
Kini waktunya Nadia memberikan obat pada Merry. Dengan langkah malas dia berjalan mendekat ke arahnya. Rasa penasaran masih terus membelenggu dalam pikirannya.
"Sebenarnya ada hubungan apa dia dengan keluarga ini? dan kemana anak laki-lakinya yang dulu sering ku marahi?" Nadia terus bermonolog dengan perasaannya sampai akhirnya ia tiba di samping Merry. "Besok aku akan mencari tahu tentang keluarga ini."
Prank
Baru saja mangkuk itu diangkatnya, tangan Merry mengayun ke arahnya, hingga membuat mangkuk di tangannya itu jatuh dan pecah berserakan.
"Sialan." Nadia mengumpat. Tangannya mengepal kesal. "Dasar orang gila," kesalnya lalu menunduk dan memunguti sisa-sisa mangkuk dan bubur yang sudah berserakan itu.
Selesai memungutinya, Nadia memasukkannya ke dalam kotak sampah. Dia berjalan kembali mendekati Merry. Ditatapnya wanita itu dengan sengit. "Kalau bukan bayaran yang besar, aku tidak kan Sudi merawatmu seperti ini, cuih." Nadia membuang ludahnya sembarang. "Biarkan saja! aku tidak akan memberimu makan malam ini. Biar kau kelaparan sekalian." Nadia sudah benar-benar kesal pada Merry. Karena untuk makan saja, Nadia harus bersusah payah merawatnya.
***
"Jangan sampai Ibuku mati kelaparan karena wanita gila itu." Nicholas terlihat mengeratkan giginya setelah menerima laporan dari salah satu orang suruhannya, tentang Nadia yang tak mau memberi makan Merry hanya karena Merry memecahkan mangkuk saja. Nicholas memang memasang banyak kamera pengintai untuk menjaga-jaga jika Nadia berbuat semena-mena pada Ibunya. Dan benar saja, baru saja beberapa hari menjadi perawatnya, Nadia sudah membuat Nicholas naik darah. "Berikan pelajaran untuknya!" titah Nicholas, setelah itu ia menutup teleponnya saat Natalie terlihat baru saja keluar dari kamar mandi.
"Apa yang sedang dibicarakan Nicholas?" batin Natalie, "sepertinya dia sedang meminta orang untuk melakukan sesuatu. Apa dia berbuat kasar pada orang lain?" lanjutnya. Natalie tidak tahu jika orang yang sedang dibicarakan Nicholas dengan orang dibalik telepon itu adalah ibunya, Nadia.
***
Nadia tengah terlentang di atas kasur kecil yang hanya berukuran untuk satu orang saja. Tidak terlalu empuk, bahkan tidak ada bantal di sana. Hanya sebuah kain tipis untuk menyelimuti tubuhnya. Beruntung dia membawa jaket tebal, sehingga tidak terlalu kedinginan.
"Padahal kata raya, tapi pelit sekali," cibirnya. Dia merasa pemilik rumah mewah sekaligus orang yang mempekerjakannya itu sangat tidak benar dalam memperlakukannya. "Masa cuma bantal sama selimut tebal saja dia tidak mau memberikannya padaku?"
Pletak
Nadia terperanjat dari lamunannya, saat mendengar ada batu kerikil terbang menyentuh tembok di sampingnya. Matanya melirik kanan dan kirinya karena suasana berubah mencekam tiba-tiba.
"Duh, siapa sih yang iseng tengah malam begini?" Dia terbangun dan kini dadanya semakin berdebar tak karuan.
Lampu tiba-tiba mati.
__ADS_1
Ceklek
"Hah?" Dia langsung gelagapan. "Hey! jangan kurang ajar padaku!" teriaknya. Namun tak ada pertanda bahwa ada orang yang berada di sana. Nadia semakin panik. Dia meraba-raba daerah di sekitarnya, berharap bisa menemukan apapun untuk dijadikan sebagai alat penerangannya, sampai akhirnya ...
Bruk
Nadia tergeletak pingsan setelah sebuah tangan kekar berhasil membiusnya.
"Dia sudah pingsan," ucap pembius itu pada salah satu temannya yang merupakan seorang wanita.
"Oke! kau urus manusia ini, lalu kabari Bos kita ... aku akan memberi makan Nyonya Merry dulu."
"Hmppp,"
Orang itupun lantas menghubungi Nicholas setelah menaruh tubuh Nadia di samping tembok dengan dibiarkan tergeletak saja.
