Husband From Hell (Suami Dari Neraka)

Husband From Hell (Suami Dari Neraka)
Tawaran Nicholas


__ADS_3

"APA?" Natalie tak bisa menyembunyikan keterkejutannya, "penjahat itu membawa kabur berlian yang baru saja ibu beli?" lanjutnya.


Nadia hanya mengangguk sambil menangis. Dia bingung entah harus bagaimana mengganti uang senilai ratusan juta itu. Sementara Thomas yang pusing hanya menundukkan kepalanya sambil memijit-mijit keningnya. Cobaan demi cobaan terus datang menghampiri keluarga mereka. Entah, ada dosa apa mereka di masa lalu, sampai harus menanggung masalah serumit ini.


"Ibu juga tidak tahu kalau keadaannya akan seperti ini, Nak!" Nadia kembali terisak. Menangis dan meratapi nasibnya, "Nak, tolong bantu Ibu! ... ibu tidak mau masuk penjara. Tolong ibu!"


Natalie ikut memijit pelipisnya yang seketika menjadi berat. Ia tidak tahu harus melakukan apa? karena berlian yang hilang itu nominalnya bukan puluhan juta lagi, tapi ratusan juta.


"Tapi aku tidak punya uang sebanyak itu, Bu." Natalie memalingkan wajahnya, "dari mana aku bisa mendapatkan uang ratusan juta dalam sekejap?"


"Kau bisa meminjam dulu pada suamimu?" usul Nadia lagi-lagi adalah meminjam uang pada Nicholas. Padahal tanpa ia sadari semakin banyak dia meminjam uang, maka semakin erat juga ikatan keluarganya dalam jeratan Nicholas.


"Jangan, Natalie!" Kali ini suara Thomas terdengar bergemuruh tegas. Ia sangat menolak mentah-mentah jika harus meminta bantuan lagi kepada Nicholas, menantunya. Jelas saja karena Thomas masih punya harga diri dan urat malu dibandingkan istrinya itu, "jangan kau bawa bawa lagi Nicholas dalam masalah keluarga kita! Ayah sudah sangat malu kepadanya, karena setiap kali ada masalah kita selalu saja menggantungkan hidup kita kepadanya."


"Tapi apa yang akan kita lakukan? ibu tidak mau masuk penjara." Nadia kembali protes.


"Sepertinya penjara lebih baik untukmu, Nadia. Supaya kau belajar artinya kehidupan, dan Jangan berpikir yang manis-manis saja." Thomas melengos pergi meninggalkan kamar itu. Dia sudah lelah, atas apa yang selam ini Nadia perbuat. Bahkan terlintas di pikiran Thomas, andai saja dulu dia memilih menikah dengan kekasihnya yang ia tinggalkan demi Nadia, mungkin kejadiannya tidak akan seperti hari ini.


Sementara Nadia menggerutu saat Thomas pergi. "Suami macam apa kamu, yang menginginkan istrinya masuk penjara? dasar tidak punya hati."


"Ibu, sudah! Ayah hanya bercanda. Jangan dianggap serius," Natalie memejamkan matanya sesaat, "untuk urusan ini, biar aku bicarakan dulu dengan suamiku. Mungkin dia punya solusi. Tapi, untuk meminjam uang padanya aku tidak bisa."


"Loh, Kenapa? uang 750 juta untuk Nicholas rasanya bukan apa-apa."


"Apa ibu bilang?" Natalie terkejut. Pantas jika Thomas kesal. Nadia memang terlalu menggampangkan urusan, "bukan apa-apa baginya, tapi tidak denganku," Natalie ikut meninggalkan Nadia, "sudahlah! tunggu disini! aku akan coba bicara dulu."


***

__ADS_1


"Apa? ... 750 juta?" Nicholas tersentak, "gila! baru saja kemarin 50 juta. Sekarang sudah minta 750 juta. Kau pikir aku ini ATM berjalan keluargamu?"


Natalie mengernyitkan matanya, sedikit takut saat mendengar ucapan Nicholas.


"Aku tidak meminta kau meminjamkan uang sebanyak itu. Hanya saja, aku minta tolong padamu. Bagaimana aku bisa mendapatkan uang sebanyak itu dalam waktu dekat ini ... Atau kau bisa menambahkan pekerjaanku. Apa saja! aku bisa melakukannya."


"Kau tahu! meskipun kau bekerja satu tahun berturut-turut, selama 24 jam. Kau tidak akan bisa mendapatkan uang sebanyak itu, mengerti!" Nicholas meninggikan suaranya, "kecuali ...."


