
Sesampainya di depan gedung pernikahan, banyak sekali tamu yang sudah menunggu kedatangan mempelai wanita.
Sembari menunggu, beberapa dari mereka menikmati hidangan yang sudah disediakan.
"Ayo, calon pengantin!" titah Natalie. Selly yang baru turun itu langsung disambut oleh Natalie.
Iya, Selly memang tidak memiliki Bridesmaids khusus untuk pernikahannya itu. Lagipula dia memang tidak punya sahabat akrab, dan dia juga tidak mau menggunakan jasa Bridesmaids. Karena itu hal yang tidak penting baginya, terlebih Selly tidak begitu suka dengan orang baru.
"Aku ... aku grogi," cicit Selly pada Natalie.
"Tidak apa-apa, ini pasti sangat menyenangkan. Ayo!" ajak Natalie lagi sambil menggandengnya, sementara Jhonson dan Nicholas mengikuti di belakangnya.
Begitu sampai di pintu gedung pernikahan, semua mata memandang pada pengantin wanita yang baru datang itu. Hampir semua tertegun dengan kecantikan Selly pagi itu.
Gaun indah yang menjuntai, rambut pirang yang bergelombang, berhasil membuat semua mata terpana, tak terkecuali Reynald yang sudah dengan gagahnya berdiri di depan altar, menunggu kehadiran calon mempelai wanitanya.
"Lihat! sepertinya Rey 'tak mampu berkedip saat melihat wajahmu," bisik Nicholas di telinga saudaranya itu.
Selly tersipu malu. Dia menundukkan kepalanya.
"Pa, ini ku serahkan padamu." Natalie mengantarkan lengan Selly untuk digandeng oleh ayah kandungnya itu.
Jhonson menerima lengan putrinya, lalu dia dengan gagahnya mengantar sang putri untuk menemui Laki-laki yang akan menjadi suaminya.
Jhonson sudah sampai di tempat dimana dia harus melepas putri tercintanya untuk hidup mendampingi Laki-laki lain. Sejujurnya sedih, itu sudah pasti, tapi Jhonson harus mengikhlaskan semuanya karena dia sadar bahwa Selly juga berhak hidup bahagia bersama Laki-laki yang dicintainya.
Reynald masih diam tertegun melihat wanitanya yang begitu anggun dan cantik hari ini. Reynald bahkan lupa caranya berkedip, enggan rasanya sedetik saja berhenti menatap Selly.
Sebelum Jhonson benar-benar melepaskan, dia terlebih dulu memberikan amanat pada Reynald sebagai laki-laki yang akan bertanggung jawab penuh atas kehidupan putri tercintanya selanjutnya. Jhonson meminta agar Reynald dengan sungguh-sungguh mencintai dan menyayangi juga memperlakukan Selly layaknya wanita yang paling dia cintai.
"Jangan pernah melukai putriku! ... karena jika itu sampai terjadi, kau bukan hanya akan menyesali perbuatanmu, tapi kau juga akan menyesal karena Tuhan memberikanmu hidup."
"Pa," rengek Selly malu-malu saat beberapa orang tertawa mendengar ucapan Jhonson yang terkesan mengancam namun menggelikan. Sementara Reynald mengangguk dengan yakin dan menjawab dengan tegasnya.
"Saya janji. Saya akan menjaga putri Papa, mencintainya dan menyayangi sampai akhir hayat saya."
Setelah mendengar jawaban tegas dari calon suami putrinya itu, Jhonson pun melepaskan genggaman tangannya dari Selly. Tapi sebelum benar-benar turun dari altar, Jhonson sempat mencium kening putrinya di depan umum untuk yang terakhir kalinya sebelum putrinya itu jadi milik Laki-laki lain.
Acara pernikahan pun berlangsung.
Saatnya pengucapan janji pernikahan kedua mempelai.
