
Setelah mengusut kasus penyakit yang diderita Nicholas, akhirnya tuntutan atas Erick diputuskan. Erick dihukum seumur hidup karena telah bersekongkol dan melindungi Ayah Sea yang sudah meninggal itu untuk melakukan tindakan kriminal, serta membuat seseorang harus mengalami kerusakan fungsi organ tubuh akibat kejahatan itu.
"Pokoknya saya tidak terima. Ini semua tidak benar. Kalian tidak bisa mengurung saya selama itu," pekik Erick tak terima saat hakim memukul palunya.
"Itu adalah balasan yang setimpal untukmu, Erick!" geram Reynald. "Kau harus mempertanggungjawabkan semua kejahatanmu."
"Diam kau Rey! jangan banyak bac0t ya."
"Kau yang diam!" sentak Reynald lagi.
Beberapa orang polisi datang dan berusaha menenangkan Erick. Tapi sepertinya Erick sudah hilang akal sehat. Dia tidak sudi menerima keputusan yang menurutnya tidak adil ini.
Pikiran jahat Erick langsung datang. Melihat pistol yang berada di saku kanan seorang polisi, dia langsung berinsiatif untuk menembak wanita yang menggandeng tangan Reynald. Erick yakin Wanita itu sangat berarti untuk Reynald.
Tap
Pistol itu sudah berhasil ada di tangan Erick. Dia mengangkatnya sebatas dada. Dan meminta orang untuk mundur darinya.
Tak sampai sana, dia juga langsung berlari dan menarik Selly dari genggaman tangan Reynald.
"Awwwh," pekik Selly saat tubuhnya ditarik paksa oleh Erick.
"Selly." Mata Reynald langsung membulat sempurna melihat wanitanya dalam bahaya.
"Erick, kumohon! jangan lakukan itu! lepaskan istriku! jangan main-main dengan benda itu."
"Diam kau bodoh! salah siapa kau bermain-main denganku, hah?"
"Rey," cicit Selly meringis ketakutan.
"Tenang sayang! tenang. Kau akan baik-baik saja."
"Mundur semuanya!" perintah Erick. "Atau isi kepala wanita ini akan terburai di depan mata kalian semua."
Suasana makin tegang saat Erick menyeret Selly ke luar ruangan. Reynald yang takut jika Erick berbuat lebih hanya bisa mengikuti mereka sambil berjaga-jaga.
Sampai akhirnya
Dorrr
Peluru tajam berhasil menghunus dada Erick. Peluru itu berasal dari seorang polisi yang terpaksa melumpuhkan Erick karena bisa membahayakan nyawa orang lain.
Sebenarnya polisi itu tidak bermaksud untuk menembak bagian dada Erick. Hanya saja, karena Erick tak bisa diam, akhirnya sasaran yang semula tertuju lengan itu malah tepat mengenai dadanya.
"Arghhh."
Hingga sedetik kemudian, senjata api yang ada di tangannya jatuh tergeletak seiring dengan tenaganya yang hilang begitu saja.
"Selly."
__ADS_1
Reynald langsung merebut Selly dari pangkuan Erick.
"Rey, aku takut." Selly menangis sambil memeluk Reynald.
"Tenang sayang, tidak apa-apa." Reynald berusaha menenangkan Selly, sementara beberapa polisi langsung membantu Erick yang kehilangan banyak darahnya itu untuk segera dilarikan ke rumah sakit.
Tapi ternyata takdir berkata lain, di perjalanan nyawa Erick tak tertolong.
Erick meninggal karena perbuatannya sendiri. Dan dia pantas mendapatkan itu.
***
Di tempat dan ruang yang berbeda
Sore hari, saat Natalie terbangun. Dia meraba ke sebelahnya, tapi dia tak menemukan sosok laki-laki yang selalu ia lihat setiap saat ia membuka matanya.
"Kemana Nicho?" Natalie langsung membuyarkan rasa kantuknya. Ia berjalan dan mencari dimana Nicholas, suaminya.
Oek, oek
Suara orang sedang muntah dibalik kamar mandi, dan Natalie kenal benar siapa suara itu.
"Nicho."
Natalie langsung membuka kamar mandinya. Tapi sayangnya terkunci.
"Nicho, apa yang terjadi denganmu?"
"Nic, buka pintunya!"
Nicholas yang sadar akan kedatangan Natalie buru-buru mengusap darah yang menempel sedikit di bibirnya. "Dia tidak boleh melihat ini," gumamnya dalam hati. Nicholas segera berkumur-kumur dan mengusapnya dengan handuk.
