Husband From Hell (Suami Dari Neraka)

Husband From Hell (Suami Dari Neraka)
Boncap 6 Memalukan


__ADS_3

Selamat hari Sabtu menjelang Sabtu malam dari penulis abal-abal ini 🤭


Banyak yang nanya, kenapa lama updatenya?


Iya, maaf. Soalnya beberapa hari ini aku sedang mengalami Vertigo, jadi memang agak mengurangi penggunaan ponsel maupun laptop. Intinya sesuatu yang berhubungan dengan sesuatu yang bisa bikin vertigonya bisa makin parah.


Tapi, berhubung udah lama gak up, aku jadi kepikiran kalian.


Aku tau gimana rasanya digantung, itu tuh gak enak. Makanya aku sempetin buat nulis lagi, semoga kalian setia menanti.


Sekali lagi maaf dan mohon pengertiannya ya kalo aku lama Up nya! terimakasih.


***


"Habisi dia!" titah seorang laki-laki yang saat kini tengah duduk di sebuah ruangan rahasia sambil melipat sebelah kaki dan mengangkatnya di atas kaki satunya.


Erick, laki-laki yang menyembunyikan dirinya di sebuah vila rahasia milik pribadinya.


Rupanya kematian ayah Sea adalah ulah Erick. Laki-laki itu tak mau jika ayah Sea berbalik arah dan berbelas kasihan hingga akhirnya memberikan obat penawar pada Nicholas.


"Cih, kau pikir dengan menangkapnya kau akan mendapatkan obat penawarmu itu? ... jangan mimpi Nicholas!"


Erick, saat ini dia dengan teganya menghabisi nyawa orang yang berjuang bersama dengannya untuk membalaskan dendamnya.


Erick memang sudah kalap. Dia bahkan tidak lagi perduli jika orang yang ia habisi adalah ayah dari wanita yang selama ini ia menjadi alasan mengapa ia seperti ini.


Mungkin karena pada dasarnya, Erick memang sudah tidak perduli pada apapun. Yang ada dibenaknya hanyalah bagaimana bisa menghancurkan hidup Nicholas, sudah itu saja.


***


"Sial!!!" Reynald menggebrak meja sebuah cafe. Dia dan Nicholas saat ini tengah berada di sebuah cafe setelah mendatangi langsung kantor polisi, melihat secara langsung bagaimana mayat orang tua itu terkapar setelah terjadi pembunuhan.


"Aku yakin, pelakunya adalah Erick," ucap Reynald yakin, sementara Nicholas yang merasa harapannya untuk bisa sembuh itu hilang hanya bisa menundukkan kepalanya sambil sesekali membayangkan wajah Natalie.


"Nic," panggil Reynald. "Nicho!"


"Ah, iya."


Nicholas tersadar dari lamunannya. Dia terlalu memikirkan bagaimana caranya agar Erick bisa segera tertangkap sebelum Nicholas pergi. Pikiran Nicholas tidak akan tenang jika laki-laki itu belum tertangkap.


"Sudahlah, lupakan saja dulu untuk hal ini!" Nicholas berdiri dari kursinya. "Kita serahkan saja semuanya pada pihak yang berwenang." Lantas Laki-laki itu meraih ponselnya.


"Kau mau kemana?" tanya Reynald.


"Aku harus pulang. Kau juga sebaiknya cepat kembali ke kantor! tidak baik kau terlalu sering meninggalkan kantor hanya untuk mengurusi urusan orang lain."


"Tapi kau bukan orang lain bagiku, Nic."

__ADS_1


Nicholas tak memperdulikan Reynald. Dia melenggang pergi begitu saja meninggalkan Cafe, menaiki taksi yang tiba-tiba melintas di depannya.


"Nicho, Nicho." Reynald menggelengkan kepalanya bingung, kenapa laki-laki itu selalu saja merasa bahwa dirinya tidak penting.


***


Nicholas sudah memarkirkan mobilnya. Ia berjalan masuk ke dalam kamarnya, mencari sosok wanita yang sejak tadi terus bergelut dalam pikirannya.


"Nic, darimana aj_, eh!"


Tapi bukannya membalas pertanyaan, dia malah langsung memeluk wanita yang tengah membaca sebuah novel di kasurnya itu.


Melihat perlakuan yang berbeda, Natalie pun langsung berinisiatif untuk mengusap lembut puncak kepala laki-lakinya itu.


"Hey, ada apa denganmu?" tanya Natalie sambil terus mengelus-elus kepala Nicholas. Dia yakin, sesuatu telah terjadi pada suaminya. Perlahan Natalie mengangkat wajah Nicholas, melihatnya dengan penuh kehangatan. "Ada apa? ayo ceritakan!"


