
Beberapa menit yang lalu.
"Ini coklat mu!" Jennifer menyerahkan segelas coklat hangat pada Nicholas.
"Terimakasih,"
Jennifer duduk di samping Nicholas.
"Apa yang akan lakukan pada Natalie selanjutnya?"
Teg
Mendadak lidah Nicholas Kelu. Kalau Jennifer bertanya apa rencananya tentang wanita yang sudah membuat ibunya sakit, Nicholas masih bisa menjawab. Tapi, jika ada yang bertanya mengenai rencananya pada Natalie, Nicholas tak bisa menjawab, karena dia sendiri tidak tahu apa yang akan dia lakukan. Karena sebenarnya, Natalie tidak pernah melakukan kesalahan apapun. Dan dia tidak berhak dijadikan korban disini.
"Nic, kenapa diam?" Jennifer menggoyangkan lengan Nicholas.
"Tidurlah, kau harus istirahat! besok aku akan menemanimu ke dokter." Ujar Nicholas setelah menenggak sedikit coklat panasnya.
Sedikit kesal, karena Nicholas tak menjawab pertanyaannya. Tapi di satu sisi, Jennifer juga sedang bahagia.
Iya, aku memang mau tidur. Tapi setelah kau tidur lebih dulu, Nic.
Jennifer tersenyum penuh kemenangan, karena Nicholas tak menyadari bahwa coklat panas yang diminumnya mengandung obat tidur yang akan memuluskan rencana Jennifer malam ini.
Baru saja Nicholas selesai mengambil selimut di dalam lemari, tubuhnya mendadak lemas. Jalannya sempoyongan.
"Nic, kau tidak apa-apa?" Jennifer menahan tubuh Nicholas.
"Aku tidak apa-apa." Terlihat Nicholas memijit pelipisnya yang mendadak sangat pusing.
"Kau pucat sekali. Bagaimana mungkin kau tidak apa-apa. Lebih baik kau istirahat dulu." Jennifer menggandeng Nicholas dan menuntunnya ke kasur.
Dalam keadaan setengah sadar, Nicholas hanya mengikuti perintah wanita itu. Dan beberapa menit kemudian dia sudah benar-benar tidak sadarkan diri.
Tentang apa yang terjadi malam itu, Nicholas tidak tahu apa-apa. Karena dia benar-benar lelap. Dan Jennifer memang sudah merencanakan ini dari jauh-jauh hari sebelumnya.
Jennifer ingin Natalie tahu, bahwa Nicholas bukanlah milik Natalie seutuhnya.
Dia adalah milikku, Natalie. Kau tidak pantas untuknya.
Send picture
***
Bugh (ponsel Natalie jatuh)
"Nggak, ini gak mungkin." Natalie terbata-bata. Bibir dan tangannya gemetar. "Nicholas tidak mungkin melakukan ini padaku."
Matanya langsung berair. Tetesan bening itu turun tak tertahankan.
"Kenapa kau tega melakukan ini padaku, Nic. Apa salahku?"
Helena yang sedang membereskan makanan di meja, tak sengaja mendengar benda keras jatuh.
Ada apa dengan Nona Natalie?
Sejujurnya ia ingin sekali menghampiri wanita itu, namun karena merasa itu terlampau melewati privacy, Helena membatalkan niatnya dan hanya menyaksikannya dari kejauhan.
Semoga tidak terjadi hal buruk dengan Tuan Nicholas.
***
Keesokkan harinya, Jennifer sudah bangun terlebih dulu. Dia kini baru saja keluar dari kamar mandi dengan rambut yang basah dan handuk yang masih melingkar di tubuhnya.
__ADS_1
Perlahan wanita itu melangkahkan kakinya menuju laki-laki yang masih tertidur di tempatnya.
Cup
Satu kecupan mendarat di pipi Nicholas.
Tetesan air dari rambut Jennifer berhasil membuat Nicholas tersadar dari tidurnya.
"Jennifer," Nicholas terkejut saat melihat wajah kekasihnya itu sudah ada tepat di depan matanya.
"Pagi, sayang." Ucap manja Jennifer yang kembali memberikan morning kiss pada laki-laki yang sudah menjadi suami orang itu.