"Teruntuk Selly Jhonson, aku mengambil engkau menjadi seorang istri, untuk saling memiliki dan juga menjaga dari sekarang sampai selama-lamanya. Pada waktu susah maupun senang, pada waktu kelimpahan maupun kekurangan, dan pada waktu sehat maupun sakit. Untuk selalu saling mengasihi dan menghargai, sampai maut memisahkan kita, sesuai dengan hukum Allah yang kudus, dan inilah janji setiaku yang sangat tulus," ucap Reynald,
"Teruntuk Reynald Lexara, aku mengambil engkau menjadi seorang suami, untuk saling memiliki dan juga menjaga dari sekarang sampai selama-lamanya. Pada waktu susah maupun senang, pada waktu kelimpahan maupun kekurangan, dan pada waktu sehat maupun sakit. Untuk selalu saling mengasihi dan menghargai, sampai maut memisahkan kita, sesuai dengan hukum Allah yang kudus, dan inilah janji setiaku yang sangat tulus," balas Selly.
Riuhan tepuk tangan mengakhiri ucapan janji suci itu.
__ADS_1
Kini saatnya Reynald untuk memberikan ciuman pertamanya pada wanita yang kini sudah sah menjadi istrinya.
"Silahkan kepada saudara Reynald untuk memberikan ciuman pertamanya kepada Selly," titah pemimpin acara itu.
Mendengar kata-kata itu, Selly langsung salah tingkah. Pipinya langsung merah merona.
"Nic, lihat deh!" kata Natalie. "Selly sepertinya gugup sekali karena Reynald akan menciumnya untuk pertama kali."
"Oiya?" sahut Nicholas. Laki-laki itu kini malah memeluk istrinya dari belakang, membuat Natalie sontak saja terkejut, lalu Nicholas juga meletakkan dagunya di sebelah bahu wanitanya. "Kamu juga dulu begitu," ledeknya. "Pipinya merah, terus gigit bibir bawah malah."
Deg
Sepertinya Natalie salah bicara. Dia malah merasa terpojokkan sekarang.
"Ng_nggak, kok." Natalie mengelak. "Mana pernah? aku mah biasa aja."
Mata Nicholas melirik, dia melihat istrinya tak kalah gugup dari pengantin wanita saat ini.
"Hmpp, biasa aja ya?" ledeknya tak percaya.
"Udah ah, apaan sih? lepas ah!" Natalie melepaskan dirinya dari laki-laki yang membuat dadanya berdebar tak karuan.
Nicholas pun terkekeh gemas. Tapi dia tak melanjutkan kejahilannya, karena dia tak mau merusak momen bahagia saudara dan juga sahabatnya itu.
Kembali lagi ke pasangan yang baru saja menikah.
"Sel," cicit Reynald. Dia melihat wanitanya itu sangat gugup. Reynald jadi merasa tertantang untuk berhasil menciumnya di depan umum.
"Boleh 'gak sekarang?" tanya Reynald lagi.
Sama seperti Natalie kala itu, saking gugupnya Selly berkali-kali menggigit bibir bawahnya dan tidak tahu harus bagaimana.
Suasana di gedung itu sangat hening, hanya terdengar alunan musik pengiring yang terdengar mendayu-dayu. Sepertinya semua tengah menunggu moment itu. Moment dimana kedua pengantin melakukan ciuman pertamanya di depan publik.
"Sel," panggil Reynald lagi. "Jangan gugup! aku 'gak bakal lama kok. Kasihan tamu-tamu udah nunggu," pinta Reynald. "Sebentar aja ya!"
Selly memberanikan diri mengangkat wajahnya. Benar apa yang dikatakan Reynald, semua mata tengah menatap ke arah mereka. Selly jadi merasa bersalah.
Kali ini Selly sepertinya harus pasrah, membiarkan Reynald menciumnya di depan publik.
"Sebentar aja ya!" cicit Selly memohon agar Reynald tak melakukannya lama-lama.
"Iya, Sayang."
