
Malam ini Nicholas meminta Helena menyiapkan makan malam yang romantis namun tetap bertemakan sederhana, karena Nicholas tau kalau Natalie tidak begitu menyukai kemewahan.
Meja kecil di pinggir kolam, hiasan bunga mawar merah di tengah meja, juga beberapa lilin-lilin kecil yang mengelilinginya, menjadi penghias tempat di samping rumah mewah itu.
"Nona, ayo!" Helena menarik tangan Natalie menuju tempat itu, yang mana Nicholas sudah terlebih dulu menunggunya di sana.
"Mau kemana sih, Bi?" tanya Natalie.
"Sudah, ikut Bibi saja!" kata Helena sambil terus menarik tangan Natalie, sampai akhirnya mereka sudah sampai di taman pinggir kolam itu.
Natalie sempat tertegun tak percaya dengan apa yang dilihat di depan matanya.
Makan malam romantis yang selalu ia bayangkan kini ada di depan matanya.
"Kenapa Nicholas melakukan ini? ... hal apalagi yang sedang ia rencanakan padaku?" Natalie terus berburuk sangka pada laki-laki itu. Wajar memang, selama ini Nicholas memang kerap kali memberikan harapan palsu padanya. Wajar jika Natalie sampai detik ini tidak begitu percaya atas apa yang dilihatnya.
"Kenapa terus berdiri di situ? ... cepat duduk!" perintah Nicholas. Lantas Helena pun beringsut pergi dari tempat itu setelah membungkukkan sedikit badannya pada Nicholas.
Ragu-ragu, Natalie pun duduk di kursi tepat di depan Nicholas. Iya, memang Helena hanya menyediakan dua bangku di tempat itu.
"Kenapa?" Lagi-lagi Nicholas menanyakan perihal sikap Natalie yang seperti masih belum percaya atas apa yang dilakukannya. "Aneh sekali menatapku seperti itu?"
Masih hening, hanya dentingan garpu dan sendok milik Nicholas yang berbunyi, sedangkan Natalie tidak. Hal tersebut memancing Nicholas untuk melirik ke arahnya.
"Apa kau tidak lapar?" tanya Nicholas, yang sedetik kemudian dibalas gelengan kepala oleh Natalie.
Mendengus kesal, Nicholas lantas menurunkan garpu dan sendoknya bersamaan. Dia kemudian berdiri di belakang Natalie dan mulai mengangkat tangan Natalie untuk memegang sendok dan juga garpunya.
Sontak saja perbuatannya itu membuat jantung Natalie berdegup kencang.
"Dia kenapa sih? kenapa mendadak romantis seperti ini lagi?" batinnya. "Dasar laki-laki aneh. Dia kira dengan seperti ini aku akan luluh dan bisa dibodohi lagi olehnya. Jangan harap."
Nicholas masih berdiri memperhatikan wanitanya yang kini mulai memasukkan satu persatu sendok makanan ke dalam mulutnya.
Senang rasanya bisa menikmati makan malam berdua seperti ini, meskipun kesannya Natalie masih terpaksa.
"Setidaknya, kita punya kenangan indah sebelum kita berpisah."
Iya, hanya satu harapan itulah yang saat ini Nicholas miliki.
Ia hanya ingin memiliki kenangan manis bersama wanita yang sangat dicintainya mereka berpisah dan sebelum dia pergi untuk selamanya.
***
"GIMANA SIH? kenapa cuma menghabisi satu orang Reynald saja kalian tidak becus?" Pekik Kelly dibalik teleponnya. Dia geram dan kesal saat mendapati laporan bahwa Reynald melarikan diri.
__ADS_1
"Maaf, Nyonya. Kami juga tidak tahu kalau dia masih punya tenaga untuk melarikan diri."
Kelly berpikir keras, apa yang dikatakan anak buahnya ada benarnya juga. Melihat kondisi Reynald tadi pagi rasa-rasanya tidak mungkin Reynald masih bisa melepaskan tubuhnya dari ikatan, apalagi sampai berlari kencang. Pasti ada yang sudah membantu laki-laki itu untuk kabur.
"Ya sudah, cepat cari dia! ... cari sampai kalian menemukannya!" pekik Kelly. "Kalau kalian tidak menemukannya, maka aku yang akan membunuh kalian, ingat itu!!!"
"Baik, Nyonya. Kami akan kembali mencarinya."
Kedua orang bayaran Kelly itu lantas kembali mencari keberadaan Reynald yang tadi pagi hilang mendadak, sementara orang yang dicarinya tengah tertidur pulas di dalam sebuah kamar dengan wajah yang penuh luka lebam.
"Bagaimana kau bisa menyelamatkannya, Nak?" tanya Ibu angkat Stelli. Dia tidak menyangka bahwa anaknya itu akan memiliki keberanian seperti ini. Anak yang dia rawat sejak kecil itu kini sudah tumbuh menjadi gadis yang pemberani.
Rupanya Stelli lah yang telah menyelamatkan Reynald, tapi dia tak sendiri. Dia dibantu oleh orang yang beberapa hari ini memata-matai dia.
Flashback On
Stelli sedang bermain di taman. Iya, tempat itu memang menjadi tempat favoritnya. Karena di sana, dia bisa bercengkrama dengan alam bebas. Tapi sebenarnya ia tak suka keramaian, makanya dia memilih lokasi tersembunyi di taman itu, gubuk kecil yang berada di pojokan taman. Gubuk kecil yang sengaja dibuat ayahnya untuk Stelli bermain di sana. Gubuk itu ada di atas pohon. Atau mungkin lebih tepatnya kita sebut saja rumah pohon.
