Husband From Hell (Suami Dari Neraka)

Husband From Hell (Suami Dari Neraka)
Penyergapan


__ADS_3

Natalie meringis ketakutan saat sebilah pisau menari-nari di depan wajahnya.


"Jangan menangis cantik!" ucap laki-laki jahat itu. "Air matamu terlalu berharga untuk jatuh sayang."


Laki-laki itu sangat menyeramkan di depan Natalie. Bentuk wajah dan warnanya membuat ia merinding dibuatnya


Ingin rasanya melawan, tapi dia terikat, terisak ketakutan karena sejak tadi orang-orang asing di depannya terus menatap ke arahnya dengan sinis. Bahkan beberapa dari mereka sempat ada yang meraba-raba wajahnya. Jelas ini membuat Natalie sangat ketakutan.


"Pergi kalian semua!" pekik Natalie. "Lepaskan aku!"


"Jangan marah cantik! ... bolehkah aku mencicipi bibirmu yang ranum itu?" kata penjahat itu lagi. Sontak saja pertanyaan itu mengundang emosi Natalie. Kurang ajar sekali pikirnya.


Cihh


Natalie meludahi wajah laki-laki itu dengan amarah yang ingin membludak.


"Bangs@t." Laki-laki itu memekik, hingga akhirnya ia tak kuasa untuk tidak mengangkat kakinya, menendang perut Natalie dengan sejuat tenaganya.


Arghhhh


Natalie meringis kesakitan. Mendadak perutnya jadi panas dan perih seketika.


"Awhh, sakit," rintihnya.


"Itu adalah balasan untuk wanita yang kurang ajar sepertimu, hahahaha."


Lima orang yang ditugaskan untuk menjaga Natalie itu tertawa terbahak-bahak mentertawakan Natalie yang meringis kesakitan.


Tiba-tiba darah mengalir dari kakinya.


"Hey, lihat! sepertinya dia pendarahan," kata salah satu diantara lima orang itu.


"Jangan-jangan dia sedang hamil," sahut yang satunya.


"Wah, Tuan bisa marah besar jika kita melukai wanita ini tanpa persetujuannya."


Laki-laki yang menendang perut Natalie mulai pucat pasi. Dia takut kalau apa yang dikatakan rekannya itu benar-benar terjadi. Dia takut kalau Erick akan marah besar karena dia telah membuat wanita itu keguguran.


"Arghhh." Natalie kembali meringis. Sepertiya apa yang dikatakan orang itu benar. Natalie benar-benar keguguran karena darah yang mengalir lewat kakinya itu semakin banyak.


"Natalie."


Erick benar-benar datang. Dia segera berlari dan meraih tubuh Natalie, mengangkat dan merangkulnya.


Melihat darah mengalir di kaki Natalie, Erick langsung khawatir.


"Kau .. kau kenapa?" tanya Erick dengan gugup. Dia tidak tahu kalau Natalie memang sedang dalam keadaan hamil.


Tak ada jawaban, Natalie hanya menangis terisak menahan sakitnya bagian perutnya.


Tapi akhirnya Natalie bersuara juga. Mungkin karena sakit dalam perutnya yang sangat luar biasa. "Tolong aku, Erick! perutku sakit sekali."


"Kau ... kau sedang hamil?"


Natalie mengangguk.


Erick mendelik pada orang-orang suruhannya. "Siapa yang sudah melakukan ini, hah?"


Semua diam, semua takut.


Erick bangkit. Dia menatap satu persatu lima orang yang ia tugaskan untuk menyekap Natalie itu.


"Erick!" pekik Natalie. Dia tidak minta Erick memaki anak buahnya. Natalie hanya ingin Erick membawanya ke rumah sakit untuk menyelamatkan bayi yang ada dalam kandungannya itu.


Tapi sepertinya Erick tak perduli, dia malah fokus memaki anak buahnya sendiri.


"Aku kan cuma minta kalian untuk menyekapnya, bukan melukainya. Bodoh!"


Plakk


Satu tamparan melesat pada salah satu diantara mereka. Tak peduli sipapaun yang sudah melakukannya, Erick hanya ingin mereka tahu arti sebuah perintah dan dimana batasannya.


