikanmu. Tapi satu hal yang harus kau tahu, aku bersyukur karena terlahir sebagai seorang Nicholas Jhonson, suami dari Natalie Jhonson."
Natalie terisak, ingin rasanya ia menghentikan waktu saat ini juga. Merampasnya dan membawanya lari bersama Nicholas kemanapun ia mau.
"Aku benci waktu, Nic. Aku benci. Kenapa dia harus merenggutmu dariku?"
"Jangan, sayang! Jangan pernah membenci waktu. Karena meskipun waktu pada akhirnya harus memaksa kita untuk saling merelakan, aku yakin, suatu saat nanti, waktu pula lah yang akan kembali mempersatukan kita di keabadian."
Natalie tak sanggup lagi menahan air matanya. Ia benar-benar takut kehilangan Nicholas. Ia tidak tahu, apakah ia akan setegar seperti yang diharapkan Nicholas nanti.
"Jangan pergi, Nic. Jangan tinggalkan aku sendiri. Aku ingin kau melihat anakmu lahir ke dunia ini. Aku ingin anak kita melihat bagaimana tampannya wajah ayahnya. Aku ingin kau memberikan pelukan pertama untuknya. Aku ingin..."
Natalie tak sanggup lagi bicara. Nicholas langsung memeluknya. "Aku ingin hidup dan menua bersamamu, Nic. Aku ingin hidup lebih lama lagi bersamamu. Tidak bisakah kau tinggal lebih lama lagi bersamaku?"
"Aku janji, Nat. Aku akan usahakan, aku akan bertahan sampai dimana anak kita terlahir ke dunia ini. Aku janji. Aku akan bertahan semampuku."
Nicholas melepaskan pelukannya. Ia memangku wajah istrinya. "Seperti kau yang bertahan untukku, aku juga akan bertahan untukmu."
__ADS_1
"Janji!"
"Iya, aku janji." Nicholas menatap sayup wajah Natalie. "Sayang, boleh aku minta sesuatu!"
"Iya, katakanlah!" Natalie mengusap air matanya.
"Jika nanti aku pergi lebih dulu, tolong rawat dan jaga ibuku! ... cintai dia seperti kau mencintai orangtuamu sendiri. Ibuku sudah tidak punya siapa-siapa lagi di dunia ini. Kuharap kau sudi menjadi bagian untuk hidupnya."
"Tentu, Nic. Tentu. Aku akan mencintai wanita yang telah melahirkan mu ke dunia ini. Aku akan mencintainya, melebihi aku mencintai diriku sendiri."
"Terimakasih, Sayang."
Mereka pun kembali berpelukan dan berdansa. Tak lama setelah itu keduanya kembali beristirahat untuk melanjutkan perjalanan esok hari.
***
Keesokan harinya, saat Natalie terbangun dari tidurnya, ia menemukan tangan Nicholas menggengam erat tangannya. Pemandangan yang selalu ia lihat setiap paginya.
Seutas senyum mengulas di pipi Natalie, bahagia tak pernah terkira bisa menjalani harinya bersama yang terkasih.
"Sayang, bangun!" ucap Natalie. "Ayo kita mandi! aku akan buatkan air hangat untukmu."
Lima detik berlalu, sepertinya Nicholas sangat kelelahan semalaman menemani Natalie berdansa di atas kapal, sampai saat Natalie membangunkannya pun ia tak ada respon.
"Nicho, bangun!" Lagi-lagi Natalie memanggilnya.
Tapi sepertinya ada yang aneh, karena tangan Nicholas terasa sangat dingin.
"Nic, Nicho."
Suasana mulai tegang.
Tak ada respon.
"Nicho!!!" pekik Natalie semakin panik. Dan kepanikan Natalie semakin menjadi saat ia melihat darah menetes dari hidungnya.
"Nichooo, bangun, Nic! ... bangun sayang." Natalie terus berusaha membangunkan suaminya. Tapi tetap saja tak ada respon. "Tolooong!" Akhirnya dia bertreriak sekuat tenaga karena tak tahu lagi harus bagaimana membangunkannya. "Tolong aku! ... tolong suamiku!"