Saat tengah duduk sambil mengayun-ayunkan kakinya, Stelli melihat ada dua orang menyeret laki-laki masuk ke dalam sebuah bangunan kosong yang tak jauh dari tempat dia berada sekarang.
Samar-samar, Stelli melihat laki-laki yang sedang diseret itu adalah laki-laki yang dia kenal.
Tanpa pikir panjang lagi, Stelli langsung turun dari rumah pohon itu, lantas mengikuti kedua laki-laki itu, sampai akhirnya dengan jelas Stelli bisa melihat bahwa laki-laki yang diseret itu benar adalah Reynald.
Semula Stelli bingung apa yang akan dilakukannya, karena dia juga takut setakut-takutnya saat melihat Reynald diikat seperti sekarang. Stelli yang memiliki kelainan bahkan merasakan tubuhnya sudah menggigil sekarang.
"Nona, cepat bantu saya!"
Meskipun Stelli tidak tahu dia siapa, tapi hati kecil Stelli berpikir bahwa orang itu baik, jadi Stelli pun mau membantu laki-laki itu. Dia ditugaskan untuk mengawasi dua penjaga yang tengah minum-minuman berat di ruangan lain.
"Awasi mereka! jangan sampai mereka mencurigai kita di sini," kata laki-laki itu yang hanya dijawab anggukan kepala oleh Stelli.
Jujur, saat ini sebenarnya jantung dan darah Stelli sudah bergejolak sangat kuat. Keringat di badannya mulai bercucuran, dia takut, benar-benar takut.
Tapi entah kenapa, untuk pertama kalinya Stelli bisa melawan rasa takutnya ini hanya untuk menyelamatkan laki-laki yang bahkan belum ia kenal namanya itu.
Kelly hanya mengenal wajahnya, tapi entah kenapa dia merasa ada hal berbeda dari laki-laki itu. Ada keteduhan dan ketenangan yang selama ini Stelli cari.
Sepertinya Stelli mulai jatuh hati pada laki-laki itu.
Flashback Off.
"Stelli, kau melamun lagi?"
Pertanyaan dari Ibu angkat Stelli kembali membuyarkan lamunan Stelli.
"Ya sudah, tidak perlu dijawab sekarang. Habiskan saja dulu makananmu! setelah itu minum obatnya ya!"
__ADS_1
Stelli mengangguk iya saat ibunya meminta dia untuk menghabiskan makanannya, tapi setelah ibu angkatnya itu pergi dia kembali melamun lagi, memikirkan laki-laki yang kini tengah tidur di kamar sebelahnya.
Iya, tidur dengan ayah angkatnya.
Rasa-rasanya Stelli ingin melihat laki-laki itu lagi.
Diam-diam dia menyelinap dan mengintip dibalik gorden yang terhubung langsung dengan kamar ayahnya itu. Rumah mereka memang hanya terbuat dari triplek dan juga jendela tanpa kaca yang menghiasinya, jadi bukan hal yang sulit untuk Stelli bisa melihat Reynald dari kamarnya sendiri.
Stelli tersenyum tak mau pudar saat melihat wajah laki-laki itu yang sedang tertidur tepat di samping ayahnya. Entah kenapa Stelli merasa candu sekali melihat wajahnya, padahal saat ini Reynald sedang lebam parah.
"Stelli, apa yang sedang kau lakukan?"
Brugh
"Awhhh."
Stelli memegangi bokongnya yang nyeri karena tersungkur akibat kedatangan Ibunya yang mendadak.
"Ya ampun. Ayo Ibu bantu bangun!"
Ibu angkat Stelli pun kemudian membawa anak gadisnya itu kembali ke tempat tidurnya. "Kamu ngapain sih pake ngintip-ngintip segala macem?"
Ah, Stelli rasanya malu sekali. Ketahuan mengintip laki-laki itu sampai jatuh, ini merupakan aib baginya.
Stelli tersenyum memperlihatkan gigi putihnya. Namun Ibu angkatnya itu mengartikan hal yang lebih.
"Kau cinta padanya?"
Senyuman Stelli berubah jadi datar seketika.
Cinta
Apa itu cinta?
Stelli tidak pernah mengenal kata Cinta, selain cinta pada keluarganya yang dulu ia dengar dari guru-guru saat masa sekolahnya.
"Apa itu cinta?" tanya Stelli.
Ibu angkat Stelli lantas memeluk Stelli erat penuh kehangatan. Dia tidak menyangka bahwa anak gadisnya akan cepat tumbuh besar seperti sekarang dan akhirnya mengenal cinta juga.
Padahal dia ragu kalau Stelli akan mencintai laki-laki karena jangankan untuk dekat dengan laki-laki, untuk berteman dengan sesama gadis saja dia takut, dan akhirnya anak itu selalu mengucilkan dirinya sendiri.
Tapi kini sepertinya beda, Stelli mulai membuka hatinya, dan Reynald lah yang sudah berhasil mengambil hati anak angkatnya.
"Itu artinya kau takut kehilangan dan takut sesuatu yang buruk menimpanya." Ibu angkat Stelli menjeda ucapannya sambil terus mengusap-usap puncak kepala Stelli. "Kau juga akan merasakan degupan jantung yang bekerja lebih kuat dari biasanya. Kau akan mengalami susah makan, susah tidur."
Stelli mencerna setiap perkataan Ibu angkatnya itu. Sepertinya apa yang diucapkannya hampir sembilan puluh persen benar. Stelli memang sedang merasakan itu.
__ADS_1
"Kau juga memiliki rasa ingin memilikinya. Kau ingin terus bersamanya, dekat dengannya, hidup selamanya dengannya. Itulah yang cinta."
To be continued