
Sebelumnya aku mau ngucapin maaf dulu, karena lama meninggalkan kalian di sini 😢
Kenapa? karena ternyata aku tidak bisa fokus menulis dua novel dalam satu waktu tertentu. Jadi, aku harus melanjutkan yang satu dulu. Dan, kabar baiknya Alhamdulillah satu Novelku sudah tamat. Jadi, aku bisa fokus di sini.
So, let's go to reading my story'.
Husband From Hell
Nadia sudah sampai di sebuah rumah mewah. Mungkin bisa dibilang rumah seorang konglomerat.
"Tidak salah ini rumahnya?" Nadia melirik lurus ke arah rumah itu. "Benar-benar mewah," gumamnya dalam hati.
Tak lama, seorang penjaga rumah datang dan menyambut mereka.
"Ibu yang akan melamar kerja di sini kan?" tanya orang itu.
"Iya, betul." Nadia berusaha ramah.
"Silahkan masuk! Nyonya dan Tuan sudah menunggu."
"Ah, iya. Terimakasih." Nadia pun melangkah masuk, meskipun pandangannya tetap tak mau lepas dari aksen-aksen cantik yang mendominasi rumah mewah itu.
"Wah, pantas saja jika bayaran yang diberikan untuk seorang perawat saja bisa sebesar itu," dia bermonolog dalam hatinya, "rumahnya saja seperti istana begini." Dia terus masuk sampai akhirnya langkah kakinya terhenti saat bertemu dengan seorang wanita yang tengah duduk manis dengan gaya bangsawan di sofa yang Nadia taksir harganya sekitar ratusan juta itu.
"Permisi," ucap Nadia lirih.
Kelly menengadahkan wajahnya. Melihat Nadia dengan tatapan tajamnya.
"Kau perawat itu?" tanya Kelly dengan santainya.
__ADS_1
"Iya, Nyonya ... sa_saya datang kesini untuk menjadi perawat atas suruhan Tuan Nicholas." Begitu tuturnya.
"Silahkan duduk!" Kelly memanggil seorang pelayan untuk membawakannya segelas minuman.
"Terimakasih, Nyonya." Nadia duduk di sofa itu. "Benar-benar empuk rasanya," gumamnya. Dia melirik dari atas sampai bawah tubuh wanita di depannya. Wanita yang akan menjadi majikannya selama beberapa bulan ini. "Sepertinya dia baik juga," dia kembali bermonolog, "buktinya baru datang saja aku sudah diberikan minuman."
Seorang pelayan datang dan memberikan Nadia segelas orange juice.
"Silahkan diminum!" Kelly mempersilakan.
"Ah, iya. Terimakasih." Nadia langsung menenggaknya hingga tandas. "Tau saja dia kalau aku sudah kehausan sejak tadi," gumam Nadia.
Ah, iya. Sampai lupa. Kenapa Nadia tidak mengetahui kalau wanita di depannya ini adalah orang tua Nicholas?
Itu karena saat melamar Natalie, Kelly tidak ikut datang ke rumah Nadia. Hanya suaminya saja waktu itu yang datang untuk mewakili. Dan, pada acara pernikahan pun, Kelly juga tidak datang bersama suaminya. Jadi, wajar saja, jika Nadia tidak tahu kalau wanita di hadapannya adalah besannya sendiri.
"Bagaimana kalau kita langsung saja menemui saudaraku yang akan kau rawat?" Kelly menawarkan setelah Nadia menandatangani surat-surat perjanjian.
Dan, sesuai kesepakatan, waktu lama bekerja Nadia di tempat itu adalah enam bulan atau setengah tahun. Dengan gaji 15jt/bulan. Tentu, bukan nominal yang tidak menggiurkan bagi Nadia untuk menolak tawaran itu begitu saja. Karena, dengan gaji 15jt/bulan selama 6 bulan. Maka, Nadia akan mampu membayar lunas hutang-hutangnya pada Nicholas. Juga bisa membeli kembali barang-barang mewah yang belum sempat ia penuhi.
Nadia dan Kelly pun sudah sampai di depan pintu dimana tempat orang yang akan Nadia rawat berada.
