
"Kak, nanti Kak Natalie datang kan?"
Keisha lagi-lagi menanyakan tentang wanita itu. Kevin hampir dibuat kesal karena Keisha selalu saja membuatnya akhirnya terpaksa mengingat wanita yang sudah menjadi istri orang lain.
"Iya, dia bilang pasti diusahakan kok untuk kamu."
"Tapi aku ragu." Keisha terlihat murung.
"Kenapa ragu?" Kevin mendekatinya lalu memberikannya pelukan hangat. Adik sekaligus keluarga satu-satunya itu adalah segalanya baginya. "Kak Natalie pasti akan mengusahakan yang terbaik untukmu, sayang ."
"Sungguh?"
Kevin mengangguk. Setidaknya ini akan membuat Keisha jadi lebih tenang, minimal sampai hari ulang tahunnya tiba nanti.
Drtt drttt
Ponselnya berdering. Kevin lantas segera membuka isi pesan yang masuk.
"Eliza," cicitnya. Nama Eliza tertera di sana.
Eliza : Vin, apa kau sudah memilih Event Organizer yang tepat untuk ulang tahun Keisha nanti?
Rupanya Keisha sangat memperhatikan acara ulang tahun adiknya itu. Dia bahkan sampai menanyakan perihal Event Organizer segala macam.
Kevin to Eliza : Sudah. Semuanya sudah ku urus.
Tak lama balasan kembali masuk.
Eliza : Oh, syukur kalau begitu. Kalau ada perlu atau butuh bantuan apa saja, kau bisa mengatakannya padaku.
Kevin tersenyum saat menerima balasan itu. Dia senang karena ada orang lain yang sangat begitu memperhatikan adiknya, Keisha, meskipun itu bukanlah wanita yang ia harapkan.
Kevin to Eliza : Terimakasih sudah bersedia, nanti akan ku hubungi jika aku membutuhkan bantuan mu.
"Siapa, Kak? Kak Natalie ya?" tebak Keisha. Dia hanya menebak karena setahunya, orang yang bisa membuat senyum Kevin luntur hanyalah Natalie.
Tak ada jawaban. Hanya senyuman yang bisa Kevin berikan pada pada adiknya itu. Menjawab iya, dia tak mau berbohong. Dan menjawab tidak, dia tidak mau Keisha kecewa.
__ADS_1
"Sudah, sana masuk! siapkan kebutuhan sekolahmu! biar Kaka yang lanjutkan pekerjaan ini.
"Hmpp, baiklah." Keisha pun kembali ke kamarnya, meninggalkan Kevin yang melanjutkan tugas mencuci piringnya.
***
"Jadi dia datang ke tempat Erick?"
Nicholas benar-benar terkejut saat mengetahui ternyata Natalie bukan pergi ke kantornya melainkan pergi ke kantor Erick, temannya.
"Untuk apa dia datang ke sana?"
"Saya tidak tahu, Tuan. Karena saya hanya bisa mengikutinya sampa meja resepsionis saja," sahut Reynald yang kini tengah berdiri di samping mobil Nicholas yang baru saja sampai parkiran kantor mewah itu.
Nicholas menatap dengan sorot matanya yang selalu terlihat tajam. "Ada maksud apa Erick mengajak Natalie bertemu?" gumam Nicholas dalam hatinya.
"Apa yang akan Tuan lakukan selanjutnya? apa perlu saya meminta Nona Natalie untuk pulang?"
"Tidak perlu! kita biarkan saja dulu mereka." Nicholas kemudian kembali masuk ke dalam mobilnya. "Aku harus ke rumah Jennifer untuk mengantarkannya check up hari ini. Kau di sini, awasi Natalie! berikan kabar padaku jika dia sudah kembali ke kantor."
Sepanjang perjalanan pikiran Nicholas terus bergelut, "Apa Erick punya maksud dan tujuan yang tidak baik pada Natalie?"
***
"Jadi kau bekerja di perusahaan Jhonson Company?" tanya Erick terkejut setelah mendengar penuturan Natalie padanya tentang pekerjaan tetap yang saat ini sedang digelutinya.
"Iya," sahut Natalie.
"Wah, hebat dong. Perusahaan itu kan salah satu perusahaan raksasa yang cabangnya sudah tersebar di mana-mana." Mata Erick menyipit, "seharusnya besar gaji disana sudah cukup untuk keperluan sehari-hari, tinggal di apartemen, jalan-jalan ke luar negeri, iya kan?"