"Maaf, Tuan! ini salah saya."

__ADS_1


Satu diantara mereka maju. Dia mengakui kesalahannya.


"Oh, jadi kamu."


Tangan Erick terangkat, tatapan matanya tajam seperti hendak menerkam.


"Ma_maafkan saya, Tuan. Saya tidak tahu kalau dia sedang hamil."


"Kerja bagus."


Deg


Semua mata memandang ke arah Erick.


Apa arti ucapan Erick itu?


Bukankah seharusnya ia marah karena anak buahnya itu telah membuat Natalie keguguran.


Tapi ini malah....


"Erick," cicit Natalie. Dia menatap tak percaya. Ia kira Erick akan berbelas kasihan padanya, tapi ternyata dugaannya salah. Erick justru mengelus lembut wajah bawahannya itu.


Erick berbalik badan. "Kenapa sayang? sakit ya?" Dia berjalan mendekati Natalie lagi. "Tahan ya sayang! ... ini tidak akan lama kok. Aku akan segera memanggilkan dokter untukmu, tapi setelah anak Nicholas dalam perutmu itu mati."


"Kau benar-benar keterlaluan." Natalie yang semula merasa Erick akan berubah nyatanya salah. Erick tetaplah Erick. Dia tetap jadi manusia menyeramkan di mata Natalie. "Kamu jahat Erick!"


Erick menarik dagu Natalie. "Sebenarnya awalnya aku berniat merebutmu dari Nicholas dan menjadikanmu istriku karena kau sangat cantik." Ucapannya terjeda sesaat. "Tapi sepertinya keputusanku berubah setelah akhirnya kau mengetahui siapa diriku sebenarnya."


Erick melepaskan kembali dagu Natalie. "Jadi maafkan aku jika aku berbuat kejam padamu."


Erick tersenyum sinis menatap Natalie, sementara wanita itu terus berupaya menenangkan perutnya yang mulai tak kuasa ia tahan lagi.


"Arghhh." Dia terus meringis kesakitan.


Erick mengangkat sebuah telepon.


"Halo, bagaimana?"


"Bagus!" ucap Erick. "Pastikan orang-orang di sana sudah menyiapkan jebakan untuk Nicholas."


Mata Natalie langsung membulat sempurna saat Erick menyebutkan nama Nicholas.


"Jadi, Erick menjebak Nicholas?" batin Natalie.


Hahahaha


Erick tertawa lagi dan lagi. Rasanya ia benar-benar puas sekali. "Ya sudah, kerjakan tugasmu!"


Erick menutup teleponnya, dia kembali menatap Natalie.


"Bajing@n!" pekik Natalie. "Penjahat!"


"Ya, ya, ya. Terserah apa katamu! ... yang pasti, setelah ini kau tidak akan pernah lagi melihat Nicholas dengan keadaan sempurna."


Natalie langsung tak bisa bicara.


Apa yang akan dilakukan Erick benar-benar membuatnya takut setengah mati.


Erick meminta orang suruhannya untuk kembali menjaga Natalie, sementara ia harus pergi. Kembali ke tempat persembunyiannya, agar polisi tidak bisa menemukannya.


"Ah, iya. Tolong hubungi dokter! jangan sampai Wanita itu meninggal di sini!"


"Baik, Tuan."


Erick benar-benar kejam. Dia dengan teganya meninggalkan Natalie dalam kondisi seperti ini.


"Erick, tolong jangan sakiti Nicholas!" Natalie terus meronta, memohon agar Erick berbelas kasihan padanya. "Jangan sakiti dia lagi!'


"Ayo, kita harus segera pergi!" ucap Erick.


"Baik, Tuan."


"Tunggu! ... mau pergi kemana kau bajing@n?"

__ADS_1


Langkah Erick terhenti. Beberapa pengawal langsung bersiap siaga melihat siapa yang datang.


Beberapa menit yang lalu.


Keduanya sudah sampai di lapangan, tempat helikopter berada. Nicholas akan segera pergi ke luar negeri mencari ibunya yang sedang disekap oleh Erick, sementara ia meminta Reynald untuk segera menemui Natalie.


