Husband From Hell (Suami Dari Neraka)

Husband From Hell (Suami Dari Neraka)
Menggugat cerai?


__ADS_3

Jennifer masuk ke dalam mobil setelah selesai memberikan sambutannya. Acara itu belum selesai, tapi Nicholas memaksa pulang. Dan akhirnya ia pun menyerah saja. Terpenting dia sudah berhasil membuat wanita itu hancur.


"Hahaha, akhirnya aku punya kesempatan emas juga untuk menghancurkan wanita itu tanpa menyentuhnya." Jennifer tertawa penuh kemenangan setelah berhasil membuat Natalie hancur sehancur-hancurnya. Ia beberapa kali terlihat menyunggingkan senyuman yang penuh dengan kejahatan. Dia tak bisa memungkirinya, dia sangat dan teramat bahagia.


Brugh


Nicholas membanting pintu saat masuk ke dalam mobil, menyusul Jennifer yang sudah duduk di kursi samping kemudi.


"Kenapa kau harus melakukan ini?" Tatapan mata Nicholas terlihat sangat tajam menatap Jennifer yang pura-pura tidak mengerti.


"Maksud kamu?"


Nicholas mengacak-acak rambutnya frustasi, "kenapa kau mengatakan bahwa aku ini adalah calon suamimu?" nadanya terdengar mulai tidak santai.


Wajah Jennifer seketika berubah. Aktingnya kembali mulai. "Kenapa kau bertanya seperti itu, Nic? ... bukankah kita memang akan menikah?" air matanya tiba-tiba turun. Akting yang luar biasa itu memang mampu membuat suasana menjadi benar adanya. "Atau jangan-jangan, kamu ... " ucapannya terjeda, "kamu benar-benar sudah melupakan semua janjimu?"


"Bukan begitu," Nicholas benar-benar frustasi, "arghhh." Dia mengepalkan tangannya. Tidak tahu lagi apa yang ia harus lakukan. Di satu sisi, Natalie pasti sangat terluka dengan apa yang baru saja ia lihat dan ia dengar. Tapi, di satu sisi, dia juga tidak mungkin menyakiti perasaan Jennifer. Karena memang sesuai kesepakatan, dia akan menikah dengan Jennifer setelah urusannya dengan keluarga Natalie berakhir.


"Apa salahku, Nic? ... aku hanya ingin orang lain tahu, kalau aku punya kamu yang akan menjadi pendamping hidupku, apa aku salah mengenalkan kekasihku sendiri?" Jennifer kini menutup wajahnya dengan kedua tangannya. Bertingkah seolah ia sangat terluka dengan kenyataan ini, padahal dalam hatinya ia sedang tertawa terbahak-bahak penuh kemenangan. Ia yakin, Nicholas tidak akan tega melihatnya menangis.


"Maafkan, aku!" Nicholas lantas memeluk Jennifer, "aku tidak bermaksud membuatmu terluka. Sungguh!!! ... aku hanya ...." ucapannya terhenti, dan sejenak kemudian dia melihat wajah Natalie dalam pikirannya.


"Aku hanya merasa terlalu jahat telah melukai Natalie seperti ini," gumam Nicholas dalam hatinya seraya menenangkan Jennifer agar ia berhenti menangis, lalu melepaskannya setelah ia terlihat sedikit tenang.


"Aku langsung antar kamu pulang ya!" ucap Nicholas seraya memasangkan sabuk pengaman di tubuh Jennifer, sementara wanita itu hanya mengangguk. "Aku minta maaf! aku akan menikahi mu. Jadi, jangan berpikiran yang tidak-tidak tentangku! aku takut kesehatanmu terganggu."


Jennifer kembali mengangguk. Tapi kali ini tangannya berjalan merayap dan memegang erat tangan Nicholas. "Kamu janji kan, kalau kamu bakal ninggalin wanita itu dan menikah denganku?"

__ADS_1


Teg


Nicholas menatap mata Jennifer dengan penuh kekalutan. Pertanyaan yang sangat sulit dijawab oleh Nicholas. Menjawab iya, itu artinya dia harus bersiap-siap untuk meninggalkan Natalie. Menjawab tidak, itu sama saja dia melukai hati Jennifer.


"Apa yang harus ku katakan?" batin Nicholas seraya menatap tangan Jennifer di tangannya. "Kita bicarakan itu lain kali ya! ... sekarang lebih baik kita pulang! ... oiya, tadi Mama titip salam untukmu." Perlahan tangan Nicholas terlepas dari tangan Jennifer. Dia berusaha mengalihkan pembicaraan, agar Jennifer lupa dengan pertanyaannya.


"Hmpp," Jennifer yang merasa bahwa Nicholas sedang mengalihkan pembicaraannya hanya menjawab seperlunya. "Aku tidak akan pernah berhenti mengambil sesuatu yang sudah menjadi milikku," batinnya.


