Husband From Hell (Suami Dari Neraka)

Husband From Hell (Suami Dari Neraka)
Amarah Kevin


__ADS_3

Pagi hari sekali Natalie sudah memilih untuk berangkat kerja. Meskipun keadaan hatinya sedang dalam keadaan yang tidak baik-baik saja, tapi dia lebih memilih kantor untuk sedikit menepis rasa sedihnya, daripada di rumah saja, justru itu akan semakin membuat lukanya semakin mendalam karena kejadian semalam.


"Nat, are you okay?" Eliza memiringkan wajahnya, melihat wajah Natalie yang terlihat sangat pucat.


Kevin yang sedari tadi diam, ikut melirik ke arah Natalie. Dia melihat wajah Natalie memang benar-benar sedang dalam keadaan tidak baik-baik saja.


Apa Nicholas kembali menyakitinya?


"Aku gpp, Liz." Natalie kembali merapikan beberapa dokumennya.


BUGH


Beberapa dokumen Natalie berjatuhan dan berceceran karena tangan Natalie terlalu lemah saat mengangkatnya. Eliza yang melihatnya langsung membantu sahabtanya itu.


"Gak usah,Liz. Aku bisa sendiri kok. "Cegah Natalie, namun tubuhnya benar-benar tidak bisa dibawa berbohong. Kepalanya mendadak pusing dan pandangannya sedikit kabur saat ia berusaha jongkok untuk membantu Eliza. Semalaman suntuk ia tidak bisa tidur dan terus menangis karena memikirkan suaminya. Alhasil ia memilih duduk dan membiarkan Eliza yang membereskannya.


"Ikut aku sekarang, Nat! aku yakin kamu gak baik-baik aja."


Setelah selesai merapikan dokumen, Eliza langsung menarik tangan Natalie masuk ke sebuah ruangan kesehatan di kantor itu.


"Liz, aku gpp, beneran." Natalie terus berusaha meyakinkan Eliza agar tidak mengkhawatirkannya.


Tak menggubris, Eliza langsung meminta Natalie duduk di sofa yang disediakan di ruangan itu.


"Diam dan duduk disini!" Perintah Eliza. Setelah itu dia langsung menghubungi seorang pelayan kesehatan untuk datang dan memeriksa keadaan Natalie, namun dari hasil pemeriksaan ternyata hasilnya Natalie hanya mengalami kelelahan. Tak ada penyakit yang bersarang di dalam tubuh wanita itu, dan itu membuat Eliza bingung. Apa yang sebenarnya terjadi dengan sahabatnya itu. Ini tak seperti biasanya.


"Nat, sebenarnya ada apa sih sama kamu?" Eliza mulai mengintrogasi Natalie. Dia sebenarnya sudah tidak tahan melihat sikap sahabatnya itu semenjak menikah dengan Nicholas. Harusnya Natalie bahagia, tapi kenapa ini malah kebalikannya. Eliza kerap kali melihat wajah murung pada Natalie.


Natalie menundukkan kepalanya. Sejujurnya dia tak ingin menceritakan masalah pribadinya kepada siapapun, termasuk sahabantnya, Eliza.


"Nat, lihat aku!" Eliza menarik dagu Natalie, "aku ini sahabatmu!" ucapnya dengan nada penuh penekanan, "kalau ada sesuatu cerita sama aku, Nat. Siapa tahu aku bisa bantu kamu kan? ... bukankah itu gunanya sebuah persahabatan?"


Tak ada jawaban dari Natalie, dia malah menitikkan air matanya, membuat Eliza semakin bingung dibuatnya.

__ADS_1


"Nat, arghhhhh." Eliza membanting tangannya kesal. Natalie selalu saja menutupi masalahnya.


Bukan hanya ada mereka di ruangan itu. Diam-diam Kevin mengendap masuk ke ruangan itu untuk mencari informasi apa yang sebenarnya sedang terjadi dengan Natalie dengan berpura-pura mencari obat sakit kepala.


"Oke, kalau kamu emang tetep gak mau cerita sama aku, gpp." Eliza meraih ponsel miliknya di samping Natalie, "mungkin selama ini cuma aku yang nganggap kamu sahabat."


Eliza terlihat menitikan air matanya, dan Natalie bisa melihat itu saat Eliza berusaha menyekanya. Eliza benar-benar kecewa karena Natalie tidak pernah mau terbuka dengannya. Dia memilih keluar dari ruangan itu daripada harus menemani orang yang tidak pernah menghargainya sebagai sahabat.


"Eliza," panggil Natalie saat melihat Eliza mulai pergi meninggalkannya.


Langkah Eliza terhenti. Dia berusaha mengatur nafas dan emosinya agar kembali stabil.