"Reynald." Nicholas mendekati Reynald. "Terimakasih banyak!"


Pandangan matanya sudah sayu seperti tak bertenaga. Hidupnya terasa hancur seketika kala mendengar Wanita yang dicintainya itu tengah dalam bahaya.


Nicholas buru-buru naik ke atas helikopter, tapi diluar dugaan, Reynald malah meminta pilot yang mengemudikan helikopter itu untuk turun, dan dia yang menggantikannya.


"Reynald," cicit Nicholas. "Kamu?"


"Kita tidak punya banyak waktu, nanti aku jelaskan."


Diluar dugaan Nicholas, selain pintar ternyata Reynald juga bisa mengemudikan helikopter.


Awalnya Nicholas sedikit ragu dengan kemampuan Reynald, tapi melihat Reynald begitu santai dalam mengoperasikannya, Nicholas yakin jika Reynald memang mampu.


Setengah perjalanan, Reynald menceritakan kecurigaannya terhadap kejadian yang menimpa Nicholas saat ini.


Saat Nicholas memintanya untuk menjaga Natalie, Reynald langsung menghubungi nomor telepon rumah Nicholas, dan Helena memberitahu jika Natalie pergi mengejar Nicholas.


Beruntung semua mobil yang Nicholas miliki sudah Reynald pasang alat penyadap. Jadi Reynald bisa tahu dimana Natalie saat itu.


Dan kecurigaan Reynald bertambah besar setelah mobil yang dikendarai Natalie berhenti tepat di sebuah bangunan tua yang jauh dari pusat keramaian. Disitulah Reynald yakin jika Erick sengaja menjadikan moment ini untuk menghancurkan Nicholas sekaligus.


"Aku tidak akan membiarkan Erick hidup lagi," pekik Nicholas.


"Tenanglah! semua akan baik-baik saja! ... aku sudah mengirim beberapa orang dan juga menghubungi polisi untuk menangkap Erick."


Nicholas hanya bisa diam menatap betapa beruntungnya dia memiliki orang seperti Reynald.


"Rey, terimakasih banyak!"


"Lupakan itu! ... selamatkan istrimu! ... urusan Ibumu, biarlah aku yang mengurusnya."


"Mppp."


Mereka sudah hampir sampai tujuan.


Nicholas turun, sementara Reynald tidak. Dia yang akan menggantikan Nicholas ke luar negeri untuk mencari keberadaan Ibunya Nicholas.


"Apa kau yakin ibuku akan baik-baik saja?" tanya Nicholas sedikit khawatir. Takut jika Erick melakukan hal yang tidak-tidak pada ibunya di sana.


"Tenanglah! ... aku pastikan ini hanya ancamannya. Kau hanya perlu menangkap dan mendesak dia," ucap Reynald. "Aku menunggu kabar darimu."


"Baiklah."


Reynald pun kembali menyalakan mesin helikopternya, sementara Nicholas sudah ditunggu oleh beberapa orang suruhan Reynald. Mereka juga datang bersama polisi yang akan langsung menggerebek rumah itu.


***


"Di sini," kata salah satu polisi.


Emosi Nicholas langsung mencapai ubun-ubun saat melihat salah satu mobil miliknya ada di halaman rumah yang diyakini sebagai tempat penyekapan Natalie itu.


Dia yakin kalau wanitanya ada di dalam sana.


Tanpa basa-basi lagi, Nicholas dan yang lainnya langsung masuk menyergap orang-orang yang ada di dalam sana.


Dan betapa hancurnya hati Nicholas saat melihat wanitanya tergeletak dengan darah yang mengalir dari kakinya.


"Natalie," cicitnya. Hatinya benar-benar sakit, melihat wanita yang selama ini ia jaga itu kini teraniaya.


Mata Nicholas langsung merah menyala. Ingin sekali rasanya saat itu juga dia menelan hidup-hidup Erick.


Nicholas melihat Erick berniat pergi.


"Tunggu! ... mau pergi kemana kau bajing@n?"


To be continued

__ADS_1


__ADS_2