"Jen, aku sudah bilang. Aku tidak suka kau bersikap agresif seperti ini." Kata Nicholas yang turun dari tempat tidurnya.
"Kenapa sih? kan cuma morning kiss doank sayang. Apa salahnya?" Sebal Jennifer.
Salahnya, karena kini aku sudah menjadi suami orang lain.
Tak memillih untuk menjawab pertanyaan Jennifer, Nicholas lantas pergi begitu saja, masuk ke dalam kamar mandi untuk membersihkan tubuhnya.
Selang beberapa menit kemudian, Nicholas sudah siap dan mereka berdua pergi ke dokter sesuai jadwal kontrol Jennifer dengan dokternya.
"Hasilnya semakin membaik. Kau perlu menjaga kondisi mu seperti ini, Nona Jennifer." Saran dokter Rochy, "dan kau Tuan Nicholas. Tolong bantu kontrol kekasih mu agar tidak terlalu sering mengkonsumsi minuman beralkohol. Karena itu akan memperlambat proses penyembuhannya." lanjutnya.
Mendengar nasehat dokter Rochy yang ditujukan kepada Nicholas, Jennifer memeluk manja lengan kekar Nicholas. Merasa bahwa dokter Rochy saat ini sedang berada di pihaknya. Dan Jennifer yakin, saat ini Nicholas pasti berpikir akan lebih memperhatikan dirinya.
"Baiklah, kalau begitu kami permisi dulu, dok." Ucap Nicholas sopan dengan sedikit membungkukkan badannya.
"Iya, iya. Silahkan, Tuan Nicholas. Kami sangat senang karena kedatangan tamu special seperti kalian. Semoga kekasih anda lekas sehat." dokter Rochy menyalami Nicholas.
"Terimakasih, dok." Jawab Nicholas tegas. Dan setelah itu, Nicholas mengantarkan kekasihnya itu kembali pulang ke rumah orangtuanya.
***
Hari ini kebetulan adalah hari libur, dan Natalie memutuskan untuk berkunjung ke rumah orangtuanya. Selain karena rindu dengan suasana rumah, Natalie juga ingin menenangkan dirinya terlebih dulu.
Kejadian semalam benar-benar telah membuat hatinya terluka. Hampir dua Minggu pernikahan mereka, Nicholas tak pernah menyentuhnya. Natalie mengira Nicholas memang belum siap, karena memang kesibukan suaminya itu tidak bisa dipungkiri. Tapi ternyata dia salah, suaminya itu bermain di belakangnya dengan wanita lain.
"Tidak perlu, Bi."
"Tapi bagaimana kalau Tuan marah karena kita tidak memberikannya kabar terlebih dulu?"
"Tidak apa-apa, Bi. Nanti kalau dia datang, katakan saja padanya, aku ke rumah orang tuaku ... aku permisi dulu, Bi."
Helena hanya mengangguk dengan senyumnya yang palsu saat melihat Natalie sudah masuk ke dalam taksi. Meskipun Helena tidak tahu apa yang sebenarnya terjadi diantara kedua pasangan suami istri itu. Tapi Helena yakin, ada yang disembunyikan dibalik senyum Natalie yang tidak sehangat biasanya itu.
Semalam, saat Helena merapikan meja makan. Dia tak sengaja melihat Natalie menjatuhkan ponselnya tepat di depan pintu kamarnya. Helena tidak begitu yakin atas apa yang dilihatnya. Tapi dia yakin, Natalie menangis setelah itu. Karena pagi ini saja, mata wanita itu terlihat sembap. Entah apa yang terjadi dengan Natalie, Helena hanya bisa berdoa semoga bukan hal begitu buruk.
Natalie menutup kaca mobil taksinya, lalu melesat pergi meninggalkan rumah mewah yang penuh dengan tanda tanya bagi Natalie.
Dia sudah berubah.
Selang beberapa menit kepergian Natalie, Nicholas datang bersama supir pribadinya.
"Tuan," Helena terkejut.
"Bi, sedang apa kau di luar?" Tanya Nicholas dengan tatapan tajam.