Natalie hanya mengangguk.
"Terus, kenapa kau masih membutuhkan pekerjaan sampingan ini?"
Natalie terdiam. Seharusnya apa yang dikatakan Erick semuanya benar. Gajinya di kantor itu memang cukup jika hanya untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari, tapi ini lain cerita. Ada hutang yang harus ia bayar untuk menebus kebebasan hidupnya. Terlebih lagi, jika Erick tahu dia adalah istri dari CEO di perusahaan itu, dia pasti akan sangat terkejut karena Natalie memilih bekerja sebagai seorang pelayan di cafe miliknya.
"Jadi kapan saya mulai bisa bekerja?" Natalie mengalihkan pembicaraannya. Dia tak mau terlampau jauh mengungkit masalah pribadinya dengan orang yang baru saja ia kenal.
__ADS_1
"Malam ini juga bisa," jawab Erick.
"Baiklah, kalau begitu pulang kerja nanti saya akan datang langsung ke cafe milik bapak."
"Arghh, sudah saya katakan, jangan panggil saya Bapak, panggil nama saja! kesannya saya terlihat sangat tua, padahal kan kita seumuran."
"Ba_baik, Pak Erick, eh Erick maksud saya."
"Oiya, ini gaji pertama kamu." Erick menyerahkan selembar cek bertuliskan nominal tujuh juta.
"Hah," Natalie mendelik tak percaya. Dia baru saja mau bekerja, kenapa Erick sudah membayarnya. "Tapi kan saya belum kerja, Pak, eh maksud saya Erick."
Erick tersenyum melihat tingkah Natalie yang menurutnya menggemaskan. "Tidak apa-apa. Ambil saja! itu sudah menjadi adat di perusahaan ku. Dimana karyawan baru akan diberikan gaji di hari pertamanya bekerja." Erick bohong. Sebenarnya ini kalo pertamanya dia melakukan hal ini. Tidak ada sejarahnya seorang karyawan yang baru masuk sudah di bayar. Ini hanyalah akal-akalan Erick agar membuat Natalie yakin dengan pekerjaan yang diberikannya. Entah kenapa Erick merasa tertarik dengan wanita di hadapannya itu.
Natalie benar-benar beruntung bisa bertemu dengan Erick. Selain tampan dan kaya raya, Erick juga ternyata sangat dermawan pada karyawannya.
"Terimakasih, saya benar-benar beruntung bisa mengenalmu."
"Sama-sama. Oh iya. Gaji itu juga sifatnya semi permanen, karena nanti setiap malamnya kau pasti akan mendapatkan uang tips lainnya."
"Tips?"
"Iya." Erick mengangguk. "Oh iya aku lupa memebritahumu. Jadi nanti tugasmu itu hanyalah memberikan makanan dan minuman pada pelanggan VIP ku. Kau berbeda dari pelayanan lainnya. Jadi, ingat. Kau hanya melayani tamu VIP. Selepas dari itu, jangan kau gunakan tanganmu yang mulus itu untuk hal lain."
Natalie terkejut dengan ucapan Erick yang terkesan sangat menohok.
"Ma_maaf, aku hanya mengangumi tangan wanita yang terlihat mulus. Menurutku, mereka sangat telaten dalam merawat dirinya. Jadi, jangan berpikir yang lain-lain ya."
Natalie lega, rupanya hanya pikirannya saja yang negatif thinking pada Erick.
"Baiklah, kau bisa kembali ke tempat kerjamu. Nanti malam kita bertemu di depan cafe. Nanti aku share lokasinya lewat chat," ucap Erick seraya berdiri dari duduknya.
"Baik, kalau begitu saya permisi dulu ya!" ucap Natalie sopan lalu membungkukkan sedikit badannya. Setelah itu ia pun keluar dari ruangan Erick dengan wajah yang sangat berseri-seri. Dia benar-benar sangat bahagia karena akhirnya menemukan titik terang dari semua masalahnya.
"Yes, akhirnya dengan pekerjaan tambahan ini aku bisa segera melunasi hutang-hutang Ibu padanya." Natalie tak sadar menitikkan air matanya. Buru-buru dia menyekanya. "Semangat Natalie!! kamu pasti bisa."
To be continued
__ADS_1