Rupanya kali ini muntahan yang keluar dari perut Nicholas bukan hanya cairan kental saja, tapi terdapat beberapa tetes darah juga, yang membuat Nicholas semakin yakin jika waktunya untuk hidup memang tidak akan lama lagi. Sebab itulah ia mengunci pintu kamar mandi. Ia tak mau kalau Natalie tahu.
Dok dok dok
Suara Natalie menggedor pintunya. "Nic, cepat buka! ... jangan buatku khawatir." Natalie semakin panik. Suaranya sudah sangat lirih. Tak lama isak tangisnnya datang. "Nic, kumohon! jangan buat aku ta_kut."
Natalie akhirnya ambruk ke lantai karena Nicholas tak kunjung juga membuka pintunya. "Buka, Nic!"
Sampai akhirnya
Ceklek
Pintu terbuka
Nicholas menunjukkan wajah terkejutnya.
"Sayang, kamu kenapa duduk di lantai?"
__ADS_1
Mendengar suara lelakinya Natalie buru-buru berdiri. Dia langsung memegangi wajah Nicholas. "Kamu gpp kan? ... kamu baik-baik aja kan Nic?" Natalie mencecarinya dengan pertanyaan sambil menyentuh setiap tubuh suaminya itu.
"Aku baik-baik saja kok," jawab bohong Nicholas. "Ayo, duduk! aku ingin bicara denganmu."
Natalie mengangguk, dia pun ikut berjalan, menuju kasur.
"Duduklah sayang!"
"Kenapa sepertinya serius sekali?" batin Natalie. "Apa yang sebenarnya akan dikatakan Nicholas?"
Nicholas lantas duduk di samping Natalie.
"Ada yang ingin kutanyakan denganmu. Kali ini aku mohon jawab dengan jujur!"
Tersirat rasa takut dalam diri Natalie, karena tak biasanya Nicholas seperti ini.
Natalie mengangguk, meskipun sebenarnya ia ragu dan takut.
Sebelum bicara, Nicholas meraih tangan Natalie terlebih dulu, menggenggamnya dengan hangat, meskipun kini pelukan dan genggaman tangannya takkan pernah sehangat dulu.
"Apa kamu menyesal telah memilih aku sebagai pasanganmu?"
Teg
"Apa maksudmu bicara seperti itu?"
"Jawab saja! ... kau kan yang tahu dan yang merasakan bagaimana rasanya menjadi istri dari seorang Nicholas. Kau tahu, sejak aku sehat dulu aku selalu mencampakkanmu. Aku selalu menyiksamu. Aku selalu menyakitimu, bahkan aku pernah mendukanmu. Dan sekarang, saat aku sadar bahwa aku mencintaimu, kau kembali tersakiti, karena kau harus menerima kenyataan bahwa aku tak sehat lagi. Kau harus menghabiskan waktumu untuk merawat Laki-laki lemah sepertiku."
Mendadak ruangan itu menjadi sesak.
"Kau ingin tahu jawabanku?"
Nicholas mengangguk. "Kumohon jawablah dengan jujur!"
"Iya. Aku bosan. Aku jenuh. Kenapa? ... kau mau apa kalau aku sudah jujur seperti ini?"
Nicholas menundukkan kepalanya. "Tidak apa-apa. Aku hanya ingin tahu saja."
"Kau tidak marah aku menjawab seperti itu?"
"Tidak. Untuk apa aku harus marah? ... lagipula, wanita mana yang tidak jenuh dan bosan merawat suami yang lemah ini. Suami yang saat sehatnya selalu menyakiti, tapi ketika sakit menyusahkan setengah mati. Aku tahu diri. Bahkan kalaupun seandainya kau memilih untuk pergi aku tak punya hak untuk melarang_"
Ucapan Nicholas terhenti kala Natalie memeluknya erat sambil menangis.
"Aku jenuh, aku bosan. Kau tahu itu? kenapa juga kau harus mempertanyakan itu padaku... aku ingin pergi dan keluar dari tempat ini. Aku ingin berlayar denganmu mengelilingi lautan. Aku ingin menari di bawah bintang-bintang bersamamu, Nic. Bersamamu. Lekaslah sembuh jiwaku! apa kau tidak ingin melihat dunia tersenyum melihat kita bahagia? ... apa kau tidak lelah menangis setiap hari?"
Natalie tak bisa menyembunyikan kesedihannya. Ia memang memiliki banyak mimpi bersama suaminya itu. Ia ingin sekali bisa menggapai mimpi itu bersama. Ia berharap keajaiban akan datang dan membuat Nicholas sehat seperti sedia kala.
Nicholas membalas pelukan Natalie. "Maafkan aku, Nat! maafkan aku karena sampai saat ini aku tak bisa memenuhi permintaanmu."
__ADS_1
To be continued