"Bagus!!! teror dia se-sering mungkin. Buat dia ketakutan! sampai dia memohon ampun karena tak sanggup lagi."
Jauh di sana, Nicholas tersenyum penuh kemenangan. Meskipun masih belum merasa puas sepenuhnya, tapi setidaknya dia bisa memainkan wanita itu layaknya boneka. "Ini baru awal permulaan, Nadia."
***
Keesokan harinya. Jam sudah menunjukkan pukul 06.00 dan Natalie masih terbalut dalam selimut. Tak seperti biasanya. Kalau di hari-hari biasa, di jam seperti ini dia sudah berkutat dengan Helena di dapur untuk menyiapkan sarapan pagi.
"Kenapa dia masih tidur?" batin Nicholas. Laki-laki itu kemudian turun dari kasurnya dan memilih masuk ke kamar mandi. Berpiki setelah ia mandi, mungkin Natalie akan terbangun. Namun kenyataannya tidak. Selepas ia selesai mandi pun, Natalie masih belum bangun juga. Karena bingung, akhirnya Nicholas pun memilih membangunkannya.
"Sudah siang," ucapnya seraya menggerakkan tangan Natalie, "kau tidak berangkat kerja?" lanjutnya. Tapi tak ada jawaban. Natalie memilih berpura-pura tak mendengarnya.
Sekali lagi.
"Natalie!" Kali ini suara Nicholas yang sedikit lebih keras, akhirnya mampu membuat Natalie terbangun.
__ADS_1
Natalie menatap tajam ke arah mata Nicholas. "Aku tidak mau berangkat kerja," ucap Natalie seraya menarik kembali selimut sampai ujung kepalanya, sementara Nicholas menatapnya heran.
Memilih tak memperpanjang perkara, Nicholas pun hanya menggelengkan kepalanya lalu menyiapkan dirinya untuk segera berangkat ke kantor tanpa Natalie. Lagipula, Nicholas juga sadar jika Natalie mungkin masih sangat marah padanya perihal kejadian kemarin malam.
Setelah Nicholas pergi, Natalie pun bergegas bangun dari tidurnya. Dia pergi ke dapur untuk sekedar minum.
"Cepat sekali dia sarapan?" gumam Natalie sambil menuangkan air ke dalam gelasnya.
"Tuan tidak sarapan, Nona," sahut Helena dari arah belakang.
"Hah? tidak sarapan?"
Helena mengangguk.
"Jangan-jangan, dia sarapan di rumah wanita itu." Pikiran Natalie tiba-tiba langsung terfokus pada Jennifer.
Dia langsung membuka ponselnya. Beruntung, pagi hari sekali dia sudah menaruh alat pelacak di mobil Nicholas. Dengan begitu, dia bisa mengetahui dimana Nicholas sekarang berada.
Natalie memang berencana membuntuti Nicholas sepulang kerja nanti. Tapi ternyata waktunya datang lebih cepat dari yang ia prediksi. Sehingga, ia bisa melakukan aksinya pagi ini juga.
Dengan cepat Natalie langsung mengemudikan mobilnya menuju titik lokasi yang ada di ponsel miliknya.
Dua puluh menit kemudian, titik lokasi itu berhenti dia sebuah rumah mewah sebuah kawasan elit. Natalie membuka sedikit kaca mobilnya. Dan benar saja, Nicholas sedang berada di sana. Mobilnya terparkir tepat di depan rumah mewah itu. Dan Natalie yakin, rumah itu adalah rumah Jennifer.
"Ternyata benar. Nicholas dan Jennifer benar-benar memiliki hubungan yang lebih dari sekedar teman kerja biasa."
Air mata Natalie tiba-tiba saja turun, melihat dengan mata kepalanya sendiri bahwa Nicholas memang benar-benar berkhianat di belakangnya. Awalnya dia berpikir apa yang dikatakan Eliza benar. Dia berharap bahwa hanya Jennifer yang mengada-ada dan mengarang cerita tentang perkataannya di restoran malam itu.
Tapi, setelah Natalie melihat secara langsung, harapan itu kini hilang. Sudah tidak ada harapan lagi untuk pernikahannya dengan Nicholas. Dia harus segera mengakhiri semuanya sebelum terlanjur lebih dalam terluka karena mencintai laki-laki yang tidak pernah menganggap dirinya ada.
To be continued
__ADS_1