***


Natalie POV


Sejatinya, tak ada cinta yang datang begitu saja hanya karena sebuah pertemuan yang orang bilang sebagai pandangan pertama. Itu hanyalah sebuah rasa kagum akan sosok yang baru kita lihat untuk pertama kalinya.


Iya, sejak awal seharusnya aku menyadari bahwa Nicholas tidak pernah mencintaiku selama ini. Aku yang terlalu berambisi untuk bisa hidup dengannya. Menjadi istrinya, menjadi pelengkap hidup seorang lelaki yang dinilai sangat sempurna di mata para wanita.


Tapi anehnya kenapa? ... kenapa dia dulu bilang kalau dia mencintaiku? kenapa dia bilang bahwa aku ini adalah wanita satu-satunya di hatinya, sementara semua fakta yang terjadi setelah pernikahan itu tidak ada satupun yang benar terjadi. Semuanya palsu, semuanya bulshit.


Andai saja sejak awal dia tidak memberiku harapan palsu seperti ini, mungkin saat ini aku tidak akan begitu terluka karena terlalu dalam mencintainya.


"Nat, udah dong! jangan nangis terus! ... aku jadi ngerasa bersalah nih udah ngajak kamu ke tempat ini." Eliza yang sedang mengemudi mobil itu merasa tak enak hati karena telah membawaku ke tempat dimana aku melihat secara langsung apa yang dilakukan Nicholas dibelakangku selama ini.


"Aku gpp kok, Liz. Kamu 'gak salah, jadi 'gak perlu ngerasa 'gak enak gitu," sahutku sambil berusaha menetralkan perasaan yang sudah tak karuan ini. Eliza memang tidak bersalah. Dia tidak pernah berniat sedikitpun untuk membuatku bersedih.


"Ya, tapi kan ... gara-gara aku, kamu jadinya liat_"


"Udah, Liz. Gak perlu dilanjutkan!" Aku memotong ucapan Eliza. "Mungkin Tuhan ingin menunjukkan padaku siapa Nicholas sebenarnya." Nafasku mulai tak karuan lagi. Rasa sakit itu kembali menyeruak hadir. Segala tanda tanya yang selama ini bersarang di kepalaku, tentang kenapa sikapnya yang dingin dan tak pernah mau menyentuhku akhirnya terjawab sudah. Karena ada wanita lain di hatinya. Karena sekretaris bernama Jennifer itu rupanya. Yah, aku sadar. Aku dan dia memang sangat jauh berbeda. Dia cantik, smart, penampilannya menarik, dari keluarga konglomerat. Sedangkan aku? ... Ya, mungkin cantik dan pintar aku punya, tapi untuk masalah harta dan penampilan, rasanya akan sangat jauh jika dibandingkan dengan Jennifer. Jadi, wajar saja jika Nicholas lebih tertarik pada wanita itu dibandingkan aku.

__ADS_1


"Liz,"


"Iya, kenapa, Nat?"


"Sepertinya aku akan mengakhiri saja pernikahan ini."


Cittt


Eliza menginjak pedal rem-Nya seketika, membuat badanku terhuyung ke depan.


"Liz, hati-hati!" Aku protes padanya. Untung saja jalanan sepi, kalau di jalan raya, mungkin kami sudah tidak selamat lagi.


"Kau serius dengan ucapan mu barusan?" Dia terlihat tidak percaya.


"Hmpp, aku sudah tidak sanggup lagi."


"Tapi, Nat? apa tidak bisa dibicarakan baik-baik dulu? mungkin saja wanita itu memang sengaja ingin menghancurkan hubungan kalian?"


Eliza ada benarnya juga. Tapi, apa yang kurasakan selama ini membuat hidupku seakan terkekang dan terkurung. Aku sendiri bahkan tidak tahu siapa aku di hati Nicholas.


"Entahlah, Liz. Aku sendiri tidak tahu, sebenarnya apa maksud dan tujuan Nicholas menikahiku?"


"Tapi satu hal yang pasti, aku tidak pernah merasa Nicholas memperlakukanku layaknya seorang istri."


Hatiku benar-benar sakit. Aku sudah tidak tahan lagi. Air mataku akhirnya tumpah ruah kembali, membasahi selembar sapu tangan berwarna biru, pemberian seorang laki-laki tepat di hari ulang tahunku kala itu.


Eliza yang melihatku kembali menangis, akhirnya memelukku erat. Dia berkata bahwa dia akan selalu ada untukku. Dia juga akan mendukung apapun keputusanku, termasuk menggugat cerai laki-laki yang saat ini berstatus sebagai suamiku.

__ADS_1


To be continued


__ADS_2