Husband From Hell (Suami Dari Neraka)

Husband From Hell (Suami Dari Neraka)
Ungkapan perasaan


__ADS_3

Setelah selesai mandi air hangat dan mengganti bajunya, Natalie diminta Helena untuk turun dan makan malam (tengah malam) lebih tepatnya.


"Aku tidak mau, Bi." Kata Natalie singkat pada Helena.


"Tapi, Tuan menunggumu di bawah, Nona."


"Biarkan saja! aku tidak memintanya."


Helena akhirnya pasrah. Sepertinya Natalie memang tetap kekeuh pada pendiriannya. Sehingga dia pun terpaksa turun dan memberikan jawaban itu pada Tuannya.


"Apa kau bilang? ... dia tidak mau bertemu denganku?" Nicholas menaruh sendok dan garpunya bersamaan, "yasudah, kau boleh kembali."


Helena mengangguk patuh dan akhirnya kembali ke dapurnya. Sementara Nicholas masih terdiam menahan kesalnya pada istrinya itu. Sejak kapan ia jadi pembangkang seperti sekarang?


Apa karena laki-laki bernama Kevin itu dia jadi berani begini?


Natalie tak mau bertemu dan bicara dengan siapapun malam ini. Dia memilih mematikan ponselnya, karena dia hanya ingin istirahat.


Tak lama setelah ia mematikan ponselnya, pemilik rumah itu datang tiba-tiba mengejutkannya.


"Kenapa kau tidak mau makan?" Tanya Nicholas.


"Aku tidak lapar." Sahut Natalie dengan nada malas lalu dia merebahkan tubuhnya di atas kasur.


"Sejak kapan kau berani melawanku?" Nicholas mulai kesal, "apa laki-laki itu yang sudah membuatmu seperti ini?"


Natalie yang hendak menutup tubuhnya dengan selimut itu mendadak kesal karena Nicholas terus mencecarnya dengan pertanyaan. Apalagi Nicholas mulai membawa-bawa nama Kevin disini. Dia tidak tahu, kalau bukan karena Kevin, mungkin dirinya tidak akan ada di sini malam ini.


Diam dan berusaha menarik nafas dalam-dalam, sepertinya ini adalah waktu yang pas untuk Natalie melawan.


"Jangan bawa nama orang lain untuk kau jadikan kesalahan!" Sergah Natalie dengan nada yang mulai tidak santai, "seharusnya kau tanya pada dirimu, kenapa aku bisa seperti ini. Bukan malah menyalahkan orang lain. Kau benar-benar egois."


Nicholas menatap Natalie tak percaya. Sekarang wanita itu malah sudah berani membentak dirinya.


"Apa? kau bilang aku egois?" Nicholas berkacak pinggang.


"Iya, kau egois. Kau tidak pernah menghargai keberadaanku, tapi kau minta aku menghargai posisimu."


Mata Natalie mulai berair. Rasa panas dan sesak mulai menghampiri dadanya.

__ADS_1


"Apa maksudmu? kenapa kau berkata seperti itu? aku selalu menghargaimu." Elak Nicholas.


"Ckk," Natalie berdecak, "dengan cara menyembunyikan semua hal tentangmu dariku. Iya?"


Nicholas terdiam. Dia sadar selama ini memang menyembunyikan banyak hal dari Natalie. Tapi itu semua memang rahasia yang tidak mungkin dia katakan.


Air mata Natalie mulai luruh. "Kau bahkan tidak pernah peduli dengan keadaanku."


Nicholas seperti tersihir saat melihat air mata Natalie turun.


"Kau tahu, tadi aku hampir saja diperlakukan tidak senonoh oleh orang jahat?"


Nicholas mendongakkan kepalanya.


"Apa yang mereka lakukan padamu?" Nicholas panik. Dia langsung berjalan mendekati Natalie, "apa mereka menyentuhmu? apa mereka melukaimu?" tanyanya dengan memperhatikan tubuh Natalie setiap incinya.


Namun dengan sigapnya, Natalie menarik dirinya menjauh dari laki-laki bernama Nicholas itu.


"Kenapa? kau khawatir?" Tanya Natalie dengan tatapan sedikit sinis. Tatapan yang tak pernah ia berikan sebelumnya pada laki-laki yang sangat ia cintai itu. Sejujurnya Natalie juga enggan seperti ini. Tapi Nicholas sudah benar-benar melukai perasaannya.