"Kecuali apa, Nic? katakan! ... jika aku bisa melakukannya, aku akan lakukan apapun. Asalkan ibuku tidak masuk penjara."


Nicholas tiba-tiba memiringkan bibirnya. Akhirnya waktu yang ditunggu-tunggu datang juga. Dia punya kesempatan untuk memasukkan Nadia ke dalam perangkap yang sebenarnya.


***


Keduanya kini sudah kembali berkumpul dengan orang tua Natalie. Sudah ada Thomas, Nadia, Natalie dan juga Nicholas di ruang tamu. Mereka akan membahas jalan keluar dari permasalahan ini.


"Jadi, bagaimana rencana mu Nicholas?" Nadia mulai tak sabaran. Sejak tadi dia memang tak bisa tenang. Memikirkan berlian-berlian itu memang membuatnya ketakutan. Dia tidak mau dipenjara. Hanya itu yang sejak tadi berkutat di pikirannya.


"Tapi aku punya solusi," lanjut Nicholas. Dia sempat berjalan dengan langkah kecil mengelilingi ruangan yang tidak terlalu besar itu, membuat Nadia tak henti mengikutinya kemanapun arah Nicholas pergi, "aku punya tawaran pekerjaan yang cocok, yang bisa menghasilkan uang 750 juta dalam jangka waktu dekat."


"Apa itu?" tanya Nadia dengan antusiasnya.


Nicholas sempat menunda-nunda ucapannya, sengaja agar Nadia semakin penasaran.


"Cepat katakan, Nicholas!" Nadia semakin tak sabaran.


"Bu," Natalie menahan Nadia agar tidak memaksa Nicholas untuk terburu-buru. Dia tahu siapa suaminya itu. Nicholas adalah orang yang paling tidak suka di buru-buru. Apalagi oleh orang yang tidak penting.

__ADS_1


"Aku punya teman, dan dia sedang membutuhkan perawat untuk merawat ibunya yang sakit."


"Perawat?" tanya Natalie heran. Hanya seorang perawat. Ini jelas gila. Mana mungkin Nadia akan bisa mendapatkan uang sebanyak itu hanya dengan menjadi seorang perawat. "maksudmu, kau ingin Ibu menjadi perawat itu?"


Nicholas menggelengkan kepalanya, "tidak-tidak! aku tidak meminta ibu menajadi perawat. Hanya saja, aku menawarkan, jika kalian mau. Tentang siapapun yang akan mengambilnya. Aku serahkan pada kalian."


Nadia sempat menimang-nimang. Siapa lagi yang akan bekerja kalau bukan dirinya. Natalie punya pekerjaan sendiri, suaminya tidak mungkin menjadi perawat, karena biasanya perawat itu seorang perempuan.


"Bagaimana?" Nicholas bertanya pada Nadia, "apa kalian bersedia? ... kalau kalian mau, aku bisa langsung menghubungi orang itu.


Nadia masih menimang-nimang tawaran Nicholas. Apa benar, hanya dengan menjadi seorang perawat ia akan mendapatkan uang sebanyak itu.


"Apa kau yakin, ibu bisa mendapatkan uang sebanyak itu hanya dengan menjadi seorang perawat."


Nicholas mengangguk, "lebih dari itupun bisa."


Melihat ucapan Nicholas begitu meyakinkan, Nadia pun akhirnya memilih.


"Baiklah, kalau begitu Ibu mau." Dengan sedikit ragu-ragu akhirnya menerima tawaran itu. Tawaran yang akan segera mempertemukannya dengan sebuah kenyataan besar. Kenyataan bahwa ada dendam dibalik semua kebaikan yang Nicholas tawarkan.


"Bu," Natalie menatap heran ke arah ibunya. Sejujurnya ia tidak tega jika harus melihat orangtuanya bekerja di tempat orang. Apalagi ini menjadi seorang perawat. Natalie tidak tega rasanya.


"Tidak apa-apa, Natalie!" kini Thomas yang giliran bicara, "biarkan ibumu itu belajar bertanggung jawab atas kesalahannya." Thomas lantas berdiri dari duduknya, lalu menepuk pundak Nicholas, "Nak, Nicho. Ayah berterima kasih banyak atas kebaikan mu."


"Sama-sama." Nicholas menjawabnya dengan senyuman. Senyuman yang sejujurnya memilikinya rencana lain dibalik itu semua.


***

__ADS_1


Rencana apa yang sebenarnya akan Nicholas lakukan pada keluarga Natalie?


To be continued


__ADS_2