Beberapa awak kapal datang, membantu Natalie menyadarkan Nicholas. Tim medis yang disewa pun segera melakukan pertolongan pertama.
Tapi sepertinya ini sangat berbahaya. Nicholas harus segera ditangani dokter ahlinya.
"Cepat hubungi dokter pribadinya!" titah salah satu orang yang menjadi ketua dalam pelayaran itu. "Kita akan mendarat ke sisi terdekat sekarang juga." Setelah itu ia langsung berlari menugaskan sang nahkoda untuk memutar haluannya, mencari daratan terdekat agar bisa menyelamatkan nyawa laki-laki yang sudah hampir kehilangan seluruh kesadarannya itu.
Semua bergegas.
Penyakit Nicholas sepertinya sudah sampai pada puncaknya. Kestabilan tubuhnya turun drastis, mungkin akibat semalaman dengan udara malam yang menusuk, sehingga tubuhnya yang memang tak kuasa lagi menahan akhirnya terkapar dengan lemah dan tak berdaya.
"Nichoooo ... bangun, Nic! ...bangun!!!" pekik Natalie sepanjang perjalanan menuju rumah sakit. "Kamu bilang kamu akan berusaha bertahan untukku, Nic. Mana janjimu?"
Air matanya terus berderai, seakan tak ada jeda yang bisa menghentikannya.
Semua mata menatap sendu dan pilu pada keduanya, membayangkan betapa sulitnya perjalanan kehidupan dua insan itu.
Lima jam operasi berjalan, masih tak ada tanda-tanda juga akan kepulihan nya. Sanak keluarga berdatangan. Mulai dari tuan Jhonson, Selly dan Reynald, bahkan sang Ibu, Merry juga turut datang, saat kondisi seperti ini ia adalah orang yang paling terluka setelah Natalie, karena melihat sang anak terkapar lemah tak berdaya setelah ia berhasil melewati masa sulitnya.
"Ibu mohon, bangun, Nak! ... apa kau tidak kasihan pada Ibumu ini? ... apakah kau juga akan meninggalkan ibu seperti adikmu?"
Merry tak kuasa menahan sesak di dadanya, melihat anak yang dicintainya sedang berjuang melawan mautnya. Berulangkali ia mencoba mengatakan pada dirinya sendiri bahwa ini semua baik-baik saja, tapi nyatanya hati dan perasaan bukanlah sesuatu yang bisa diperdaya.
"Tuhan, izinkan aku menggantikan posisi anakku di sana. Biar aku yang merasakan sakit itu."
Ini terlalu menyakitkan.
Sementara Natalie hanya bisa diam dalam dekapan Selly yang berusaha menenangkan. Untuk menangis saja dia hampir lupa caranya bagaimana.
Sudah terlalu banyak air mata yang tumpah untuk membuktikan kesakitannya.
"Tuhan, jika tak kau izinkan Nicholas bahagia bersamaku di dunia, maka izinkanlah aku bahagia bersamanya kelak di surga."
***
Cinta bukanlah mencari pasangan yang sempurna, tapi menerima pasangan kita dengan sempurna. (Asma Nadia)
Hargailah seseorang yang saat ini ada di sampingmu.
Dia yang sudah meyakinkan hatinya untuk memilihmu sebagai pasangan hidupmu.
Jangan pernah sia-siakan dia, karena bisa saja saat dia memilihmu untuk menjadi pasangan hidupmu ada hati yang harus ia sakiti, ada perasaan yang harus ia kecewakan, semuanya ia lakukan karena ia yakin kalau kamulah orang yang terbaik yang bisa menjaga cintanya sampai akhir hayatnya.
__ADS_1
Hargailah, sayangilah, jangan sampai kita menyesal setelah kesempatan kita bersamanya habis terkikis takdir yang tak memandang kasta.
Cintailah dia yang telah memilih untuk menghabiskan waktunya bersamamu.