"Kau seharusnya berterima kasih pada Kevin karena dia telah menyelamatkanku. Bukan malah memarahinya. Kau benar-benar suami yang memalukan."


"Maafkan aku, aku tidak tahu kalau kau_"


Natalie turun dari tempat tidurnya lalu beringsut menuju jendela kamarnya. Menatap lirih ke arah langit yang malam itu tak berbintang sama sekali.


"Beberapa hari lalu kau pergi tanpa ada kabar, lalu kemarin kau datang dan memberikanku banyak kejutan." Ucap Natalie dengan nada yang mulai menampakkan bahwa dirinya tengah menangis. "Kau tahu, bagaimana perasaan ku saat kau memberiku kalung ini?"


Natalie menatap tajam Nicholas.


"Aku berharap kau benar-benar telah kembali seperti dulu, Nic. Aku berharap besar akan itu. Tapi apa? ... kau menghancurkan impianku dengan cara menamparku tanpa alasan." Natalie menahan sesak di dadanya.


"Kau tahu, sejak awal pernikahan ini aku sudah mulai curiga dengan sikapmu. Aku tidak tahu apa yang sebenarnya kau sembunyikan dariku?"


Nicholas menundukkan kepalanya.


"Tapi satu hal yang aku tahu, aku terlalu mencintaimu sampai aku berusaha untuk melupakan semua kesalahanmu dan tetap bertahan disini untukmu."


Natalie tak sanggup lagi menahan sesak di dadanya.

__ADS_1


"Aku hanya berharap suatu saat nanti kau benar-benar kembali seperti dulu."


Natalie tak bisa lagi terus begini. Dia kemudian berlari keluar kamar itu. Mencari tempat yang bisa ia pakai untuk menenangkan dirinya.


Taman, rumah itu memiliki taman yang cukup luas. Di sana Natalie bisa menumpahkan seluruh rasa sakitnya tanpa orang lain mendengarnya.


Hujan malam itu telah kembali ke awannya, sehingga Natalie bisa leluasa bercengkrama dengan alam untuk menuangkan seluruh kesedihannya.


Sementara Nicholas yang merasa bersalah hanya berdiri mematung dan membiarkan Natalie pergi untuk menenangkan dirinya. Dia tahu, Natalie tidak akan mungkin kabur lagi. Karena penjagaan di rumah itu sudah ia perketat sebelumnya.


"Kau jahat, Nic. Kau jahat padaku." Ucap Natalie sambil merebahkan tubuhnya di atas kursi panjang taman itu.


Sepertinya di tempat ini lebih baik daripada harus tidur di kamar dengan laki-laki yang tak pernah memikirkan perasaannya itu.


Dengan dada yang semakin sesak, Natalie menatap langit mendung malam itu.


"Siapa kamu sebenarnya?"


***


Pagi hari, cahaya masuk lewat celah jendela kamar yang terbuka. Natalie mengerjapkan matanya karena silau.


"Sudah bangun?"


Natalie mendapati Nicholas berada di sampingnya. Dia kembali teringat semalam ia tertidur di kursi taman, tapi kenapa pagi ini dia sudah berada di kamar.


Mungkinkah laki-laki ini yang sudah membawanya?


"Cepat mandi dan turun! kita sarapan bersama setelah itu berangkat ke kantor." Ucap Nicholas seraya memakai jam di tangannya.


Natalie yang malas berdebat pagi itu hanya mengiyakan permintaan Nicholas dan berlalu ke kamar mandi.


Setelah selesai melaksanakan sarapan pagi dengan keheningan yang menemani diantara keduanya, kini mereka masuk ke dalam mobil yang sama untuk berangkat ke kantor. Dan ini pertama kalinya bagi Natalie untuk berangkat ke kantor bersama setelah pernikahan mereka.


Antara bahagia dan kesal itulah rasanya, karena Natalie merasa Nicholas melakukan ini setelah Natalie marah. Apa iya harus menunggu Natalie marah dulu barulah Nicholas menganggap dirinya ada. Menyedihkan sekali, pikir Natalie.


"Pulang nanti tunggu aku di tempat biasa! jangan pulang sendiri lagi!"


Natalie hanya menjawab dengan anggukan tanpa berniat menggunakan suaranya. Dia kemudian menatap luar jendela. Menatap gedung-gedung tinggi pencakar langit lebih menenangkan daripada harus melihat wajah laki-laki yang selama ini membuat hatinya tak karuan.

__ADS_1


***


To be continued


__ADS_2