"Disini." Kelly berucap sambil menatap wajah Nadia. Sementara Nadia hanya melirik kiri dan kanannya, sambil bertanya-tanya.
"Tempat apa ini? ... kenapa dipisahkan jauh sekali dengan rumah mewah tadi?" pikir Nadia berkali-kali.
Iya, letak rumah dengan tempat dimana Merry berada memang sedikit jauh. Merry sengaja dibuatkan tempat khusus oleh Nicholas agar tidak mengganggunya kedua orang tua angkatnya, karena Merry sering menjerit dan meronta jika sudah kambuh kejiwaannya.
Kelly membuka kenop pintu, "Oiya, kita sudah menyepakati semua persetujuan kita bukan?" tanya Kelly sebelum masuk.
__ADS_1
Nadia mengangguk dengan mantap. Dia bisa seperti itu karena belum melihat siapa yang ada di dalam sana.
"Baiklah, aku hanya mengingatkan kalau kita sebelumnya sudah membuat perjanjian di atas materai. Kalau sampai kau melanggarnya, maka kau akan mendapatkan sanksi yang sesuai dengan kesepakatan itu." tutur Kelly sambil membawa Nadia masuk. Dan tiba-tiba saja, saat lampu itu menyala.
Ceklek
Mata Nadia terpusat pada seorang wanita yang terus menundukkan kepalanya. Dengan penampakan yang memilukan, rambut yang terurai, dan juga bagian tubuhnya yang depenuhi luka lecet. Mungkin akibat tergores ikatan yang melilitnya.
"Itu." Kelly menunjuk Merry.
Nadia sempat takut dan merinding dibuatnya. Dia berpikir ternyata orang yang dirawatnya adalah orang gila. Bukan orang sakit biasa. Tapi Nadia menepis jauh-jauh perasaan takutnya itu saat mengingat bayaran yang akan dia terima.
"Kau bisa tidur di sana!" Kelly menunjuk tempat tidur yang sudah mereka siapkan untuk Nadia. Tak jauh dari tempat tidur Merry. Itu memang sengaja Nicholas siapkan, agar Nadia bisa terus berada di samping Merry, dan merasakan apa yang selama ini Merry rasakan. Tinggal di tempat sunyi, jauh dari keramaian, gelap dan juga menakutkan baginya.
"Saya tidur di sini? ... dengannya?" Nadia sempat tak percaya. Dia kira, dia hanya sekedar merawatnya lalu bisa tidur di rumah mewah tadi. Meskipun hanya di sebuah kamar kecil. Dia tidak pernah berpikir akan tinggal satu kamar dengan orang gila seperti ini. Apalagi tidak ada siapapun di sana. Bagaimana kalau sampai sesuatu terjadi dan orang gila itu menyerang Nadia tiba-tiba.
"Iya ... kenapa? kau tidak setuju?"
Nadia sempat mematung, namun karena memikirkan hutang dan penjara, akhirnya mau tak mau ia menggelengkan kepalanya juga
"Tidak, Nyonya. Saya setuju kok," ucapnya bohong. Hati dan pikirannya sejak tadi bergelut dengan tanda tanya besar dan rasa takut dikepalanya.
"Bagaimana kalau orang gila itu membunuhku saat tengah malam?" pikirnya.
"Yasudah, kau bisa mulai bekerja hari ini. Aku pergi dulu." Setelah berucap, Kelly pun keluar dari kamar itu, sementara Nadia terus memutar-mutar badannya, menerawang dan melihat-lihat sekeliling tempat yang akan menjadi tempat tinggalnya Selema beberapa bulan ini.
"Tidak apa-apa, Nadia. Kau pasti bisa." Dia terus berusaha menyemangati dirinya sendiri. Karena suasana ruangan itu benar-benar menakutkan.
Jangan tanyakan kenapa bisa, ruangan yang awalnya rapih dan bersih itu bisa berubah menyeramkan, itu semua adalah ulah Nicholas. Dia sengaja membuat Nadia tidak nyaman saat berada di sana.
__ADS_1
Sambil berjalan, senyum smirk tiba-tiba mengembang di bibir Kelly, "awalnya kupikir akan sulit, tapi ternyata menyenangkan juga ... satu kali mendayung, dua tiga pulau terlampaui."
To be continued