Nicholas menggelengkan kepalanya, menjawab seolah tidak terjadi apapun padanya. "Aku hanya ingin memelukmu seperti ini!" Nicholas kembali memeluk Natalie. Kali ini dia sambil mengusap-usap perut rata Natalie. "Sayang, masih sering mual gak?"


"Mpp, sedikit."


Nicholas mendekatkan telinganya di perut Natalie. "Sayangnya Papa, jangan buat mama sakit ya! ... kamu boleh minta apaaaa saja yang kamu mau." Nicholas mengucapkan kata apa dengan memanjangkan intonasinya. "Papa akan turuti semua keinginanmu, tapi untuk yang satu ini, Papa minta tolong banget, jangan bikin mama sakit ya sayang."


"Hey, aku ngga apa-apa loh." Natalie menggenggam tangan Nicholas. "Kamu 'gak perlu sebegitu khawatirnya sama aku!"


Nicholas tersenyum manis. "Tapi aku takut kalau kamu sakit."


"Yang namanya orang hamil itu pasti semuanya akan melewati fase di awal kehamilannya. Mungkin prosesnya saja yang sedikit berbeda, tapi pada umumnya, kalaupun memang sakit itu hanya bawaan bayi aja kok."


"Iya, sayang."


"Apa?" Nicholas menyipitkan matanya saat mendengar kata-kata langka itu keluar dari bibir wanitanya. "Coba ulang, tadi kamu panggil aku apa?"


Natalie menggigit bibir bawahnya saat dipojokan terus menerus oleh suaminya.


"Nat, ayo!"


"Apaan sih?"


Pipi Natalie langsung bersemu. Dia jadi salah tingkah. Melihat kesempatan seperti ini, Nicholas tidak menyia-nyiakannya, dia harus memanfaatkan kesempatan emas ini.


"Cepet ulang, atau mau aku cium?"


Dua pilihan yang sulit untuk Natalie.


Tapi sepertinya mengulang ucapan adalah jalan terbaik.


Oke baiklah, gerutu Natalie. "I_iya, Sayang."

__ADS_1


Mmuachh


"Kok di cium?" protes Natalie saat Nicholas malah mencium bibirnya. Bukankah dia bilang kalau itu pilihan? kenapa dua-duanya dilakukan?


"Kenapa memangnya?"


"Ya curang dong."


Nicholas terkekeh geli melihat ekspresi kekesalan istrinya yang menurutnya malah sangat menggemaskan itu. "Oiya?" Lantas dia memajukan wajahnya hingga membuat Natalie terpaksa mendorong kepalanya sendiri ke belakang hingga menyentuh Sandaran kasurnya.


"Ma_mau ngapain kamu?"


"Mau yang lebih."


Natalie berusaha menelan salivanya saat Nicholas mengunci kedua tangannya, laki-laki itu bahkan menatapnya dengan tatapan tajam.


Meskipun dia sudah menjadi sepasang suami istri, tapi tetap saja Natalie gugup saat bersamanya.


"Nic, itu!"


Tak memperdulikan ucapan Natalie, Nicholas terus mendekatkan wajahnya, mencium dengan lembut pipi, hidung, sampai bibir wanitanya itu.


"Nic, mppppp."


Natalie tak bisa menolak perlakuan Nicholas saat laki-laki itu menciumi lehernya dengan sangat intens.


Nicholas juga bahkan sudah berhasil melepaskan kemeja yang ia pakai turun ke lantai. Semua itu ia lakukan tanpa melepaskan pagutannya di bibir Natalie.


Sampai akhirnya....


"Permisi, Non...." Langkah kaki Helena terhenti saat dia melihat pemandangan di depannya yang sangat mengejutkan.


Nicholas sedang bertelanjang dada, dan sedang .... Lupakan!


Nicholas yang merasa malu langsung menjauh dari Natalie, dan buru-buru meraih kembali kemejanya yang jatuh, sementara Natalie hanya bisa menutupi wajahnya dengan kedua tangannya. Ini jelas memalukan sekali.


"Ma_maaf," ucap Helena terbata-bata.


"Bibi, kenapa kau tidak mengetuk pintunya?" protes Nicholas. Asisten rumah tangga itu mengganggu kenikmatan saja, batinnya.


Natalie turun dari tempat tidurnya. Dia meraih buah-buahan yang di bawa Helena. "Bukan salah Bibi, kamu yang salah kok." Natalie lantas mempersilahkan Helena kembali, sementara dia meletakkan buah-buahan itu di atas nakas. "Tadi tuh aku mau bilang kalau pintunya belum kamu tutup."


"Ya kenapa 'gak langsung bilang?"


"Ya kamu nya gak sabaran."


Nicholas menggaruk tengkuk kepalanya yang tidak gatal. Merasa malu atas apa yang dilakukannya tadi.

__ADS_1


"Ya maaf, abisnya kamu bikin nafsu sih."


To be continued


__ADS_2