"Anu, hmpp," Helena menggaruk tengkuknya yang tidak gatal.
"Bicara yang jelas, Bi!" Gertak Reynald yang kesal karena melihat Helena tidak tegas.
"Anu, Tuan. Saya abis nganter Nona pulang."
__ADS_1
"Pulang?" Nicholas mengulang kata-kata dengan kesan menekannya. "Maksud mu, Natalie pergi dari rumah ini."
"Iya, Tuan." Helena menundukkan kepalanya.
Kenapa dia pergi tanpa memberitahuku?
Dengan pertanyaan yang menumpuk di kepalanya, Nicholas berjalan berlalu begitu saja meninggalkan Helena yang masih tertunduk.
Kenapa Natalie pulang?
Dan kenapa dia tidak mengabari ku?
Sesampainya di kamar, Nicholas melihat sudut kamarnya satu persatu.Tak ada yang mencurigakan, batinnya. Tapi kenapa Natalie pergi begitu saja tanpa memberitahukannya terlebih dulu.
Sejak kapan dia seperti ini? pergi tanpa pamit padaku?
"Tuan,"
Nicholas membalikkan badannya saat Reynald berdiri di depan pintu kamarnya yang terbuka.
"Masuklah!"
Setelah mendapat izin dari Nicholas, Reynald berjalan masuk ke dalam kamar utama itu.
"Ada apa?" Tanya Nicholas dengan nada datar.
"Helena bilang kalau semalam ... "
***
Natalie baru saja sampai rumah kedua orangtuanya. Adik kecilnya menyambut kedatangan dirinya.
"Kak, Natalie." Neva memeluknya seraya menciumi kiri dan kanan pipi kakaknya, "aku sangat merindukanmu." lanjutnya.
"Aku juga sayang." Natalie membalasnya dengan mengacak-acak rambut adiknya itu. "Ayah sama Ibu dimana?"
"Noh," Neva menunjuk jarinya ke arah dimana dua manusia sedang berdiri ke arahnya.
Senyum Natalie terukir. Namun sedetik kemudian tiba-tiba air matanya menetes.
"Kak, kenapa kau menangis?" Neva menatap aneh, dan pertanyaan berhasil membuat Thomas dan Nadia berjalan ke arahnya.
"Nat, apa kau baik-baik saja?" Thomas memeluk putri semata wayangnya.
"Ah, aku baik-baik saja ayah." Jawab Natalie yang langsung menghamburkan pelukannya pada sosok laki-laki yang tak pernah sekalipun menyakitinya, "aku hanya terlalu merindukan kalian saja," jawabnya bohong.
Thomas melepaskan pelukannya, lalu mengusap lembut air mata anaknya.
"Sudah, jangan menangis lagi! ingat, kau sudah menikah. Jangan bersikap cengeng seperti ini, malu kalau sampai Nicholas tahu."
Mendengar kata Nicholas, luka di hati Natalie kembali terbuka. Sedang apa Dan dimana saat ini laki-laki itu? apakah dia kini sudah pulang dan mengetahui kalau Natalie pergi. Atau masih sibuk dengan wanita yang semalam?
Ah, sudahlah. Aku tidak mau memikirkannya.
"Kalau kau rindu kami, seharusnya kau undang kami ke rumah mewah suami mu itu. Kan kami juga pengen dilayani seperti raja disana. Iya kan, Yah?" Nadia kini mendapat pelukan dari Natalie.
"Ah, lain kali, Bu." Natalie lantas melepaskan pelukannya dan menjawab ucapan Nadia dengan senyuman datar.
Andai saja mereka tahu keadaan sebenarnya di rumah itu, tak semewah dan semegah yang mereka lihat. Di sana sepi.
"Yasudah, ayo masuk!" Ajak Thomas seraya menggandeng tangan Natalie, dan Neva membantu membawakan koper yang dibawa Natalie.
Natalie memang berencana menginap beberapa hari di rumah orangtuanya. Setidaknya sampai suasana hatinya benar-benar membaik, dan disaat itu dia akan menanyakan pada suaminya, apa yang sebenarnya terjadi antara wanita itu dengan Nicholas.
__ADS_1
*To be continued