Setelah mendapat persetujuan, tanpa basa-basi lagi Reynald pun langsung menggenggam tangan wanitanya. Sebelah tangannya kemudian menarik pinggang Selly agar mempermudah Reynald untuk menjangkau bibir mungil yang akhirnya menjadi milik Reynald itu.
Beberapa detik lamanya Reynald menikmati bibir Selly yang ternyata lebih manis dari yang dia bayangkan.
__ADS_1
Perjanjian awal yang katanya hanya sebentar itupun nyatanya dilanggar. Reynald tak pernah menyangka ternyata semanis ini ciuman pertamanya. Karena jujur saja selama ini Reynald tidak pernah melakukan ciuman dengan wanita. Karena bagaimana mungkin dia mau berciuman, pacaran saja dia belum pernah.
Riuhan tepuk tangan dan bunyi dari terikan mengiringi proses itu.
"Mppp." Selly berusaha menyadarkan Reynald untuk segera menyudahi ciuman itu, tapi sepertinya Reynald lupa diri. Dia malah semakin mendalami kenikmatan itu dengan mengangkat tangan sebelahnya dan menarik tengkuk leher Selly agar ciumannya semakin dalam.
Natalie dan Nicholas yang melihatnya pun tak ketinggalan menertawakan tingkah menggemaskan pasangan baru itu.
"Sayang, kok aku jadi pengen."
Natalie langsung mendelik terkejut saat melihat wajah memelas Nicholas di sampingnya.
"Apaan sih kamu?"
Nicholas merengut saat Natalie berpura-pura tak mengerti apa yang diinginkannya.
"Hey! ini acara pernikahan saudaramu, dan kau masih saja merajuk hanya karena tak diberikan ciuman?" ujar Natalie.
Nicholas akhirnya terkekeh, karena dia memang hanya berpura-pura marah, padahal sebenarnya tidak.
"Ayo, cepat! kita harus mengambil foto bersama sebelum mereka pergi bulan madu," ajak Natalie sambil menggandeng tangan Nicholas.
"Hay, Rey, selamat ya!" ucap Natalie sambil memeluk Reynald.
"Jangan lama-lama meluknya!" Nicholas menarik tubuh Natalie yang menurutnya terlalu lama memeluk Reynald itu. "Memanfaatkan kesempatan banget sih," kata Nicholas pada Reynald.
Reynald menatap tak terima. "Enak saja. Sekarang aku juga sudah punya yang halal dong buat dipeluk." Reynald membela diri sambil benar-benar memeluk Wanita di sampingnya. Wanita yang sekarang sudah sah menjadi istrinya.
"Hahahaha, iya ... iya. Aku hanya bercanda," kata Nicholas. Laki-laki itupun lantas memberikan ucapan selamat dengan memeluknya juga.
Bergantian, Natalie juga memberikan pelukan pada Selly dan diikuti Nicholas setelahnya.
"Rencana mau honeymoon kemana?" tanya Nicholas.
"Mppp, belum dipikirkan," balas Reynald. "Rencana sih nanti aja dulu."
"Oh, ya sudah. Kalau sudah punya tempat yang bagus kabarin aku ya!" kata Nicholas.
"Loh, buat apa? .. kenapa mereka harus bilang sama kamu?" tanya Natalie heran, sementara Selly dan Reynald yang ikut heran hanya menunggu jawaban dari Nicholas.
"Biar kita bisa double date dong."
Natalie mencubit pinggang Nicholas gemas. "Dasar, mau ganggu moments orang aja!"
"Aduh, aduh sakit sayang."
Selly dan Reynald pun tertawa melihat kelakuan Nicholas yang menurut mereka sangat berbalik dari sifat pribadinya.
Pernikahan pun diakhiri dengan foto bersama keluarga besar dan juga pelepasan puluhan ekor burung merpati di depan gedung mewah itu.
__ADS_1
Reynald dan Selly pun segera melesat meninggalkan gedung pernikahan itu, menuju apartemen baru yang baru saja dibeli Reynald khusus untuk tempat tinggal setelah pernikahan mereka.
To be continued