Melihat Eliza terhenti, Natalie langsung berdiri dari sofa dan memeluk tubuh Eliza dari belakang sambil terisak. "Jangan pergi, Liz. Aku gak punya siapa-siapa disini. Jangan tinggalin aku!"


Beberapa detik Eliza terdiam dan membiarkan Natalie terisak sambil memeluknya.


"Aku minta maaf, Liz. Aku salah. Iya, harusnya aku menceritakan ini padamu sejak awal."


Eliza yang mendengar ketulusan Natalie langsung membalikkan tubuhnya dan balik memeluk Natalie dengan penuh kehangatan. "Aku gak bakalan ninggalin kamu, Nat. Gak akan. Tapi tolong anggap aku sebagai sahabatmu! aku bisa menjadi tempat mu untuk bersandar kalau kau butuh sandaran. Aku bisa menjadi pendengar setiamu kalau kau ingin menumpahkan keluh kesahmu."


"Jadi sebenarnya ada apa denganmu selama ini, Nat?"


Natalie memejamkan matanya. Akankah dia benar-benar menceritakan kejadian sebenarnya antara dirinya dengan Nicholas.


Flashback On


Plak (Sebuah tamparan mendarat di pipi Natalie)


"Jangan menyentuhku!" Nicholas memekik.


Flashback Off


"Nat,"

__ADS_1


Panggilan Eliza membuat Natalie tersadar dari lamunannya. Setetes air mata kembali luruh dari pelupuk matanya.


"Nicholas_"


Ucapannya terjeda, mengingat dan menyebutkan nama laki-laki itu membuat Natalie tak kuasa menahan sesak di dadanya.


"Nat, Nicholas kenapa?" Eliza mulai panik. Ternyata kecurigannya selama ini benar. Natalie, sahabatnya itu sedang mengalami masalah dengan suaminya.


Dibalik tirai pemisah antara tempat dimana Natalie dan Eliza berada, Kevin mendengarkan setiap kata yang keluar dari pembicaraan keduanya. Apalagi setelah mendengar Natalie menyebutkan nama laki-laki baj*ngan itu, emosional Kevin semakin menggebu-gebu. Dia yakin Nicholas telah melakukan sesuatu yang melukai hati wanita yang sangat dicintainya itu.


Awas saja kalau Nicholas benar-benar menyakiti Natalie lagi.


"Nat, kenapa?" Eliza mulai tak sabar, "apa dia selingkuh?"


Natalie menggelengkan kepalanya.


"Terus kenapa?"


"Dia," Ucapan Natlie kembali terputus membuat Eliza makin penasaran, "dia mulai bermain tangan padaku."


"Hah?"


Eliza membulatkan matanya tak percaya. Benarkah laki-laki yang selalu bersikap romantis sewaktu pacaran itu bisa bermain tangan bahkan disaat usia pernikahan mereka yang baru seumur jagung itu.


Setelah menjelaskan kejadian yang sebenarnya, Natalie tak kuasa menahan air mata yang sejak tadi ia tahan-tahan. Semuanya tumpah begitu saja. Terlebih saat Eliza kembali memeluknya dan berusaha memberikan kekuatan kepadanya.


Tak ingin bertanya apa alasan Nicholas berbuat demikian, Eliza memilih memberikan kekuatan agar Natalie berusaha sabar. Mungkin setelah keadaan Natalie membaik, Eliza baru akan mempertanyakan penyebab pertengkaran keduanya.


"Bangs*t." Dibalik tirai, Kevin mengepalkan tangan dan mengeratkan giginya. Ingin rasanya dia membunuh laki-laki bernama Nicholas itu saat ini juga. Berani sekali dia melakukan itu pada Natalie. Kevin bersumpah demi apapun dia akan membuat Nicholas menyesali perbuatannya itu.


Tak ingin mendengarkan lebih banyak lagi mengenai sakit hati Natalie, Kevin memilih keluar dari tempat itu. Amarahnya benar-benar sudah di ubun-ubun. Dia harus segera meredakannya dengan mencari air untuk menyiram kepalanya.


Kevin melihat wajahnya di depan cermin yang sudah basah dengan basuhan air.

__ADS_1


"Kau harus membalasnya kepar*t." Murka Kevin yang diikuti dengan tinjuan tangannya di cermin itu.


"Arghh." Setetes darah mulai menetes dari jari tangan Kevin. Tapi dia tak menggubrisnya karena rasa sakit hati dalam hatinya pada laki-lakiĀ  bernama Nicholas saat ini lebih dalam karena telah membuat wanita yang sangat dicintainya itu terluka.


__ADS_2